Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/46

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

kembang, kalau sepakat kita semua, usahlah Datuak menunda-nunda, begitu juga dengan Siti Fatimah, tarimalah hamba jadi semenda, mata benih orang Guci, mengapa hamba berkata demikian, sudah terniat sejak dahulu, menjadi karib kerabat Datuak.”

Mendengar perkataan Angku kapalo, terbesit peluh Datuak Batuah, mengeluh mandeh si Ranti, diremas perut dikempiskan, berkatalah Datuak Batuah.

“Wahai Datuak Angku Kapalo, semarak alam Sungai Talang, lorong kepada permintaan Datuak, beribu kali hamba suka, sudah pada tempatnya juga, tak ada salah bandingannya, meminta sudah pada tempatnya, sudah patut jadi suami si Ranti, junjungannya dunia akhirat, tapi sungguhpun begitu, maaf diminta pada Angku.

Lorong kepada si Ranti, sudah dalam pinangan orang, bertunangan dengan si Bujang Saman, anak oleh Angku Guru Gadang, anak Rawani orang Tanjung, jika tak ada aral melintang, hari Jumat mereka menikah, kira-kira dua puluh hari lagi, buhul tak akan dibuka, sudah saling bertukar tanda, sabarlah Angku tentang ini, belum ada suratannya, semuanya ada di tangah Allah.”

Mendengar perkataan Datuak Batuah, merah padam muka siGaek, menjawablah Angku Kapalo, berkata dengan hati nan marah, “Lorong kepada janji itu, janji buatan nan dikarang, titian biasa lapuk, janji pun biasa mungkjir, kan sudah menjadi adat, kalau dilipat tanda itu, berapa lipat hamba membayar, ungkailah tanda dengan orang itu, sudah dua puluh hamba beristri, Datuak saja nan menolak.

Ingat-ingatlah Datuak, hamba nan bukan sembarang orang, Angku Kapalo dalam nagari, kalau bertumpuk Sungai Talang, boleh den jinjing den hempaskan, hamba menghitam memutihkan!” memarahi memerah mata, berlari turun ke halaman, keras terdengar rentak kakinya.

Melihat kejadian itu, susahlah hati Datuak Batuah, lebih-lebih mandeh si Ranti, marah dan benci pada si Gaek, tak tahu umur nan

35