Kaba Minangkabau 1
Kaba
Minangkabau
1
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
HIBAH DARI BAPAK LUKMAN ALI UNTUK BALAI BAHASA PADANG
MILIK PERPUSTAKAAN BALAI BAHASA PADANG
Kaba Minangkabau
MILIK PERPUSTAKAAN BALAI BAHASA PADANG
DITERIMA TGL : 20 Agustus 2001
SUMBER/HARGA: Hibah
KOLEKSI :
No.IVENTARIS :
5186121001 1.4:3 (4)
KLASIFIKASI :
Kaba
Minangkabau
1
Jamil Bakar dkk.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta
1979
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Redaksi
S. Effendi (Ketua)
Julius Habib, Edwar Djamaris,
Farid Hadi, Zulkarnain
Seri Bs 30
Naskah buku ini semula merupakan salah satu naskah hasil Proyek Penelitian Bahasa
dan Sastra Indonesia dan Daerah 1975/1976.
Staf Inti Proyek: S. Effendi (Pemimpin). Zulkarnain (Bendahara wan). Farid Hadi (Sekretaris). Basuki Suhardi, Muhadjir, Lukman Ali. Djajanto Supraba, Sri sukesi
Adiwimarta (Para Asisten). Dr. Amran Hatim dan Dr. Muljanto Sumardi (Konsultan).
Sebagian atau seluruh ial buku ini
dilarang digunakan atau diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah. Alamat penerbit: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Jalan Diponegoro 82, Jakarta Pusat.
PRAKATA
Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua (1974/ 1978/79) telah digariskan kebijaksanaan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional dalam berbagai seginya. Da lam kebijaksanaan ini masalah kebahasaan dan kesastraan merupakan salah satu masalah kebudayaan nasional yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh dan berencana sehingga tujuan akhir pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah termasuk sastranya tercapai, yakni berkembangnya kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi nasional dengan baik di kalangan masyarakat luas. Untuk mencapai tujuan akhir ini, perlu dilakukan kegiatan kebahasaan dan kesastraan seperti (1) pembakuan ejaan, tata bahasa, dan peristilahan melalui penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah, penyusunan berbagai kamus bahasa Indonesia dan bahasa daerah, penyusunan berbagai kamus istilah, dan penyusunan buku pedoman ejaan, pedoman tata bahasa, dan pedoman pembentukan istilah, (2) penyuluhan bahasa Indonesia melalui berbagai media massa, (3) penterjemahan karya kesusastraan daerah yang utama, kesusastraan dunia, dan karya kebahasaan yang penting ke dalam bahasa Indonesia, (4) pengembangan pusat informasi kebahasaan dan kesastraan melalui penelitian, inventarisasi, perekaman, pendokumentasian, dan pembinaan jaringan informasi, dan (5) pengembangan tenaga, bakat, dan prestasi dalam bidang bahasa dan sastra melalui penataran, sayembara mengarang, serta pemberian bea siswa dan hadiah penghargaan. [ 7 ]Sebagai salah satu tindak lanjut kebijaksanaan tersebut, di- bentuklah oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah pada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Proyek Penelitian Pusat) pada tahun 1974 dengan tugas mengadakan penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah dalam segala aspeknya, termasuk peristilahan dalam berbagai bidang ilmu. pengetahuan dan teknologi. Kemudian, mengingat luasnya masalah kebahasaan dan kesastraan yang perlu digarap dan luasnya daerah penelitian yang perlu dijangkau, mulai tahun 1976 proyek ini ditunjang oleh 10 proyek yang berlokasi di 10 propinsi, yaitu: (1) Daerah Istimewa Aceh yang dikelola oleh Universitas Syiah Kuala, (2) Sumatra Barat yang dikelola oleh IKIP Padang, (3) Sumatra Selatan yang dikelola oleh Universitas Sriwijaya, (4) Kalimantan Selatan yang dikelola oleh Universitas Lambung Mang- kurat, (5) Sulawesi Selatan yang dikelola oleh IKIP dan Balai Penelitian Bahasa Ujungpandang, (6) Sulawesi Utara yang dikelola oleh Universitas Sam Ratulangi, (7) Bali yang dikelola oleh Uni- versitas Udayana, (8) Jawa Barat yang dikelola oleh IKIP Ban- dung, (9) Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikelola oleh Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, dan (10) Jawa Timur yang dikelola oleh IKIP Malang. Program kegiatan kesepuluh proyek di daerah ini merupakan bagian dari program kegiatan Proyek Penelitian Pusat di Jakarta yang disusun berdasarkan rencana induk Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksanaan program proyek-proyek daerah. dilakukan terutama oleh tenaga-tenaga perguruan tinggi di daerah yang bersangkutan berdasarkan pengarahan dan koordinasi dari Proyek Penelitian Pusat.
Setelah lima tahun berjalan, Proyek Penelitian Pusat menghasilkan lebih dari 250 naskah laporan penelitian tentang bahasa dan sastra dan lebih dari 30 naskah kamus istilah dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan setelah tiga tahun bekerja, kesepuluh proyek di daerah menghasilkan 135 naskah laporan penelitian tentang berbagai aspek bahasa dan sastra daerah. Ratusan naskah ini tentulah tidak akan bermanfaat apabila hanya disimpan di gudang, tidak diterbitkan dan disebarkan di kalangan masyarakat luas.
Buku Kaba Minangkabau ini semula merupakan naskah lapor[ 8 ]an penelitian yang disusun oleh tim peneliti dari Fakultas Keguruan Sastra Seni IKIP Padang dalam rangka kerja sama dengan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah 1975/ 1976. Sesudah ditelaah dan diedit seperlunya di Jakarta, naskah tersebut diterbitkan dengan dana Proyek Penelitian Pusat dalam usaha penyebarluasan hasil penelitian di kalangan peneliti sastra, peminat sastra, dan masyarakat pada umumnya.
Akhirnya, kepada Drs. S. Effendi, Pemimpin Proyek Penelitian Pusat, beserta staf, tim peneliti, redaksi, dan semua pihak yang memungkinkan terlaksananya penerbitan buku ini kami sampaikan terima kasih tak terhingga. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi usaha pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Indonesia.
Jakarta, Maret 1979
Prof. Dr. Amran Halim
Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa
KATA PENGANTAR
Penelitian sastra lisan (kaba) Minangkabau merupakan penelitian tahap pertama di bidang bahasa dan sastra Indonesia dan daerah yang dipercayakan oleh Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kepada tim peneliti FKSS IKIP Padang.
Penelitian ini dilaksanakan oleh tim peneliti yang terdiri atas Drs. Jamil Bakar (Ketua), Drs. Syamsuddin Udin, Drs. Yusran Khatib, Drs. Halipami Rasyad, Drs. Barhaya Ali, Drs. Rustam Alwis, Drs. Abd. Razak, Drs. M. Atar Semi, Drs. Mursal Esten, Drs. Busri, Drs. Marah Rusmali, Dra. Asni Ayub, Dra. Yuslina Kasim, Drs. Syamsir Arifin, Drs. Agusli Lana, Sdr. Syafei Abdullah, dr. Mustafa Ibrahim, Sdr. M. Yamin, Drs. Marjusman M. (Para Anggota), Sdr. Bakri Ismail, Sdr. M. Zain Dt. P.B., Sdr. Azwir (Para Pembantul, dan Drs. Tamsin Medan bertindak sebagai Pe. nanggung Jawab. Dalam pelaksanaan penelitian, tim peneliti mem- peroleh saran yang berharga dari Dr. Jacub Isman, Drs. Rizanur Gani, Drs. Adrin Kahar, dan Sdr. Rasjid Manggis.
Selain sebagai tugas yang dipercayakan oleh Pusat, penelitian ini juga kami lakukan atas dorongan hasrat dan keinginan untuk menggali kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia yang terdapat di daerah ini, guna disumbangka. kepada usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Selain itu, penelitian ini juga merupakan pelaksanaan dari Tridharma Perguruan Tinggi di bidang penelitian pada satu sisi dan di bidang pengabdian kepada masyarakat tempat berlokasinya FKSS IKI Padang ini pada sisi yang lain. [ 10 ]Masa selama enam bulan, Agustus 1975 sampai Januari 1976 yang disediakan untuk pelaksanaan penelitian, mulai dari menyu- sun perencanaan, mengadakan observasi, mengumpulkan data, mengolah data, sampai kepada menyusun laporan ini, alhamdulil- lah oleh tim peneliti telah dapat dimanfaatkan seefisien mungkin.
Tujuh kaba Minangkabau yang berasal dari tujuh daerah kabupaten di Sumatra Barat telah dapat direkam ke dalam 35 buah pita kaset. Setelah diolah dan ditranskripsikan, hasilnya dimuat dalam laporan ini.
Pelaksanaan penelitian ini tidak terlepas dari kesukaran-ke- sukaran, tetapi kesukaran-kesukaran tersebut dapat diatasi kat bantuan dan fasilitas yang diterima dari:
1) pimpinan IKIP Padang, fakultas, dan jurusannya.
2) Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatra Barat.
3) para camat, kepala instansi, kepala negari, dan pemuka masya-
rakat di daerah penelitian,
4) para "tukang kaba", sastrawan, informan, dan responden di
daerah penelitian.
5) teman-teman sejawat yang turut berpartisipasi dalam penelitian,
6) serta pimpinan Proyek Penelitian ini sendiri.
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan fasilitas tersebut, kami mengucapkan terima kasih banyak.
Semoga hasil penelitian ini berguna bagi usaha pembinaan bahasa dan sastra.
Padang, Februari 1976
Ketua Tim Peneliti
- Daftar Isi
Kata Pengantar
| 1. | Pendahuluan ............................................ | 1 |
| 1.1 Latar Belakang dan Masaiah | 1 | |
| 1.2 Populasi dan Sampel | 2 | |
| 1.3 Metode dan Teknik | 2 | |
| 1.4 Hambatan | 4 | |
| 2. | Keunikan Kaba .......................................... | 6 |
| 2.1 Kaba sebagai Sastra Lisan | 6 | |
| 2.2 Gaya Bahasa Kaba | 8 | |
| 2.3 Sistem Penyampaian Kaba | 9 | |
| 2.4 Hubungan Kaba dengan Masyarakat | 11 | |
| 3. | Ringkasan Cerita dan Transkripsi ........... | 34 |
| 3.1 Putri Jailan | 24 | |
| 3.2 Puti Sari Banilai | 65 | |
| 3.3 Lareh Situjuh | 101 | |
| 3.4 Jumbang Muhammad | 203 |
3.5 Bujang Pajudi 265 3.6 Urang Silaiang 335 3.7 Gadih Basani 428 Daftar Pustaka ........................................... 489
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Sastra Lisan Minangkabau adalah salah satu warisan budaya nasional yang memiliki niali-nilai berharga yang masih berperan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun, gejala menurunnya peranan itu dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dewasa ini, terutama di kalangan angkatan nuda, makin tampak. Jumlah penutur dan peminat sastra lisan Minangkabau makin lama makin berkurang. Apabila gejala ini dibiakran terus berlangsung, tidaklah mustahil, pada suatu saat sastra lisan Minangkabau akan lenyap dan masyarakat Minangkabau pada waktu mendatang tidak akan mengenalnya lagi. Ini berarti nilai-nilai berharga yang terdapat dalam sastra lisan itu pun lenyap, tidak dapat dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kehidupan mendatang. Hal ini tentulah merupakan suatu kerugian bukan saja bagi masyarakat yang bersangkutan, melainkan juga bagi bangsa Indonesia.
Gejala yang kurang menguntungkan itu tentulah harus dicegah. Salah-satu usaha pencegahan yang dapat dilakukan adalah menginventarisasi dan mendokumentasikan sastra lisan tersebut. Dengan usaha ini, nilai-nilai yang terkadnung dalam sastra lisan itu akan dapat ditelaah lebih baik dan dikembangkan bagi kepentingan kehidupan masa kini dan mendatang. Namun, usaha se macam ini masih belum banyak dilakukan, informasi mengenai seluk beluk sastra lisan Minangkabau masih sangat terbatas.
Anggapan, kenyataan-kenyataan, dan harapan seperti di [ 13 ]kemukakan di atas itulah yang mendorong dilakukannya penelitian sastra lisan Minangkabau.
Banyak ragam bentuk yang termasuk sastra lisan Minangkabau. Penelitian sekaligus berbagai ragam bentuk sastra lisan itu akan memakan waktu lama dan tenaga yang cukup banyak di samping kurang efisien. Oleh karena itu, penelitian sastra lisan Minangkabau ini terbatas pada penelitian kaba, salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau. Masalah yang diteliti adalah (1) peranan dan kedudukan kaba dan (2) wujud kaba itu sendiri.
1.2 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah kaba, tukang kaba, pemuka masyarakat, sastrawan, dan pendengar kaba yang terdapat di Sumatera. Berdasarkan survei pendahuluan, ditetapkan sampel sebagai berikut:
a. Sampel kaba adalah
- Puti Jailan dari Kabupaten Pasaman;
- Puti Sari Banilai dari Kabupaten Lima Puluh Kota:
- Lareh Situjuh dari Kabupaten Agam;
- Jombang Muhamad dari Kabupaten Tanah Datar ;
- Bujang Pajudi dari Kabupaten Solok;
- Urang Silaiang dari Kabupaten Padang Pariaman;
- Gadih Basanai dari Kabupaten Pesisir Selatan.</poem>
b. Sampel masyarakat kaba adalah
- Satu orang tukang kaba untuk tiap kabupaten yang telah ditetapkan;
- 113pendengar kaba;
- 62 pemuka masyarakat;
- 6 orang sastrawan.
1.3 Metode dan Teknik
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan perekaman wawancara, angket, dan observasi.
Rekaman dilakukan terhadap 7 buah kaba yang telah di[ 14 ]tentukan ketika kaba itu dituturkan dalam "situasi buatan.” Hal ini terpaksa dilakukan karena kesempatan merekam situasi penuturan yang wajar, yaitu seperti pada waktu upacara perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, pengangkatan penghulu, dan perayaan nasional, sukar diperoleh dalam jangka waktu penelitian yang cukup terbatas.
Angket disebarkan kepada tukang kaba, pendengar kaba, pemuka masyarakat, dan sastrawan untuk memperoleh informasi tentang peranan dan kedudukan kaba yang telah ditetapkan.
Butir-butir angket menyangkut pertanyaan yang bertalian dengan masalah berikut,
a. Untuk tukang kaba:
1) jumlah pengarang kaba;
2) sumber kaba;
3) cara penguasaan kaba;
4) daerah penyebaran kaba;
5) cara penyebaran kaba;
6) saat penyampaian kaba;
7) sifat penyampaian kaba;
8) fungsi kaba dalam masyarakat.
9) kaba lain yang disukai;
10) pantangan atau tabu.
b. Untuk pendengar kaba.
1) pengenalan kaba;
2) pengenalan pengarang kaba;
3) minat terhadap kaba;
4) alasan berminat;
5) saat penyampaian kaba;
6) nasihat kaba yang diteladani;
7) jumlah pendengar kaba;
8) jenis kelamin pendengar kaba;
9) usia pendengar kaba;
10) daerah penyebaran kaba;
11) pengenalan kaba yang lain;
12) jumlah pendengar kaba yang lain;
13) tingkat kegemaran terhadap kaba.
c. Untuk pemuka masyarakat.
1) pengenalan kaba;
2) pengarang kaba;
3) sumber kaba;
4) daerah penyebaran kaba;
5) cara penyebaran kaba;
6) fungsi kaha dalam masyarakat;
7) fungsi kaba sekarang dan masa mendatang;
8) sebab kaba kurang berfungsi;
9) usaha pengembangan kaba;
10) pengenalan kaba yang lain.
d. Untuk sastrawan:
1) pengenalan kaba;
2) cara pengenalan kaba;
3) minat terhadap kaba;
4) faktor pendorong minat;
5) unsur yang menarik dalam kaba;
6) kaba sebagai sumber ilham;
7) kaba sebagai faktor pemberi ilham;
8) kemungkinan kaba menjadi sastra Minangkabau inodern;
9) kemungkinan kaba menjadi sastra Indonesia modern;
10) minat terhadap penulisan kaba.
Wawancara dilakukan terhadap tukang kaba, pemuka masyarakat, dan sastrawan untuk memperoleh informasi tentang kaba sebagai pelengkap informasi dan data yang diperoleh melalui angket.
Observasi dilakukan pada saat perekaman penuturan kaba untuk memperoleh informasi tambahan mengenai kedudukan peranan kaba dalam masyarakat Minangkabau.
Hasil perekaman ditranskripsi berdasarkan ejaan bahasa Minangkabau yang dipilih oleh tim. Untuk setiap transkripsi kaba, dibuat ikhtisar kaba dalam bahasa Indonesia. Hasil angket, wawancara, dan observasi dianalis untuk mendeskripsikan peranan dan kedudukan kaba dan bentuk kaba.
1.4 Hambatan
Pertama, kegairahan bercerita pada tukang kaba sedikit kelihatan lain: ketimpangan penyampaian kaba dalam situasi perhelatan, yaitu dengan pengunjung yang umumnya terdiri atas orang mudo-mudo. Pengungkapan-pengungkapan yang bersifat erotis maupun moral sering tidak muncul menurut semestinya.
Kedua, data kuantitatif tentang jumlah pendengar (pengun- jung) juga merupakan hasil dari situasi buatan yang dimaksud. Dalam keadaan yang sesungguhnya -situasi perhelatan- jumlah pengunjung bukanlah hanya belasan, akan tetapi mungkin ratusan. Demikian banyaknya, ada kalanya pekarangan rumah-rumah di sekitar itu penuh sesak, lebih-lebih bila alat pengeras suara ikut memainkan peranan. Jumlah pendengar ini akan menjadi luar biasa sekali apabila "tukang-kabanya telah demikian ternama, apalagi kalau suaranya merdu atau orangnya muda lagi menarik.
Ketiga, akibat situasi buatan tersebut jumlah sampel untuk mendapatkan data observasi juga berbeda-beda (tidak konsisten) pada masing-masing kaba yang direkam. Di satu pihak jumlah sampel hanya beberapa orang, sedang di pihak lainnya jumlah itu jauh lebih banyak.
Keempat, pemilihan tema, amanat, alur, penokohan, dan gaya bahasa cerita terpengaruh oleh situasi buatan. [ 17 ]2.1 Kaba sebagai Sastra Lisan
Disebut sastra lisan, sebab penyampaian kaba memang dilisankan, dari mulut tukang kaba ke telinga pendengar. Tukang kaba pun menerima kaba dari sumber lain melalui cara yang sama, yakni dilisankan oleh gurunya dalam suatu upacara "bakaba”. Umumnya setiap tukang kaba menerima kaba itu dari gurunya, dengan melalui proses belajar yang memakan waktu lama. Sebab, penguasaan kaba bagi seorang tukang kaba, bukanlah hanya ter- batas pada kemampuan bercerita saja, melainkan sejalan dengan kecakapan mendendangkan serta kecekatan mempergunakan alat pengiring.
Inilah salah satu keunikan kaba. Tukang kaba yang hanya menyampaikan kaba tanpa mendendangkan dan tanpa instrumen pengiring tidak akan didengar orang. Pada merdunya dendang serta indahnya bunyi instrumen itulah terletak sebagian daya tarik kaba sehingga pendengar betah mengikutinya biarpun semalam suntuk. Nikmatnya mendengarkan kaba biasanya tambah mengikat bila malam bertambah larut dan suasana sekitar tambah hening dan sepi.
Ada bermacam-macam instrumen pengiring yang digunakan
tukang kaba. Alat-alat tersebut ada yang berbentuk alat tiup, alat pukul dan ada pula alat gesek. Yang termasuk alat tiup disebut "saluang", terbuat dari bambu, dan ada pula yang disebut "pupuik" yang bahannya berupa batang padi atau ranting bambu. Alat pukul namanya "gandang" (gendang) dan ada pula yang di[ 18 ]sebut "rabana". Jenis alat pukul lainnya ialah "talempong",
khusus untuk sistem penyampaian kaba yang dimainkan dalam bentuk randai. Randai adalah semacam seni pencak silat yang dimainkan oleh beberapa orang (lebih dari 7 orang) dalam bentuk melingkar dengan dendang tukang kaba. Suatu hal yang unik pula ialah penggunaan instrumen yang hanya terdiri atas satu buah kotak korek api, yang dimainkan dengan jentikan jari. Ini terdapat dalam perekaman kaba di daerah Lima Puluh Kota. Alat instrumen lainnya ialah biola dan "rabab". Rabab ialah sejenis alat gesek dengan bahan yang terdiri atas sebuah tempurung, diberi bertangkai seperti biola, dan juga mempunyai tali empat helai.
Di antara ke tujuh kaba yang direkam satu yang menggunakan alat gesek sebagai instrumen pengiring, yakni kaba "Gadih Basanai" dari Pesisir Selatan. Alat ini langsung dimainkan oleh tukang kaba sendiri sambil mendendangkan jalannya cerita.
Kaba dari Kabupaten Agam dimainkan dalam bentuk randai dengan menggunakan talempong sebagai instrumen pengiring. Untuk Tanah Datar terdiri dari dua buah rebana, Solok dan Padang Pariaman adalah saluang sebagai instrumen pengiringnya.
Pada umumnya kaba bukan dikarang oleh tukang kaba sendiri, melainkan secara lisan diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Jadi bersifat anonim. Memang pada waktu akhir-akhir ini pernah diciptakan kaba-kaba baru oleh tukang kaba sendiri, akan tetapi penghayatan masyarakat terhadap kaba tersebut masih belum sejauh penghayatan mereka terhadap kaba yang sudah turun temurun. Penyebaran tape recorder ke dalam masyarakat yang kian hari kian intensif agaknya akan memperluas penghayatan tersebut.
Agaknya perlu diteliti lebih lanjut, apakah meluasnya pemakaian tape recorder di kalangan masyarakat akan membawa pengaruh positif atau negatif terhadap fungsi serta peranan seni budaya ini, serta bagaimana pula pengaruhnya terhadap semangat dan daya kreativitas para tukang kaba. Sebagai suatu bentuk sastra lisan, agaknya eksistensi kaba akan dapat bertahan terus seperti halnya ketika sistem penulisan memasuki kebudayaan Minangkabau di masa lalu.
Data sementara menunjukkan, bahwa eksistensi kaba akan tetap bertahan di dalam masyarakat Minangkabau. Sesuai dengan sifat penyampaiannya, yakni "melalui pesanan" untuk suatu upa [ 19 ]cara perhelatan atau kepentingan pariwisata, maka selera masyarakat tetap menyenangi kaba yang disampaikan tukang kaba sendiriuntuk meramaikan suatu upacara, dibanding dengan yang menggunakan tape recorder. Memang dewasa ini sudah makin banyak penduduk yang memiliki koleksi kaset yang berisi kaba, namun untuk keperluan perhelatan ia tidak dapat menggantikan peranan tukang kaba.
Pertanyaan mengapa masyarakat begitu tertarik pada kaba, diperoleh jawaban yang berbeda-beda. Namun sebagian besar (85.09%) mengatakan "karena isinya penuh nasihat". Sementara itu 87,61% menyatakan, "nasihat yang terdapat dalam kaba masih merupakan suri teladan bagi masyarakat". Sebagian ada pula yang mengatakan tertarik pada gaya bahasanya, isinya yang mengharukan, atau sifatnya yang memberikan hiburan.
Dalam sastra lisan Minangkabau, kaba hanyalah salah satu da- ri bentuk-bentuk sastra lisan lainnya, misalnya "pepatah-petitih", "sisomba", "mantera", "perumpamaan", "peribahasa", "talibun" dan "pantun". Namun dalam semuanya itu kaba mengandung keunikan lainnya berhubungan sifatnya yang kompleks. Dapat dikatakan, semua bentuk-bentuk sastra lisan yang disebut belakangan terdapat di dalam kaba, Tukang-tukang kaba biasanya pintar sekali menjalinkan pepatah-petitih, sisomba, mantera, perumpamaan, peribahasa, talibun maupun pantun ke dalam sebuah kaba. Dan itu pulalah barangkali yang menjadi salah satu sebab, mengapa ekşistensi kaba tetap bertahan sampai sekarang di dalam masyarakat Minangkabau.
2.2 Gaya Bahasa Kaba
Laproan penelitian ini akan terasa kurang bila masalah bahasa yang digunakan dalam kaba tidak dikemukakan.
Bahasa kaba mempunyai gaya istimewa. Gayanya tidak sama dengan langgam bahasa yang digunakan di dalam kehidupan seharihari oleh anggota masyarakat Minangkabau. Juga berbeda dengan gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra Indonesia atau bukan Indonesia, atau dengan gaya bahasa yang digunakan oleh surat kabar atau majalah. Buku kesusastraan menyebut gaya bahasa kaba dengan istilah "prosa liris" atau "prosa berirama".
Gaya prosa liris ditandai oleh suatu ciri penanda yang khas. Pola-pola kalimatnya terdiri atas gatra-gátra dengan jumlah suku [ 20 ]kata yang relatif tetap. Biasanya masing-masing gatra terdiri atas delapan suku kata, kadang-kadang sembilan atau sepuluh, Konsistensi jumlah suku kata itulah yang memungkinkan timbulnya irama di dalam bahasa kaba, seperti halnya metrum menimbulkan irama pada sebuah lagu.
Karena gaya bahasanya yang berirama, kaba dapat dan mudah didendangkan. Membaca sebuah kaba memang terasa lebih baik bila dilagukan, atau setidak-tidaknya dengan penuh perasaan dan konsentrasi, seperti halnya membaca sebuah puisi. Sebab bahasa kaba memang bahasa yang puitis, padat dan penuh perlambang-perlambang yang tepat. Membaca kaba dengan cara membaca sebuah prosa biasa tidak akan membawa kesan apa-apa, malah barangkali membosankan. Sebab tenaga yang tersembunyi di dalam bahasa kaba hanya mungkin fungsional bila dibaca dengan cara yang sesuai menurut irama yang ada di dalamnya.
Tukang kaba dapat memainkan kaba tanpa teks (di luar kepala) karena bahasanya yang berirama itu. Ia juga bisa memberikan variasi dalam hal nada suara, pilihan kata, langgam dan tekanan, asal tidak keluar dari batas-batas metrumnya tadi. Dan yang lebih penting lagi, ia bisa mengikutsertakan berbagai musik pengiring seperti dilaporkan di muka. Perpaduan dari semuanya itu menyebabkan kaba sangat mengasyikkan bagi telinga orang Minangkabau, seperti halnya nyanyian dapat mengasyikkan telinga orang di mana saja sesuai dengan nilai-nilai budaya setempat.
