Kami orang dagang tidak babangso
Entah siapa akan ditompang
Mendengar kata seperti itu, merentak turun Lareh Simawang, sedangkan oleh Siti Jamilah, dipikir dan diinapkan dalam hati, merana rasa hatinya, dibawa tidur tidak terlelap, dibawa duduk berkeluh kesah, makan hati berulam jantung, nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa sembilu, air mata berderai-derai, berkata tersedu sedan,
“Oi anak kandung Siti dan Asamsudin, dari pada hidup berputih mata, eloklah mati berkalang tanah, kalian akan besar juga, kalau mati kita sekarang, tidaklah ada yang akan meratap, mari berlimau kita sekarang, mandi ke lubuk mata kucing.”
Mendengar kata mandeh kandung, menjawab si Asamsudin, “Mandeh kandung denai dengarkanlah, usahlah kita pergi ke sana, di siko kan aia lai janiah juo, di siko kan lai juo sayak nan landai12.”
Berkata Siti Darama, “Usah dibantah kata Mandeh, takasia13 kita kata orang, mandi berlimau malah kita. Menjawab pula si Asamsudin, Aciak dengarkan malah pantun hamba, <poem> Kok mandi badan sekarang Mandilah ke lubuk orang Canduang Digosok dengan jeruk nipis; Kalau mati badan sekarang Menangis tanah mengandung Maksud hati belumlah lepas.”
Menjawab Siti Jamilah:
“Rumah gadang di Pariaman
12) Kiasan mencari keadilan 13) Durhaka
29