sudah tua, sementang ia Angku Kapalo, hendak merampas anak orang.
Adapun si Gadih Ranti, menangis lari ke dalam kamar, air mata berderai-derai, diremas perut dikempiskan, sesak napas menahan hati
Daripada sesukat padi
Eloklah padi ketan tulang;
Daripada bersuami tua keladi
Eloklah badan jadi tulang.
Lorong kepada Angku Kapalo, berjalan berbalik pulang, hatinya pahit bak empedu, berpikir-pikir sendiri, mencari lantai nan terjungkat, dibuatlah tipu muslihat, sebelum mendapatkan si Ranti, jangan sebut ia lelaki, katanya di dalam hati.
Karena lama lambat berjalan, pikirannya kusut masai, tak terasa jauh berjalan, sampailah ia di dalam kantor.
Melihat rupa Angku Kapalo, takutlah hati Juru Tulih, bak kucing dibawakan lidi, begitu juga dengan penjaga, serta dubalang dan pegawai, seorang pun tak ada nan bersuara, takut melihat Angku Kapalo.
Tak lama diantaranya, berkatalah Angku Kapalo, “Wahai Atin kepala penjaga, jemput terbawa si Saman, si Bujang Saman anak Rawani, nan baru pulang dari Padang!”
Akan halnya Pandeka Atin, langsung berdiri masa itu, berjalan berlari anjing, karena lama lambat di jalan, nan diturut bertambah hampir, nan tinggal bertambah jauh. Tak lama diantaranya, tampaklah rumah si Saman, diturutlah sampai ke halaman, tampak mandehnya sedang menjemur padi, berkatalah Pandeka Atin.
“Wahai kakak si Rawani, hamba disuruh dimintai, menjemput si Saman datang ke kantor, harus dibawa saat ini juga.”
Mendengar perkataan si Atin, terkejutlah mandeh si Saman, tersirap darah di dada, apakah sebab karenanya, maka dibawa anak
37