Jadi kekuatan sebuah kaba terletak di dalam bahasanya yang puitis itu. Iramanya sejalan dengan irama pantun, syair, pepatah, mantera dan sebagainya, sehingga semua unsur-unsur sastra lisan ini mudah dijalinkan ke dalam kaba. Bila dilagukan ia dapat menimbulkan tenaga, dan tenaga itulah yang mungkin berperanan mengikat perhatian dan konsentrasi pendengar sampai berjam-jam.
2.3 Sistem Penyampaian Kaba
dan instrumen, satu sama lainnya sukar dipisahkan.
Juga segi-segi lain yang memungkinkan terjadinya proses penyampaian kaba. Misalnya segi waktu, situasi, motivasi dan sebagainya seperti telah diuraikan di muka.
Di pihak tukang kaba, proses penyampaian itu hanya mungkin berlangsung menurut semestinya kalau instrumen pengiring ikut serta. Tanpa instrumen pengiring, proses penyampaian itu mungkin sekali tidak menarik. Dengan demikian, seorang tukang kaba juga harus menguasai instrumen tersebut. Ia harus mahir pula menggunakannya, atau setidak-tidaknya harus sanggup mengikutinya, bilamana yang memainkan instrumen itu anggota timnya. Kalau instrumen itu sebuah "rabab", keharusan itu bersifat mutlak. Artinya, seorang tukang kaba sekaligus harus cakap memainkan rabab.
Oleh sebab itu, proses penyampaian kaba tidak mungkin terjadi tanpa adanya tukang kaba yang profesional. Orang biasa yang profesinya bukan tukang kaba, tidak mungkin sama sekali tampil menggantikan peranan tukang kaba. Jadi apabila di suatu negari tidak ada lagi orang yang mewarisi kecakapan itu, maka untuk memenuhi kebutuhan "bakaba", orang harus melakukan pemesanan ke negari lain, atau terpaksa harus menggantinya dengan bentuk-bentuk kesenian lainnya. Akibatnya, kaba menjadi kurang fungsional lagi bagi masyarakat yang bersangkutan. Minat pendengar pun sangat ditentukan oleh bentuk instrumen pengiring yang dimainkan. Ada daerah-daerah yang lebih tertarik kepada penggunaan rabab daripada pemakaian saluang, dan begitu pula sebaliknya. Gendang tampaknya merupakan salah satu jenis instrumen yang mudah menyesuaikan diri. Alat ini, sebagai instrumen pengiring di dalam proses penyampaian kaba, terpakai di mana-mana, la dapat pula berkombinasi dengan rabab dan juga dengan saluang, Talempong hanya berperanan dalam pe- nyampaian kaba yang berlangsung dalam bentuk randai.
Dilihat dari sudut penggunaan instrumen pengiring, dari sudut tukang kaba serta gaya bahasa yang dipergunakan pada kaba sebagai suatu warisan seni budaya daerah yang hidup, terdapat hal-hal yang menarik perhatian. Proses penyampaiannya berlangsung dalam suatu sistem. Bentuk-bentuk kesenian lainnya juga terungkap sekaligus. Unsur-unsur seni suara, seni musik, seni tari, dan seni drama terjalin di dalamnya. [ 22 ]Pada penyampaian kaba dalam bentuk randai misalnya, kita dapat menyaksikan penampilan sejumlah unsur-unsur kesenian tersebut. Demikian juga pada proses penyampaian kaba dengan rabab, saluang dan gendang, serta kotak korek api yang khas di Kabupaten Lima Puluh Kota (Kaba Puti Sari Banilai) semua unsur-unsur kesenian itu kelihatan. Kenyataan inilah agaknya, yang memungkinkan kaba tersebut senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.
2.4 Hubungan Kaba dengan Masyarakat
"Kita hidup di negeri yang penuh kisah", kata Henry Bett dalam English Legends. "Tak ada satu mil pun Tanah England luput kaitannya dengan sejarah, legende atau romansa 'tempo dulu'. Kisah-kisah bagaikan garam kehidupan ditimba dari peri hidup tradisional yang memekar di tengah-tengah masyarakat." Gambaran yang sama tercermin nyata pula pada pola berpikir dan kehidupan masyarakat Minangkabau dalam hubungan kaitnya dengan kaba, lambang kebijaksanaan dan kearifan. Tanah gembur bagi pengembangan imaji-imaji yang mampu bertahan dari zaman ke zaman. "Di balik variasi-variasi perlambang itulah kebijaksanaan manusiawi bersinambung dan bersemi dari generasi pendahulu ke generasi penerus, dalam pewarisan dan pengawetan nilai-nilai abadi", ulas Heinrich Zimmer dalam karyanya Mythos and Symbols in Indian Art and Civilization.
Dalam masyarakat Minangkabau kesinambungan pewarisan dan pengawetan nilai-nilai tersebut, seperti juga pada suku-suku bangsa lainnya, berakar pada tata nilai sehari-hari.Tidaklah asing jika kelompok anggota masyarakat berbincang tentang kesetiaan selalu mengambil Puti Subang Bagelang sebagai lambang ke emasan-hati. Tunangannya Magek Manandin yang terbuang kelurah dalam sebab tersangka maling sapi, tak pernah diharapkan kembali oleh siapa pun; bahkan tidak oleh Rajo Kuaso, paman kandungnya sendiri yang notabene ayah Puti Subang Bagelang. Bahkan ketika gelanggang telah dipancang, dalam rangka menye marakkan saat perkawinannya dengan Rajo Duo Baleh, Puti Subang Bagelang tetap merindukan kepulangan Magek nan malang Bersumpahlah para gadis pada pacar mereka tentang kesetiaan tanpa pamrih dengan ketegasan: "Percayailah aku, Subang Bagelangmu". Dapat dipahami jika tokoh Rancak Dilabuah dan Su[ 23 ]tan Samparono merupakan personifikasi nilai buruk dan baik. Walaupun para remaja tak lagi duduk bersantai di atas bendi (sado) sebagai lambang kenikmatan masa muda, tetapi mungkin di atas Mercy 280, namun sikap duduk Rancak Dilabuah tetap jadi contoh yang perlu dipertimbangkan. Maka abadilah peranan Kaba Subang Bagelang dan Rancak Dilabuah dalam pembinaan sikap mental masyarakat Minangkabau secara menyeluruh.
Kebanyakan kaba tersebut berasal dari kurun waktu yang bertata nilai lain, bila dibandingkan dengan tata nilai yang dianut hari ini. Tetapi proses transmisinya berjalan cukup lancar. Nampaknya perkembangan teknologi modern belum begitu telak menghambat transmisi tersebut, walaupun secara teoritis pergeseran nilai-nilai merupakan akibat sampingan yang cukup gawat. Dalam hubungan ini menarik untuk mengamati pandangan para sastrawan Indonesia yang berdomisili di Sumatera Barat.
Dalam sebuah kuesioner yang terhimpun, mereka menyatakan me- ngenal kaba dengan baik (100%). Bahkan dianggap sebagai sumber ilham dalam mencipta (50%), di samping 33,33% merasakannya sebagai sumber ilham tak langsung. Hal itu disebabkan mereka tertarik dengan penokohan dan gaya bahasa kaba (66,66%). Himpunan nilai-nilai abadi tersaji dalam rangkaian prosa-lirik yang unik. Faktor penyebab yang mendorong para sastrawan berminat menulis cipta sastra dalam bentuk kaba: 83.33% menaruh minat serius dalam rangka pengayaan khazanah sastra Minang Modern sebagai bagian sastra Indonesia yang utuh. Malahan 50% memperkirakan kemungkinan-kemungkinan penggolongan cipta sastra Indonesia dari pengembangan dan pemulusan struktur dan gaya bahasa kaba.
Terlihat di sini, bahwa masyarakat Minangkabau hidup di negeri yang penuh kaba, yang ditimba dari tata nilai peri hidup tradisional; namun tetap memekar di tengah-tengah masyarakat yang nontradisional. Kaba bertahan hidup karena memang dibutuhkan. masyarakatnya, sedangkan masyarakat pun menghidupkan dan menghidupi kaba sebab kaba bagaikan bagian dari kehidupan mereka. Di sinilah hubungan timbal balik terentang antara kaba dengan masyarakat dan antara masyarakat dengan kaba. Naga -naga- nya hubungan itu akan tetap berkelanjutan sampai saat perkembangan teknologi benar-benar menampakkan eksesnya yang parah, yakni ucapan selamat tinggal kepada segala yang berbau lama. [ 24 ]DAFTAR TABEL
A.1 PENGARANG KABA
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | - | 1 |
| 2 | Agam | - | 1 | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | 1 |
| 4 | Tanah Datar | - | 1 | 1 |
| 5 | Solok | 1 | - | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | - | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | 1 | 1 |
| Jumlah | 3 | 4 | 7 | |
| 42,85% | 57,15% | 100% | ||
A.2 SUMBER KABA
| No | Kabupaten | Langsung dari pengarang | Dari mamak orang tua | Dari guru | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | 1 | - | - | 1 |
| 2 | Agam | - | 1 | - | - | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | - | - | 1 |
| 4 | Tanah Datar | - | - | 1 | - | 1 |
| 5 | Solok | - | - | 1 | - | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | - | - | 1 | - | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | - | 1 | - | 1 |
| Jumlah | - | 3 | 4 | - | 7 | |
| - | 42,58% | 57,15% | - | 100% | ||
A.3 CARA PENGUASAAN KABA OLEH TUKANG KABA
| No | Kabupaten | Melalui pendidikan khusus | Belajar | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | 1 | 1 |
| 2 | Agam | - | 1 | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | 1 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | - | 1 |
| 5 | Solok | - | 1 | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | - | 1 | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | 1 | 1 |
| Jumlah | 1 | 6 | 7 | |
| 14,28% | 28,72% | 100% | ||
A.4 DAERAH PANYEBARAN KABA
| No | Kabupaten | Di kabupaten ini | Hampir seluruh Minangkabau | Di kecamatan ybs. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | 1 | - | 1 |
| 2 | Agam | - | - | 1 | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | - | 1 | 1 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | - | - | 1 |
| 5 | Solok | 1 | - | - | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | - | - | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | 1 | - | - | 1 |
| Jumlah | 4 | 1 | 2 | 7 | |
| 57,15% | 14,28% | 28,72% | 100% | ||
A.5 CARA PENYEBARAN KABA
| No | Kabupaten | Melalui Tukang Kaba | Perpindahan penduduk | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | - | - | 1 |
| 2 | Agam | - | - | 1 | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 1 | - | - | 1 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | - | - | 1 |
| 5 | Solok | 1 | - | - | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | - | - | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | 1 | - | - | 1 |
| Jumlah | 6 | - | 1 | 7 | |
| 87,72% | - | 14,28% | 100% | ||
A.6 SAAT PENYAMPAIAN KABA
| No | Kabupaten | Helat kawin | Khitan | Panen | Akan turun ke sawah | Mendirikan rumah | Mengangkat penghulu | Perayaan nasional | Purawisata | dan lain-lain | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | - | - | 7 |
| 2 | Agam | - | - | - | - | - | - | 1 | - | - | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 1 | - | 1 | - | - | 1 | 1 | - | - | 4 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | 1 | - | - | - | - | - | - | 1 | 3 |
| 5 | Solok | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | - | 8 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | 1 | - | - | - | - | - | - | 1 | 3 |
| 7 | Pesisir Selatan | 1 | 1 | - | - | 1 | - | 1 | - | - | 4 |
| Jumlah | 6 | 5 | 3 | 2 | 3 | 3 | 5 | 1 | 2 | 30 | |
| 20% | 10,66% | 10% | 16,66% | 10% | 10% | 16,66% | 3,36% | 6,66% | 100% | ||
A.7 SIFAT PANYAMPAIAN KABA
| No | Kabupaten | Sukarela | Melalui pesanan | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | 1 | - | 2 |
| 2 | Agam | 1 | - | - | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 1 | - | - | 1 |
| 4 | Tanah Datar | - | 1 | - | 1 |
| 5 | Solok | 2 | 1 | - | 2 |
| 6 | Padang Pariaman | - | 1 | - | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | 1 | - | 1 |
| Jumlah | 1 | 5 | - | 9 | |
| 44,45% | 55,55% | 100% | |||
A.8 FUNGSI BAGI MASYARAKAT
| No | Kabupaten | Pendidikan | Hiburan | Berhubungan dengan kepercayaan | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | 1 | - | - | 2 |
| 2 | Agam | 1 | 1 | 1 | - | 3 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | - | - | 1 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | 1 | - | - | 2 |
| 5 | Solok | 1 | 1 | - | - | 2 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | 1 | - | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 1 | 1 | - | - | 2 |
| Jumlah | 6 | 7 | 1 | - | 14 | |
| 42,89% | 50% | 7,11% | - | 100% | ||
A.9 KABA-KABA LAIN YANG DISUKAI
| No | Kabupaten | Judul kaba |
|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1. Rambun Pamenen |
| 2. Umbuik Mudo | ||
| 3. Malin Deman | ||
| 4. Simarantang | ||
| 2 | Agam | 1. Simarantang |
| 3 | Lima Puluh Kota | 1. Ali Bocak |
| 2. Puti Bungsu | ||
| 4 | Tanah Datar | 1. Kaba Hari Kiamat |
| 2. Carito Kanak-Kanak | ||
| 5 | Solok | 1. Zulbaidah |
| 2. Rohana | ||
| 3. Syafri Gindo | ||
| 4. Syamsimar | ||
| 6 | - | - |
| 7 | Pesisir Selatan | 1. Sutan Palembang |
| 2. Nan Gombang Pituanan | ||
| Jumlah | 15 | |
A.10 PANTANGAN/TABU
| No | Kabupaten | Ada | Tidak ada | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | 1 | 1 |
| 2 | Agam | 1 | - | 1 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | 1 |
| 4 | Tanah Datar | - | 1 | 1 |
| 5 | Solok | - | 1 | 1 |
| 6 | Padang Pariaman | - | 1 | 1 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | 1 | 1 |
| Jumlah | 1 | 6 | 1 | |
| 14,28% | 86,72% | 100% | ||
B.1 PENDENGARAN MENGETAHUI KABA/TIDAK
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 20 | - | 1 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | - | 1 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 8 | 1 | - | 9 |
| 5 | Solok | 13 | 2 | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 4 | 10 | 1 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | - | - | 20 |
| Jumlah | 97 | 13 | 3 | 113 | |
| 85,86% | 11,50% | 2,65% | 100% | ||
B.2 PENGARANG KABA
| No | Kabupaten | Tukang kaba sendiri | Orang lain | Tidak tahu | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | - | - | 21 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | 1 | 15 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | - | 2 | 7 | 9 |
| 5 | Solok | - | 10 | 5 | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | - | 2 | 13 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | - | 20 | 20 |
| Jumlah | 97 | 13 | 3 | 113 | |
| 15,05% | 13,27% | 71,68% | 100% | ||
B.3 TERTARIK TIDAKNYA PENDENGAR PADA KABA TERSEBUT
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Balngko | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 20 | - | 1 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | 1 | - | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 8 | 1 | - | 9 |
| 5 | Solok | 13 | 1 | 1 | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 12 | 1 | 2 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | - | - | 20 |
| Jumlah | 105 | 4 | 4 | 113 | |
| 92,92% | 3,54% | 3,54% | 100% | ||
B.4 SEBAB TERTARIK PADA KABA
| No | Kabupaten | Isi penuh nasehar | Isi mengharukan | Gaya bahasa yang menarik | Dll. | Blangko | Jumlah pendengar |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | 16 | 16 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 21 | 19 | 16 | 16 | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 6 | - | 9 | - | 1 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 3 | 3 | 3 | - | - | 9 |
| 5 | Solok | 15 | 3 | 7 | 1 | - | 18 |
| 6 | Padang Pariaman | 9 | 7 | 1 | - | 2 | 18 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | 1 | 17 | - | - | 30 |
| Jumlah | 97 | 49 | 69 | 17 | 3 | 113 | |
| 65,08% | 43,03% | 61,06% | 15,04% | 2,06% | 100% | ||
Catatan: seorang responden dapat memilih lebih dari satu option.
B.5 NASIHAT DALAM KABA MASIH SEBAGAI SURI TELADAN
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 16 | 1 | 17 |
| 2 | Agam | 21 | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | 1 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 9 | - | 9 |
| 5 | Solok | 10 | 5 | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 11 | 4 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 17 | 3 | 20 |
| Jumlah | 99 | 4 | 113 | |
| 87,61% | 12,39% | 100% | ||
B.6 SAAT PENYAMPAIAN KABA
| No | Kabupaten | Helat kawin | Khitan | Panen padi | Mengangkat penghulu | Perayaan nasional | Blangko | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | 16 | 16 | 17 | 17 | - | 83 |
| 2 | Agam | - | - | - | - | 20 | 1 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | - | 15 | 15 | 10 | - | 55 |
| 4 | Tanah Datar | 9 | 5 | - | 3 | 1 | - | 18 |
| 5 | Solok 14 | 2 | 7 | 9 | 4 | - | 36 | |
| 6 | Padang Pariaman | 12 | 2 | 1 | 1 | 1 | 1 | 17 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | 19 | - | - | - | - | 39 |
| Jumlah | 87 | 44 | 39 | 45 | 35 | 2 | 269 | |
| 32,34% | 16,36% | 14,49% | 16,73% | 19,70% | 0,37% | 100% | ||
Catatan: Seorang Responden dapat memilih lebih dari satu option.
B.7 JUMIAH PENDENGAR
| No | Kabupaten | Banyak 100 orang | Sedikit 25-200 | Sedikit sekali 25 | Tidak ada 0 | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 21 | - | - | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 16 | 1 | - | - | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 8 | 1 | - | - | 9 |
| 5 | Solok | 14 | 1 | - | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 14 | 1 | - | - | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 19 | 1 | - | - | 20 |
| Jumlah | 108 | 5 | - | - | 113 | |
B.B JENIS KELAMIN PENDENGAR KABA
| No | Kabupaten | Wanita | Pria | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 1 | 16 | 17 |
| 2 | Agam | 4 | 17 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 5 | 11 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | - | 9 | 9 |
| 5 | Solok | 4 | 11 | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | - | 15 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | - | 20 | 20 |
| Jumlah | 14 | 99 | 112 | |
| 112,39% | 87,10% | 100% | ||
B.9 USIA PENDENGAR
| No | Kabupaten | 14...th | 17-40 th | 0-16 th | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 2 | 13 | 2 | 17 |
| 2 | Agam | 11 | 10 | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 10 | 6 | - | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 1 | 14 | - | 9 |
| 5 | Solok | 1 | 14 | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 6 | 9 | - | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 6 | 14 | - | 20 |
| Jumlah | 39 | 72 | 2 | 113 | |
| 34,51% | 63,27% | 1,77% | 100% | ||
B.10 DAERAH PENYEBARAN KABA
| No | Kabupaten | Kec. ybs | Kabupaten ybs | Minangkabau | Tidak tahu | Blangko | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | - | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 15 | - | - | - | 6 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 1 | - | - | 1 | 14 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 6 | 2 | 1 | - | - | 9 |
| 5 | Solok | 1 | 3 | 10 | 1 | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | 3 | 2 | 2 | 6 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 5 | 15 | - | - | - | 20 |
| Jumlah | 30 | 23 | 30 | 4 | 26 | 113 | |
| 26,55% | 20,35% | 26,55% | 3,54% | 23,01% | 100% | ||
B.11 KABA LAIN YANG DIKETAHUI PENDENGAR
| No | Kabupaten | Ada | Tidak ada | Blangko | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 20 | 1 | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | - | 1 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 8 | 1 | - | 9 |
| 5 | Solok | 11 | 4 | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 14 | - | 1 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | - | - | 20 |
| Jumlah | 105 | 6 | 2 | 113 | |
| 92,92% | 5,31% | 1,77% | 100% | ||
B. 12 JUMLAH PENDENGAR KABA YANG LAIN
| No | Kabupaten | Banyak | Sedikit | Blangko | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 21 | 1 | - | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 15 | - | 1 | 16 |
| 4 | Tanah Datar | 8 | - | 1 | 9 |
| 5 | Solok | 13 | 2 | - | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 10 | 1 | 4 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 20 | - | - | 20 |
| Jumlah | 103 | 4 | 6 | 113 | |
| 91,15% | 3,54% | 5,31% | 100% | ||
B.13 KEMUNGKINAN KABA MASIH DIGEMARI/TIDAK
| No | Kabupaten | Tetap digemari | Tidak digemari | Tidak tahu | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 17 | - | - | 17 |
| 2 | Agam | 15 | 5 | 1 | 21 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 13 | 2 | 1 | 16 |
| 4 | Tanah datar | 4 | 5 | - | 9 |
| 5 | S o l o k | 12 | 2 | 1 | 15 |
| 6 | Padang Pariaman | 7 | 3 | 5 | 15 |
| 7 | Pesisir Selatan | 11 | 2 | 7 | 20 |
| Jumlah | 79 | 19 | 13 | 112 | |
| 69,47% | 16,81% | 13,72% | 100% | ||
PEMUKA MASYARAKAT
C.1 KEMUNGKINAN KABA MASIH DIGEMARI/TIDAK
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 10 | - | 10 |
| 2 | Agam | 9 | 2 | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 8 | - | 8 |
| 4 | Tanah datar | 12 | - | 12 |
| 5 | S o l o k | 4 | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 15 | - | 15 |
| Jumlah | 60 | 2 | 62 | |
| 96,77% | 3,23% | 100% | ||
C.2 PENGARANG KABA
| No | Kabupaten | Tukang Kaba | Orang lain | Tidak tahu | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 6 | 4 | - | 10 |
| 2 | Agam | - | 1 | 10 | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 7 | - | 1 | 8 |
| 4 | Tanah datar | 8 | - | 4 | 12 |
| 5 | S o l o k | 4 | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | - | 1 | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 2 | - | 13 | 15 |
| Jumlah | 28 | 5 | 29 | 62 | |
| 45,16% | 8,07% | 46,77% | 100% | ||
C.3 SUMBER KABA
| No | Kabupaten | Langsung dari pengarang | dari orang tua-tua | dari tukang kaba | Dll | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 2 | 1 | 7 | - | 10 |
| 2 | Agam | 1 | - | - | 10 | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 3 | 2 | - | 3 | 8 |
| 4 | Tanah datar | - | 4 | 8 | - | 12 |
| 5 | S o l o k | 4 | - | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | - | - | 1 | 1 | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 1 | - | 14 | - | 15 |
| Jumlah | 11 | 7 | 30 | 14 | 62 | |
| 17,74% | 11,% | 48,% | 33% | 100% | ||
C.4 DAERAH PENGENALAN KABA
| No | Kabupaten | Hanya di Kabupaten | Hampir seluruh Minangkabau | Sampai keluar Wilayah Minangkabau | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 10 | - | - | - | 10 |
| 2 | Agam | 11 | - | - | - | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 7 | - | - | 1 | 8 |
| 4 | Tanah Datar | 10 | - | - | 2 | 12 |
| 5 | Solok | 4 | - | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | - | - | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 13 | 1 | 1 | - | 15 |
| Jumlah | 50 | 10 | 1 | 1 | 62 | |
| 80,65% | 16,13% | 1,61% | 1,61% | 100% | ||
C.5 CARA PENYEBARAN KABA
| No | Kabupaten | Melalui Tukang Kaba | Melalui perpindahan penduduk | Melalui kaba yang sudah diterbitkan | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 7 | - | 3 | - | 10 |
| 2 | Agam | 3 | - | - | 8 | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 8 | - | - | - | 8 |
| 4 | Tanah Datar | 12 | - | - | 1 | 12 |
| 5 | Solok | 3 | - | - | 1 | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 1 | - | 1 | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 14 | - | 1 | - | 15 |
| Jumlah | 48 | - | 5 | 9 | 62 | |
| 77,42% | - | 8,07% | 14,52 | 100% | ||
C.6 FUNGSI BAGI MASYARAKAT PADA MASA SILAM
| No | Kabupaten | Pendidikan | Hiburan | Berhubung dengan kepercayaan | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 9 | - | - | 1 | 10 |
| 2 | Agam | 11 | - | - | - | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 8 | - | - | - | 8 |
| 4 | Tanah Datar | 10 | - | - | 2 | 12 |
| 5 | Solok | 4 | - | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | - | - | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 15 | - | - | - | 15 |
| Jumlah | 59 | - | - | 3 | 62 | |
| 95,16% | - | - | 4,84% | 100% | ||
C.7 KELANJUTAN FUNGSI KABA {No.6) PADA MASAYRAKAT SEKARANG
| No | Kabupaten | Ya | Tidak | Tidak tahu | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 10 | - | - | 10 |
| 2 | Agam | 8 | - | 3 | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 6 | - | 2 | 8 |
| 4 | Tanah Datar | 11 | - | 1 | 12 |
| 5 | Solok | 4 | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | - | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 12 | - | - | 15 |
| Jumlah | 53 | - | 9 | 62 | |
| 85,45% | - | 14,52% | 100% | ||
C.8 SEBAB-SEBAB KABA TIDAK BERFUNGSI *)
| No | Kabupaten | Masyarakat kurang berminat terhadap kaba | Nilai-nilai kaba telah usang | Bertentangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat sekarang | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - | - | - | - | - |
| 2 | Agam | - | - | - | - | - |
| 3 | Lima Puluh Kota | - | - | - | - | - |
| 4 | Tanah Datar | - | - | - | - | - |
| 5 | Solok | - | - | - | - | - |
| 6 | Padang Pariaman | - | - | - | - | - |
| 7 | Pesisir Selatan | - | - | - | - | - |
| Jumlah | - | - | - | - | - | |
| - | - | - | - | - | ||
- Pertanyaan No. C.8 tidak dijawab oleh responden, sebab semuanya menjawab pertanyaan no. C.7 dengan ya dan tidak tahu.
