Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/98

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

seorang pun tak ada cela, bukan orang sembarang orang, anak penghulu cerdik pandai, masak pengajaran oleh mamaknya.

Kalau pergi ke tempat mandi
Mandi didalam tepi pantai
Jika tidak mandi di hulu;
Kalau mencari kawan jadikanti
Carikawan cerdik pandai
Jika tidak anak penghulu.

Setelah duduk beredar, duduk di atas tilam manggalo, di bawah pelaminan Indo Cino, gemerlapan cahayanya, serupa raja naik tahta.

Jika dilihat orang nan menanti, duduk berjejer nan muda-muda, tak ada seorang pun nan tua, gadis dan bujang banyak tampak, helat dibuat untuk nan muda.

Kalau dilihat di halamannya, berbunyi agung dan talempong, orang berandai tari Sewah, hari semalam-malam itu, helat terserah pada nan muda, orang tua tak tampak.

Pada keesokan harinya, ke rumahlah semua ninik mamak, serta imam dengan khatib, alim ulama orang siak, tak tampak nan muda-muda, helat terserah pada nan tua, bunyi pasambahan tikam menikam.

Lorong kepada Sutan Parmato, ternganga sendiri mendengarkan, kadang-kadang gelak tersenyum, sangat manis perundingan, sama hormat menghormati, tinggimutunya adat lama, sembah pidato bunga adat, memakaigurindam pantun nasihat, serta patatah dan petitih, hari sudah larut malam, baru si helat beranjak pulang.

Hari semalam-malam itu, sibuk berkucikak berkucindan, orang berhati suka juga, terdengar azan di masjid, baru usai orang nan banyak, pergi ke surau sembahyang Subuh.

87