Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/80

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah


diturutkan lebuh nan panjang, karena lama lambat di jalan, tibalah ia di tujuan, di rumah anak Datuak Batuah, begitu sampai di halaman, tampak anaknya di bawah lumbung, berkatalah mandeh si Ranti, “Adakah Bapakmu di rumah, Upiak?”

Terkejut anak Datuak Batuah, dilihat rupa ke belakang, kiranya bako kandung badan, diajaklah mandeh ke rumah.

“Bapak hamba berada di rumah, sedang duduk mengunyah sirih, ke rumahlah mandeh dahulu.”

Mandeh si Ranti masuk ke rumah, dilihat kanan dan kiri, tampaklah Tuan Datuak Batuah, begitu sampai duduk bersimpuh, duduk berdua dengan tuannya, tibalah pula istri Datuak, dilawan duduk adik suaminya, berkatalah Datuak Batuah.

“Apa nan kau pikirkan Fatimah, mengenai si Bujang Saman, anak Rawani Kampuang Dalam, bagaimana ereng gendengnya, sudah selama terbengkalai, tak ada kabar beritanya.”

Mendengar perkataan saudara kandung, menjawablah mandeh si Ranti, “Mengapa hamba datang ke mari, hendak bertutur dengan Tuan, Tuan nan tak ke hilir, sudah hamba tunggu-tunggu juga, itulah maksud hamba, minta petuah pada Tuan, mencari kata mulut Tuan, kalau disuruh hamba pergi, kalau dilarang hamba berhenti, putusan terserah pada Tuan.”

“Lorong kepada persoalan ini, tak dapat hamba putuskan sendiri, mufakatlah dengan bapaknya,” katanya Datuak Batuah.

Menjawablah Siti Fatimah, “Adapun mengenai bapaknya, ia menurut sepanjang adat, helat terserah kepada kita.”

Menjawablah Datuak Batuah, berkata pada mandeh si Ranti, “Menurut adat nan dipakai, sudah waris sejak dahulu, siapa menanam ia menebang, siapa nan memulai itu nan menyudahi, persoalan datangnya dari kita, eloklah coba pergi ke mudik, ke rumah mandeh si Saman, tanyakan padanya kini-kini, jangan biarkan ia bertangguh, supaya kerja nak menjadi.

69