C.9 PERLU ATAU TIDAKNYA PENGOLAHAN KABA SECARA ILMIAH
| No | Kabupaten | Perlu | Tidak perlu | Dll. | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasaman | 10 | - | - | 10 |
| 2 | Agam | 11 | - | - | 11 |
| 3 | Lima Puluh Kota | 8 | - | - | 8 |
| 4 | Tanah Datar | 12 | - | - | 12 |
| 5 | Solok | 4 | - | - | 4 |
| 6 | Padang Pariaman | 2 | - | - | 2 |
| 7 | Pesisir Selatan | 15 | - | - | 15 |
| Jumlah | 62 | - | - | 62 | |
| 100% | - | - | 100% | ||
C.10 NAMA KABA LAIN YANG DIKETAHUI PEMUKA MASYARAKAT
| No | Kabupaten | Judul kaba |
|---|---|---|
| 1 | Pasaman | - |
| 2 | Agam | 1. Mara Deva |
| 2. Pembimbing Dunia | ||
| 3. Datuk Palo Sitalang | ||
| 4. Simarantang | ||
| 3 | Lima Puluh Kota | 1. Puti Bunian |
| 2. Si Jobang | ||
| 4 | Tanah Tanah | 1. Cindua Mato |
| 2. Sabai Nan Aluih | ||
| 3. Anggun Nan Tongga | ||
| 4. Nazam Kanak-Kanak | ||
| 5. Bumi Kiamat | ||
| 6. Lareh Simawang | ||
| 7. Rancak Di Labuah | ||
| 5 | Solok | 1. Rancak Di Labuah |
| 2. Malin Kundang | ||
| 3. Bujang Paman | ||
| 4. Sutan Bugindo | ||
| 5. Rohana | ||
| 6. Rambun Pamenan | ||
| 6 | Padang Pariaman | 1. Urang Pariaman |
| 2. Urang Makasar | ||
| 3. Urang Tanjung Karang |
SASTRAWAN
D.1 PENGENALAN KABA
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Ya | 6 | 100% |
| 2 | Tidak | - | - |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.2 CARA PENGENALAN
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | langsung dari tukang kaba tukang kaba | - | - |
| 2 | Membacanya | - | - |
| 3 | Melalui keduanya | 6 | 100% |
D.3 TERTARIK / TIDAK
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Tertarik | 5 | 83,33% |
| 2 | Kurang Tertarik | 1 | 16,67% |
| 3 | Tidak Pernah | - | - |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.4 FAKTOR YANG MENARIK
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Nilai Satranya | 1 | 16,67% |
| 2 | Cara penyampaiannya | 2 | 33,33% |
| 3 | Kedua-duanya | 2 | 33,33% |
| 4 | Blangko | 1 | 16,67% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.5 UNSUR-UNSUR KABA YANG LEBIH MENARIK
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Isinya (tema dan amanatnya) | 1 | 16,67% |
| 2 | Bentuk strukturnya (jalan cerita, penokohan, dan gaya bahasanya | 4 | 33,33% |
| 3 | Kedua-duanya | 1 | 33,33% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.6 KABA SEBAGAI SUMBER ILHAM
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Pernah | 3 | 16,67% |
| 2 | Rasa-rasanya pernah | 2 | 33,33% |
| 3 | Tidak Pernah | 1 | 33,33% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.7 FAKTOR YANG MENGILHAMI
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Gaya bahasanya | 1 | 33,33% |
| 2 | Tema | 1 | 16,67% |
| 3 | Kedua-duanya | 2 | 33,33% |
| 4 | .............. | 1 | 16,67% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.8 KEMUNGKINAN KABA MENJADI MINANG MODERN
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Mungkin | 5 | 83,33% |
| 2 | Tidak mungkin | 1 | 16,67% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
D.9 KEMUNGKINAN KABA MENJADI MINANG MODERN
| No | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Dapat | 3 | 50% |
| 2 | Tidak dapat | 2 | 33,33% |
| Jumlah | 5 | 83,33% | |
D.10 BERMINAT TERHADAP PENULISAN KABA
| No. | Jawaban | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Berminat | 5 | 83,33% |
| 2 | Tidak Berminat | 1 | 16,67% |
| Jumlah | 6 | 100% | |
Pasaman, Minangkabau
3.1 Puti Jailan
Ringkasan Cerita
Sutan Rujo Mudo, seorang raja yang berpengaruh di daerah Pasaman, mempunyai seorang anak gadis yang cantik bernama Puti Jailan. Melihat anak gadis yang semakin remaja itu, terniat di hati Rajo Mudo untuk segera mencari menantu. Menantu yang sepadan dengan kecantikan Puti Jailan.
Setelah berunding dengan isterinya Puti Lindung Bulan, maka dipanggilnya Bujang Selamat, seorang pesuruh yang cekatan, untuk memberitahukan kepada penduduk negeri tentang maksud Sutan Rajo Mudo untuk mengadakan suatu pesta meriah yang lamanya tujuh hari tujuh malam. Bujang Selamat, tanpa mengulur waktu membunyikan tabuh (beduk) larangan dan memukul canang sebagai pemberitahuan kepada masyarakat, bahwa raja mereka akan mengadakan pesta meriah. Direncanakan juga dalam pesta ini mengundang sutan dan raja-raja yang berada di sekitar negeri tersebut.
Butan Itajo Mudo melaksanakan pesta yang meriah ini adalah dengan makau meneliti pemuda atau anak raja yang cakap yang pantas untuk menjadi suami Puti Jailan. Puti Jailan dalam pesta itu sengaja didudukkan di anjung [ 46 ]peranginan, sehingga dapat melihat setiap kurenah dan wajah para pengunjung pesta, dan diharapkan pula ia dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan idamannya.
Setelah upacara pesta usai, Puti Jailan tidak memperlihatkan wajah yang gembira, ia malah makin senang menyendiri. Melihat kenyataan itu ayah dan bundanya datang menanyai dan meminta kepastian, sutan atau raja mana yang berkenan di hatinya. Puti Jailan tanpa berpikir lama, menjawab, bahwa tak seorangpun dari pengunjung gelanggang yang dapat menyentuh hatinya. Kemudian ia juga mengatakan kepada ayahnya, pastilah ada seseorang yang terlupa mengundangnya. Kenyataannya Tuanku Malin Panjang tidak hadir di gelanggang. Rupanya pada Malin Panjang inilah hati Puti Jailan tersebut.
Tengah malam Puti Jailan pergi ke anjung peranginan lalu membakar kemenyan pitunang. Asapnya menjulang dan menebar ke segala arah membawa bau harum yang memikat. Dengan itu serta merta Malin Panjang kena pitunang dan tanpa dapat ditangguh-tangguh berkeinginan pergi dari rumah. Tak lama kemudian ia berangkat dan menuju rumah Puti Jailan.
Di sana diadakanlah perundingan dengan ayah dan bunda Puti Jailan. Disepakatilah untuk mempertunangkan Puti Jailan dengan Tuanku Malin Panjang. Karena Malin Panjang bertekad untuk merantau terlebih dahulu sebelum berumah tangga, dibuatlah perjanjian antara kedua pihak, agar saling menunggu dan tidak mungkir janji. Kalau nantinya Malin Panjang yang mungkir janji dia akan karam dan tenggelam di lautan besar. Kulau Puti Jailan yang mungkir janji dia akan menjadi ungko siamang putih, Tuanku Sawang Langik, setelah mendengar bahwa Puti Jailan tidak menemui calon suami sewaktu pesta gelanggang, mencuba mengadu peruntungan dengan jalan mendatangi keluarga Tuanku Rajo Mudo. Kunjungannya disambut baik oleh ayah dan bunla Puti Jailan.
Pada kesempatan itu diadakan perembukan dan akhirnya disepakati untuk mengawinkan Puti dailan dengan Tuanku Sawang Langik. Sewaktu Bundo Kandung menyampaikan keputusan ini kepada Puti Jailan, kontan ditolaknya mengingat janji yang telah dibuatnya di masa lalu dengan Tuanku Malin Panjang. Puti Jailan ingat akan janjinya bahwa bila in yang berkhianat dengan sumpah setianya, ta akan menjadi ungko siamang putih dan menghi [ 47 ]ulak ranah rantau Pasaman, memakan pucuk daun conteh, meminum air di bungkul dan diam di pohon kayu yang tinggi.
Mendengar penolakan Puti Jailan, ibunya sangat marah dan memaki-maki Puti Jailan, dan terus mendesak agar menerima Sawang Langik menjadi suami, tanpa menunggu Malin Panjang yang entah kembali entah tidak.
Hati Puti Jailan kepada Malin Panjang tidak berubah, namun paksaan orang tuanya tak dapat ditolak lagi. Berkali-kali Puti Jailan mengingatkan ayah bundanya akan akibat mungkir janji yang bekal dideritanya, namun kedua orang tua itu tak ambil pusing. Akhirnya perkawinan antara Sawang Langik dan Puti Jailan tetap dilangsungkan.
Bujang Selamat disuruh memanggil Angku Kadi, ninik mamak serta penghulu untuk menghadiri perkawinan Puti Jailan dengan Sawang Langik.
Setelah dibacakan akad nikah, Puti Jailan melompat ke atas pagu, lalu lari ke pohon manggis menjadi siamang putih. Dari pohon ke pohon Puti Jailan lari ke dalam hutan. Bundo Kandung dengan penuh penyesalan mengikuti dari bawah, dan mengajak anaknya kembali ke rumah namun ajakan itu sia-sia. Bahkan Puti Jailan selalu menganjurkan ibunya pulang dan tidak mengikutinya lagi.
Puti Jailan melompat dari satu pohon ke pohon lain, dan bunda selalu mengikuti dari bawah. Habis hari berganti hari, habis bulan berganti bulan bundanya selalu mengikuti anaknya yang telah menjadi siamang, sehingga kepalanya tidak dapat ditekur lagi.
Suatu hari ia melihat ibunya tidak mengikutinya lagi, rupanya bunda tersayang telah meninggal di bawah pohon dan dikerumuni langau hijau. Bunda mati bersama penyesalan. Melihat ibu telah meninggal lalu Puti Jailan turun dan menguburnya di tanah yang berlekuk.
Setelah itu Puti Jailan kembali ke pohon yang besar di tepi laut, memandang ke tengah lautan besar. Suatu hari ia melihat kedatangan sebuali kapal. Rupanya kapal Malin Panjang yang melaju ke pantai.
Di pantal Malin Panjang mendengar bunyi siamang dan ia melihat ke atas pohon, dan terlihatlah siamang putih.
Puti Juilan turun dari pohon dan menemui Malin Panjang, [ 48 ]sambil menangis menyampaikan nasib yang telah menimpa dirinya. Dia menjelaskan bahwa ia dipaksakan kawin oleh kedua orang tuanya.
Tuanku Malin Panjang berkata dan menyesali peruntungan yang malang. Dan dengan hati yang perih ia belokkan haluan kapalnya kembali menuju lautan besar.
Puti Jailan menangis dan menghempas-hempaskan kepalanya ke batu besar yang ada di tepi pantai itu, dan lalu meninggal.
Transkripsi
Lambuik kironyo kayu balam, tumbuah di tapi aia rangek, rambang malam harilah laruik rambang malam. Eloklah kaba dipabangek lalulah juo rang mudo, lalulah lalu kaba kito. Aia lah kariang hari paneh aia lah kariang, sipasiang kamanolah manggapainyo.
Ampun baribu kali ampun, ampun niniak jo mamak, ampun di urang tuo-tuo sarato urang punyo rumah, ampun di bangso jo di aluran, aluran sanak jo sudaro, aluran ipa dek sumandan kito mangambang ondeh carito.
Carito urang daulu banamo carito Puti Jailan, anak tuanku lah Rajo Mudo, mandeh banamo Linduang Bulan. Lamo lambek nan bak kian sinan takalo bakalo, takalo di jujah dek jorong jojai, takalo dek baso nan daulu, takalo ai aru jolong tumbuah, takalo panyakik nan mandalam, takalo dek sampu jolong naiak, takalo dek urek lai panjang, takalo di batang lai gadang, takalo di kulik lai taba, takalo dahan lai lampai tukalo di tampunk jolong bagatah, takalo di daun jolong hijau, kini di mano tulah io Diak sansan.
Eloklah banda dibandakan, banda dikali rang daulu, ekik. lah kaba dikabakan, kaba carito rang daulu, dek funti-binti di sinan liek dek nan balimo di dalam banda, bukan ko mato nan maliek, talingo ajo nan mandanga ondeh Diak kandusung on Gadang alanyo sungai landai tarandam batangnyo puluik puluak. bukan ko ambo cadiak pandai, kuba panggoyang woyang muluik, kaba parintang-rintang mato, pado dirintang dek nan tido, eluk lah dirintang oi dek nan lai Mloklah kaba dipalakeh malam ta tambah dalam juo, eloklah ayun diayunkan, loklah dendang lah didendangkan, eloklah kaba dikabakan, kaba baayun hafomjek kan kaba bapangkeh ditangkok ujiang [ 49 ]Takana di maso Puti Jailan, ondeh baumua ampek baleh tahun, dikacak langan lah bak langan, dikacak batih lah bak batih, dirancak puti nan tabedo tido, sapantun bulan di ampek baleh, wamonyo mukonyo bak bulan panuah, rambuik panjang bak mayang taurai, gigi hakilek bak gewang kaco, bakaja cacak di ateh paran, gilo dibayang-bayang gigi.
Balam sairiang jo barabah inggok di pulau lah andangan-andangan Diak oi. Jo sambah salam sairing jo sambah kandaknyo bukan alang-alang, salaweh rumah Diak oi kambang salaweh rumah, kami dek malupeh lah anak pigau Diak oi. Di urang rumah minta ampun, di urang rumah kami malapeh lah ati risau.
Elok diulang saulang lai, panjalang kaba nan tingga cako, takana maso Puti Jailan, rancak nan bukan lang-alang, sapantun bulan ampek baleh, nan mukonyo bulan panuah, rambuiknyo panjang mayang taurai, gigi bakilek bak gewang kaco, bakaja cacak di ateh paran digilo bayang-bayang gigi, bakaja ayam di alaman, ondeh tabanglah pipik babondong-bondong disangko buah padi masak kironyo bayang-bayang gigi, tabang kaluang jinak-jinak, ondeh disangko lah bungo durian, kironyo bayang-bayang
Lamo lambek nan bak kian, lorong lah di Puti Jailan, inyo di ateh di anjuang paranginan, di ateh tuan gilo manyuji di mano rawang bimbang batanun dek tiok ari pado maso di maso iduik takana di nasih di badan diri, gilo bamanuang-manuang sajo, turioak hamamuang-manuang diri, takana di nasib oi. Ondeh lai bana bak kato urans ondeh tatumbuak biduak dikelokkan, taturuinak aka lah dimanuangkan oi bamanuang juo di maso itu.
Lamo lambek nan bak kian lorong tuanku lah Rajo Mudo, onteh bakato jah maso nantun." Ondeh, Diak kanduang Linduang Mulan, cute lieklah anak kito di ateh anjuang paranginan, cubo kubalah tanyo leook-elok, cubolah tanyoi sungguah-sungquah, apo sababmyo nan bak kian duduak bamanuang-manumreg sæpe, duduak haroahuang-manuang diri.
"Mandenga kato nan bak kian lorong di Puti Linduang Bulan,zabalak neuk ka ateb anjuang paranginan, lalu bakato nan nyolar. 143. Nuk kanduang Puti Jailan, hari luruih Bundo batanyo sjúk elok, srobu balenyo, ambo batanyo Juruih-luruih, apo sabab-yra tik kan, dudunk bainanuang-manuang sajo, duduk baang din apo nan tasalek di dalam hati, apo nan [ 50 ]takalang di pado lidah, banakan juo oi."
Mandanga kato nan bak kian, lalu manjawab lah Putih Jailan, "Ampun baribu kali ampun, ampunlah dek Bundo kanduang denai, jikok nan salorong tantang itu Bundo tanyokan di ambo, ondeh ado tasirek dalam hati, ado takalang pado lidah, io bana bak kato urang ondeh di ati lah ditakankan di mato lah dipajamkan, tatumbuak biduak lah dikelokkan, tatumbuak aka dimanuangkan, takana bana di nasib badan ambo, diliek siriah ondeh bajunjuang, diliek rumah nan batunggak, diliek buruang lah bajoli, tapi sumantang pun baitu untuang lah di ambo kironyo, kaciak banamo Puti Jailan gadang banamo tuo rando, pikialah dek Bundo." Mandanga kato nan bak kian, alah manjawab bundo kanduang, "Oi Nak kanduang Puti Jailan jikok salorong tantang itu, indak murah urang basuami, indak murah urang batompangan, indak murah urang manggalamai, dek kurang aru cirik kambiangan, pikialah di Anak oi. Oi timbang di Anak bamanuangkan indak murah urang basuami, indak murah batompangan sado rang tau indak di baso lah jo basi, taulah di adaik nan jo limbago, nan kakasiah urang, nan di dapua pandai batanak jo manggulai, píkialah dek Anak oi."
"Danga dek anak den katokan, ondeh lah io bana bak kato urang, nan sirah iolah sago, nan bulek io lah kendi, nan indak iolah baso, nan baiak iolah budi, sinan babelok barangin-rangin sinan babelok ka batang ari, ondek dek elok urang tak ingin, iyo nan baiak nan kito cari Nak oi."
Didulang sadulang lai, pandulang ameh lah di muaro, diulang saulang lai, paulang kaba nan tingga cako.
Eloklah ayun diayunkan, eloklah dendang didendangkan, eloklah dikabakan, kaba baayun balompekkan, kaba bapangkeh datang ka ujuang. Ondeh di bundo kanduang mandanga kato anak kanduang lalu bakato maso nantun, "Ondeh, Tuan kanduang denai banamo Tuanku Rajo Mudo, danga dek Tuan den katokan, anak kito Puti Jailan, tumbuah hatinyo maso nantun inyo nak mancarilah kawannyo." Ondeh lamo lambeklah bak kian, manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Joko salorong tantang itu baitu bana kaeloknyo, imbaulah Bujang Salamaik, guguah tabuah dek nan larangan, dicecer-cenang si pamanggia, pamanggia urang dalam magari, pambari tau dek urang banyak, kito baralek lah nyo lai, kito mamancang di galanggang tujuah ari tujuah malam." Lalu [ 51 ]diimbau Bujang Salamaik, "Mano Nak kanduang Bujang Salamaik, nan capek kaki ringan tangan, alun diimbau lah datang, alun disuruah lah pai, nan limpapeh rumah nan gadang, acang-acang dalam nagari, untuk pangganggam si anak kunci."
Lorong di Bujang Nan Salamaik lah manyambah maso nantun, "Ampun baribu kali ampun, ampun di Bapak kanduang denai banamo Tuanku Rajo Mudo, apo sabab ambo diimbau datang ka mari, mano nan jauh nan kadijapuik, apo dijapuik diantakan, apo disalang dipulangkan, banakan juo pado ambo." Manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Ondeh Nak kanduang Bujang Salamaık, kini baitulah Nak kanduang, bunyikan tabuah nan larangan, sinan banamo guruah di langik, cecerlah cenang si pamanggia, pamanggia urang di nagari, pambari tau urang, lah banyak kito mamancang di galanggang tujuah ari tujuah malam, mancari jodoh Putih Jailan." Lorong di Bujang Salamaik, jokok salorong tantang itu lalu diambiak si bambu tongga dibaok turun ka halaman lalu dilacuik tabuah larangan, sinan banamo guruah di langik lalu dicecer cenang si pamanggia, pamanggia urang di nagari pambari tau urang nan banyak.
Alah salasai nan bak kian takujuik urang nan di nagari, lah gampo urang dalam kampuang, lorong di niniak lah dangan mamak sarato imam dengan katik lalu bakatolah maso nantun Diak oi.
Bakato niniak lah dangan mamak sarato panghulu jo andiko, sababnyo nan bak kian, kadangaran babunyi tabuah nan larangan banamo guruah di langik, dicecer cenang dek si pamanggia, pamanggis urang di nagari, pambari tau (lah) urang banyak.
Antah kok apo nan lah datang, antah kok musuah nan lah tabu, antali dubalang gagah nian, antah panghulu dek lancar hukum, antah kok rando dapek malu, saumua denai indak panah tubuah bahunyi man bunamo tabuah larangan, babunyi cenang dek ai pamanggia, pamanggia urang di nagari, pambari tau urang banyuk.
Larongan dek miniak dangan mamak sarato panghulu lah jo andiko mairiang urang nan lah nyato, yo maadok ka rumah tuanku lat Hajo Mudo. Alah aabanta nan di jalan lah sarantang duo ranfang, cukuik katigo rantang panjang, iyolah sampai maso nantun di alaman tuanku lah Rajo Mudo, lorong di niniak lah dangan manak lalu manyambah maso nantun." Ampun baribu kali ampun, ampun di Rajo, ondeh ampun di Tuo Rajo kami banamo Rajo [ 52 ]Mudo, ondeh bari luruih kami batanyo, kami batanyo luruih-luruih, kami batanyo elok-elok, apo sababnyo nan bak kian, tadanga tabuah nan babunyi, sinan babunyi tabuah larangan, dicecer cenang dek si pamanggia, pamanggia urang di nagari, pambaritau (dek) urang banyak manokoh musuah nan lah datang, mano panghulu gagah nian mano panghulu lancar hukum, antah dubalang gagah nian, ato kok rando dapek malu, banakan juo pado kami."
Mandanga kato nan bak kian, manjawab tuanku lah Rajo Mudo, "Jokok salorong lah tantang itu, Tuan tanyokan tantang lah diri ambo, bukan panghulu dek lancar hukum, bukan dubalang gagah nian, bukan rando dek dapek malu, sinan babunyi tabuah larangan, babunyi cenang dek si pamanggia, pamanggia urang di nagari."
Iyo tuanku Rajo Mudo, lalu bakato maso nantun, "Ondeh di Tuan kanduang denai, baiyo di niniak lah dangan mamak sarato pangulu jo andiko, ambo manyarah lah di Tuan kanduang. apo ko paguno lah di galanggang ato kok kayu nan kan dijapuik atoko buluah nan dijapuik paelo baletong di galanggang, di tampek urang ondeh batanak jo manggulai.” Lalu manjawab ondeh lah niniak dangan mamak, sarato pangulu jo andiko, "Jokok salorong tantang itu, indak ko bukan dek denai ambo, basi elok diringgiti, kurang elok dibari pakai, pucuak dicinto dek ulam datang, isuak dicinto kini datang, Allhamdulillah tarimo syukur."
Lorong di Tuanku Rajo Mudo lah mangirim surek ilia mudiak, mangirim surek kiri kanan mambari tau sutan-sutan, mambari taulah rajo-rajo, inyo kan mamancang di galanggang nan tujuah ari tujuah malam mancari jodoh Puti Jailan. Lorong di urang nan banyak tu lalu basigap hanyo lai. Alah salasat tantang itu, dimulai urang di galanggang, mulai galanggang yolah rami di maso nantun, datang urang nan indak putuih, sinan sapantun samuik nan bairiang, sapantun nan anai-anai bubuih, nan di lambah da tang mandaki, ondeh di bukik datang manurun, ondeh nan tuo datang batungkek, nan kaciak datang baambin, iyo nan lumpuah datang baasak, ondeh nan buto datang bairik, rami galanggang nan tabedo tido, bamain urang di galanggang nan satangah lah puta dadu, nan satangah urang lah manyabuang, bialah kariak ditarinyo tulak batundo di bulu ayam, siriah manjadi lah sarok balai. [ 53 ]Rami galanggang tabedo tido, gantiang kamuniang lah dialaman tampek pautan kudo si sutan-sutan, pautan kudo si rajo rao. Lorong di Puti si Jailan, surang lah indak nan katuju, lai nan randah-rindih amek, lai nan tinggi lah tinggi amek, lai putiah pucek amek, lai nan kuniang kunik amek, lai nan itam kuali bana ondeh Diak.
Lamo lambek nan bak kian, tujuah hari galanggang rami, rami nan bukan alang kapalang, hari lah sanjo ko maso nantun di urang lah pulang urang dari galanggang, langang galanggang di maso nantun hari basarang lah dek sanjo, sanjo bajawek lah dangan malam, lorong dek Puti Jailan di ateh anjuang paranginan gilo manyuji jo manarawang, bimbang batanun lah tiok hari. Lorong di ayah bundo kanduang diri banamo Tuanku Rajo Mudo, iyo dek lalu mamanuang di masa nantun alah tapikie di dalam hati lalulah diimbau anak kanduang, "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, agak ka marilah kau duduak, bari luruih ambo batanyo, ambo batanyo luruih-luruih, ambo batanyo elok-elok, apokoh sahabnyo nan bak kian mambari malu pado kami. Indak malu sagadang nangko arang tacoreang pado kaniang, indak dapek ondeh mailak, lai awak si anu lah janyo urang, jikok dilieklah potongan den, jauah lah didanga baritonyo, pikia di Anak lah kanduang denai. Mangapo anak sarupo nantun mambari malu lah pado kami, pikia dek Anak kanduang denai, kito mamancang lah kagalanggang, tujuah ari lah tujuah malam, rami galanggang nan tabedo tido, sapantun samuik nan bairiang, sapantun anai-anai babuit rami galanggang nan tabedo-tido, gantiang kamuniang di alaman pautan kudo sutan-sutan, pautan kudo rajo-rajo surangpun nan indaklah katuju, banakan juo nan pado ambo."
Mandanga kato nan bak kian, manjawablah Puti Jailan, "Nan ampun baribulah kali ampun, ampun di Ayah kanduang denni, jokok salorong nan tantang itu Ayah tanyokanlah ka ambo, lah iyo hak kato Ayah, kito mamancang di galanggang tujuah ari lah tujuah malam, rami galanggang tabedo tido, ondeh gantiang kamuniang di alaman, pautan kudo dek sutan-sutan, pautan kudo dek raja-rajo, surang indak nan katuju. Sumantanglah baitu talupo Ayah mah kirony mangirim surek kiri kanan, mambari taulahrajo-rajo, itu dek sabubnyo nan lah bak kian, pikialah dek Ayah oi."
Mandanga kato nun bak kian, berang bangih ayah kanduang [ 54 ]mandanga kato si anak kanduang. "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan talupo molah ambo kironyo mangirim surek lah ilia mudiak, mangirim sureklah kiri kanan, mambari taulah sutan-sutan, mambari taulah rajo-rajo; ondeh nan indak kasarupo nangko, gantiang kamuniang nak di alaman pautan kudo dek sutan-sutan surangpun indaklah nan katuju banakan juo nan pado ambo.”
Mandanga kato nan bak kian, alah manjawablah Puti Jailan, "Ampun di Ayah kanduang denai, kok indak talupo dek Ayah molah kironyo mangirim surek yo kiri kanan, mangirim surek ka ilia mudiak, mambari taukan sutan-sutan, mambari tau rajo-rajo, Mangapo tuanku (dek) Malin Panjang indak datang ka galanggang, itu sababnyo lah nan bak kian. Tapi lah samantang pun baitu untuang di ambolah kironyo, ketek banamo Puti Jailan, gadang banamolah tuo rando."
