Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/50

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

ke kantor, berlarilah ia ke rumah, dibangunkan Saman sedang tidur, terkejut Saman sedang tidur, mandehnya lalu berkata.

“Waang dihimbau Angku Kapalo, dubalang menanti di halaman, segeralah temui dia, usah Ang balalai-lalai.”

Si Saman bangun dari tidur, berjalan turun ke halaman, begitu sampai di halaman, berkatalah si Bujang Saman, “Wahai Mamak Pandeka, apa sebab hamba dipanggil, apa salah hamba sampai dijemput, jelaskanlah dek Mamak, agar senang hati hamba.”

Menjawab Pandeka Atin, “Hamba disuruh menyuruh jemput, beliau menunggu di kantor, di sana nanti kita tanyakan.”

Adapun Si Bujang Saman, berjalan beriring-iringan, mandeh mengikuti dari belakang, karena mandehnya orang penakut, diikuti anak di belakang, hati tak senang melepasnya.

Karena lama lambat di jalan, sampailah di halaman kantor, mereka pun masuk ke dalam, begitu sampai memberi hormat.

Tak lama kemudian, berkatalah Angku Kapalo, “Wahai kau si Bujang Saman, manurut perintah Tuanku Lareh, engkau disuruh pergi ke lebuh, lebuh rodi di Malalak, sebulan lamanya engkau di sana, perintah keras dari atas, hari Sabtu engkau berangkat, pukul delapan datanglah ke mari, tak boleh terlambat datang, kalau terlambat engkau dihukum, masuk penjara di Bukittinggi,” katanya sambil berjalan, kata nan tak dapat dijawab.

Mendengar perintah Angku Kapalo, susahlah hati Siti Rawani, air mata berderai-derai, remuk pikiran masa itu, janji sudah terlanjur dikarang, sepekan lagi anak menikah, kini anak akan pergi rodi, pergi rodi ke Malalak, negeri jauh akan diturut, kampung jauh akan ditempuh, tak tahu kapan pulangnya.

“Apa nan musti hamba lakukan, pada siapa hamba mengadu.”

Rumah gadang sembilan ruang
Selanjar kuda berlari;

39