Lompat ke isi

Halaman:Tuanku Lareh Simawang.pdf/46

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Berkata pula mandehnya, Siti Jamilah berpantun beribarat:

“Patahlah daun rigo-rigo19
Bersama dengan daun bunga kenari
Dibawa angin ke petani;
Kemari sekali nangko20
Tentukan benar kini-kini
Tidak mungkin terulang lagi.”

Menjawab si Darama, “Mari kita berbalik pulang.” segera ketiganya berbalik pulang, segala pakaian telah dikemasi, lalu berkata masa itu:

“Tinggi melanjut lah aur ini
Tidak kan kami tebang lagi;
Tinggal mancaguik21 lah sumur ini
Tidak kan kami jelang lagi.”

Selama dalam berjalan, telah serentang perjalanan, cukup dua rentang panjang, berjumpa mereka jalan simpang dua, lalu dipilih yang berkelok ke kanan, jalan ke rumah bako si Darama.

Berjalan mereka beriring-iring, setelah tiba di halaman, rumahnya Siti Rawiyah, seorang pun tidak tampak, karena nasib sedang beruntung, menjenguk Siti Rawiyah, lalu ia berpantun beribarat:

“Cempedak di tengah halaman
Terlanda empu kaki;
Usah kakak berdiri di halaman
Itu gayung basuhlah kaki.”

Menjawab mandeh si Asamsudin:

“Maka denai pergi ke pekan
Segan denai pergi ke sawah;
Maka denai tegak di halaman
Denai sangka tidak di rumah.

19) Sejenis Pohon
20) Saat ini
21) Termangu

35