Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/60

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Pada sepuluh orang Kotonya
Elok padi Koto Tangah;
Daripada hidup berputih mata
Elok mati berkalang tanah.

Sempit pikiran Bujang Saman, daripada hidup seperti ini, eloklah den berani mati.

Karena lama lambat di jalan, sampailah di ngarai lengang, sampai di dalam pesawangan, berkatalah si Bujang Saman, “Wahai kita nan bersama, elok kita berbalik pulang, jalan jauh kan diturut, kampung jauh kan dijalang, jika habis bekal kita, ke mana kita minta nasi, alamat mati kelaparan, kita bekerja tak bergaji, dihukum tak bersalah, elok kita berbalik pulang,” katanya si Bujang Saman.

Mendengar perkataan si Bujang Zaman, marahlah si dubalang, “Wahai kalian semuanya, usah berkata terdorong-dorong, jika sayang dengan nyawa, turutlah perintah Angku Kapalo!

Jangan berani berbalik Saman, den hisap darah Engkau, hamba bernama Pandeka Atin, tak ada nan keras nan tak tertakik,” katanya Pandeka Atin, mukanya merah menyala, bergerak kumis nan melengkung.

Menjawablah si Bujang Saman, “Dengarkanlah Mamak Pandeka, den nan tak pergi ke rodi, penat kaki den karena berjalan, biarlah den pulang dahulu, tinggallah Mamak di sini,” diayunkan langkah hendak pulang.

Baru berjalan si Bujang Saman, diayun langkah menerjang, kaki diayun Pandeka Atin, lalu disambut oleh si Saman.

“Usahlah Mamak marah pada hamba, kembalikan hati pada nan benar,” katanya si Bujang Saman.

Diserang dengan pisau sewah, pisau disepak dengan kaki kiri, terpelanting ke dalam semak, bergumullah satu lawan satu, saling lecut melecutkan, saling hempas menghempaskan, tiba di tanan tanah cekung, tiba di pisang pisang rebah, bunyi sepak berapi-api, seorang sigap seorang tangkas.

49