Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/96

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

gelar pusaka orang Caniago, dilewakan pada orang nan banyak, si Saman bergelar Sutan Parmato.

Setelah selesai ijab kabul, khotbah dibaca Angku Kali, menjadi saksi orang nan banyak, dibaca doa minta selamat, orang nan banyak mengaminkan.

Berkatalah Datuak Gampo Alam, “Wahai kalian nan muda-muda, segeralah kalian antarkan, hari semakin siang juga.”

Dilihat pakaiansi Bujang Saman, nan bergelar Sutan Parmato, baju beludru surah ungu, baju bertabur emas perada, mamakai celana tapak itik, bersisamping kain sepit udang, memakai destar belah kacang, badannya kuning tinggi, sangat tampan dipandangi, tampak badan masih sangat muda, serupa anak raja-raja, wajah tampan bertambah tampan.

Diiringkan kawan nan muda-muda, memakai baju laka hitam, bersaluk destar merah, setengahnya memakai beludru hitam, ada nan memakai kain terawang, sisamping kain sarung Jawa, ada nan memakai kain Deli, setengahnya kain pemuda Johor, tak tahu mana nan kan dipilih, seorang tampan seorang lagi pintar, terbuka dunia nan muda-muda.

Berjalanlah orang nan banyak, berjalan beriring-iringan, Sutan Parmato diarak orang, diarak kawan nan muda-muda, sampai ke rumah si Gadih Ranti.

Dilihat rumah si Gadih Ranti, terpasang tirai langit-langit, tabir terpasang ditepidinding, bermacam-macam warna tabirnya, tabir bertirai pucukrebung, pucuk rebung anekawarna, diselang-seling manik-manik.

Terpasang lampunan digantung, terhampar tikar permadani, kasur manggalo dan pelaminan, sirih beredar dicerana, ramai oleh anak muda-muda, bunyigelak nan berderai-derai, rumah serasa hendak terbang.

Naiklah Sutan Parmato, diiringkan oleh kawan nan banyak, melihat orang muda nan tampan-tampan, lintuh hati nan meranda,

85