BERMUSYAWARAH
Adapun si Bujang Saman, setelah bertarung dengan Dubalang, ia berjalan kembali ke Padang, kedainya sudah lama ditinggalkan, karena elok laku anak buahnya, selama dagangan ditinggalkan, tak ada menaruh rugi, dagangan malah makin bertambah.
Senanglah hati Si Bujang Saman, bertambah sayang pada anak buah, anak bujang sangatlah jujur, pandai berdagang dan membeli, ia pun pandai bertutur, banyak orang nan melihat, orang menyangka adiknya juga, raut roman keduanya, bak pinang dibelah dua.
Iyalah si Bujang Saman, sedang duduk di kedainya, datanglah orang dari darek, sama besar masa di kampung, kawan sehilir dan semudik, berkatalah kawan si Saman,
“Angku Kapalo sudah diganti, berganti dengan Datuak Palindih, baru berhenti Angku Kapalo tua, sejuk rasanya dalam kampung, sudah berhenti nan menyusahkan, tukang adu domba dalam kampung, kacang miang orang nan banyak, berhenti keburukan beliau itu, tersita sawah dan ladang, dirampas semua hartanya, menurut perkataan orang, uang negeri banyak terpakai, orang dipaksa beriuran, untuk membuat jembatan, sudah tujuh tahun sampai kini, tak ada tanda-tandanya.”
Mendengar perkataan kawannya, tergelaklah si Bujang Saman, berhasil juga jerih payahnya, untuk menggulingkan Angku Kapalo.
63