Ondeh bakato iyo Tuanku Rajo Mudo, "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, jokok salorong lah satantang nan bak kian iyo bana bak kato urang, sinan kok lamo lupo, sinan kok banyak ragu, ragu ambolah kironyo, talupo ambo lah mah kironyo mangirim sureklah nan surang nantun, tapi sumantang lah bak nantun ambo manyarah lah ka Nak kanduang, kok lai patuah ondeh ka urang tuo-tuo dek panuntuik malu kapado kito yo pambangkik tareh tahanam paapuih arang pado kaniang, pikia di Anak oi, iyo bana bak kato urang, indak alu saalu nangko, alu tatumbuak pado tabiang, indak malu samalu nangko, arang tacoreang dek pado kaniang, indak dapek mailak lai, mano kito nak manyuruak, awak si anulah janyo urang, dakek diliekiah potongan denai, jauhlah-jauh baritonyo, pikia dek Anak lah kanduang denai."
Lamo lambek nan bak kian, gilo barundiang-rundiang jua, gilo mangecek-ngecek juo, hari basarang malam juo, kira-kiro pukua duo baleh. Lorong di Puti Jailan diaumbiak upi nan maso nantun, lah dibaka kumayan putiah, arunnya bukan alang-alang. raso maluruik bulu hiduang, raso mamacal onde ka banak kapalo. Lorong di Puti Jailan manyaru lah dek kian, dipasang demu dek bak nyo lai, dipasang pitunang lah Naba Band, dipasang pilun. duak jo pakasiah.
Hari nan sadang tangah malam, kira-kiro pukua dua batch, sangko lamaklah urang tidua, eloklah kaba dipalakeh, kate bura liah lah nyo lai, sungguh pun baraliah di sinan tuo, alish kapade onde Tuanku Malin Panjang sadang di rumali mandri kanduang. [ 55 ]Sadang di ateh anjuang paranginan, iyo bamimpilah mimpi alang datang, arun tabedo tido, arun bukan dek alang-alang bak raso maruntuah bulu hiduang, baraso mamacah banak di kapalo, heran tuanku lah Malin Panjang. Antah apo nan lah datang, antah malaikaik nan lah turun, antah kok setan nan mandayo.
Ondeh taniaik bana nak bajalan, tacinto bana nak marantau, indak menanti hari siang, ondeh mangaluah-ngaluah juo, ondeh mangampeh-ampehkan kaki, iyo malacuik-lacuikkan tangan. Alah sabanta di antaronyo kadangaran di aciak kanduang nan batujuah, sadang di jorong lah ruang tangah, sadang di dalam biliak gadang.
Lorong di puti nan batujuah onyo, diak kanduang nan baranam kito lah naiak ka ateh anjuang paranginan, "Dangalah di Adiak, lah tuan kito banamo Tuanku nan Malin Panjang, nak kito sudi manyiasekki, kito tanyokanlah elok-elok, kito tanyoilah sungguh-sungguah, apo sababnyo nan dek bak kian, inyo mangaluah-ngaluah juo, ondeh mangampeh-ampehkan kaki, ondeh malacuikkan tangan, ado nan tapikia lah kironyo, antah kok sakik nan ngilu paniang, nak tantu di kito nan ka mancari nan kan ubeknyo."
Lorong di puti nan batujuah lalu lah naiak ka ateh anjuang paranginan, ondeh manyambah puti ka tujuahnyo, bakato puti ondeh nan tuo, "Ampun baribu kali ampun dek Tuan kanduang kami man banamo Tuanku Malin Panjang, bari luruih kami batanyo, kami batanyo elok-elok, kami batanyo luruih-luruih, apo sababnyo nan bak kian, mangaluah-ngaluah juo, sinan mangampeh-ampehkan kaki, malacuik-lacuikkan tangan, apo nan sakik kok kironyo, adokoh sakik nan ngilu paniang, banakan juolah pado kami, nak tantu dek kami nan ka mamintak lah kan ubeknyo, ondeh dek Tuan oi."
Mandanga kato nan bak kian, manjawab tuanku Malin Pansang. "Ondeh Ciak kanduang nan hatujuah, sungguah salorong tantang itu, Arsak tanyokan lah ka ambo, bukan kok sakik ngilu paniang, bukan ko anibo nan sakik-sakik, dangakanlah dek Aciak kanduang di hari nan sadang tangah malam kiro-kiro pukua duo baleh, sadangko lamak urang tidua, lorong di nasib badan ambo, sadang dimimpi-mimpi alang datang, harun tabedo tido, bukan alang alang, bak raso maruntuah bulu hiduang, bak raso nak pacah banak di kapnil, heran sakali nan hati denai, antah kok apo nan Jah datang. Antal, nudaikat nan lah datang, antah ko setan nan [ 56 ]mandayo, pikialah dek Tuan kanduang denai."
"Danga di Aciak kanduang denai antah ko setan nan mandayo, onde taniaik bana nak bajalan, tacinto bana nak marantau jauah nan ka dijalang ambo bajalan surang sajo." Mandanga kaba nan bak kian manangih puti nan batujuah.
Ondeh bakato puti nan batujuah ondeh Diak kanduang, "Tuan kami nan banamo Tuanku Malin Panjang, mangapo tuan nak bajalan apoko Tuan nak marantau, apoko salah pado kami, adoko salah dek kurang adab, adoko salah dek kurang baso, dangan basi, patuik ditunjuak lah diajari. banakan juo pado kami, dek janyo Tuan pai bajalan, dek Tuan pai marantau nan jangan Tuan pai marantau, baitu bana di untuang kami lah, iyo bana bak kato urang, kok tumbuah sakik nan ngilu paniang. kok tumbuah silang jo salisiah, di mano kami ka mangadu, iyo bana bak kato urang, sinan baparak ka parak urang, bacari tampek batanam tabu, onde bamamak di mamak urang. bacari tampek bakeh mangadu."
Mandanga kato nan bak kian, ondeh manjawab Tuanku Malin Panjang, "Ondeh Aciak kanduang nan batujuah, bari izin ambo elok-elok, rilakan susah payah Aciak, ambo kan bajalan nan kini nangko, indak tananti lah hari siung, indak kok salah di Acmak kanduang nan batujuah, indak kok salah dek kurang adab, indak kok salah di kurang baso lah dangan basi. Lorong di Acisk haudan ambo, taniaik bana nak bajalan, tamaik bana nak marantau, indak tanantilah hari siang, diradah induk tarudah, diradah lalu dek ha lah dek Aciak kanduang denai yang jaguang, ditagah indak ka tatagah labial, bak diasuang, pikma.
Mandanga kato nan bak kian manangih puti nan batumah. Alah sabanta antaronyo gilo batangka-tangka mio, kadanggaran dek bundo kanduang sadang di dalam bilak gadung, lalu lah nasak lah bundo kanduang ka atch anjuang paranginan, lalu bakatu dek maso nautun, "Ondeh Nak kandung iyo banumo lah Tuanku Malin Panjang, bari luruih ambo batanyo, ambo hatanso ek elok-elok, ambo batanyo dek luraih Junutib, apo sababuy si nan bak kian sadang batang-tangka jun, apoke salali di Ariak kanduang nan batujuah, apoko salah bek kurang alah ato ko salah dek kurang baso dangan hast, palulk ditunjuk lah agar ana kan juo lah ka ambo, ondeh Nak kanduang oi
Mandanga kato nan bak kian majawab Tuanku Malin Pan [ 57 ]jang, "Ampunlah ambo dek Bundo kanduang, jikok salorong tantang itu Bundo tanyokan lah ka ambo, indak ko salah di aciak nan batujuah, indak ko salah dek kurang adab, indak ko salah di kurang baso dangan basi; lorong di badan diri ambo, dangalah dek Bundo den katokan, taniaik bana nak bajalan, tacinto bana nak marantau, indaklah tananti hari siang. Danga di Bundo den katokan, bari luruih onde relakan susah payah Bundo, rilakan aia lah susu nan taminum lah dek ambo, ambo pun bajalan kini nangko, danga dek Bundo lah den katokan, hari nan sadang tangah malam, kiro-kiro pukua duo baleh, sadang lamak urang tidua. Lorong di nasib badan ambo, sadang bamimpi-mimpi alang datang, arun tabedo tido, ondeh bak raso maruntuah bulu hiduang, hak raso mamacah hanak kapalo, heran sakali hati denai antah ko apolah nan datang, antah malaikaik nan lah tibo, antah nan jadu nan lah tiho, antah setan nan mandayo, taniaik bana nak hajalan, tacinto bana nak marantau, indak tananti di ari siang."
Mandanga kato nan bak kian, alah manjawab Bundo kanduang. "Ondeh Nak kanduang banamo Tuanku Malin Panjang, usah Nak kanduang pai hajalan, usah ko anak pai marantau iyo tu bana hak kato urang, baparak di parak urang, mancari tampek batanam tabu, bamamuk di mamak urang, mancari tampek mangadu, tampek bapijak nan lah taban, tampek bagantuang nan lah putuih, jarek samato dek Bundo kanduang, pikialah dek Anak oisah Nak pai hajalan, usah Nak pai marantau, lah coitu bana di untuang kami, pikia lah bana dek Anak denai, sinan ko Anak pai marantau baitu bana untuang kami, sinan di parak urang, mancari Lanark batanam, tabu, sinan bamamak ka mamak urang, mancari tumpek mangalu, tampek bapijak nan lah taban, tampek bagantuang nan lah putuih, jarek sainato dek Bundo kanduang, papeh sabantuak ka umpan sikun, putuih ka manolah diawaikan, pikialah tek Anak kanduang."
Mandanga kato nan bak kian manjawab juo Tuanku Malin Panjang. "Onciech dek Hundu kanduang denai, lah bari izin ambolah plok vlak, ambo hapadan kini nangko, rantau jauah ka di jalang, arul, bajulan sorang sujo, kawan nan indak hagantuangan. Rilakan sah payah Bundo, rilakan ais susu bundo nan taminum, Ambolsh ka bojalan kini mangku, iyo juo bak kato urang, diradah indak teradah, diradiah lalu batang jaguang, ditagah indak katatagal ditegah lahinh bak diasuang, pikia dek Bundo, oi." [ 58 ]Mandanga kato nan bak kian, lalu manangih Bundo Kanduang, manangih lalu bakato, "Iyo Tuanku Malin Panjang, dek Anak ka bajalan juo dibari anak lah bacincin." Ondeh bacincin bamato kuniang, sakuniang kunik di jarinyo, antaro rambuik nan di kaniang di sinan si bonsu bailimu.
Iyo bana lah nak kanduang lorong di Tuanku Malin Panjang, lalu dibukak lamari camin, diambiak pakaian maso nantun, pakaian kuniang baju kuniang, sarawa kuniang, ondeh disikek rambuik lah licin-licin lalu bacamin ka camin gadang, diambiak karih di maso nantun, bagarih karih, karih namo kasatian, buatan anaklah Indo Jati, ondeh dimulailah dalam api, disudahi di dalam aia mato sudah, tukang babunuah, indak dapek disuri ditoladan, kok biso karih bukan kapalang, sataun nan digalalu, jajak ditikam lah mati juo, Diak kanduang.
Elok lah ayun diayun, eloklah dendang didendangkan, elok lah kaba dikabakan, kaba baayun balompekkan, kaba bapangkeh lah tangkok ujuang, takana di nantun lah Tuanku si Malin Panjang, iyo bajalan nan maso nantun, lalu lah turun dari rumah, iyolah turun ka surambi, turun lah pulo ka anak janjang, ondeh lah sampai ka anak janjang mambari salam kiri kanan, manurawang ka ateh langik, iyo manakua lah ka bumi, taruih bajalan lah maso itu.
Alah sabanta nan bajalan, iyolah sarantang pajulanan, cukuik kaduo rantang panjang, dek bajalan nan siganjua lalai dari pai suruik nan labiah, pado suruik pai nan labiah, ahi tataruang patah tigo, samuik tapijak haram nan mati, batuang tapijak nan baiah ampek, parupuak tapijak nan indak balah, lamo lambek lah di jalan oi. Dituruik juo lah labuah nan panjang, labuah panjang ka Panyalayan, dek pudiung ameh batimbo jalan, dek pudiang ge neang dek batang-batang bajumpaian, lah bungo tali-tali, bakasiak lunak lah bak ditampi, lah dalam perak lah baindang gadang, hatitlah gadang pacetan, nan kaciak panindih banang, ondel nan ga dang pamungkang malam, insya Allah kanailah balam sinan, kok indak cilako badan.
Lamo lambek nan di jalan, jauh juo nan tatinggakan dakek juo nan dijalang, hari manjalang parak siang nan kira-kira pukua ampek, iyolah sampai nan maso nantun ka halaman Puti Jailan. Lalulah duduak maso nantun di bawah sokok di halaman, duduak hamanuang-manuang sajo, duduak bamanang manung dari [ 59 ]Alah sabanta inyo duduak, tumbuah pikiran dalam hati, kok salah tangkok rang di siko, disangko urang oi pancuri, disangko urang pai marampok, nak babaliak pulang maso nantun. Tapi sumantang pun bak itu takana pituah dek urang tuo-tuo, pantang laki-laki suruik di jalan, duduak juolah maso nantun dinanti juo lah hari siang.
Kaba haraliah hanyo lai, sungguah baraliah sinan juo, aliah di Puti si Jailan, iyolah sadang di ateh anjuang paranginan, dek hari lah siang malah kironyo, lah turun urang sumbayang subuah.
Lorong di Puti lah si Jailan, dibukak pintu lah maso nantun, inyo mamandang ka halaman, dipandang jauah lah dilayangkan, pan- dang dakek lah ditukiakkan dilayangkan juo ka bawah sokok, di halaman lah nampak urang, di bawah sokok nan di halaman. iyo Antah ko rajo antah sutan, antah ko urang gubalo banyak.
Lorong di Puti Jailan, lengah mancaliak sarupo nantun, lalu- lah turun ka tangah rumah lalu mengadok ka ayah kanduang, "Ampun baribu kali ampun, ampun dek Ayah kanduang denai, danga dek ayah den katokan, hari lah siang mah kironyo, lah tu- run urang sumbayang subuah, ambolah sadang di anjuang para- nginan, mamandang ambo ka halaman, nan pandang jauh lah di- layangkan, nan pandang dakek lah ditukiakkan, ondeh dipandang dakek ditapekkan, dilayangkan juo ka bawah sokok di halaman, lah nampak urang di bawah sokok yo di halaman, antah kok rajo antah kuo sutan kok urang gubalo banyak,”
Mandanga kato nan bak kian, manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Oudeh Nak kanduang Puti Jailan, kok iyo bana Nak sarupo mantur, ambiaklah cando carano ameh, isilah siriah onde salang- koknyo, nak ..... nak kito sonsong ka halaman, baitu bana adaik kito, ondeh nan pasa nan biaso lah nan pasa jadi jalan, nan tarang ondeh jadi .... , ondeh Nak kanduang oi."
Mandange kato nan hak kian lorong di Puti Jailan, lalu di- ........... , diisi siriah nan salangkok nan saganok- ....... turun ka halaman, turun Tuanku lah Rajo Mudo ......., tigo jo Putí si Jailan, alah bajalan ka halaman, sabanta nan di jalan, inyolah sampai lah ka halaman di bawah sokok yo di halaman. Lorong tuanku Rajo Mudo lalu manyambah lah maso nantun, "Ampun baribu kali ampun, ..................., walaupun Sutan nan lah tibo digala banyak baitu juo siriah talaiak di tangah-tangah ambo nak ba-
48
kito pakai. Ondeh nan pasa nan dek biaso, iyo nan pasa nan di jalan, ondeh nan tarang jadi guan. Bari luruih kami batanyo kami batanyo luruih-luruih, dari mano handak ka mano apo di- apo disalang dimukasuik disingajo, apo dijapuik diantakan, pulangkan dusun nagari mano diunyikan, banakan juo pado kami."
Mandanga kato nan bak kian manjawab Tuanku Malin Panjang, "Ampunlah di ambo di Bapak lah kanduang denai, jokok salorong tantang itu ditanyokan, lah ka di ambo indak manjapuik- lah maantakan indak manyalang ka dipulangkan, kok mukasuik nan disingajo, lah iyo bana bak kato urang. Sinan kok jauh lah mancari suku, sinan kok dakek mancari kaum, dusun nagari lah Bapak tanyokan, indaklah tantu nagarinyo, ambo nan surang nan cilako, siso babilang di nagari, urang hino urang tabuang, urang tak tabilang di nagari, lah siso ombak lah manimbuangkan, patah sikunyo lah di balakang."
Eloklah ayun diayunkan, eloklah dendang didendangkan, eloklah kaba dikabakan, kaba baayun balumpekkan, kaba hapang- keh tangkok ujuang, takana di masa onde Tuanku si Malin Pan- jang, lalu bakato ondeh lah Tuanku lah Rajo Mudo,
"Ondeh di Tuan kanduang denai, andai kok Tuan walaupun rajo nan lah datang, walaupun Sutan nan lah tibo digala banyak, baitu juo singgah lah kito daulu ka rumah lah buruak, kok dapek aie saraguak, kok dapek nasi sasuok, baitu juo nan salamo nangko, baitu adaik nan kito pagang.
Lalu manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Ondeh Tuanku Malin Panjang, jokok salorong tantang itu bukan ko tidak janyo denai, buan nyo tidak janyo ambo, basi clok diringgiti, kurang elok di- bari pakai, pucuak dicinto dek ulam tibo, isuak dicinto kini da- tang, buruak dicinto baiak lah tibo, Alhamdulillah hatarimo syu- kur.
Lorong di Tuanku Malin Panjang, diambak siriah lah maso nantun, lalu lah tagak anyo lai, jalan Tuanku Rajo Mudo duo jo Tuanku Malin Panjang, mairing puti nan baduo; alah sabuntu ba- jalan, naiak ka rumah gadang nantun, duduak di ateh karosi go yang, duduaklah rajo kaduonyo, dilatakkan siriah lah ateh meja.
Alah sabanta urang duduak, gilo barundiang-rundiang juo, Asyik mengecek-ngecek juo, lorong dek Puti Jailan, lalu batanak
49
dikilek sanjo, puntuang diadu api nyalo, puntuang dielo nasi ma sak, masak nasi masaklah gulai, gulai nan indak ado lai, dipanggang pacak panggang tanggiri, panggang sitete lah ado juo, lalu basaji Puti Jailan, basaji lalu lah maedang, maedang indaklah pandai amek, sinan kok lujua samo lujuanyo, jokok lintang samo lintang- nyo dek nan ka basah barubuang nan di tangah baririang di tapi awan, nan di tapi samuik baririang, di tangah awan mangajuju, mangajuju manganduang bulan.
Alah salasai inyo maedang lalu bakatolah Puti Jailan, "Ampun baribu kali ampun, ampun di Rajo nan datang, walaupun Sutan nan lah tibo, sarato jo Ayah lah kanduang denai, dangakanlah ambo baibaraik. Ambo baladang ka Batu Ampar, tampak puyuah lari balari, hidangan sudah taampar, basuah jari suoklah nasi.
Mandanga kato nan bak kian, ondeh dibasuah jari maso nantun, makanlah rajo kaduonyo. Aliah sabanta urang makan, lorong Tuanku Malin Panjang, ondeh suok kaduo kanyang, di nan katigo ditulakkan jamba, alah salasai urang makan.
Alah salasai urang makan, ondeh lah barokok sabatang surang, abih paik puntuang dibuang, dimakan siriah nan sakapua aurang, abih manih nan sapah dibuang, kaleknyo tinggalah di rang- kuangan. Baok marokok lah sabatang surang ahih paik puntuang dihuany, sudah salai nan bak kian.
Gilo barundiang-rundiang juo, siang mangecek-ngecek juo, hari bakarang lah tinggi juo. Lorong dek Tuanku Malin Panjang falulah bakuto di maso nantun,
"Ampun beribu kali ampun, ampun di Bapak lah kanduang denas xaratulah jo Bundo kanduang, hari izin ambo ka bajalan rotas jauah nan ka dyslang, rilakan ala nan saraguak, sarato jo nasi sasuok, anbo bajalan nan kini nangko,'
Mandanga kato nan bak kian,manjawab Tuanku Rajo Mudo, 'Ampun haribu kali ampun di Rajo nan lah datang kito barundiang sudah makan, iyo batanyo bakeh Rajo. Ondeh jokok salorong tantang itu, am lah hari malah izin anak bajalan, tapi gimantung baitu, kok lailah suko lai tibo baliak, kok lai lah un- tuang paruntungan pado takadie lah pado Allah, nak dikawinkan jo Anak banamo lah si Jailan."
Manjawab kate man bak kian manjawab Tuanku Malin Pan-
50
indaklah janyo ambo, bukanlah tidak lah janyo denai, basi elok lah diringgiti, kurang elok dibari pakai, pucuak dicinto lah ulam datang, isuak dicinto lah kini datang. buruak dicinto lah baiak tibo, Alhamdulillah tarimo syukur. Tapi sumantang lah baitu indak patuik Bapak lah kironyo, manarimo untuang badan ambo, ambo nan surang nan cilako, siso bahilang lah di nagari, urang hino urang tabuang, urang tak tabilang lah di nagari, lah siso ombak lah manimbuangkan patah sisinyo lah di balakang nan bakain sabanang tido, nan bapitih sapitih tido, barameh lah samiang tido. Badarak badarun-darun, oh nan tamiang di balah ari, tuan oi candonyo ambo, nan bak perak candonyo ambo, nak siang kiro- nyo hari sumandan,oi."
Ondeh iyo Tuanku Rajo Mudo lalu manjawab lah nantun, "Ondeh Rajo nan lah datang, banamo Malin Panjang, jokoklah salorong lah tantang itu andai iyolah kami bukan ka arek dinan lain, bukan cameh di nan tido, andai lah di kami, itu diliek langik nan lah tinggi, garaga tanah nan lah kareh. nan sado lai lah untuang kami. Hanyo pamintaan ambo kini andai kok lai nak suko di nagari, dikawinkan jo anak ambo nan banamo Puti Jailan, ondeh lah samo suko lah timba baliak. Ondeh Tuanku Malin Pan- jang lah samo sukolah timba baliak iyolah janji nan kito karang, manolah janji kito pagang, adolah janji lah tigo bagi: onde nun saba di tigo hari nan kaduo lah tujuah hari, nan katigo duo kali tujuah, manokoh janji nan kito pagang nak samo sanang paratian."
Ondeh manjawab Tuanku Malin Panjang. "Jokok salorong tantang itu, iyolah janji nan kito karang, manolah janji nan kito pagang, iyolah janji nan tigo bagi, katigo dun lah kab tujuah, jo. kok sumantanglah baitu, ambo mamintak lah ka di Bapak, ambo bajalan hanyo lai, rantau jauah nan ka di jalang, ambo ko mancari lauik basa, lah tigo bulanlah ka lamonyo. Mandanga kato nan bak kian ambo suko lah timba baliak"
Bakato tuanku lah Rajo Mudo, "Ondeh Tuanku lah Matin Panjang, iyolah janji nan kito karang, iyolah janji lah tigo bulan, tapi sumantang baitu, iyo bana bak kato urang, kayu bakabek lah dangan aka kato bakabek lah dangan janji, janji bakabek lah dangan tando, manokoh tando lah timba halak, nak dipasan urang di tangah, nak samo sanang paratian."
Mandanga kato nan bak kian menjawab Tumiku Rajo Mudo,
51
do lah daulu, nak samo sanang paratian, diruruik cincin lah di jari."
Lorong dek Puti si Jailan dilatakkan tandonyo maso nantun, samo talatak tandonyo fah timba baliak, lah dipagang urang di tangah.
Bakato Tuanku Malin Panjang, "Ondeh di Bapak kanduang denai sarato jo Bundo kanduang denai, sarato jo Adiak kanduang denai hanumo Puti si Jailan, iyolah janji lah kito karang, iyolah janji dek tigo bulan, ambo baliak ka lauik basa lah tigo bulan lah lamonyo, niaik mancarilah daulu, mancari garam nan sabingkah ka paguno dek isi kito, mancari ayam lah sikue nan lah paguno dek kito pikia di Adiak dan manuangkan.
lyolah janji lah kito karang nak samo sanang paratian kito, karang sumpah lah daulu, nak sanang dalam hati, sinan kok ambo mungkia janji, karam ambo di palayaran, karam ambo di lauik basa, kok Puti Jailan mungkia janji, jadi ungko siamang putiah, paunyi ulak rantau Pasaman, sinan mamakan pucuak simanteh, nan inaminum aia di bungkua, itu sumpah nan kito karang nak samo sanang paratian."
Mandanga kato nan bak kian manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Jokok salorong tantang itu iyolah sumpah lah kito karang, kok Puti Jaitan mungkin di janji manjadi ungko siamang putiah pauni ulak rantau Pasaman, mamakan pucuak daun simanteh, maminum aia di hungkus, dek Tuankulah Malin Panjang, ondeh mungkielah janji. karam iyolah di lauik basa, karam lah inyo di palayaran samo iyolah kito peganglah kini angko, sinan kok siang kito pa- tungkek, jokok malam kito pakalang, nak samo sanang paratian."
Alah salasai nan bak kian, lorong Tuanku Malin Panjang ..............., lalu bajalan maso nantun, iyolah turun dari,......... ka surambi, dituruni pulolah anak janjang, ....................Jalan,
ondeh Tuan kanduang denai hanamo Tuanku Malin Panjang alah sudah mangarang janji lah tigo bulan ka lamonyo, sinan kok tuan bajalan kini, ondeh dibari tuan bacincin, nan bacincin ameh,lakek di jari gilang gumilang. Di mato sungguahlah hilang, lapeh di hati buram kok panah hilang. Manjawab Tuanku Malin Panjang .... nantun,"
......................, onde jawek salam kito daulu, [ 64 ]ambo bajalan kini nangko, lah rantau jauah nan ka dijalang, ambo bajalan lah surang sajo, sawang nan indak bagantuangan. Lah iyo bana bak kato urang. Cilampuang dari Piaman, diambiak kiliran taji, sakarek ambiak kiliran taji, baok mandakilah Taluak Bayua, Pan- dan malayangkan ko lai antah ka baliak antah indak, balayia tung. keklah jo galah, sa anak gagaklah dalam parahu."
