Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/92

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

bungkusan dijinjing oleh si Bujang Saman.

Jika dilihat bendidahulu, kuda menghela dua ekor, roda bendi dari besi, bukan karet seperti sekarang, kuda berjalan keduanya, berjalan berlari kencang, kampung jauh kan diturut, kuda menghela berganti-ganti, karena si Saman nak lekas sampai, rasa didorong kuda itu.

Karena lama lambat di jalan, nan jauh bertambah dekat, nan ditinggalkan bertambah jauh. Kira-kira pukul empat, pukul empat petang hari, sampailah bendi di Sungai Talang, tampaklah mesjid Sungai Talang, senang hatisi Bujang Saman, dilihat pula ke hilir jalan, tampaklah mandeh sedang menumbuk, bukan main senangnya hati.

Adapun mandeh kandung, melihat anak pulang dari Padang, disonsong diturut ke bendi, dijunjung kopor nan besar, ditolong membawa ka atas rumah, berdua dengan adik si Salamah.

Duduklah tiga beranak, di dalam rumah mandeh kandung, berkata mandeh si Bujang Saman, “Tak guna berlama-lama, hari Senin menikah disurau, lorong kepada nan perempuan, sudah siap sedia semuanya, manantimasa datang waktunya.”

Menjawablah si Bujang Saman, “Hamba menurut perkataan Mandeh,” diambil uang di dalam kopor, uang perak ringgit rupiah, penuh uncang tiga buah.

Melihat uang sebanyak itu, heran tercenganglah mandehnya, berkata si Bujang Saman, “Ambillah semua uang ini, belilah semua nan mandeh butuhkan, usahlah mandeh terlalu hemat, malu kita dengan orang kampung, usah kelihatan miskinnya kita, jika dunia nan dihadang, usahlah kita terlalu pelit.”

Mendengar perkataan anak kandung, senanglah hati seketika, berkata mandeh si Saman, “Sebanyak itu uang nan ada, helat apa nan engkau buat, dibunuh kerbau sepuluh ekor, namun uang berlebih juga.”

Mendengar perkataan mandeh kandung, iba hati melihat

81