Lompat ke isi

Halaman:Tuanku Lareh Simawang.pdf/36

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

HATI PENGIBA MEMBAWA SANSAI

Pada masa dewasa itu, Siti Jamilah menangis sedu sedan, mengingat untung dan penderitaan, air mata berderai-derai, seperti manik-manik putus talinya, seperti intan putus pengikatnya, badan yang sebatang kara, berbapak bermandeh tidak, bersaudara pun jauh sekali, tersadar ia seketika, dipanggil malah anak yang berdua, si Darama dan si Asamsudin, berpantun berusuh hati.

“Anak kandung Darama dan Asamsudin, dengarkan oleh kalian jelas-jelas, simakkan oleh kalian elok-elok:

Ke pekan ke Kampung Baso
Membeli kain basahan;
Untung kita tidak babangso
Sama dengan budak belian.

Anak kandung si Darama, tersiksa benar malah kita, ingat benar oleh anak nasib kita, telah dapat ayah Kau pengganti mandeh, ialah si Siti Rawani.”

Di hari yang sama itu, Lareh memanggil penjaga rumah, “Penjaga rumah, jemputlah kuda ke kandang, pasangkan sekali pelananya.”

25