seringgit seorang, setengah memberi empat ringgit, untuk membuat rumah sekolah, sampai kini tak bersua, ke mana gerangan uang itu, lebih nan dari seratus ringgit. Begitu juga iuran padi, kita turun sepuluh sukat, ada nan memberi sebeban padi, uang tersimpan di Angku Kapalo, padi pun beliau nan mengumpulkan, untuk membuat jembatan, jembatan nan di mudik, sudah empat tahun sampai kini, uang itu tak ada jejaknya, hilang tak tahu rimbanya, mati tak jelas kuburnya.
Banyak rahasia akan kita bongkar, patutlah ia menjadi kaya, menghisap uang anak nagari, Angku Kapalo harus diganti, dicari penghulu nan lain, orang nan jujur lagi adil.
Lorong kepada masalah ini, hamba seorang kan memikul, usahlah Mamak jadi takut, asalkan Mamak sutuju dengan hamba.”
Mendengar perkataan si Saman, gelak tersenyum Datuak Palindih, “Lorong kepada maksud anak muda, itulah maksud nan sebenarnya, besar manfaat untuk orang banyak, hamba juga merasakannya, sudah lama menjadi renungan, jalan keluarnya nan tak dapat, bak si bisu bermimpi, ingat tapi tak terkatakan.”
“Jika begitu pikiran Mamak, senanglah pula hati hamba, asalkan Mamak mau menolong, menolong dalam batin, hamba di depan kan menghadang, biar ke kantor Landeraat, atau ke Jawa ke Betawi, hamba akan menghadangnya, senangkanlah hati Mamak, tolong hamba di belakang,” katanya si Bujang Saman.
Mendengar perkataan si Bujang Saman, senanglah hati Datuak Palindih, di dalam datuak sebanyak itu, seorang pun tak ada nan membantah, sama sepakat semuanya.
Setelah selesai mencari mufakat, dengan ninik mamak sembilan suku, serta pangulu nan banyak, dibuatlah surat pengaduan, dikirim kepada Tuanku Lareh, serta Jaksa dan Angku Ajuang, sampai kepada Tuan Kumandua.
Menurut bunyi dalam surat, menuntut uang dengan padi, kami ninik dengan mamak, Pangulu Andiko dalam nagari, menuntut
55