Sedang bertutur-tutur itu, tampaklah seorang laki-laki, berlari pula Lareh Simawang, berlari masuk ke dalam bilik, itulah kerjanya setiap hari.
Sudah tidak terbilang dukun, yang pandai mengobatinya, sudah menggunung obat sepenuh rumah, usahkan penyakit yang akan sembuh, bertambahlah yang ada, berpantun orang dalam kampung,
Anak orang Tanjung Sungayang
Ke pekan membeli sirih
Sirih serumpun dengan silaranya;
Kononlah nan Lareh Simawang
Tuah dicari hina yang boleh
Sampai bertukar akalnya.
Perupuk upih nan luruh
Akan tikar penjemur padi;
Buruk peruntungannya Tuanku Lareh
Sejak beristri Siti Rawani.
Kain selendang anak orang Guguk
Beragi bersulam pula
disuji anak orang Bukittinggi;
Kasih sayang jolong bersusuk
Sedang kasih sengsara tiba
Malang untungnya Siti Rawani.
Akan halnya jaksa yang pensiun, ayahnya Siti Rawani, habis uang beruntung tidak, minyak habis makanan tidak enak, arang habis besi binasa, tukang tiup payah saja.
Harap bermenantu orang berpangkat, diadakan helat tujuh hari, dipotong kerbau dua-tiga, dipanggil orang senagari, yang jauh disuratinya, yang dekat dipanggilnya.
Akan halnya Lareh Simawang, dengan dukun silih berganti, berkat yakin ia berobat, agak berangsur sehat, sudah hampir timbul kesadaran, lalu dicobanya berjalan-jalan, dimudikkan jalan yang
83