Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/52

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Elang sakit ditanggung seorang
Bak melihat langit tinggi.

Lurus jalan ke Palupuah
Bersimpang jalan ke Palembayan;
Di mana hati tak kan rusuh
Anak di dalam pertunangan.

Susahlah hati mandeh si Saman, berserah diri pada Allah, Allah Taala sungguh kaya, jika untung tak ada halangan, selamat saja kembali pulang.

Lorong kepada si Saman, nyata anak besar di Padang, heran tercengang memikirkan, melihat laku Angku Kapalo, sangat sombong dalam perkataan, menyangka orang sampah pasar, tak ada iba dan kasihan, tak dapat membantah lagi.

Nyatalah orang disuruh rodi, negeri jauh akan diturut, tak dapat meminta keringanan, orang disangka kerbau jalang, “Jika begini laku Angku Kapalo, hutang dibayar kesudahannya.”

Adapun si Bujang Saman, orang cerdik dalam berpikir, tak seperti bujang kebanyakan, lorong kepada Siti Rawani, mandeh kandung si Bujang Saman, diturutlah rumah si Gadih Ranti, berjalan terdayuk-dayuk, bumi dipijak rasa kan terban, langit dijunjung bak kan runtuh, hati nan berselimut ragu, diturutlah lebuh nan panjang, karena lama lambat di jalan, sampailah di rumah si Ranti, dilihat ke kanan dan ke kiri, tampaklah Fatimah di pintu, begitu sampai ia tergelak, gelak bercampur iba hati.

Maninjau padi lah masak
Batang kapas di kiri kanan jalan;
Hati risau dibawa gelak
Bak panas mengandung hujan.

Disongsonglah Rawani ke pintu, dibawa duduk ke tengah rumah, disorongkan sirih di cerana, hati nan tak senang lagi, apakah pula nan terjadi, mengapa Rawani datang ke mari, berkatalah mandeh si Saman.

41