Rumah si Upik nan di ranah;
Dari pada malu kita tanggungkan
Eloklah mati berkalang tanah.”
Lalu turunlah ia ke halaman, turun bertiga beranak, berkata Siti Jamilah, “Penjaga rumah hunikan rumah, kami akan pergi mandi, berlimau ke bukit Galo Gandang, ke Lubuk Mata Kucing kami berjalan, pergi bertiga beranak.”
Menjawab penjaga rumah, “Kalau itu perintah Aciak, cepatlah Aciak berbalik pulang, denai takut di rumah sendiri, jika pintu tidak terkunci, jika orang datang bertanya, ke mana Aciak denai katakan?”
Berkata Siti Jamilah:
“Sutan Saidi pergi memikat
Di mana jerat dipautkan
Di ladang orang Koto Tuo;
Jika tumbuh sudi dan siasat
Yang menyedihkan usah dikatakan
Binasa kami batigo14.”
Menjawab penjaga rumah, “Dengarkan bicara denai oleh Aciak:
Sudah gugur bunga jeruk nipis
Bersama dengan bunga limau paga15;
Susah hati den melepas
Berdetak jantung den yang tingga16.”
Siti Jamilah tidak menjawab, ia berjalan sambil beriba hati, badan serasa bayang-bayang, air mata berderai-derai, si Darama di sebelah kanan, yang di kiri si Asamsudin, anak dibimbing keduanya.
Hari yang sedang tengah hari, sedang bundar bayangbayang, sedang litak-letai anjing, sedang berbunyi si alang bangkeh17,
14) bertiga
15) Asam Pagar
16) Tinggal
17) Elang berbintik putih
31