Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/54

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

“Wahai Kakak mandeh si Ranti, malang datang pada anak kita, sudahlah untung jadi bagian, lorong kepada si Bujang Saman, datang perintah Angku Kapalo, menyuruhnya rodi ke Malalak, jika menolak badan dihukum, hari Sabtu ia berangkat, itulah nan akan hamba sampaikan. Menurut janji nan dikarang, hari esok ia menikah, tapi malang tiba di badan, mungkir janji tentang itu.”

Mendengar kata Siti Rawani, termenunglah mandeh si Ranti, air mata jatuh berderai, bak manik putus pengarang, menjawablah mandeh si Ranti.

“Wahai Kakak Siti Rawani, tak ada tiris di atas atap, tiris nan datang di bawah rumah, dengarkanlah baik-baik Kakak, kira-kira hari Selasa, datang ke mari Angku kapalo, hendak meminang si Gadih Ranti, tunangan si Bujang Saman, Tuan Datuak saat itu berkata, bahwa si Upiak sudah berpunya, hari Junat ia menikah.

Itu sebabnya disuruh rodi, disuruh berjalan jauh, laku perangai Angku Kapalo, tak ada orang nan sayang, jika bukan karena berpangkat, orang kampung akan melawan, laku perangai sangat menyusahkan, jika mati baliau itu, alangkah sejuknya dalam negeri, senanglah hati semua orang.”

Adapun mandeh si Saman, baru mendengar kejadian itu, sudah maklum dalam hati, rupanya pelepas sakit hati, balas dendam suruh pergi rodi, jelas sudah berniat buruk.

Setelah selesai bermufakat, berjalanlah mandeh si Saman, berjalan bergegas-gegas, air matanya jatuh berderai, pikiran keruh tak karuan, karena lama lambat di jalan, tibalah di dalam rumah, dipandang anak sedang duduk, dihampiri si Bujang Saman, berkata berbisik-bisik, takut terdengar orang lain, dipaparkanlah cerita si Fatimah.

“Angku Kapalo nan punya ulah, makanya Engkau disuruh rodi, disuruh pergi jauh-jauh, sepeninggal Engkau berjalan Buyuang, si Ranti hendak diambilnya.”

43