Lalu ondeh Tuanku Malin Panjang, aiah sarantang pajalanan, cukuik katigo rantang panjang, ondehlah duo, tigo hari baganti hari, abih pakan baganti pakan, abih bulan baganti bulan, lah duo bulan salamo ko tibo di tangah lauik basa.
Eloklah kaba dipalakeh, malam lah tambah dalam juo kaba baraliah hanyo lai, sungguh baraliah lah sinan juo, aliah kapadolah Tuanku Sawang Langik. Kadangaran di Tuanku Sawang Langik, iyolah Puti si Jailan anak tuanku Rajo Mudo, iyo mamancang ko di galanggang nan tujuah hari nan tujuah malam, nan indak dapek ka jodohnyo antahkan inyo nan ka gantinyo.
Lorong di Tuanku Sawang Langik diambiak malah pakaian nantun, pakaian putiah sagalo putiah, baju putiah sarawa putiah, disisik lah karih tanam tabuang, karih banamolah kasatian, buatan anaklah Indo Jati, ondeh dimulai dalam api, disudahi ka dalam aia, kasiah sudah tukang dibunuh, ndak dapek dituriah dan dituladan, biso ko karih indah alang kapalang, sataun hugih nan lah lalu jajak ditikam mati juo, ei. Tuanku Sawang Langik, diambiak buruang alang pungguak lauik, lalu bakato, "Adiak kanduang alang pung- guak lauik, kito bajalan kini nanko, iyo ka luak ka galanggang Tuanku Rajo Mudo, tadanga di ambo Puti Jailan inyo mamancang ko di galanggang nan tujuah hari nan tujuah malam ramai galang- gang tabedo tido, gantiang kamuniang yo di halaman pautan kudo- lah sutan-sutan, pautan lah kudo rajo-rajo urang nan indak katuju, antah kok denai dinantinyo."
Lalulah naiak ka ateh kudo maso nantun banamo lah pung. guak lauik, lalu lah tabanglah nayolai, tabang manyisiah-nyisiah awan, pueh malayang inyo malayok, pueh malayok inyo manurun, inyo manurun sadang ka luak galanggang dunia, iyo Tuanku lah Rajo Mudo. Lamo lambek lah di jalan iyolah sampai maso nantun di halaman Tuanku Rajo Mudo,iyolah turun malah nyo lai,duduak di bawah sokok laman, duduak bamanuang lah manuang sajo, ma manuang lah surang diri, alah sabanta inyo duduak, hari nan sadang tangah hari.
53
sadang lamah pinggang anjiang, sadang ka rami urang di pakan, sadang ka langang urang di kampuang, gadih tadorong lah ka tapian, rando tadorong kabulukan, katik tadorong lah ka mu- sajik.
Lorong dek Puti Jailan, duduak di anjuang paranginan, gilo manyuji manarawang, rintang batanun lah tiok hari. Ado ma- solah pado itu, inyo mamandang lah ka halaman, dipandang jauah- lah dilayangkan, dipandang dakek lah ditukiakkan, dipandang juolah ka sokok lah di halaman, nampak urang di bawah sokok yo di halaman, antah kok rajo antah kok sutan, antah kok urang dek balo banyak.
Lorong dek Puti Jailan maliek sarupo nantun, lalulah turun dari anjuang paranginan, iyo balari ka jorong tangah mangadu ka ayah kanduang, lah manyambah maso nantun, "Ampun baribu kali ampun, anpun di Ayah kanduang denai, danga di Ayah den katokan, hari nan sadang tangah hari, sadang kabunta bayang- bayang, sadang ka lamah pinggang anjiang, sadang ka rami urang di balai, sadang ka langang urang di kampuang, gadih tadorong ka tapian, rando tadorong kabalukan, siak tadorong ka musajik. Lorong di nasib badan ambo, di ambo sadang di ateh anjuang gilo manyuji manarawang, paranginan. bimbang batanun lah tiok hari, adolah maso di maso itu, ambo mamandanglah ka ala- man. lah pandang jauah dilayangkan, pandang dakek ditapekkan, dilyangkan juo ka bawah sokok di alaman, nampak urang lah di bawah sokok di halaman, antah ko rajo antah ko sutan, antah ko urang dek balo banyak."
Iyo Tuanku Rajo Mudo, mandangakan kato nak kanduang, inyo bakato, "Ondeh Nak kanduang lah Puti Jailan, kok iyo bana aarupo mantun, ambinklah carano, kito isilah Nak, salangkok nak saganoknyo, nak kito sonsong lah ka halaman baitu adaik nak kita pagang, baitu alaik nak kito pakai iyo nan pasa nan biaso, iyo man pasa jadi jalan, ondeh nan tanang jadi buano."
Mandanga kato nan hak kian, lorong di Puti lah si Jailan, lalu dimmbadah carano ameh, diisi siriah nan salangkoknyo nak lah anganaknyo, lah dibaok turun ka halaman, bajalan Tuanku yo Rajo Mado, bainang puti lab man baduo, alah sabanta lah bajalan, iyo- Jak sampai di bawah sokok lah di alaman.
Lorong di Toanku Rajo Mudo lalu manyambah maso nantun,
54
manolah Sutan nan lah tibo lah balo banyak, baitu pulo kami ba- Lanyo, dek luruih-lurih kami batanyo, elok-elok bari lurih kami batanyo, dari mano andak ka mano, apo mukasuik disangajo, apo dijapuik diantakan, apo disalang dipulangkan, maafkan juo nak pado kami, dusun nagari ko diunyikan banakan juo pado kami, ei.
Mandanga kato nan bak kian manjawab Tuanku Sawang La- ngik, "Ampun di Bapak kanduang denai, jokok salorong tantang itu batanyo di ambo indak manyapuik maantakan, indak manya- lang mamulangkan, kok mukasik disingajo iyo lah bak kato urang, kok manjauah mancari suko, jokok dakek mancari kaum, dusun nagari Bapak tanyokan, alunlah tantu nagarinyo, disabab ambo urang nan sadang cilako, babilang nagari urang dek tabuang, urang tabuang di nagari, lah siso ombaklah manimbuungkun. patahlah sisinyo di balakang, ei."
Mandanga kato nan bak kian, batanyo Tuanku Rajo Mudo, "Kok salorong tantang itu singgahlah kito lah daulu, singgah ka rumah buruak kito, kok dapek aia nan saraguak, kok dapek nasi nan sasuok, baitu juo salamo ko, baitu adaik nan kito pagang. ondeh nan pasa lah nan biaso, nan pusa kok jadi jalan, ondeh ta rang jadi buano."
Mandanga kato nan bak kian, manjawab Tuanku Sawang La ngik, "Kok salorong tantang itu, indak ko bukan janyo ambo, nan tidak deknyo denai, lah basi elok ka diringgiti, dek kurang elok dibari pakai, pucuak dicinto dek ulam datang, iusak dicinto lah kini datang, Alhamdulillah tarimo syukur."
Lorong Tuanku Rajo Mudo, lalu diambiak malah siriah, lah bajalanlah maso nantun, bajalan rajo kaduonyo,.......... naiak rumahlah gadang nantun, latakkan siriah lah duduak di ateh karosi goyang, duduaklah laju kaduonyo latakkan sıriah ateh meja Alah sabanta urang duduak, gilo barundiang rundiang...... jo manggulai kok indak pandai amek. Hatanak lalu mangada, mangerek-ngecek juo, lorong di Puti si Jailan yo hatanakish daulu. jarang pariuk dek kilek sanjo, diadulah puntuang ....... puntuang dielo nasi masak, dek masak nasi masaklah gulai di panggang pacak panggang tanggiri, ..................... lalu basajilah Puti Jailan. Basaji lalu mandang indak lah pandai amek, nan kok lujua samo lujuanyo, nan kok bintang samo bintang nyo, tantang apatah bubuang barubuang, di ..... [ 67 ]iriang, di tangah angin mangajuju, mangajuju menganduang bulan, lalu bakato Puti Jailan,
"Ampun baribu kali ampun, ampun di Rajo nan lah datang, ampun Sutan nan lah tibo, sarato Ayah kanduang denai, da- ngakan ambo baibaraik, sinan baladang ka Batu Ampa, tampek puyuah lari balari, edangan sudah taampa, lah basuah jari suoklah nasi,"
Mandanga kato nan bak kian, lorong di Tuanku Rajo Mudo jo Tuanku Sawang Langik, dibasuah jarilah maso nantun, makan- lah rajo kaduonyo, alah sabanta kok urang makan. Lorong Tuanku lah Sawang Langik, sigihlah balitak paruik, dek adaik rajo lah di- bao juo, sinan sasuok, kaduo kanyang, sinan katigo ditulakkan jamba, alah salasailah urang makan.
Alah salasai urang makan, makan siriah sakapua surang, abih manih sapah dibuang, kaleknyo tinggalah di rangkuangan, sarinyo naiak nan ka muko, nan barokok sabatang surang, abih paik pun- tuang dibuang. Indaklah lamo antaronyo, gilo barundiang-rundiang juo, siang mangecek-ngecek juo, malam baandai, hari basarang tinggi juo, hakato Tuanku Rajo Mudo, "Ondeh Tuanku, ampun baribu kali ampun, ampun di Rajo ko lah nan datang, walaupun sutan nan ko lah tibo, janlah ambo salah tarimo, bari luruih ambo batanyo, rajo manokoh lah datang, rajo mano nan lah tibo banakan juolah pado ambo."
Mandanga kato nan hak kian, manjawab Tuanku lah Sawang Langik, "Jokok salorong nan tantang itu Bapak tanyokan pado ambo, lah iyo bana bak kato Bapak, rajo di mano lah nan datang, sutan di mano ko nan lah tibo, ambo nan datanglah dari jauah, ayo di Pintu Sawang Langik, ambo Tuanku Sawang Langik oi."
Alah sabanta lah urang duduak, bakato Tuanku lah Rajo Mudo, "Ampun di Tuanku lah Sawang Langik, bari luruih ambo batanyo, ambo batanyo elok-elok, ambo batanyo dek luruih-luruih, ondeh banakan juo ei, pado ambo, kok lai ka suko di timba baliak, kok ado untuang paruntuangan, kok lai takadia pado Allah nak dikawinkan pado anak ambo nan banamo si Puti Jai- lan."
Mandanga kato nan bak kian, manjawablah Tuanku lah Sa- wang Langik, jokok salorong tantang itu Bapak tanyokan, jikok di ambo indak ko bukannyo ambo, bukannyo tidak lah janyo denai, basi elok lah diringgiti, kurang eloklah dibari pakai, pucuak
56
baiak tibo, Alhamdulillah tarimo syukur."
"Tapi sumantang lah baitu, indak patuik Bapak sakironyo tarimo untuang lah badan ambo surang, ambo nan cilako siso tabilang dek di nagari, siso ombak lah manimbuangkan, sakik inyo lah di balakang, dilieklah langik lah tinggi di sarugo, batanak lah nan bareh sado lai, sado urang sado tiado sado di awak, ondeh badiang di abu dingin, di mano bagantuang di ateh lapuak siang di lurah tak baraia, siang di bukik tak barangin, pikia dek Bapak- lah kanduang denai."
Mandanga kato nan bak kian manjawab Tuanku Rajo Mudo, "Jokoklah salorong tantang itu bukan ko arok di nan lai, bukan ko cameh lah di nan tido, onde nan kok lai samu dimakan kalau nan tido samo dicari, baitu juo dek salamo nangko, baitu adaik nan kito pagang.
Alah salasai nan tantang itu, bakato Tuanku Rajo Mudo, di- imbau anak, ondeh iyolah nak kanduang Puti Jailan, "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, agak ka marilah kau duduak, bari ba rajo jo barandai, anak bapadu dek bapadan, danga di Anak kan- duang denai, ikolah rajo nan datang banamo Tuanku dek Sarang Langik, itu mukasauik jodo anak, rajo asa rajo usah, rajo nan ti. tiak dari langik, nan manculangi dari bumi, itu nan patuik jodo anak."
Mandanga kato nan bak kian, manangih Puti si Jailan. “Am- pun baribu kali ampun, ampun di Ayah kanduang den, jokok salorong tantangan itu ditanyokan pado ambo, indak babukan janyo ambo, bukanlah tidaklah janyo denai, basi elaklah diringgit basi kurang elok dibari pakai, pucuak dicinto lah ulan datang. isuak dicinto lah kini datang, buruak dicinto lah baisk tibm. At hamdulillah manarimo syukur. Tapi sumantang lah baitu pikie dek Ayah kanduang denai, takana juo nan daulu, kitolah basumpah lah basasi, karano Allah. Tuanku lah Malin Panjang, kok nyo mamungkia janji, karamlah inyo di palayaran, karam lah inyo di lauik basa, sinan kok ambo mungkus di janji jadi nangko siamang putiah, pauni ulak ei, rantau Pasaman, sinan makan pucuak .... teh nan maminum aia di bungkua, baitu sumpah nan kita karang. baitu sumpah nan kito pagang, ondeh kok siang dipatungkek, ondeh kok malam dipakalang, pikia dek Ayah lah kandang denai Pikia dek, Ayah kanduang denai, kito mangubah ........... [ 69 ]ambo iyo bana bak kato urang, indak ko rajo indak ko pangulu bakampuang, indak bakampuang bapangulu, indakko rajo bara- turan kito marubah paraturan, ondeh orang dulu, lah nan pasa nan biaso, ondeh nan pasa nan biaso, iyolah aturan nan kito pa- gang, kato daulu lah kato pikia, kato kamudian kato dicari baitu aturan kito pagang, ondeh nan pasa nan biaso iyo nan pasa jadi jalan ondeh nan tarang di buano pikialah dek Ayah oi."
Ondeh mandanga kato nan bak kian, manjawab yo Tuanku Rajo Mudo, "Onde, Nak kanduang Puti Jailan, usah Nak kau nak banyak kato, malu Nak kito pado urang, kito nan indak yo mang- ubah aturan urang daulu, yo aturan nan kito pakai lah sari tum- buah sari di siang, baitu aturan nan kito pagang, ondeh Nak kan- duang oi."
Ondeh mandanga kato nan bak kian, manjawab Puti Jailan, "Ampun di Ayah lah kanduang denai, pikia abih-abih, pikia dek Ayah kanduang denai, jadi juo nan sakali ko, jadi apo nan badan amho, manjadi ungko siamang putiah, pauni ulak rantau Pasaman, mamakan daun pucuak simanteh, nan maminum aia di bungkua, timbang di Ayah pamanuangkan."
Lalu tagak Puti Jailan, tagak maranteh-ranteh sajo, lalulah turun ka haliak rumah, duduak di batang karambia gadang, ka haliak rumah manangih Puti Jailan.
Alah sabanta antaronyo lorong di bundo kanduang diri, maliek anak nan sarupo nantun, lalu dituruik ka baliak rumah. lalulah bangih bundo kanduang, lalu bakato maso nantun, "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, bari luruih ambo batanyo, ambo ba- tanyo elok-elok, ambo batanyo luruih-luruih, ambo nak batanyo, apo sababnyo nan bak kian mambari malu pado kami pikia dek Anak kanduang, kami haru harundiang, kok lah di rumah anak balari ka ainman apo sababnyo nan bak kian, malu kito Nak, oi. Madulah kito pado urang, ondeh indak alu sagadang itu, alu ta- faumbuaklah parin tabiang, mako ditumbuaklah pado pantun, eloklah ditatum malali tabu, indak malu samalu nangko, arang tacorang pado kaniung, nun kok tacoreang pado badan elok di- Sack dengan baju, timbanglah di Anak,oi,"
Mandanga kato nan bak kian manjawab Puti lah si Jailan, "Ampuan di Bundo kanduang denai, jokok salorong tantang itu Bundo, jan ditanyokan pado ambo, tadanga dek ambo Ayah jo Bundo nak mangawinkan badan ambo, onde lah jo Tuanku lah
68
elok, manyasalah Bundo, sasa kudian. Sasa dahulu lah pandapatan sasa kudian indak paguno, pikialah dek Bundo, oi."
Ei, danga di Bundo den katokan, "Lah iyo bana bak kato urang, dijambo-jambo bak basiang, dielo suruik lah bak batanun, urang panggageh kok lambek buliah, urang pandareh lah gadang kanai. Kudo kulabu lah bulu bareh, bari batali lah saalai hanang. bialah anyuik di nan dareh, elok dinantilah di nan tanang,oi.' Mandanga kato nan bak kian, lah berang bangih lah bundo kanduang, "Si Nak kanduang Puti Jailan, janlah kau banyak kato, ambo inggaikan lah kau baeko, ambo tajangkanlah kau baeko. ondeh turuik dahululah pandai kuni, ondeh dek Tuankulah Sa- wang Langik indak dituruik pandai lah kami jo Tuanku Rajo Mu- do, arih dek kaulah ayah kau, iyolah Tuanku Rajo Mudo, carilah dikau lah Bundo kau lain dari lah badan ambo, tabangish Anak dari siko, pado manambah malu juo, oi."
Mandanga kato nan bak kian manjawab Puti Jailan. “Anipun di Bundo kanduang denai, kini pikia dek Bundo kanduang denai abih-abih, pikia dek Bundo lah elok-elok manyasa Bundo lah ma- nyasa kudian. Sasa dahulu pandapatan, sasa kudian tak paguno, pikia dek Bundo kanduang denai oi, indak takana dok Bundo aan dahulu, kitolah basumpah basasi jo Tuanku Malin Panjang, kok ambolah mungkia janji manjadi ungko siamang putish, pauni ulak rantau Pasaman, yo nan mamakan pucuak daun simanteh, yo, yo lah maminum aie di bungkua, baitu sumpah nan kito pagang, ji koklah siang dipatungkek, jikoklah malam dipakalang, timbang di Bundo kanduang denai."
Mandanga kato nan bak kian bangihlah bundo. "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, turuik daulu .......... dek Tuanku Rajo Mudo, Nak kanduang yo, ondeh Nak ....... cilako, anak anjiang anak bingkatak, anak pamakan....... tah, tabanglah Anak lah dari siko, pado manukuak........
Mandanga kato nan bak kian, manjawab Puti Jailan. Dek Bundo kanduang denai kok karoh juo kanduang nak mangawin kan badan ambo jo Tuanku lah Sawang Langik ............. japuik dek Bundolah Tuan Kadi, ......................... Tuanku lah Sawang Langik, nak pueh ..................... sanang Bundo nak lalok tidua, nak gapuak Bundo .....
Elok lah ayun diayunkan eloklah .................. [ 71 ]eloklah kaba dikabakan, kaba baayun balumpekkan, kaba ba- pangkeh lah tangkok ujuang, takana di maso eiii.
Oi dek takana di maso Puti Jailan manangih di balik rumah, lorong di Bundo diri, ondeh lalulah naiak ka ateh rumah lalu di- imbau Bujang Salamaik, "Nak kanduang Bujang Salamaik, nan capek kaki ringan tangan, alun diimbau lah datang, alun disuruah lah pai, limpapeh di rumah gadang, acang-acang dalam nagari, untuak panggonggong anak kunci. Ondeh ka mari Nak kanduang oi, danga den katokan, tolonglah japuik Tuan Kadi, sarato niniak dengan mamak, ondeh disuruah datang ka mari datang ka rumah gadang kito nak kanduang, oi."
Lorong di Bujang nan Salamaik lalu bajalan maso nantun, indaklah lamo antaronyo, io basuolah Tuan Kadi sarato niniak jo mamak, sarato panghulu jo andiko, lalu disuruah datanglah di rumah bundo kanduang, ka rumah gadang nantun.
Eloklah kaba dipalakeh. lorong di diri Tuan Kadi, niniak dangan mamak, sarato panghulu jo andiko, lalu bajalanlah maso nantun, manujulah rumah Tuanku Rajo Mudo, oi tibo di rumah gadang nantun, duduaklah rajo kaduonyo, sabantalah urang du- duak, gilo barundiang-rundiang juo, asyik mangecek-ngecek juo. Lorong di Tuanku lah Sawang Langik dikambang siriah mintak dikawinkan iyo jo Puti si Jailan.
Lalulah di Tuan Kadi diucapkan katubah nikah. Alah sakali diucap katubah nikah, galak tasanyum lah Tuanku Sawang Langik, lah duo kali diucap katubah nikah, galak tasanyum Puti Jailan, lah tiga kali diucap kabul, lalu mamakiaklah Puti Jailan, eii. On- deh mamakiak sakali lai, lalu mamanjek ka ateh pagu, ilanglah rono nan daulu, lalu sarupo binatang di dalam hutan, lalu ma- manjek ka ateh hubungan lalu malompek ka ateh bungo . . . Ondeh lah malompek ka ateh hungo nan campago di alaman, lalu man- jangkuk ka limau manih di baliak rumah. Lorong di bundo kan- duang diri, ondeh di lorong di pado bundo kanduang, maliek sarupo nantun lalu dituruik ka baliak rumah, lalu maimbaulah mandeh kanduang, "Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, turunlah anak turunlah juo ei, usah Anak sarupo nantun, mambari malu pado kami, usah hati Anak dipaturuikkan, lauik nan mano nak ka Inyo, malulah kito kapado urang."
Mandanga kato nan bak kian manjawab Puti Jailan, "Ondeh Bundo kanduang, kini haitulah dek Bundo kanduang denai, ting[ 72 ]galah Bundo tinggalah, ambo bajalan lah kini nangko, rantau jauah kan dijalang, karano indak ado pagantuangan timbanglah dek Bundo kanduang denai. Bari izin lah ambo elok-elok, rilakan susah payah Bundo, rilakan aia susu Bundo, sado taminumlah dek ambo, ambo ka bajalan lah kini nangko, lah rantau jauah Bundo nan ka dijalang takana juo nan daulu. Kito basumpah lah basasi jo Tuanku Malin Panjang, inyo mamungkie janji karamlah inyo dilauik basa, sinan kok ambo mamungkie janji manjadi ungko siamang putiah, pauni ulak rantau ranah Pasaman, mamakan pu- cuak simanteh, nan maminum aia di bungkua, kini baitulah dek Bundo kanduang, nak sananglah Bundo lalok tidua, nak gapusk bundo minum-makan oi."
Maimbau juo lah bundo kanduang, "Nak kanduang Puti Jailan, turunlah Anak turunlah juo, malulah kito pado urang, tak malu samalu nangko, arang tacoreng Nak pado kaniang, indak da. pek mailak lai, ka mano kito manyuruak, awak si anulah janyo urang, dakek diliek dek potongan, jauah didanga Nak baritonyo, pikia dek Anaklah kanduang denai."
Manjawab juo Puti Jailan, "Ondeh di Bundo kanduang denai. tinggalah Bundo tinggalah juo, ambo bajalanlah kini-kini nangko, rantau jauah nan ka dijalang, ambo surang sajo, sawang nan indak bapagantuang, timbang di Bundo lah kanduang denai.“
Lalu bajalan maso nantun, lalu malompeklah ka ateh mang- gih dari sadahan ka sadahan, dari sabatang ka sabatang, bunyi manggogok bak siamang. Aluh saari lah duo hari, abib hari lah babilang pakan, inyo kok di dalam rimbo gudang Naink bukik lah turun lurah, naiak sasok lah turun sasok, masuak rinibes lah kalua rimbo, lorong Puti Jailan di aleh kayu nan lah gelang nan tun bunyi manggogok bak siamang, lalu menuruiklah nan dh bawah maimbau juolah Bundo kanduang, "Oi, ondeh Nak kan duang Puti Jailan, turun Anak turun lah juo, pulang kita ka ru mah kito, lapeh ka anjuang paranginan, indak tapiak lah katidhur an, indak cando Nak kadapuran, ondeh basarok Nak halaman kito, barumpuik tapian nan larangan, malu kitolah pado urang, turun Anak turunlah juo, pulang kito ka rumah kito.
Mandanga kato nan hak kian, manjawah Puti Jailan, U Bundo kanduang denai, pulang Bundo pulanglah...., usah Anak dituruik juo, untuang malaraik sukali nangko, timang malaraik badan ambo, sajak dululah ambo bilang usah........... [ 73 ]dian, sasa dahulunyo pandapatan sasa kudian nan tak paguno. Pulanglah Bundo, pulanglah juo, pandang di Bundo minantu Bun- do nan rancak iu banamo Tuanku Sawang Langik, nak pueh hati Bundo, nak sanang Bundo nak lalok tidua, nak gapuak Bundo minum makan, ambo nan indak ka pulang lai, takana juo Bundo, nan dahulu, oi.”
Lah bajalan nan maso nantun dari sadahan, ka sadahan dari sabatang ka sabatang, bunyi manggogok bak siamang. Datanglah hujan ka hujanan, datanglah paneh nak kapanehan, sinan kok siang lah basalendang paneh, sinan kok malam basalimuik ambun, sinan kok tidua iyo di dahan kayu gadang, bundo basandalah di hatangnyo, hundo basandalah kuruih juo, kapalo lakek lah di kuduaknyo ondeh Diak kanduang, oi.
¡yo di dalam lah rimbo gadang, dari sadahan ka sadahan dari sabatang ka sabatang, bunyi manggogok bak siamang, abih hari abih pakan, lah babilang bulan, lah sabulan lah kalamonyo, inyolah muatan lah rimbo rayo, gilo manuruik ka nan di bawah mambau juolab bundo kanduang.
"Ondeh Nak kanduang Puti Jailan, turun Nak turun lah juo mari pulang kito Nak ka rumah kito, usah hati Nak dipaturuik- kanı, lank nuk mano ka sisinyo, malulah kito kapado urang, pikia di Anak lah kanduang denai.”
Manjawab juo Puti Jailan, "Ei Bundo kanduang denai, pu- lang bundo pulanglah juo, indak usah Anak dituruik juo, untuang malarak na saka ko untuang malaraik Bundo badan ambo, sapak dula Bundo ambo bilang. usah manyasa sasa kudian, sasa dahulu pandapat sasa kudian tak paguno."
La lambek nan di jalan iyolah sampai di tapi lauik basa, ....... gadang di pantai lah muaro, di tapi lauik tingginyo .....alang alang, tinggi manyısiah awan hijau, lorong di .....lalu mamanjek ateh kayu nan gadang nantun babunyi .........., bunyi manggogok bak siamang, oii,
...................... di ateh kayulah gadang nantun, ............. di Bundo nan manuruik lalu diimbau ....... , ... bundo manyauik lai, kironyo bundo ............ diratokan rangik hijau.
