kepada Angku Kapalo, kepala nagari Sungai Talang, raja lalim raja disanggah, raja adil raja disembah.
Adapun perihal Angku Kapalo, tercium jejak si Bujang Saman, bahwasanya ia sudah pulang, disuruhlah Dubalang nan berempat, mengepung rumah si Bujang Saman, bawa ke rumah Angku kapalo, itulah perintah nan diberikan.
Adapun Dubalang nan berempat, diturutlah rumah si Bujang Saman, kira-kira pukul enam pagi, hari nan masih sangat pagi, begitu sampai langsung ke rumah, dipanggillah si Bujang Saman, betapa kerasnya bunyi hardikan, terkejut si Saman sedang tidur.
Melihat Dubalang di halaman, tampa sempat membasuh muka, diturutlah ke halaman, berkatalah Dubalang Kapalo, “Kami disuruh Angku Kapalo, menjemput engkau Saman, jemput terbawa saat ini juga, usah engkau berlalai-lalai, Angku Kapalo sangat rindu, tebalkan saja rusuk engkau Buyuang!”
Mendengar perkataan Dubalang, haram hatinya merasa takut, gelak tersenyum memandangi, dipakailah celana gelembong hitam, dipakai baju ganih putih, ikat pinggang kain sarung.
“Jika itu nan Mamak inginkan, marilah kita berangkat,” katanya si Bujang Saman.
Berjalan dengan tergesa-gesa, sudah maklum di dalam hati, akan berkelahi dengan dubalang, karena cepatnya berjalan, sampailah di rumah Angku Kapalo, dilihat Angku Kapalo, sedang duduk di kursi, meminum kopi di cawan.
Berkatalah Angku Kapalo, “Tutup semua pintunya, kita sudahi kesombongannya, ia disuruh pergi rodi, kiranya surut pulang kembali, rupanya engkau ingin melawan, tak patuh turuti perintah, kini tahan oleh engkau kaki den…!”
Diambil langkah tiga, diayun dengan kaki kanan, kaki tiba disambutnya, ditolak dengan tangan kanan, terpentallah Angku
57