Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/90

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah


Hari seharian itu, dibeli pakaian nan halus-halus, apa kehendak pasti dapat, maklumlah ia orang kaya, dibawa kopor ukuran besar, penuh berisi dua buah, pakaian mandeh dan adiknya, serta pakaian si Gadih Ranti, dipilihlah kain nan halus, harga tak menjadi masalah, asalkan sesuai dengan hati.

Sarikayo makan dengan tapai
Makanan anak puani tanah;
Nan kaya maksudnya sampai
Nan miskin karam di tengah.

Hari semalam-malam itu, sekejap pun ia tak tidur, rasa dikoyak hari kan siang, terdengar murai berkicau, bergegas membasuh muka, dikenakan pakaian dengan cepat, bendi menunggu di halaman.

Setelah selesai menaikkan barang, naiklah pula si Bujang Saman, kuda dilecut kusir bendi, lari kencang di tengah lebuh, bendi mengejar kereta api, kereta api setengah enam, lari kuda bak kan terbang.

Tak lama diantaranya, sampailah bendi di belakang stasiun, bergegas naik ke kereta, karena elok pelangkahan, berbunyi lonceng tiga kali, kereta berjalanlah seketika, tinggallah kampung Kota Padang.

Adapun si Bujang Saman, senang hati masa itu, dihisap rokok nan sebatang, asap membubung ke udara, melihat ke luar kereta, banyaklah kampung nan tampak, kereta berhenti di tiap stasiun, banyak orang turun dan naik.

Sampailah kereta di Lubuk Alung, baru terasa perut lah lapar, diminta nasi dua bungkus, serta sambal goreng ayam, nikmatnya makan di kereta, habis nasi dua bungkus.

Kereta api berjalan sangat kencang, karena lama lambat di jalan, lewat nan dari Lubuak Aluang, hendak menjelang Padang Panjang, lewatlah Padang Panjang, kereta sampai di Bukittinggi.

Turunlah orang nan banyak, turun pula si Bujang Saman, dipanggil kuli pengangkut barang, dimasukkan kopor ke dalam bendi,

79