....... Puti Jailan dan ateb kayu gadang diliek bundo ......... diratoklah langau hijau lalu bakato maso ........... Bundolah kanduang denai, sajak dulu Bundo [ 74 ]ambo bilang, usah Anak lah dituruik juo, untuang malaraik lah sakali nangko, untuang malaraiklah badan ambo, ondeh kini lah Bundolah marasai kironyo, Bundolah mati kironyo, tibo di- ratoklah langau hijau, kamanolah ambo mintak tolong, lai jo Allah, timbanglah dek Bundonyoi."
Ondeh lamo lambeklah bak kian, manangih juo Puti Jailan pikiran dalam hati, lalu dicari langkuang tanah, digolekkan bundo di langkuang tanah lalu ditimbun ondeh jo tanah maso nantun. Alah salasai lah tantang itu, lorong dek Puti Jailan inyo mamanjek- lah ka ateh kayu gadang itu, bunyi manggogok bak siamang. Mamandang juo ka tangah lauik dipandang jauah lah dilayangkan dipandang dakek lah ditukiakkan, dipandang juolah ka tangah lauik basa.
Dek lamo lambeklah nak bak kian, kaba baraliah lahnyo lai, sungguah baraliah sinan juo, aliah kapado ondeh lah Tuanku Malin Panjang sadang di tangah lauik basa, dek kadangaran suaro siamang kok dalam rimbo lalu babaliaklah maso nantun, diputa pelang anyo lai manuju sadang ka tapi lauik basa.
O indaklah lamo antaronyo, iyolah sampai sadang di tapi lauik basa, lorong dek Puti lah si Jailan lalulah turun maso nan- tun dari ateh kayu nan gadang nantun, lalulah balarilah ka tapi pantai, alah sabanta inyo duduak lah ondeh Tuanku Malin Panjang, alah basuo di tapi pantai.
Lalu bakato Puti Jailan, "Ampun baribu kali ampun, ondeh nan dek Tuan kanduang denai si Malin Panjang, apolah tenggang bicaro ambo, ambo dipaso dek Ayah jo Bundo, iyolah kawin jo Tuanku lah Sawang Langik, izin marasailah badan ambo, apolah tenggang lah Tuan kanduang, oi."
Mandanga kato nan bak kian, manjawab Tuanku Malin Pan- jang, "Ondeh Diak kanduang Puti Jailan, sajak dahulu ko ambo katokan, indak patuik Adiak lah manarimo, untuang ambo, ambo nan sorang ei nan cilako, siso babilang dalam nagari, lah urang ino urang tabuang, urang tabilang dek di nagari lah siso om- bak manimbuangkan, patah sisinyo lah di balakang, pikialah di Adiak, oi."
Lorong di Tuanku Malin l'anjang, ali bangih lah mandorong- kan, dek ati tibo manjauahkan, bakatolah bak maso nantun, "Ondeh Diak kanduang Puti Jailan, baju suto lapisan lakan, baju pangulu dek Aua Kuniang, rilakan sajo van tamakan, buliah [ 75 ]manjadi ko darah dagiang. Kini baitu Diak kanduang, tinggalah Adiak di siko, ambo babaliak ka lauik basa, ambo indak ka pulang lai, tingga Adiak lah juo.”
Lorong Tuanku Malin Panjang diputa pelang dek maso nantun, io mangadok sadang ka tangah lauik basa, kancangnyo bukanalang-alang, sapantun pucuak lah dilancakan, sapantun kumbanglah putih tali. Lorong Puti Jailan maliek Tuanku Malin Panjang iyolah ilang-ilang nampak, ilang dilamun kalamun ombak, ati bukan kapalang, tumbuah pikiran dalam hati, pado iduik bacamin bangkai, eloklah mati bakalang tanah.
Ramuak hatinyo maso nantun, lalu mangampeh ngampehkan badan, ampehkan kapalo ka ateh batu, lalulah mati Puti Jailan, mati tagolek di tapi pantai.
64
3.2 Puti Sari Banilai
Ringkasan Cerita
Puti Sari Banilai adalah putri dari negeri Hindustan, ayah bernama Maulana Karim dan ibunya Puti San Banun. Suatu ketika Sari Banilai ingin pergi ke laut menuju Pulau Pertemuan Per himpunan) dan permintaannya itu dikabulkan ayahnya.
Pada saat pertama dalam perahu, cuaca sangat baik sekali, tapi beberapa saat kemudian keadaan berubah, angin berup dengan kencang, awan gelap dan gelombang brian kepanikan itu dan dengan perahu yang tak terkendalikan akhanya Maulana Karim berserah diri sambil mendoa kepada han g mereka dapat selamat. Syukur bagi mereka cuaca baik kembali dan bertepatan dengan itu Puti Sari Banilai melihat..... daratan. Tak ayal lagi mereka menuju ke arah sana dan kembali datang angin kencang, tapi sesuai dengan arah yang dituju yaitu daratan yang tampak seperti bukit tersebut.
Dengan tiba-tiba perahu mereka tertahan, seolah olah terikat oleh tali dan rupanya mereka telah terdampar di Bukit Jambu, bukan ke tempat yang mereka tuju: Pulau Pertemuan.
Maulana Karim turun ke darat sendirian untuk memastikan apakah daerah itu ada penduduknya. Setelah ia mendengar kokok ayam, sehingga ia yakin bahwa ia penghuni kampung .... [ 77 ]Karim barulah kembali ke sampan menjemput anak isterinya. Di negeri lain, Sungai Taeh, si Rambun Podeh telah meminta izin kepada ibu bapaknya untuk pergi mengaji ke surau gurunya yang bernama Imam Besar dan bergelar Imam Mulia, di negeri Bukit Jambu. Setelah mendapat izin ia segera berangkat ke surau Iman Mulia. Jalan yang ditempuhnya melalui sebuah rumah yang besar dan bagus, tempat tinggal Puti Sari Banilai. Karena sering- nya Rambun Podeh lewat di sana, lama-lama terjalinlah rasa cinta pada diri masing-masing.
Melalui gurunya Imam Mulia, Rambun Podeh meminang Sari Banilai kepada bapaknya Maulana Karim. Maulana Karim men- jelaskan kepada Imam Mulia bahwa Sari Banilai di negeri Hindus- tan telah bertunangan dengan putra Raja Hindustan yang bernama Bujang Juaro. Mereka telah bersumpah, kalau Bujang Juaro ber- khianat ia akan menjadi ular besar dan bila Sari Banilai melanggar janji ia akan menjadi batu.
Karena Maulana Karim sekeluarga kini telah jauh dari Hindus- tan dan rasanya tidak akan kembali pulang dan iapun yakin bahwa Bujang Juaro tidak akan mencari Puti Sari Banilai lagi, maka Maulana Karim pun menerima pinangan Rambun Podeh.
Dalam pada itu, karena sudah sangat lama sekali Sari Banilai hilang tak tentu rimbanya, maka Raja Hindustan menyuruh anak- nya Bujang Juaro mencari tunangan dengan ditemani oleh Sutan Lembang Alam. Setelah tiga bulan berlayar sampailah keduanya ke sebuah bukit dan berjumpa dengan seorang peladang tua yang tinggal pada sebuah pondok. Dari peladang ini Bujang Juaro mengetahui bahwa dekai tempat itu di negeri Lubuak Limpato sedang ada kenduri besar-besaran dalam rangka perkawinan antara Ramban Podeh dengan Puti Sari Banilai, Mendengar hal itu Bujang Juaro serta Lambang Alam menjadi tak sadarkan diri.
Setelah diobati oleh peladang, mereka siuman kembali dan mereka mengatakan kepada peladang itu bahwa Puti Sari Banilai wialah tunangan Bujang Juaro. Atas kesepakatan peladang kedua- nya pergi ke gelanggang keramaian kenduri tersebut. Mereka ikut main dan bertaruh, namun Bujang Juaro selalu kalah tapi tidak mau membayar. Akibatnya sering timbul kericuhan dan akhirnya mereka berdua diusir oleh Tungga Galanggang.
Mereka pergi ke Lubuk Mata Kucing dan dengan ilmu yang diberikan oleh Peladang mereka berhasil "memanggil" Puti Sari [ 78 ]Banilai. Sesaat kemudian Sari Banilai tiba di sana dan Bujang Juaro meminta agar Sari Banilai ikut dengannya kembali ke Hin. dustan.
Pada saat itu datanglah Rambun Podeh beserta dua temannya di Lubuk Mata Kucing. Terjadi pertengkaran dan perkelahianpun tak dapat dielakkan. Bujang Juaro dan Sutan Lembang Alain di tundukkan oleh Rambun Podeh dan Sari Banilai dibawanya kem- bali pulang.
Karena Bujang Juaro tidak juga pulang-pulang, maka pela- dang pun mencarinya dan ditemuinya di Lubuk Mata Kucing dalam keadaan terikat dengan tali. Peladang melepaskan ikatannya dan membawanya kembali ke pondoknya untuk menetap seterusnya.
Puti Sari Banilai pun hiduplah dengan suaminya Rambun Podeh, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang gagah diberi nama Sutan Duano.
Suatu ketika Sutan Duano dibawa oleh Puti Sari Banilai bermain-main ke tepi laut di Tebing Peninjauan. Di sana anaknya Sutan Duano pening dan jatuh masuk laut.
Walaupun Sari Banilai telah berdoa agar laut kering dan per- mintaannya itu dikabulkan. (sampai seperdua air laut kering) dan ia telah berenang kian ke mari, namun anaknya tidak ditemuinya. Tiba-tiba datang angin kencang, Sari Banilai terpelanting dan ter dampar di Bukit Jambu.
Sesuai dengan sumpah yang telah diucapkan, karena Puti Sari Banilai telah melanggar janji yang diikat dengan Bujang Juaro, maka iapun berubah menjadi batu.
Transkripsi
Aluran Sari Banilai, carito rang dahulu, dalam nagari .... . Urang baranak, anak banamo si .... , rang kaciak mudo matah, rang sayang pandai aja.
Dek diri ayah kanduangnyo, banamo Maulana Karım, sarato ibu kanduangnyo, banamo Puti Sari Banun, sadang duduak waktu nyo batigo di ateh rumah gadang. Pado saat maso itu,..... dek anaknyo, "O Yah kanduang ambo, dangakan malah dek Ayah. Aluran badan ambo, pado saat maso kini, lah taragal lah tacinto, lah takana nak bajalan, ten ka ..... sambia [ 79 ]maambiak-ambiak angin, sambia mamandang-mandang ombak, ten ka pulau Patamuan", katonyo Sari Banilai.
Andai sudah dek anaknyo, dijawab dek ayahnyo, "Nak kan- duang Sari Banilai, malah baitu kato kau, pado saat maso kini, tipak di badan diri kami, adok ka diri badan kau, lah barapokoh lamonyo, kondak nan mano nan tak buliah, pintak mano nan tak halaku. Bulek bak ambacang ciek, boneh bak padi satangkai, baitu. kan dek badan kami. Apo sabab dek baitu, kau dek badan diri kami, pautan kasiah tasimpan, dandam talatak di tubuah, tasimpan ka kau sorang. Ka mano kau nak pai, ka di lapeh kandak hati, kadi isi kandak tubuah. Diak kanduang si Sari Banun, Diak bakameh malah kau, kito ka pai ka lauik, dan pulau Patamuan. Nak bakumpua rang di sanan, sado anak puti-puti, sarato anak su- tan-sutan."
Pado saat maso itu, dek diri si Sari Banun, dibao anak kan- duangnyo, banamo Sari Banilai. Lah disikek diminyaki, lah dibari- nyo bakain. Lah lakek pakaian diri, lah langkok balako. Sudah taminyak tasikeki, sudah tabadak tapakaian, sinan bakato ibu kanduangnya. "Tuan kanduang janyo hambo, Tuan den Maulana Karim Aluran ka diri badan kami, kain lah sudah lakek, toh kito pai ka kian, kok iyo ka tangah lauik, nak pai bajalan-jalan," kato- nyo ai Sari Banun.
Pado saat maso itu, lah sabanta antaranyo, turun tigo bara- nak. Salangkah turun di janjang, dua langkah tibo di rumah, tibo di batu tapaan, Mamandang ka rumah tingga, garak sarato takadia, lah tampak bayangan tubuah.
Pado saat itu, lah sabanta antaronyo, bajalan batigo baranak. Lah sangat pajalanan, lah sarantang pajalanan, cukuik kaduo ran- tang panjang Lah sabanta duo banta, jauah basarang dakek, kok dakek besarang hampiang, hampiang ka tibonya di sanan, ten di .... paninjauan, di tabiang nak rang sanan. Lah tibo baranti di situ, dipandang ... jo mudiak, dicaliak kiri kanan, lah tampak urang .... , nyʊ himbau dek diri Maulana Karim. "O, buyuang janyo hambo, kini baitu dek buyuang, hambo nak mamintak tolong, ka disuruah ka disirayo, Baolah tek sampan kami, baolah ... , ....nak pai ka lauik, sayo nak bajalan-jalan, ten ..........,” katonyo Maulana Karim.
Pado saat di maso itu, aluran dek urang tu, lah ditariaknyo ...... sakali, ka muko Maulana Karim. Lah tibo rang [ 80 ]di sanan, pado saat maso itu, lah baandainyo sakali. "O, Puti Sari Banilai, o Nak ka marilah kau, masuaklah ka dalam biduak, kito ka pai bajalan-jalan, sampanlah taanta juo," katonyo Maulana Ka- rim.
Pado saat maso itu, dek diri Sari Banilai, lah nyo turun ma- suak aia, lah naiaknyo sakali. Banilai tibo di sampan, dituruik-i dek andehnyo, banamo Puti Sari Banun, sarato bapaknyo banamo Maulana Karim. Lah duduak tigo baranak, dalam sampan parair- an. Tibo andai dek ayahnyo, "O Diak kanduang si Sari Banun, kini baitulah dek kau untuak sorang-sorang, tariak untuak sorang- sorang, bao baban masing-masiang. Hambo duduak di haluan, kau duduak di kamudi, nak laju parairan," katonyo Maulana Ka- rim. "Kalau baitu nan di Tuan, baapo pulo tu lai," katonyo Puti Sari Banun. Andai tibo dekandehnyo kapado Sari Banilai. "O, Nak kanduang Sari Banilai, kini baitulah dek kau, duduaklah di tangah- tangah, pandang lah ilia jo mudiak, çaliaklah kiri kanan, baguluang-guluang, angin tanang-tanang sajo."
Pado saat maso itu, lah batulak dari tobiang, diansua ka ta- ngah lauk. Pado saat maso itu, dek diri Maulana Karim lah dika- yuah sompan hanyo lai. Dek diri Sari Banun, lah diarahkan ka mudiak, dituju pulau Parimpunan. Lah sasaat duo saat, lah sa- saat nyo balaia, balaia tigo baranak, dalam lauk gadang tu. Takalo mulo di tobiang, sajak batulak ka lauk, angin bukan dek koncang nyo, ombak bukan lai sunyinyo. Indak tangguang laju sompan, baitu bona maso itu. Dek alam barubah-ubah, dek maso baluka- tuka, nak nyato kodarat Tuhan. Lah badoutuang guruah di ulu, mambaleh goga di lauik, hari lah galok gulito. Tak tatangguang awan hitam, kilek tapajam-pajam, guruah lah batalu-talu, disalo patuih ciek-ciek.
Pado saat maso itu, barubah angin di hulu, batulak galom- bang di Barat. Tak tabado koncang angin, tak tatahan galombang datang, laia indak tantu arah, koncang tak dapek dikamudi. Pado saat itu, tibo andai dek anaknyo. "O, Yah kanduang janyo ham- bo, baapokoh nasib kito, baapo lai badan kito, angin indak lai tatahan, galombang indak tahebohkan." Lah sabouta antaronyo, andai jatuah dek ayahnyo. "Nak kanduang Sari Bunilai, kini ba- itulah dek kau. Pado saat maso kini, kito di tongah lauk nangko, tak lain tompek manyorah, iyo kapado urang nan surang, nan kuaso di alamko. Takalo kito ka jadi, mulo lanik kabarombak,
69
Kini baitulah dek kau;
Pabulek alu pangali
tak nan lobiah dari ruyuang
Pabulek hati nurani
tak nan lobiah dari untuang.
Untuang lah ado dahulunyo, barihlah sajak dahulu, takalo di dalam rahim bundo kanduang, nasib ado di sinan, lah tontu baiak huruaknyo, lah tontu untuang sorang-osrang. Kini baitu juo, samo manyarahkan kito kapado Allah," katonyo Maulana Karim.
Pado saat maso itu, tibo andai dek andehnyo. "Nak kan- duang Sari Banilai, kini baitu dek kau, nak tonang dalam hati nak sunyi kiro-kizo, nan takona dek hambo, mangucap-ngucaplah kau, bacolah kalimah Tuhan, nak tonang di dalam hati, nak dapek ba- gantuang. Kok elok nasib kito, kok buruak nan tapintak, dalam lauik nan godang," kato ibu kanduangnyo, banamo Sari Banun.
Pado saat maso itu, angin bukan main koncangnyo, ribuk bukun main dorehnyo, badaga-daga di laia. Lah barambuih angin di sanan, hujan tak tangguang lobek, bukan kapalang dorehnyo. Diangsua juo bajalan, tapi laia tak lai tontu. Tak balaia maso itu, hanyo manuruikkan sajo dibao angin, ka mano diarak untuang, ka mano nasib takadia.
Pado saat maso itu, lah sabonta dua bonta, sasaat duo saat, .............., dondang indak tontu adok, tak obeh nan ka nompuah, tak tontu nan ka dijalang, salain manyorah untuang kapado nan kuaso, sanan bakato ayahnyo. "Ya Allah ya Ra- sulullah, mamintak kami kapado Tuhan, pintak kok lai ka buliah, kondak kok lai kabalaku Pado saat maso kini tipak di diri badan kami, di dalam lauik nan godangko. Duduak batigo baranak, da- lam sampan nan godang ko, Niat sangajo kami, takalo di rumah, nak batamu ka pulau Parimpunan. Nak baandai di sanan, sambia ...... kawan kawan. Aluran di badan diri kami, malah sadang ...... , bajalan-jalan ka sanan. Itu nan mukosuk hati, itu .... . Tapi baa mangatokannyo, kondak lah samo ..................., topek nan sakarang, aluran di badan ............. mamintak tunjuak. Ya Allah ya Rasulullah, selamatkan badan kami, ditontukan alua kami, obehkan jalan [ 82 ]kami nan di tompuah. Salamatkan badan kami, dari dunia sampai ka akhirat, nak santoso laia jo batin, nak joleh nan kami tuju," katonyo Maulana Karim.
Manangih Puti Sari Banun, "Kini baitu malah dek Tuan, kami nan batigo baranak, lah diseso paruntuangan, lah disansai pambagian, dalam tongah lauk godang. Tapi baa mangatokannyo, indak disangajo kondak bukan. Tapi iko nan tacapai, tapi iko nan dapek.' "Pado saat maso itu, tibo andai dek anaknyo, banamo Sari Banilai, "Mano Ibu kanduang hambo, mano ayah Bapak hambo, kini baitu lah dek Bapak, aluran di badan diri hambo, hambo ko kini baitu pulo, mamintak-mintaklah Bapak. Pintaklah samo mukabua, kondak lah samo babori, lah tampak bayangan tanah, lah tabayang tanah topi. Hambo lah manampak gunuang, eten di bayangan. Pandangan jauah lah dilayangkan, pandangan hampia lah batukiakkan, lah nyato saat sakarang." Dek pintak Maulana Karim, dek kondak Puti Sari Banun, dek Allah bakabuakan pulo. Pintak alah lah babari, kandak lah halaku, Angin tanang indak lai barombuh, galombang indak lai bariak, angin lah bak cando lamo, lah sunyi di dalam hati, lah sanang dalam kiro-kiro.
Pado saat maso itu, jatuah andai dek anaknyo, "O, Yah juo janyo hambo, kini baitu malah dek Ayah, aluran ka diri badan hambo, antah iyo tu antah indak. Tapi hambo inanampak gu- nuang, pandang jauah-jauah hampia, kok colink hilang hilang timbua, ontah hati nan lah godang, ontah tubuah nan lah tibo. Cubolah pandang dek Ayah, ontah iyo ontah tidak," katonyo Sari Banilai.
Sanah bakato ayahnyo, "Nak kanduang Sari Banilai, di arah mano gunuang tu, nan tampak dek badan kau ko, tunjuakkan juo lah bakeh hambo, buliah kito tuju ka sanan, kakiun kito arah- kan, bia di mano tibonyo. Malah lah tibo di darekko, nak tibo di ateh bumi, sanang juo hati kito, pado dalam lauk godang, ko," katonyo Maulana Karim.
Pado saat maso itu, lah diarahkan sampan ka sanan, dek diri Maulana Karim. Pandang jauah nyo layangkan, pandang da. kek nyo tukiakkan. Iyo pulo tu kironyo, bukan to pandang kau nan salah, bukan pancaliakan nan sosek, hambolah manampak pulo. Kok iyo tu gunuang kironyo, ka kiun lah kito tuju, arah sanan lah kito arah," katonyo Maulana Karim. Tibo andai dek ayahnyo, banamo Puti Sari Banun, "O, Tuan [ 83 ]Maulana Karim, malah baitu kato Tuan, cúbolah arah ka kiun tujulah laia ka sanan," dek diri Maulana Karim, lah nyo tuju pa- laiaran. Alah sabonta duo bonta, lah sasaat duo saat, dalam lauk nan godang tu, lah nyo tuju palaiaran, arah ka gunung nan tampak tu. Lah sabonta nyo manuju, arah ka gunuang nan tampak tu, tibo andaí dek Puti Sari Banun. "Tuan kanduang janyo hambo, pintak kok lai ka balaku, kondak kok lai ka buliah. Pihak ka badan kito, di mano bumi tapijak, di situ lah kito singgah. Lah baiko paruntuangan, lah bak nangko nasib kito. Saketeknyo hambo ru- suahkan, dek diri Sari Banilai, anak sodang tu bamain, sodang suko di dalam korong rusuahkan. Lah tingga kawan samo godang, lah jauah tompek hamain, dek diri Sari Banilai," kato Puti Sari Banun.
Andai tibo dek anaknyo, "Andeh juo janyo hambo, kini batulah dek andeh, bukan toh hambo tunjuak baajari, nan takona dek badan hambo. Ampun baribu kali ampun, andeh bori hambo mooh, apo sohab dek baitu, molah kito dalam lauk godang, nan dek diri badan hambo, lupo jo kawan samo godang, indak taingek sapu bulan, lupo korong dangan kampuang. Baitu dek badan ham- bo, kito tuju arah kian, arah ka arah gunuang nan tampak," kato- nyo Sari Banilai.
Pado saat maso itu, tibo andai dek ayahnyo: "Diak kanduang si Sari Banun, baitu juo kau Sari Banilai. Kini baitu malah dek kito, manuruik pandapek hambo, lah tontu pulau nan dituju, lah tampak alam nan kito tompuah, mangucap syukur kito kapado Allah."
Pado saat maso itu, dek diri Sari Banilai, batigo jo Sari Ba- nun, lah sabonta nyo balaia, duo bontanya balaia, lah dokek arah ka sanan, kapado gunuang nan tampak tu. Lah dituju arah ka sa- nan, pandang jauah nyo layokkan, pandang dokek nyo tukiakkan, lah tampak gunuang sabuah, lah joleh alamek nan dituju.
Pado saat maso itu, lah sabonta antaronyo, lah ditujunyo ka kian. Dek Allah basipat kuaso, apo kondak diborinyo, pado saat maso itu, angin nan tonang-tonang bedo, tapi lah barubah pulo Angin lab bakao koncang, ribuk lah bakao doreh. Lah sa- saat duo saat, ribuk lah koncang juo, laia lah ditundo angin, galombang lah baitu pulo. Lah saat duo saat, angin bukan lai kon- rangnya, ribuk bukan lai dorehyo. Lah tibo garan di sanan, lah sabonta antaronyo, bukan main laju sampan, tak tatenggang laju laia lah ditulak dek angin doreh, tapi lai manuju alamek, lai ka [ 84 ]arah gunuang tadi.
Lah sabonta duo bonta, lah sasaat duo saat, dalam baandai. andai juo, dalam bakoba-koba juo, tibo andai dek ayahnyo, "O.Puti Sari Banilai, kini baitulah dek kau, aluran di badan diri kito.lai lah tontu arah nan dituju, lah tampak alamek diri, lah obeh nan ka dijalang, eten ka gunuang sabuah. Kok angin lai adok ka kiun,tak baapo do kironyo," katonyo Maulana Karim,
Pado saat maso itu, angin bukan main dorehnyo, ribuk bu. kan lai koncangnyo. Ado saat sakutiko, sadang ditumpu angin koncang, sadang dialun galombang copek, lah tapauk lai don- dangnyo, lah tatahan palairan, bakobek-kobek dek tali, bagumpa gumpa jo aka, tapauk ka Bukik Jambu.
Pado saat maso itu, laia tak dapek dilajukan, kopa tak dapek bajalan, lah tatahan dek bukik, lah takobek dek aka. Pado saat maso itu, tibo andai dek anaknyo, "O. Yah juo janyo hambo,dongakan malah dek Ayah, pihak di badan diri hambo, ampun hambo mintak juo. Apo sobab dek baitu, manuruk pandangan hambo, laia indak lai bagorak, kapa lah takobek, kok biduak lah tatahan, baa kito lai, baapo lai untuang kito. Di siko bumi ma-mintak, di siko tampek kito. Kini baitu lah dek Bapak, baiak pun Mandeh kanduang hambo. Bari mooh badan hambo, relakan jariah payah, takalo hambo dek ketek. Baikpun dek ibu kanduang hambo, dek sayang bakeh hambo, nyamuak saikua bahalaukan, kurang lalok badendangkan, kurang tidua bajagoi.
Aluran ka badan diri hambo. kondak indak putuh putuh pintak indak habih-habih, dari nan ciek ka nan cick, dan nan satu ka nan satu. Kok basuo sumbiang sabolah, kok durhako ka Ayah,baiak kapado Ibu hambo relakanlah jariah payah Ayah, barak aia susu Ibu," katonyo Sari Banilai. Dek diri si Sari Banun, tagaro bek aia mato. Aia mato jatuah badorai, jatuah ciek nyo kipehkan,jatuah duo nyo pusi, jatuah lah batimpotimpo. bakoba sambua manangih, mangecek sambia bakoba. "Tuan lah tanyo hambo, manuruk pandapek hambo, iyo pulo tu kironyo, bak kecok Sari Banilai. Kok bak raso siko lai untuang, di siko bumi maminiak, kok di siko aia malulua, di siko lai untuang kito,
Pabulek alu pangali
tak nan lobiah dari ruyuang
Pabluek hati nurani
tak nan lobiah dari untuang.
lah banyak sosek, doso koklah bahimpok-himpok, bori mooh Nak badan hambo. Kok iyo di siko lai untuang kito, di siko lai tanah mamintak, di siko lai bagian tibo, lah joleh di untuang kito," katonyo si Sari Banun.
