Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/62

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Setelah cukup lama bertarung, Pandeka Atin mulai kewalahan, datanglah si Juaro Suma, seorang lawan berdua.

Melihat makan kaki si Saman, tiba di pusar Pandeka Atin, pingsan tak tahu di dirinya, lunak segala sendi tulang, larilah si Juaro Suma, berkatalah siBujang Saman.

“Wahai Tuan semuanya, daripada Tuan pergi rodi, elok berjalan pergi merantau, sebelum berhenti Angku Kapalo, usah Tuan pulang ke kampung.”

Setelah selesai ia berkata, berjalan berbalik pulang, konon kawannya nan banyak, heran tercengang memandangi, melihat makan kaki si Saman, cukup lama ia bertarung, usahkan luka tergores pun tidak, sangat pandai mengayunkan langkah, tangannya sigap berapi-api, patutlah bergelar si Bujang Palak.

Adapun si Bujang, elok lenggangnya kembali pulang, berjalan dengan cepatnya, karena lama lambat di jalan, berjalan sambil berpikir juga, “Karena ulah perangai Angku Kapalo, sudah menikah aku dengan si Ranti.”

Terbayanglah rupa gadis itu, tampak jelas kerlingan mata, lintuhlah hati si Bujang Saman, teringat perkataan mandehnya, si Ranti dipinang Angku Kapalo, itulah alasan disuruh rodi, agar dapat merebut si Ranti.

“Elok den pulang malam-malam, usah tahu orang di kampung, biarlah den susun siasat, sungguh buruk lakunya Angku Kapalo, den sudahi kesewenangannya.”

Putus tali layang-layang
Cabik nan tentang bingkali;
Hidup janganlah mengapalang
Tak kaya berani pakai.

51