Kapalo, melenguh di bawah meja.
Melihat kejadian itu, datanglah Dubalang nan berempat, siapa nan datang terkena kaki, kakinya cepat seperti kilat, tangannya berapi-api, tiba di pusar langsung melenguh, banyak kursi nan patah, dinding pun rebah terkena tendangan.
Seorang lawan berempat, tiap disentak pisau sewah, dapat ditangkis oleh si Saman, licin badannya melompat-lompat, kakinya kuat menyepak, kena pintu pintu pun terhempas, kena jendela kacanya pun pecah, hilang akal keempatnya, serangan selalu gagal. Seorang terbaring di atas lantai, copot giginya kena tinju, setangah matanya pecah, keluar darah dari mulutnya, terkena kaki si Saman Palak, terkapar Dubalang nan berempat, berlima dengan Angku Kapalo.
Lorong kepada Angku Kapalo, dipapah orang ke dalam kamar, bunyi tangisan bersahut-sahutan, hiruk pikuk di dalam rumah, tak jelas apa nan didengar, rumah seperti Cina karam.
Lorong kepada si Saman Palak, melihat rupa bekas kaki, gelak beranjak turun ke halaman, sedang Dubalang nan berempat, terkenal sebagai orang pemberani, guru orang dikalahkan, disangka si Saman orang lunak, orang sabar nan pendiam, kiranya harimau menyurukkan kuku, ternyata berisi anak itu.
Lorong kepada Angku Kapalo, sejak ditangani dek si Saman, berkelahi dengan si Bujang Saman, sepuluh hari tak pandai berdiri, kalau duduk didudukkan, kalau tidur ditidurkan, sakit segala persendian, nyata-nyata ia orang tua, hendak melawan anak muda, bak karakap memanjat batu, hidup segan mati tak mau, sudah azab dari Tuhan, dosa nan banyak diperbuat, banyak termakan nan haram.
Hari buruk dek Angku kapalo, sedang sakit perkara datang, datanglah Jaksa dan Angku Ajuang, Tuan Kumandua juga datang, lengkap dengan opas dan polisinya, karena pengaduan orang kampung, banyak menghabiskan uang rakyat, diperiksalah buku
59