Tibo andai dek ayahnyo: "Diak kanduang si Sari Banun, baiak kau si Banilai;
Jan balado di tapian
disokah rang rimbo
Jan bakato damikian
hambo kan rang pahibo.
Nak kanduang si Sari Banilai, baiak kau si Sari Banun, lah lupo kau dek lamo, Jan ragu kau dek banyak, pituah nan dari rumah, pangaja ibu jo bapo, pituah guru di surau. Sajauah-jauah bajalan, salamo-lamo hiduk, kambali ka Tuhan juo. Tak diagak disingajo, tak díukua dipikiri, bia di lauk pun di darek, bia di hutan di mano sajo. Di mano untuang ka mati, malah nasib ka sudah, tak ado urang nan mahambek. Tapi kini baitulah juo, dangakan malah dek kau. Pihak di badan diri kito, manuruk pagangan ambo, kito lah lopeh dari sansaro, lah lopeh dari basakik. Lah manjalang paruntuangan, luh sampai di tanah topi, lah tibo kito di darek. Kok lai urang di siko, kok lai badusun banagori, kok lai bakorong kampuang, hambo jopuk kau babaliak," katonyo Maulana Karim.
Pado saat maso itu, dek diri si Sari Banun, "Tuan kanduang Maulana Karim, kok baitu nan di Tuan, jan lamo Tuan bajalan. Konalah antuang badan kami. Kok tibo angin koncang, kok datang juo galombang, kami balaia baduo sajo, nyato karam di tangah lauk," katonyo si Sari Banun.
Tibo andai dek ayahnyo, "Diak kanduang si Sari Banun, anak den si Sari Banilai, manyarah sajolah kapado untuang, pulangkan sajo ko takadia. Manuruk pandapek hambo, hambo tak lamo kalua, sasaat hambo bajalan, manantu-nantu arah, maagak- agak alua. Kok lai kito lah tatuju, tatuju ka korong kampuang. Kok lai baurang di siko, kok lai bakoto banagari, itu nan ka hambo tuju. Maluh tantu nagori ko, babaliak hambo ka mari,” katonyo Maulana Karim.
Pado saat maso itu, dek diri si Sari Banilai, sarato Puti Sari
74
ka ateh bukik, mandaki ka kaki gunuang, bagantuang di gamai- gamai, bapogang di aka rotan. Lah sasaat nyo bajalan, manggapai- gapai di gunuang, bagantuang di gamai-gamai, bapijak di batu pu- tiah. Dek sungguah inyo mamintak, dék yakin nyo bajalan, iyolah sampai ka bukik gunuang, lah tibo di puncak bukik. Fandang jauah dilayangkan, pandang ampiang ditukiakkan, olun manampak apo-apo, olun maliek tando-tando. Tandonyo kampuang lai bahu. nyi, tando nagori lai baurang. Tapi di saat maso itu, tangaran lai kukuak ayam, didangakan bona sungguh-sungguah. Lah nyato ayam bakukuak, kukuak basahut-sahutan. Lah nyato' kampuang bahunyi, nagori lai baurang, sanan babaliak nan jadi, adok ka dan- dang nan baronti, ten di ateh parairan. Lah babaliaknyo nan jadi, lah tibo garan di sanan ten di ateh parairan, lah batomu jo anak- nyo, jo Puti Sari Banilai, sarato Puti Sari Banun. Satu tibo nyo baandai, "Nak Kanduang Sari Banilai, baiak kau Puti Sari Banun, pintak lai ka buliah, kondak alah balaku. Aluran di hadan kito, kampuang ko lai bahuni, nagori ko lai baurang. Kini baitulah dek kito, tolah kito daki bukik ko. Nak kanduang Sarı Banılai, kini baitu dek kau, bagantuang kau di hambo, hambo dukuang kau ka ateh. Bapijak di putiah batu, bagantuang di batang aka, mulahı kito poi ka kian."
Dek baandai-andai juo, lah sabonta antaronyo, lah naiak nyo ka kian, ten ka ateh Bukik Jambu. Bukik bukan lat tingginyo, kayu bukan lai banyaknyo, lah tibo goran di sanan, eten di ateh Bukik Jambu, lah duduaknyo batigo.
Sabonta duduak di sanan, koba baraliah hanyo lai aliah ka. pado si Rambun Podeh. Andai tibo dek si Rambun fodeh, adok kapado ibu bapaknyo, "O Yah janyo hambo, dongakan malah dek Ayah, aluran ka badan diri hambo. Mantari Tunduak ka Barat, batando hari ka potang, lah manjalang hari sonjo, sonjo hadarok malam. Baa hanyo lai, Ayah juo janyo hambo, hamo nak pai ka surau, ten ka surau guru hambo, nan bagala Imam Mulia." batanyo si Rambun Podeh.
Pado saat maso itu andai tiho dek ayahnyo, “ Nak kan duang si Rambun Podeh, kalau baitu kata ang, rajin rajinlah ma ngaji, sungguh-sungguah lah maapa. Jikok tibo ang di surau jan bagorah jo bagurau, jan banyak bagoluik jo kawan ..... ang di surau, buyuang sungguahlah mangaji," kato ayah .... [ 87 ]Podeh.
Pado saat maso itu, dek diri si Rambun Podeh, izin alah dek ayahnyo, lalu turun sakali. Turun di jonjang nan limo, tibo di batu tapaan. Salangkah corai jo rumah, dua langkah inyo ba- jalan. Lah sasaat duo saat, dek diri si Rambun Podeh, diansua juo bajalan, bajalan balambek-lambek, ten ka ronah Bukik Jambu, manuju surau nan godang, surau angku Imam Bosa.
Lah sasaat sakutiko, lah sabonta antaronyo, lah tibo goran di sanan, di jalan basimpang tigo. Sasimpang arah ka kian, ten manuju Saruaso. Sasimpang arah ka sanan, ten ka ranah Ngalau Anyia, sasimpang jalan ka surau. Lah ditujunyo ka kian, jalan tak malengong-lengong, manuju nan dimukasuk, tando anak bapang- aja, tando anak lai taat, mangaji bukan lai sungguahnyo. Nan sa- Jaruk salamoko, tompek batanyo dek nan lai. Aluran dek diri si Rambun Podeh, bajalan juo nan jadi. Lah sabonta duo bonta, lah sasaat duo saat, dek jauah basarang dokek, dokek lah basa- rang hampiang, hampiang ka tibo nyo di sanan, dokek rumah nan godang tu. Rumah tu rumah nan rancak, takah baputi di da- lamnyo, takah basutan di rumah tu. Pakarangan bukan main ran- caknyo, rumah bukan main baiaknyo. Tapi sungguhpun baitu, dek diri si Rambun Podeh, saketek indak mancoliak, indak ma- mandang ka sanan, manuju sajo ka kian, ten ka surau Imam Bosa.
Andai jatuah maso itu, dek diri Sari Banilai, urang nan di ateh rumah itu. Tapi bakoba-koba sajo, iyo di dalam hati sorang.
Dek diri si Rambun Podeh, tiok potang inyo ka sanan, tiok inyo babaliak. Habih hari bagonti hari, habih pokan bagonti po- kan, habih pokan babilang bulan, habib bulan babilang tahun, ontah barapo tu lamonyo. Aluran dek diri si Rambun Podeh, barulang po mangaji, eten ka surau Imam Mulia.
Dek dari Sari Banilai, pandang jauah talayangkan, pandang dokek totukiakkan. Urang mudo nan tampak tu, takah anak su- tan sutan, takah anak rajo rajo, takah anak rang babanso. Anak takah bapangaja, rupo takah barilimu, lai kuek kaimanan, awak rancak badan barasiah.
Dek diri Sari Banilai, lab takona dalam hati, lah taraso di kiro- kiro, tiok potang tiok pagi, lah batanam cinto hati, talukih di sa- nabari, tatanam di dalam tubuah. Baandai-andai badan sorang, kok lah nasib paruntuangan, lai elok pintak badan, kok lai suko ibu
bapo, kok lai rela korong kampuang, kok nomuah nyo manyam[ 88 ]MILIK PERPUSTAKAAN
BALAI BANASA PADANG
buk, untuang nasib dagang malang, tibo di diri badan buruak. Dek diri katuju bona, dek hati taragak pulo, tapi baalah mangatokannyo. Kok batopuak sabolah tangan, kok bacinto sorang diri. Dek diri Sari Banilai, lah dimabuak angan-angan. Kok malam man- jadi mimpi, siang manjadi angan-angan, baitu malah kini, tapi di dalam hati sajo. Taingek di dalam tubuah, takona di dalam hati, takona juo di nasib badan, taringek di untuang diri.
Awak nyato anak dagang, badan joleh urang jauah, takadia untuang paruntuangan, takona jo hino diri. Tapi kasiah lah ba- rumuak, tapi sayang lah tatanam, iyo di dalam hati Sari Banilai.
Pado saat maso itu, nak joleh hitam putiahnyo, nak tontu lai tidaknyo, diuji-uji di batin, dicoliak-coliak di laia, lah rindu samo sorang. Kok lai kasiah ka babaleh, kok lah potang-potang hari, takona jo urang mudo tu, dipatuk-patuk inyo lalu, dek diri Sari Banilai.
Pado saat maso itu, dialiah pakaian diri, dituka paranan badan, lah basikek jo baminyak, lah babodak lah bakain. Dicoliak badan dirinyo, lah barasiah malah kironyo, lah tampak sirah mukonyo, lah malayuak bajalan sorang. Saluruh lorong kam- puang, hati di dalam bakato-kato, iman di dado lah bakucak, Sarupo urang sodang balengah, takah urang indak tahu, sampo urang lah kahilangan cinto. Tapi sayang lah tabonam, tatumbuak di badan diri. Pado saat maso itu, badan sarupo rang tak tahu, Banilai bak cando kalengah, maumbiak bungo dalam kobun. Bu ngo olah diambiak satangkai. Diambiak satangkai, dicium cium- nyo bungo itu, lalu dipasuntiang di rambuknyo.
Dek diri si Rambun Podeh, dilayok pandang ka kobun, tam paklah puti di sanan, puti bukan main jombangnye, puti bukan main rancaknyo. Pado saat maso itu, badobok hati jo jantung. bacokak ama jo iman, talukih di dalam hati, tasurek di sanubari. ontah pabilo kaluponyo, ontah pabilo kahilangnyo. Dipandang. pandangi bona, dicoliak nyato-nyato Tapi dek diri puti bata nyo rupo urang tak tahu, takah-takah urang tak joleh, inyo barupo lengah sajo. Dek diri si Rambun Podeh, kok disapo puti ko, apo ka pambukak muluik, indak dapek nan kadisobuk, tak tantu nan ka dibaco.
Pado saat maso itu, bakucak iman di dado, bacakak ama jo iman. Diansua juo bajalan, tadayuak-davuak bajalan tadayuak dayuak di lobuah, talerai-lerai di jalan, badan bak raso bayang [ 89 ]bayang, barombak bumi dipijak. Pado saat maso itu, lah sarantang nyo bajalan, duo rontang nyo bajalan, cukuk katigo rontang pan- jang, tibolah garan nan jadi, eten di surau Imam Mulia.
Satu tibonyo di surau, lah sasaat nyo duduak, koba baraliah hanyo lai, aliah ka diri Sari Banilai. Lah lalu si Rambun Podeh, lah jarak nyo dari rumahnyo, babaliak nyo kalobuah, mamandang lobuah nan panjang. Lah jauah si Rambun jalannyo tadayuak sajo. Lah tobik rusuah hati, lah tobik lai aia mato, jatuah ciek jatuah duo, jatuah duo disipekkan, jatuah tigo nyo tangisi, nyo tangisi di dalam hati, takona cinto tubuah. Lah torang nyo di badan awak, takona di hibo diri, takona awak urang dagang, sarupo batopuak sabolah tangan, itu pikia Sari Banilai. Inyo naiaklah sakali, lah tibo di tongah rumah, lalu tiduanyo sakali. Tidua lah baguluang Bajo, takona di dalam hati, kasiah indak lai tatahan, tapi baalah mangatokannyo, sarupo hatopuak sabolah tangan, itu pikia rang Banilai.
Pado saat maso itu, sodang maratoki untuang, sodang mana- ngisi diri, kasiah indak ka bauleh, sadang indak batapatan, itu lai pangona diri. Dalam dibimbang nan bak kian, pikia babaliak ka keen, eten ka surau Imam Mulia. Pihak di diri Rambun Podeh satu dudukknyo di surau, nan salaruk salamo iko, lah tibo di ateh surau, ditoriak surek sakali, lalu mangaji nyo jo maapa. Pado maso nan sakali iko, kitab indak doh tatariak, surek indak doh' tajopuk, duduak maantakkan diri, tamanuang duduak di surau.
Pado saat maso itu, dek arih gurunyo, dek diri Tuanku Imam Mulia, dipandang si Rambun Podeh, lah barubah dari biaso. Di- pandangnyo maso itu, lalu disaponyo nan jadi, "Oi, buyuang si Rambun Podeh, baapo dek baitu hona, kapalo ang koh nan sakik, apu bayuang koh nan domam Ibu bapo koh nan berang, konai bangih ang di rumah, dek diri badan ang ko. Takalo maso nan lalu, ........... di surau, mangaji bukan main rajin, maapa bukan main sungguah. Dapek nan sakarang kini nangko, lah barubah di nan olah, lah balain dari bisso, apo sobab karononyo, buyuang katokan bakeh hambo, nak sonang dalam hati, sunyi di dalam kiro-kiro," katonyo Imam Mulia.
pado saat maso itu, manjawab si Rambun Podeh, "Wahai Angku .......... , bari mooh badan hambo, mintak ampun godang godang. Kok soek nomuah hambo suruk, talangkah no- muah ........ Adok kajodo badan diri, kini kaambo so[ 90 ]buk, juo, tunjuak ajailah dek Guru. Di ma lah ambo kasoseknyo, di mano hambo salahnyo, baitu mulo asanyo. Dahulu hambo ka ka iko. Lah barapo ko lamonyo, jalan tu hambo tompuah, po. tang pagi hambo lalui. Tapi nan sapotang cako, lah barubah di nan alah, lah balain di biaso. Pandang jauah talayangkan, pandang hampia tatukiakkan. Hambo manampak puti rancak, hambo ma- nampak puti jombang. Bukan main deh rancaknyo, bukan main jombangnyo, tasurek di dalam hati, talukih di kiro-kiro, tasuak ama jo iman. Guru tolonglah badan hambo. Kok baiko salamonyo, kaji indak toh ka dapek, pangaja indak toh ka tasimpan. Apo sa- bab dek baitu, pihak ka badan diri hambo, kok malam mato ta- layang, lah tampak puti nan jombang, ka mano pangona poi, ta- kona puti nan jombang tu. Angku Guru janyo hambo, Angku kato- anlah ka hambo. Puti mano tu nan datang, dari mano nyo tu tibo, cubo tunjuakkan bakeh hambo, nak sonang dalam hati, sunyi di dalam kiro-kiro," katonyo si Rambun Podeh.
Baru tadonga kato itu, manjawab gurunyo, "O buyuang si Rambun Podeh kok itu ang katokan, kok puti tu nan ang sobuk. nan tampak mulo ka iko, inyo bukan urang siko, indak bumi suto awak, inyo anak urang jauah. Tapi bukan sumbarang urang, indak urang dagang sansai, indak urang dogang mulorat. Inyo puti di nagorinyo, ayam adu dek ibunyo, ayam panaiak dek bu paknyo. Limpapeh rumah nan godang, acang-acang di dalam kain- buang, sumangek anjuang nan tinggi, baitu bona tantang paja tu. Aluran di bapaknyo, inyo anak rajo-rajo datang dari Hindustan, baitu bonalah tu kini," kato gurunyo, nan banamo Imam Mulia.
Baru tadonga nan co itu andai jatuah dek si Rambun ,"ongku Syekh guru hambo, mintak mooh godang-godang, bori ampun banyak-banyak, kok sosek surukkan hambo ka nan bona, talang kah tolong kumbalikan. Pihak di badan diri hambo, pada saat maso kini, lah tasurek di dalam hati, lah talukih di sanubari. Di mano jalan hambo tompuah, di mano lobuah ka hambo turuk. Pihak di badan diri hambo, iyo basuo bak di urang, niak muko suk naknyo sampai, cinto nak mangondak buliah. Baita di dalam hati, lah tasurek di sanubari. Pintak kok indak ka buliah, kondak kok indak ka balaku. Di alam mano hambo diam, di bumi mano hambo tunggu, kaji indak ka dapek. Itunyo pikiran hambo, baapo pikiran Guru," katonyo si Rambun Podeh.
Pado saat maso itu, dek diri badan gurunyo, rang arih bijak [ 91 ]sano, rang tahu di laku murik, rang pandai manimbang murik, rang alini mantik maani, rang tahu lapa maana. Takilek ikan di aia, lah Lontu jantan batinonyo. Takilek comin ka muko, lah tampak tando alamat. Kilek comin lah ka muko, kilek baliuang iah ka kaki, sanan tibo andai dek gurunyo.
“O buyuang si Rambun Podeh, kini baitulah dek ang, kalau baits cinto hati, kalau baitu kondak diri, jalan luruih kito turuk, fjobuah nan godeng kita tompuah. Manuruik nan sapanjang adat, afiat nan Ikzim di dalam sarak, ditingkek jonjang nan limo. Kito sigi, kito siayek, kite usua kito pareso, kapado ibu bapaknyo. Ketek olab koh bajodoh, kok godang olah kok batunangan. Tak da- pek kilo tariak, tek mungkin doh kito bukak. Konai sati konai ka-jam, konai buek ih bapaknyo. Larang Allah jo Rasua, malangkahi tunanvtan urang. Kini haitulah dek ang, pasaba hati di dalam, da- lain sahari do hari ko, nak hambo ka sanan, eten ka rumah ibu bapwonye. Kok dixumpaikan niaik hati, dibukaklah cinto tubuah. Keondak kok jal ka babor, kondak kok lai ka buliah, basungguah- auinggiiads bah ang.”
Alaran dirt imam Mulia, pado saat maso itu, lah tibo andai nan ja, kapada si Rambun Podeh. "O Buyuang si Rambun Po- den, durgakan malab dek any, Aluran dicinto hati, kahondak ba- dan cirs ung Wiritak kok caso ka buliah, kondak kok lai ka balaku. Kapa tarmantangy pais badtu, dicari hart nan elok, dipandang katiko nan huodk, diculak balah swdapun, dipandang katiko limo, Di fine Aukel nan lak, di sanan hambo bajalan, pasonang lah hati ara, Katooye finan Mulia. Manyauk si Rambun Podeh, ”Kalau hast Gat. Chiba, hambe manyorah sai a ae 3 artrasyets st Clarnatestra Pea ded SNe ena bated Jadinyo,
Pek te ongku Iman Multia, burisuak Keivtes sodjute, ftisandangiuh galsh salapan, iin. dijo seat nan batk, Lab dapek hari bab coges ath yath. Labt anlangkah Yo maelan tejguibe, yte Urapkan kalimah s : - tap f\u Wad anak saaane, ap wot — aval tas Gea teeee Davee alone ee wakatu itu, lah sabonta junagatig efowek teh tiles yaran ae i hee, hampia, hampia wean Lat tikes ch Buta te — wes di rumah Maulana
ite, Sinan mahimb ‘adi Maret tba Mati Kap ec ee ee esa acai vinelany aria, adoh koh Ongku di rumah fated cak omak ka ateh ron he” kg : ’ an, kulonyo Imam Mulia, Pado
hari siang, ditariaklah dicoliak katiko nan nan elok lah malang-
- kah, lah duo langkah [ 92 ]saat maso itu, dek diri Maulana Karim, inyo manjanguah di pintugodang, mamandang arah ka laman. Olah tampak urang nan datang, guru Bosa Bukik Jambu. Ka poi tompek batanyo, ka pulang tompek babarito, dalam koto Bukik Jambu, baitu bona godang gurunyo. Malin Kitab kari Quran, tahu lopa jo maana, pandai bamantiak bamaana, baitu bona malinnyo. Kok dek inyo tu Quran, ganti doa pulang mandi, kok dek inyo saraf jo nahu, ganti andai-andai sajo, baitu bana malinnyo. Tapi sajak kini, dek diri Maulana Karim, dituruk ka tongah laman, basalaman bajawek tangan, dibimbiang naiak ka rumah, lah tibo di ateh rumah. Sasaat sudah baandai, sahabih rokok nan sabatang, sausai siriah nan sakapua, tibo andai dek diri Imam Mulia. "Manolah Ongku Maulana Karim, kini baitu lah dek Ongku, nan taniak ka hambo bukak, nan talipek ka hambo kombang, raso hati ka hambo katokan, adokoh izin dari Ongku, cubo torangkan bakeh hambo,"katonyo angku Imam Mulia. Manjawek Ongku Maulana Karim,"Mano Ongku Imam Mulia, kok baitu kato Ongku, baapo pulolai dek hambo, Cubolah kombang nan balipek, sabuk lah cinto hati. Nak siang bak hari, nak torang bak bulan," katonyo Maulana Karim.
Pado saat maso itu, bakato ongku Imam Mulia. "Manolah Ongku Maulana Karim, kini baitu lah dek Ongku. Aluran diri badan hambo, mako hambo sampai ka mari, mako hambo sampaikan siko, godang mukosuik dalam hati, taba niek dalam tubuah. Aluran badan diri hambo, mulo ka sampai ka mari, mako tibo hambo di siko, godang mukosuk dalam hati. Kato lalu jo kiasan, andai-andai rang di siko, koba-koba rang Bukik Jambu, baitu bona lah tu kini. Pihak di badan diri hambo ko, atau pun di badanTuanku, hambo manaruah kumbang jinak, Ongku manyimpan hungo kombang. Iyo mukosuk kumbang jinak, nak manyasok bungo harum. Niat kok lai ka buliah, kondak kok lai ka balaku, adok ka diri badan Ongku, itulah mukasuk hambo," katonyo Ongku Imam Mulia. Sanan manjawek Maulana Karim, "ManolahAngku Imam Mulia, malah baitu janyo Ongku, elok jolehkan ka hambo, elok torangkan ka kami, nak iontu nan ka dijawek,nan joleh nan ka dituruk," kato ongku Maulana Karim. Sinan hakato ongku Imam Mulia. "Nak hambo jolehkan ka Ongku, pihak di hadan diri hambo, hambo bamurik di surau, di surau Bukik Jambu. Murik nan ampek puluah ampek, saisi sidang Jumahat. [ 93 ]Lai mangaji mantiak jo maani, lai baguru lopa maana. Tapi saman- tang pun baitu, tantangan murik nan sabanyak tu, sorang tampek kasiah tatumpah, sorang tampek sayang tapauk. Anak tu lai rajin “mangaji, lai rajin inyo maapa. Jikok diaja lakeh pandai, jikok di- tunjuak lakeh dapek, baitu paja nan sorang tu, Tapi nan sakarang kini nangko, lah barapo hari koh lamonyo, lah barubah kalakuan, lah barubah parangainyo. Hambo sigi hambo siasek, hambo usua hambo pareso, tabukak cinto hati, takombang rasio di tubuah- nyo. Nan niat di dalam hatinyo, taradok ka anak Ongku, nan banamo si Sari Banilai, Niaik nak mintak disampaikan, kaua min- tak difopehkan, nak sarumah nak satanggo, nak sabonta sakalang hulu, nak salaplak sakatiduran. Kakawan lahia batin, pagantuangan dunia akhirat,, bsaitu katonyo jo hambo. Pihak di dirt badan ham- bo,.manuruk jalan nan pasa, manompuah jalan nan godang. Ha- dok ka diri hadan Ongku, baapo koh niaik Ongku, pihak kapado pintak kami,” kato Ongku Imam Mulia,
Lalu dijawek dek Maulana Karim, "Mane Ongku Imam Mulia, kok ita Ongku Katokan, iyo pulo tu kironyo, limbago lai baitu, jamtys manaruah bungo kombang, Ongku manaruah kumbang jinak, Nan laziz di dalum sarak, nan kawi di dalam adat, nan ta- pakai sajak dahulu, sajak di urang tuo-tuo, lalu sampai sakarang kist. ‘Pap) saketek nan mamisuah, tipak di badan diri kami. Kami nyato dayang jauah, iyo urang subarang lauk, nak urang koto ffindustan, Walau rajo xwak di kampuang, walau sutan di nagari, i: rantiu malah dagang yuo, anak dagang lah tu namonyo. Kok hii Gngke deck Kami, kok randah bangso dek itu, itulah nan ham- ho rucuahkan. dam nan dari pade itu, pihak di diri anak hambo, ago banat Putt Sar Kenilai, takalo maso di rumah, ketek olah hatanangan, godang lah bajunjuangan, baitu buek di kampuang, sarata tea jo taps, di dalan niniak jo mamak, ateh karik jo kabia, sarates kutick imam bila, Lah tatu ist nagori, baitu bona bueknyo. fiteok ka alain musojik, di hadapan imam bila, sanan sati inyo kareng, de adnan buck nyo lupokan. Lah jadi buek Banilai, jo Su- fan kata! sf sana, nan hanamo Bujang Juaro. danji tak ubah ka reanhab ink fak lange malangys. Siapo nan malangga janji, siape: vine toauboh etl, kanal kutuak Kamarullah, kanai janji buek fegsiaty Vainbahars pula dek itu, kok Banilai nan barubah, Banilai erubern noes bata, kok Juaco marubahi, Juaro jadi ula godang. Neti antes, dow dibace. sidauy Jumahat jadi saksi, Baitu buek anak
92 [ 94 ]hambo, iyo di korong kampuang kami, eten di nagori Hindustan. Kini baitu malah dek ongku, cubolah tinjau jo adat, pandanglah di dalam kaji. Batagah garan dek adat, balarang koh dek agamo, Limbak nan dari pado itu, pulang maklum ka Tuanku," katonyo Maulana Karim.
Andai tibo dek Tuanku Imam Mulia, "Mano Ongku Maulana Karim, kok iyo jadi baitu, kini ko hambo batanyo, pihak ka diri badan Ongku, lai kok iyo jadi baitu, lai nan ka hambo tanyokan. Takalo maso ka mari, baapo asa mulonyo, apo kok mukosuk hati, adok ka diri badan Ongku. Atau nak maubah sati, atau koh nak maubah buek, antaro buek sakorong."
