Lompat ke isi

Halaman:Tuanku Lareh Simawang.pdf/50

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Laut Cina berpetak-petak
Pulaunya berbatu-batu
Keruntung betung dibelah;
Rela dan maaf denai pintak22
Hidup kita tak menentu
Nyawa di dalam kuasa Allah.

Kepiting anak orang Saruaso
Dibawa orang ke Singkarak;
Bercakap sekali nangko
Entah kan terulang entah tida.”

Sunyilah kata seketika, masing-masing terdiam dalam pikiran, hanya sedu sedan yang terdengar.

Mendengar kata seperti itu, menjawab Siti Rawiyah, “Mengapa Aciak seperti itu, disebut utang dengan piutang, dihitung salah dan silaunya, bukankah menurut adat, jalan pasar karena ditempuh, kaji lancar karena dihapal, kata-kata sunah diulangi, itulah pituah dari ninik kita.

Mengapa Aciak terisak, apakah gerangan karenanya, cemas denai mendengarnya, terangkanlah nan bak bulan, siangkanlah bak hari pada denai, supaya tahu kita bersikap, kalau singkat kita carikan penutup, kalau panjang kita bilai.”

Berkata Siti Jamilah, “Tidak ada yang denai rusuhkan, sebab mata denai berair, mata denai tertusuk ranting kayu.

Oi Aciak denai pinjami denai pisau, untuk mencukur rambut si Asamsudin, rambutnya sudah panjang benar.”

“Kalau itu yang Aciak katakan, hamba tidak punya pisau cukur, “jawab si Siti Rawiyah.

Berkata pula Siti Jamilah, “Kalau begitu kata Aciak, berbalik pulang malah kami dahulu.”

22) Pinta

39