Lompat ke isi

Halaman:Tuanku Lareh Simawang.pdf/28

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Lagi pula anak kandung, Siti Jamilah sedang hamil, betapa kan iba hatinya, ibu tidak saudara tiada, kampungnya pun jauh pula. Kononlah juga Siti Jamilah, roman baik bahasa santun, mulut manis kucindan murah.

Oi anak kandung sabarlah dahulu, menjelang ia melahirkan, anak akan dibicarakan orang, anak ‘kan menyesal kemudian.”

Lareh Simawang tidak menjawab, ia berjalan pulang kembali, ke rumah Siti Jamilah, setelah tiba di sana, ia duduk melamun di kursi, nasi dan minuman telah terhidang.

Kononlah Siti Jamilah, betapa benar rusuh hati, cepat ia berkata waktu itu, “Usahlah Angku bermenung jua, minumlah air obat haus, makanlah nasi obat lapar.”

Mendengar kata seperti itu, makanlah Lareh Simawang, setelah sesuap ia makan, cukup ketiga suap ia kenyang, lalu ia merokok dan makan sirih.

Masa itu petang Kamis malam Jumat, oleh Tuanku Lareh Simawang, dicoba sedikit-sedikit berkata, meminta izin kan melangkah, tapi ada pula yang dirusuhkannya, sebab Siti Jamilah sedang berbeban, tujuh bulan penuh yang menyiksa hati, bagaimana cara untuk mengatakan,

Den simpai-simpai sarung
Den simpai maka den palut;
Den pikir-pikir duduk seorang
Rasa kan keras den bawa surut.

Tidak lama antaranya, berkata juga ia jadinya, “Oi Adik kandung Siti Jamilah, dengarkan malah Adik, nak denai curai denai bentangkan, denai dijemput orang jadi sumando, yaitu ke ranah Batusangkar, ke rumah Siti Rawani, cucu jaksa yang pensiun.

17