sedang lengang orang di kampung, sedang ramai orang di balai, sedang lindung Seleguri, berjalan juga mereka bertiga, rusuh hati tidak terbendung, air mata berderai-derai jua, berpantun dengan hati yang iba:
“Makanya denai pergi berlayar
Naik perahu dan pincalang;
Luluh tulang serasa cair
Karena kata Lareh Simawang.”
Sudah serentang perjalanan, cukup kedua rentang panjang, telah tiba mereka di sana, sampai ke lubuk mata kucing, di bukit si Galo Gandang.
Berkata Siti Jamilah, “Bukalah baju Asamsudin dan Siti, mandi berlimau malah kita, kita yang hidup tak berguna lagi.”
Telah mandi Asamsudin dan Darama, bertiga dengan Siti Jamila, lalu berkata si Darama:
“Ikan di air kena tuba
Sampan memutih berapungan;
Seperti akan singkat umur kita
Bersama dalam permandian.”
“Dengarkan pula malah olehAciak, kata si Asamsudin:
Orang dibuang dari nagari
Hukuman Lareh Koto Gadang
Tangan dibelenggu keduanya;
Yang hari sehari ini
Nyawa putus badan berpulang
entah apa kan jadinya.”
Inilah Bukit si Galo Gandang, inilah Lubuk Mata Kucing, inilah medan ayah kandung, bekas rapat Basa Batuah18, di sini orang berjajar, di sini piutang diterima, di sini perintah diberikan.”
18) Panggilan untuk Penghulu
33