Lompat ke isi

Halaman:Tuanku Lareh Simawang.pdf/26

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Melihat suami gila bermenung, hatinya bertambah sengsara, mengingat nasib dan penderitaan, awak nyata orang dagang9, tidak berkampung halaman, tidak berdusun bernagari, tidak berumah berteratak, tidak berkaum berkerabat.

Sedangkan diri Siti Jamilah, dilihat raut wajahnya, sulitlah pula ada tandingannya, muka penuh seperti telur, hidung mancung bak dasun tunggal, pipi nan bak pauh dilayang, bulu mata bak semut beriring, dagunya seperti lebah bergantung, lengannya seperti lilin dituang, betisnya seperti perut padi, tumitnya bak telur burung, pendek tidak tinggi pun tidak, sedang-sedanglah saja.

Telah sehari dua hari, sampailah sepuluh hari, Lareh Simawang bermenung juga, hati bertambah susah jua, mengingat untung dan penderitaan, telah datang sepertinya surat, dari ranah Batusangkar, lalu dibaca dalam rahasia.

“Meminta Tuanku datang, ke rumah Angku Kapalo, karena janji yang dulu, pinta rasa akan boleh, kehendak rasa ‘kan berlaku, lekas malah Tuan bersegera, datang ke ranah Batusangkar.”

Selesai membaca surat, senanglah rasa pikiran, terbayang roman Siti Rawani, segera ia bepergian, ke rumah Siti Rawiyah.

Melihat Lareh Simawang tiba, Siti Rawiyah mengembangkan tikar, ia lalu memanggil ayahnya , setelah Lareh Simawang duduk, berkatalah ia pada mereka,

“Oi Aciak10 Siti Rawiyah, denai ingin menyampaikan, den akan pergi beristri, ke rumah Siti Rawani, yang di ranah Batusangkar.”

Mendengar kata seperti itu, adiknya hanya diam saja, berkatalah Angku Guru, bapak kandung Lareh Simawang, “Anak kandung Lareh Simawang, hanya satu yang denai rusuhkan, utang dibayar kok tidak langsai, mata tak suka orang melihat, telinga tak suka orang mendengar, hilang dagang berganti dagang.

9) Pendatang 10) Panggilan kakak/adik

15