Lompat ke isi

Halaman:Tjerita Klasik Minang Sabai Nan Aluih.pdf/6

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

ALAS KATA

Tjerita rakjat Sabai Nan Aluih digemari benar oleh masjarakat Minangkabau, baik jang menghuni Luhak Nan Tigo maupun jang bernaung dirantau. Sabai Nan Aluih telah sedjak lama dikab kan,jakni didendangkan oleh „tukang kaba", ahli tjerita atau dirandai-kan dengan suara jang empuk-merdu biasanja disasaran, jaitu ditanah lapang jang sengadja diadakan untuk kesenian. Ada kalanja di-balaman muka Rumah Gadang dikampung-kampung di Alam Minang, supaja dapat didengar dan dinikmati oleh penduduk kampung,tua-muda, pria-wanita, sampai larut malam. Pelaksanaannja adalah dalam tangan Pangkatuo Rang Mudo, ketua perkumpulan kesenian jang mengurus tata-tertib pertundjukan menurut undang-undang Nan Sambilan Putjue'.

Tjerita Sabai Nan Aluih turun mulanja dari mulut-kemulut. Dari bahan jang diperoleh dari seorang tukang kaba" jang telah landjut usianja saja susun dan terbitkan tjerita Sabai Nan Aluih ini pada pertengahan bulan Djuni 1928 dan saja sutradarai ketika di-sandiwara-pentaskan bulan itu djuga oleh perkumpulan Suara Kaum Ibu Sumatera (S.K.I.S.) jang dipertundjukkan di Padang dalam pameran keradjinan tangan wanita Sumatera, Nawa Puteri.

Sedjak itu Sabai Nan Aluih atjapkali disandiwarakan dari kota-kekota di Minang ini, malah sampai ke Djakarta, Bogor, Bandung dan kota-kota lain.

Téma, jang sungguhpun biasa tetapi mengandung tamsil dan ibarat, didjalin menurut aslinja dalam bahasa Minang berbentuk gantjaran lirik, sedang tjerita itu sendiri berlaku dalam suatu alam jang ditakdjubi pemandangannja. Siapakah jang tak kan terpesona memandang keindahan alam Padang Tarok di Luhak Agam disempadan ranah Limo Pulueh, suatu padang luas terbentang, berhiaskan sawah berhandjar jang sajodjana mata memandang! Ditengah-tengah suasana jang tenang-aman inilah pula tegak-megah Rumah Gadang berukir, sama-sama megah dan megat dengan gadis penghuninja:Sabai Nan Aluih,

Nama djulukan,Nan Aluih, Jang Halus,menandakan Sabai seorang puteri jang halus rupa dan tampan, halus budi dan pekerti halus tegur dan sapa. Memang Sabai seorang rupawan lagi budiman. Dari Sadun Saribai, ibunja,ia beroleh peladjaran peri rumah-tangga, sedang Radjo Babandieng, ajahnja, mengadjarnja perihal adat-istiadat, bersilat dan menembak untuk mempertahankan diri. Kebalikan dari pa-

4.