Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/64

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Tinggi rumput bilang-bilang
Tumbuh serumpun di tempat lalu;
Satu hilang dua terbilang
Daripada hidup menanggung malu.

Bermacam-macam tiba di pikiran, hati tak dapat disabarkan, hari di ambang petang juga, petang dijawab dengan senja, terdengar azan dari mesjid, malam hari tiba di kampung, dilihat kampung sudah lengang, berjalanlah ia di gelap malam, di tengah hujan rintik-rintik.

Sampailah ia di rumah mandeh, diketuk pintu pelan-pelan, adapun mandeh kandung, mendengar suara si Saman, dibuka pintu ke rumah, berkatalah si Bujang Saman, “Apa gerangan nan terjadi, sepeninggal hamba pergi berjalan.”

Berkatalah mandeh si Saman, berkata berbisik-bisik, “Lorong kepada Datuak Batuah, mamak kandung si Gadih Ranti, dibawa orang ke kantor, kantor Angku Kapalo tadi malam, di sana ia dipukuli, bertiga orang melajangnya, mereka dubalang Angku Kapalo, dipapah orang ke hilir, ke rumah Siti Fatimah, Angku Kapalo nak mengambil si Ranti, dipaksa dengan kekerasan.”

Mendengar perkataan mandehnya, merah muka menahan amarah, marah dan berang dalam hati, ingin mencencang Angku Kapalo, ingin dilulur dimakan habis, mengatup gerahan menahan marah.

Adapun si Bujang Saman, hidup seperti musang malam, berjalan siang tidurnya malam, diturutlah semua ninik mamak sembilan suku, iyalah Pangulu sembilan besar, diturut seorang-seorang, dalam Pengulu nan sebayak itu, empat orang sangatlah cerdik, tapi sungguhpun ia cerdik, nan benar tak dapat disebut, cerdik nan tak ada gunanya.

Berkatalah si Bujang Saman, “Wahai Mamak Datuak Palindih, lorong kepada Angku Kapalo, pepat di luar runcing di dalam, telunjuk lurus kelingking berkait, ditutup mata semua orang, menggunting dalam lipatan, hamba mendengar tahun dahulu, kita beriuran

53