mandeh, hidup susah semenjak kecil, tak memiliki uang banyak, dibuka pula kopor nantiga, diambil kain dalam peti, kain sutra mahal harganya, serta batik halus-halus.
Dibukaklah kotak-kotak, penuh berisi perhiasan, cincin dan gelang ringgit berkarang, untuk pakaian adik kandung.
“Wahai adik Salamah, bawalah perhiasan ke dalam kamar, boleh disimpan di dalam peti, pakailah nanti ketika pesta.”
Lorong kepada si Salamah, dengan ragu mengambilnya, sarasa orang nan bermimpi, maklum ia masih kecil, belum pernah melihat emas, ibu bapak orang miskin, bersawah cukup untuk makan, lebih-lebih mandeh kandung, dari mana dapat uang nan banyak, cemas ia memikirkannya, entah uang hasil merampok, atau maling dengan mencuri, karena ia orang nan berani.
Hari sehari itu, sampai senja berunding juga, dipasanglah damar dalam rumah, nasi ditating oleh si Salamah, makan bertiga beranak, sedang makan bersuka ria, bunyigelak berderai-derai, lebih-lebih si Salamah, berminyak muka tanda senang, tiap sebentar kotak dibuka, melihat kuning cahaya emas, bak si potong baru bercincin.
Tak guna direndang kacangh
Elok dipili cepat-cepat;
Tak elok direntang panjang
Elok dikumpar biar singkat.
Sampailah waktu nan dijanjikan, iya buatan nan dikarang, ramailah rumah siSaman, ramai oleh anak muda-muda, serta ninik dengan mamak, duduk beredar tengah rumah, ditating hidangan saat itu, hidangan teratur tengah rumah, lengkap dengan air minum kopi, setelah sembah menyembah, makanlah orang semuanya.
Setelah selesai minum dan makan, sirih disorong di cerana, lorong kepada ninik dan mamak, karena si Saman memakai adat, jadi semenda orang Guci, masa kecil diberi nama, sudah besar diberi gelar, sepakat ninik dengan mamak, dapatlah gelar Sutan Parmato,
83