Manjawek Maulana Karim, "Mano Tuanku Imam Mulia, kok itu Ongku tanyokan, pihak kapado badan hambo, takalo maso batulak, takalo maso ka balaia, eten di korong kampuang hambo, indak toh jadi baitu bona, indak ta niat nan baiko. Hanyolah mukosuk hati, kami nak pai ka kian, eten ka pulau Parimpunan. Hari baiak kutiko elok, kami batulak ka sanan, kami nan batigo ko, nak kiun poi bamain, nak manuju tompek itu. Dalam tangah lauk godang, Allah babuek sakahandaknyo. Alun lai sampai ka sanan, angin tibo galombang datang, kopa indak tantu adok, kapa indak tontu arah. Barapo lamo di lauik, dalam tangah lauik godang, satu indak pagantuangan, satu indak lah nan tampak, salain manyarah kapado nan Kuaso. Baitu mulo batumpu, baitu mulo bajalan, talalu sampai ka mari lah tibo kami di siko, lah barapokoh ka lamonyo, lah barapo lamo wakotunyo, indak doh nak maubah janji, indak doh maubah sati, indak doh ka maubah buek," katonyo Maulana Karim.
Kok itu kato Tuanku, lah sonang di dalam hati, lah sunyi di kiro-kiro, Ciek lai pulo tanyo hambo, salamo Ongku di siko, tacinto juo koh kampuang, takona korong kampuang, tarogak jo rumah tanggo, baapo nan niaik hati. Pabilo ka pulang, eten ka koto Hindustan," katonyo Ongku Imam Mulin.
Manjawek Maulana Karim, "Manolah Tuanku imam Mulia, kok itu Ongku tanyokan, kok itu ongku sobuik adok ka diri badan kami, iyo pulo tu kironyo. Tapi sumantang pun baitu, nau niaik di dalam hati, tarogak jo korong kampuang, takona jo rumah tanggo, takona jo korong kampuang, putuih hati nan di dalumu. Tapi sungguahpun baitu, kok nan diniuikiaikkan bona, kok dikaji-kaji bona, tak mungkin babaliak pulang, tak mungkin hambo [ 95 ]ka kampuang. Jo apo awak ka pal, pihak di badan diri, raso ta- vamang-gamang di lauik, indak mungkin ka tibo di pulau, takona maso nan lampaui, taingek maso nan lalu, takalo kami ka mari. ‘fak mungkin kami ka pulang, tak bisa kami babaliak, baitu mu- kasuik hati. Kami nak jadi rang di siko, ka mahuni bumi rang di siko, Mamintak pandan pakuburan, mamintak sawah jo ladang, kami nak jadi rang di siko,” katonyo Maulana Karim.
Dijawek dek Imam Mulia. “Kok itu olahlah obeh, kok itu piahlah toniu, ah torang pulo dek hambo, saketek nan ka hambo cabuik, saketek nan ka hambo tanyokan, adok kapado badan Tuanku. Pihak dek tanangan Sari Banilai, nan banamo Bujang Juaro, adokoh manuruik Ongku, adokoh manuruik pandangan Ongku, hilang ko lai ka bacari, luluih lai ka basilami, tatimbun Int ka bakekeh,” katonyo Tuanku Imam Mulia.
Laht manjawek Maulana Karim, "kok ita Ongku tanyokan, itu indak dvh mungkin, indak mungkin inyo ka mari, manuruik mikiran harsbo. Papi samantang pun baitu, cubolah Ongku pikia- kan, jaikesh yoleh dek inyo kami di siko. Aluran badan diri kami, halaa indak tuniuarsh, kopa indak tantu adok, balaia ka mano dapek, tak mungkin myo ka mari,’ Katonyo Maulana Karim.
Manjawek ‘Tuanku Tnain Mutia, "Kalau iyo co itu, manyo- van kite ka untuang, pulangkanlah katakadia. Indak salah tu dek adat, induk salah dek agamo, tapi manuruik pikiran, dipandang dy stalum kaj. Nan tanaik di dalam tubuah, nan takona di dalam iwis,” Katenyo Angku imum Mulia.
Marnjawek Maulana Karim, “Kami sarahkan kapado Ongku, patil, niat ko disumpuikan, pabilo kaua ka dilopeh. Pihak Ongku Yani ber, kondak Gngku kami kobuakan, Tapi saketek hambo kitekan, Kato kes cyate anak dagang, kami tarang urang jauah,” xatunye Miuitanst Karina,
Jute seal sakubske. dah sabonta untaronyo, lah sudah bapadu gasdere, fale sabuaat buek kasadonye, lah dikacak dipagamokan wh datienbang mnasak musek, lah dikaji awa akia, dicari wakotu nan eiak, tab dipandang mas nan balek, pabito niat ka sampai, pabilo kage ke feoped., Fath: dapel hete sankua, lab butek rundiangan saiyo, fw: tetesad pannitiangen Andai nan suandai kini, hari nan sabonta eer gubek chin fensm Mulia, dimintak izin babaliak. Izin buliah boritlaw batohe fut tabwiak Imam Mulia, dituju coma nan g0- day tet asierotic oye bajalan, lah dao bunta pajalanan, jauah ba-
94 [ 96 ]sarang dokek, dokek lah basarang hampia, lah tibo garan di sanan, eten di ateh surau godang, lah dihimbau si Rambun Podeh, "O, buyuang si Rambun Podeh, nak k marilah janyo hambo, nak den katokan ka ang," katonyo Angku Imam Mulia.
Baru tadonga himbauan itu, lah datang si Rambun Podeh, lah duduak inyo basimpuah di muko gurunyo, lah basalaman inyo sakali, lalu andai tibo dek gurunyo, "Mano ang Rambun Podeh, kini baitu malah dek ang, aluran dikondak hati, dicinto di dalam tubuah, lah hambo jalang ibu bapaknyo, nan banamo Maulana Karim. Lah tibo hambo di sanan, lah disobuk ka sadonyo, awa jo akhia. Lah sudah nan sado itu, kato lah taraso putih, bulek buliah digolekkan, picak lah buliah dilayangkan. Lah buliah mukosuk ang, lah dapek nan kondak hati.”
Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104').
Dibilang rang Hindustan, dek diri Ongku Rajo Busa, dihimbau anak kanduangnyo, nan banamo Bujang Juaro. Lah datang inyo ka kian, ka hadapan bapak kanduangnyo. Lah sabonta antaronyo, andai tibo dek bapaknyo, "O, buyuang Bujang Juaro, dongakan malah dek ang. Aluran di badan diri hambo, pado maso kini iko, ang den bao baandai-andai. Lai koba nan ka dikatokan, aluran diri badan aang. Takalo maso dahulu, takalo kaciak mudo matah, maso ketek kanak-kanak, takalo maso dahulu, iyo dek diri Sari Banilai, anak Tuanku Maulana Karim, maso ketek olah batunangan, godang inyo bajodohkan, iyo jo badan diri ang. Nan sakarang iko kini, lah barapokoh lamonyo, hilang indak tentu rimbonyo, hanyuk indak tontu sungai, ka mano kolah ka poiuyo. Kini hambo hak batanyo, baapo pangona ang kini, baapo di dalam hati. Hilang kok lai ka bacari, kok hanyuk laikoh ka bapinteh, tabonam lai ka basilami, baa pangona diri ang."
Manjawek Bujang Juaro, "Ampun baribu kali ampun, bari mooh badan hambo. Pihak di badan diri hambo, lah burapokoh lamonyo, aia diminum raso duri, nasi dimakaan raso sakam, lalok indak tatiduakan, bumi nampak olah licin. Kok mandi indak lai basah, takona buek nan olah, taingek jonji nan lamo, iyo je dir [ 97 ]Sari Banilai. Badan bak raso bayang-bayang, tapi baalah manga- tokannyo, takuk bacampua jo comeh, madok ka hadapan diri Bapak, dapek nan sakarang iko kini, lah tacinto dek Bapak, lat takona dek Bapak,tai taniat di hati hambo, dongakan malah dek Bapak. Bapak juo janyo hambo, nan sakarang iko kini, lai izin rela Bapak, pintak kok Jai Bapak bori, hanyuk ka lai ka hambo pinteh, hilang ka hambo cari, hanyuk ka sungai ka hambo pinteh, tabang ka langik ka hambo tawa, asa salingkuang alam nangko, baitu niaik dalam hati, asa lai jzin rela Bapak,” katonyo Bujang Juaro.
- Manolah Buyuang Bujang Juaro, kalau baitu niat buyuang
di hambo haitu pulo. Poilah cari sampai dapek, toruih bao inyo pulang. Di manokoh garan diamnyo, asa pikialah dek ang, dosah dosub dalam kampuang, rundiang-rundiang di nagori. Adok ka badan kito ko, kok malang tak dapek ditulak, mujua tak dapek diraiuh, uruang tavoreang di koniang. Jndak jai aha saalu koalu tatumbuak di tobiang asa talotak di pandan buligh di sack jo batu
Indak lai alu saalu ko alu tatumbuak di Tobing asa tatolak di pandam bulimh di soak jo batu
Indak matu samalu nangko malu tacoreang di koniang kilau talolak di badan bulinh den asok jo baju,
Huila tenaleh tr kina, katonyo Bapak Bujang Juaro. Pado saat inweg ity inh sudah ba andai-andai, tibo putusan dek bapaknyo, 9, Nok kanduang Bujang Juaro, kok hilang ka bacari, kok ha- nyu jar ka wang pinteh, cubolah ang cari kawan, carilah kawan wane geriang nek souang ayah malopeh,” katonyo ayah Bujang dusre
Manyautk Majuiy duaro, “Ayah kanduang janyo hambo, kok tais Water Ayah indak baatu kirunyo. Aluran badan kami, duo yy Ub st taantenng Atam, kent lah basndal-andai juo, inyo lai asad pot, ke thang tlang pak kasi cari, hilang ka rimbo kami sgt tila ka leuk kan ronang, baitu bona di badan kami. Kann bee oatnigher can Lak nasi, lai sacambuang nan bak gulai, foyttcs ttt twins Hort, baapo pikiran Ayah,”
96 [ 98 ]"Kalau baitu pikiran ang,lah sonang di hati kami, lah sunyi di kiro-kiro. Tapi samantang baitu, himbaulah diri kawan ang, nan banamo si Lembang Alam."
"Kalau baitu kato ayah, baapo pulo tu lai.” Lah poi Bujang Juaro, manjopuk Sutan Lembang Alam, satu dijopuk tabao sakali, lah tibo di muko bapak, lah tibo inyo di sanan, "O Bapak juo janyo hambo, kini baitulah dek Bapak, ikonyo kawan hambo tu, nan banamo Lembang Alam. Cubo lah dek Ayah," katonyo Bujang Juaro.
Lalu batanyo bapak kanduang, kapado Sutan Lembang Alam. "Kini baitu lah dek Sutan, aluran di diri badan hambo, iyo nak manyuruah ang poi. Hilang nak nyato ka bacari, hanyuk nak tarang dipintehi. Aluran Sari Banilai, tunangan Bujang Juaro, olah barapokoh lamonyo, hilang tak tontu rimbonyo, hanyuk nan indak obeh sungainyo. Nan sakarang iko kini, kok lai nomuah Sutan poi, mangawani si Bujang Juaro, buliah nak hambo lopeh jo hati suci."
Manjawek si Lembang Alam, "O, Bapak janyo hambo, kalau baitu janyo Bapak, baapo pulolah dek hambo. Hilang inyo ka kami cari, hanyuk inyo ka kami pinteh. Ka mano hilang ka kami cari, hilang di rimbo kami sarang, hanyuk di sungai kami ronangi,' katonyo Sutan Lembang Alam.
"Kok iyo lai baitu, lah sonang di dalam hati, lah suni di kiro-kiro. Mano ang si Juaro, saruto Sutan Lembang Alam, dongakan malah dek kalian. Aluran di badan kalian, sayang ka bajalan jauah, rimbo godang ka buyuang tompuah, lauk hosa ka buyuang layari, tibo bukik buyuang daki, tibo lurah ka baturuni. Ka basuo elok jo buruak, batamu bamacam-macam. Kok basuo itu di jalan, kok batamu ang jo musuah, lai garan ka talawan."
Manjawek Bujang Juaro, "O, Bapak janyo hambo, kok itu ka Bapak tanyokan, takalo maso dahulu, inyo olah baguru, inyo alah lamo mangaji, olah barilmu dunia akhirat. Hambo raso indak baapo, sorahkan sajolah ka untuang, pulangkanlah ka takadia," katonyo Bujang Juaro.
Manjawek Sutan Lembang Alam, "O,Bapak juo janyo bainho, aluran kami nan baduo, mamintak-mintaklah Bapak, tolonglah kami jo doa, salamat kami pulang baliak, sasuai lahia jo batin. Nan dicari lakeh dapek, nan diama lakeh pocah, lai hasia pintak kami," katonyo Sutan Lembang Alam. [ 99 ]“Kalau baitu kato ang, kami mandoakan dari rumah, ma- mintak mintakiah kami, dibaka kumayan putiah, tiok pagi jo tiok potang,” katonyo ayah Bujang Juaro.
Lah dibari ameh satahia, ka ganti pamboli rokok, kan pam bali siriah di jalan, sarato pamboli aia. Lah sudah timbang tarimo, lah basalaman jo Bujang Juaro, duo jo Sutan Lembang Alam, inyo bajalan po sakali, Olah sarantang pajalanan, cukuk katigo . rontang panjang. alab tbo goran di sanan, eten di tobiang panin-
jauan, di ulak .lubuak bajuluih, eten di pasia pasimpangan, di jawi-jawi lampai, di xomak tumpak-tumpak. Lah taontak nyo di sanan, ditariak sompan sabuah, jah duduak inyo baduo. Lah tibo di dalam eompan, lah diajak-ajak balaia, lah dicubo-cubo ba- kayuah. Kayuahnyo bakalimbuan, Sakali marongkuah dayuang, dyo kal marangkuah dayuang, sampan bukan main doh lajunyo. ia: uvlek maro malintang, lai laju-laju sajo, lah tapandang jo smbak lauk, La sarantang pajalanan, ditingkah jo dayuang ciek, tat lac reniang pajalanan, cukuk katigo rontang panjang, lah tibo di tangah tauk, Jah dipandangi ilia jo mudiak, lah diliek kiri jo kmian, lah cometh hati di dalam, lah kari di dalam hati, takona We yo tapak, takona karik jo kabiah. Awak sodangdi tangah lauk, agswanvar lidak pagantvangan, bageyah ama jo iman, dibaco ama pekaiak baxale jo ombak loduah,
Lah supokan invo balaia, lah duo pokan palayaran, lah cukuk. ‘ge paken Pbabih pokun babilang bulun, lah sabulan duo bulan, Inds ciskuk gerresc Live tartan, pandang jauah nyo layangkan, pandang hunput eye tukukkkan, indak ado tampak tanah darek, in- tiwk onfes tanpak tanah topi, balaia indak batujuan. Pulau mano wi diyatany. ontat ka mang ka ditompuah, hanyo manyarah ka entieandg saps Tokecio tai ka elek, pintak lai ka buliah, lah saat wakes, dah tanpak Jnakik sabuah, bukik nan panuah samak probe aint ditujikes pulayaran, ka arah bukik nan tampak tu.
Lah tomprk jelan tabontang, jalan banamo jalan parantian dapasy Paingablah utarng baliak di bukik, urang tu baliak di baiuc, Hatwert nye di aloh tunggu. Nyo mamandang ka hilia, apes tone cbak Culak ka ateh. Pandang jauah balayangkan, pan- Jeny tatajis hutekinkken, lal tibe inyo di sanan, eten di bukik peace goby, Dek dur Hujang Juaro, inyo tambekkan parahu- roe ob Tera yo atcah, di daki bukik rimbo. tswh suyaal oy inasiiaki, duc saat nyo mandaki, lah tigo saat [ 100 ]pajalanan, indak tontujalan nan di tuju. Tapi samantang pun baitu dituruik sado nan pasa, ditompuah sado nan golong. Dek diri Bujang Juaro, lah sabonta nyo bajalan, lah tampak dangau sabuah, dangau tu barasok juo, lalu dituruk ka kian.
Dangau takah lai baurang, dangau lai takah batunggui. Duo bonta nyo bajalan, lah tibo di tapi dangau, mahimbau tu nan jadi.
"O, Datuak rang di dangau, lai koh Datuak di rumah, lai koh dangau bahunyi. O, Tuak babunyilah Datuak, lai koh Datuak di dangau," katonyo Bujang Juaro.
Baru tadonga andai co itu, manjawek urang dangau, "O, Buyuang anak urang lalu, aluran di badan hambo, iyo hambo urang dangau, dangau lai bahunyi, buyuang naiaklah ka dangau," katonyo urang dangau.
Mandanga suaro tu, baru tahu Bujang Juaro, sarato Sutan Lembang Alam, baso dangau lai bahunyi. Lah tibo di ateh dangau, basalam inyo sakali, lalu duduak basimpuah. Lah baandai-andai juo, lah barundiang-rundiang kaji, di ateh dangau godang tu. Lah lamo antaronyo, tibo sudi jo siasek, datang usua jo pareso, dek diri urang dangau tu.
"O, Buyuang nan baru datang, anak datang dari mano, dimano korong kampuang ang, di mano dusun jo nagori. Baapo datang ka siko, awak sajombang sarancak ko. Manga ditampuah rimbo dalam, manga disawang rimbo labek, apo sobab karononyo, apo asa usuanyo, cubo caritokan lah kini, nak sonang di dalam hati, nak sunyi di kiro-kiro," katonyo urang dangau tu.
Manjawek Bujang Juaro, "O Tuak janyo hambo, kok itu Datuak tanyokan, aluran diri badan kami. mulo ka sampai ka siko, awa ka sampai ka mari, indaklah kami sangajo. Tapi baalah mangatokannyo, lah garak dari Allah, lah tasurek sajak dahulu, sajak di rahim bundo kanduang, kini untuang mandapati. Dongakan dek Datuak, nak sonang di dalam hati, nak sunyi di badan diri Datuak. Aluran badan kami nangko, kami bukan urang siko, kami nak rang jauah bona, kami nak rang Hindustan. Mulo dek sampai ka mari, awa dek sampai ku siko, lah dibao paruntuangan, lah dibao dek bagian, lah tarogak dek takadia, indak dapek nak kami bantah, tak buliah lai kami lawan. Lah tibo kami di siko, di muko diri Datuak ko. Tapi samantang pun baitu, kami nak batanyo pulo, adok ka diri Datuak ko. Datuak nak rang mano, di mano koroang kampuang, di manokoh dusun jo nagori Datuak, [ 101 ]lai koh di dokek iko, mako mandangau surang diri, di dalam hutan rimbo rayo ko," katonyo Bujang Juaro.
Sanan manjawek urang tuo tu. "Nak kanduang janyo hambo, kok itu ang tanyokan, aluran ka badan diri hambo. Bamulo hambo ka mandangau, lah posai lauk mandarek, lah posai bailia mudiak. Kok di lauk ang tanyokan, lah posai bakalang ombak, lah cukuk dilamun buiah. Lauk mano nan tak ditompuah, pulau mano nan tak dijalang. Lah pueh badan ka mari poi, baiak dusun jo nagori, lah sampai ka mano-mano. Tapi samantang pun baitu, nan dicari indak dapek, nan mukasuk olun buliah, tapi badan lah tuo juo. Diraso indak kamungkin, balaia indak lai kamungkin, bajalan indak lai ka bisa. Dibuek dangau di hutan, sambia nak manyanang-nyanang diri, untuak manyunyi kiro-kiro. Alah barapokoh lamonyo, hambo di dalam rimbo ko. Asa coliaklah dek Buyuang, asa pandanglah dek kalian. Coliaklah tanam-tanaman, pandanglah buah-buahan. Mantimun lah godang-godang, lado lah baitu pulo, mantimun malanang bungo, toruang lah ayun-ayunan, jaguang lah maampai buah, karambia lah banyak pulo. Asa pandanglah dek ang, salamo hambo di dangau, hati sonang pikiran sunyi, hati suko niat lopeh. Nan dimakan lai cukuk, nan diminum lai samparono, apo niat tak tahalang, ado asia kasadonyo. Kini baitulah dek ang, pihak nan dari hambo ko, rajin-rajinlah batanam, tanamlah nan elok-elok, kasihinilah sado nan bapucuak, sayangilah kapadonyo, nak salamat badan ang," katonyo urang dangau tu.
Lah pueh baandai-andai, lah posai bakoba-koba, lah maujuk minum makan, lah salosai nan bak itu, makan lah konyang minum lah puch, hari lah loruk rombang sonjo, hari lah malam, juo. Pihak di diri Bujang Juaro, saroto Sutan Lembang Alam, baiak dek diri urang dangan tu, lalu bakato nan jadi, "O Buyuang nan baru datang, Nak ai nan baru tibo, kok lotiah Buyuang bajalan, kok takantuak badan dirí, eloklah tidua lai kini, bisuak siang kito barundiang.
Pihak di diri Bujang Juaro, "Kok baitu kato Datuak, iyo pulo tu kironyo.'
Lah lolok batigo tigo, sasaat lolok nan jadi, dalam sonang sunyi sajo, kira-kiro pukua tigo, tasintak Bujang Juaro, tadonga bunyi jauah-jauh hampiang, tadonga bunyi tinggi-tinggi rondah, oguang lah mandayu-dayu, talempong lah indak baninak, gondang [ 102 ]lah tingkah batingkah, topuak lah hasaua-saua, Allahu Rabbi nak suko rami, Olah duduak Bujang Juaro, diarah-arahkan bona, nyato bona tupandangan, joleh ado urang barolek. Tapt samantang pun baitu, disimpan sajo dalam hati, Barisuak hari tah siang, lah Sakali ayam bakukuak, lah duo kali ayam bakukuak, lah babunyi Slamang rimbo, lah babunyi uwia-uwia rimbo, Jah bakicau murai di ladang, lah babunyi sikikih rimbo, manandokan hari olah siang.
Lah siang candonyo hari, sapanggalahan mateharit naiak, lah jagonyo batigo, lah duduak baminum kopi, sambia maminum-minum kawa, andai tibo dek juaro. OQ, Tuak janyo hanvbo, aluran di badan diri hambo, hambo nak batanyo juruih, adok ka din badan Datuak. Aluran badan diri hambo, di malam samalam tadt. oguang mandonguang-donguang, Ontah apo nan tadonga, buny! 0 : talempong inak guminak, gondang tingkah batingkah, sovak soral indak tabado, topuak lah saua basaua, SATUPO UTATE Nan mama cang galanggang, takah urang maramikan olek. Tuak apo tagaran, cubo torangkan bakeh kami, nak sonang dalam hath, sajuak dalam kiro-kiro,” katonyo Bujang Juaro- .
Manjawek urang dangau tu, "O, buyuang janyo hambo, kok itu ang tanyokan, kok itu nyo ang sabuk, iyo bonalah tu Kin, ba-tua itu bunyi oguang. Aluran di Bukik Jambu, eten di bulik lauk tonang, urang tu sadang barolek, inyo nan sordang barolvk godang, lah barapo hari ko lamonyo galangeane divamkannye, subtiangk datang, Sutan pane han taklah dijadikannyo. Rajo mano nan ta tibo, Nan jauah datang bajopuk , 120 dokek dutang habhubat, Jauah surek nan talayang. hampia siriah nun bakapun. Papi saan. tang pun baitu, olah barape ko lamonye, olek tye bulan poprk, siang jo malam, rami potang jo pagi.” katonye Weang hay tL, "Katonyo,utang sang tu.
Manjawek Sutan Juaro, "O, Tuak banyo Hampbe, kek te ohh lah obeh pula giak kaver, apt gmake Tani sag: ntinge ta, tah obeh, kok itu olah lah tontu, ab karononyo, mako olek sagodang in, apo asa on cubo torangkan pakeh kami, nak aoetigt ob he
lam hati, nak sojuak dalam kiro-kire,” ee nA ae voy Nak pan Darts chiang, Lalu ‘owek urang dangiu tu, "ONE : kok itu a ear kok itu nan ane gohuik, bubats prin hambo torangkan dongakanlah dek ong jolehyeled ae atak Tang sanan, iyo di ronah Bukik jamb, anak rag Keto Lurbuah Limpato, inyo mandapek urang datang, ny’ tyartapek pRTel wlok [ 103 ]Indak lai puti sajombany tu, indak lai puti sarancak tu, indak ado larang tandiangnyo, suliklah sutan ka jodohnyo, laranglah rajo ka tunangannyo, indak tangguang rancak puti itu. Dek mupakat. nak samo clok, dek buek samo sasuai, kawin jo anak rang di siko, ‘iyo jo anak rajo kami, nan banamo si Rambun Podeh, itu nan di olekkan urang.” katonyo urang dangau tu.
Baru didonga nan bak itu, manjowek Bujang Juaro, "O Tuak janyo hambo, kok itu olah lah tontu, kok ituolah obeh, lah torang pulo tu dek hambo. Topi samantang pun baitu, laikoh Puti nak rang siko, laikoh anak rang siko bona, atau puti dari mano, cubo torangkan bakeh kami, nak sonang dalam hati, sojuak dalam kiro- kiro,” katonyo Bujang Juaro.
“Kok itu nun ang tanyokan, kok Puti nan ang sabuk, bukan lai Puti dari siko, bukan tai Puti nak rang Bukik Jambu, bukan Puti nak Lubuak Limpato. Hanyo Puti jauah bona, anak rang nagori subarang, anak rang nagori Hindustan, datang jo andeh baponyo. Bapak hanamo Maulana Karim, andeh banamo Sari Banun, anak hanamo Sari Banilai. Lah barapo lamonyo di siko, lah dapek jodoh dek anaknyo, itu nan nyo parolekkan, olah ka torangtu dek ang,"kutonyo urang dangau tu.
Dek diri Bujang Juaro, baru mandonga kate itu, tatimpo duduak hamanuang, tatidua tatilontang, lah pansan Bujang Juaro. Parts saat maso ttu, Olah gaduah urang paladang, olah comeh urang pakohun, dicoliaklah anak tadi, angoklah badoruh-doruh, inyo jah pomang sdkali. Apkoh usa usuanyo, apo sabab karanonyo, makonys jad: nan bak kian, heranlah urang paladang,
Parke saat maso itu, tapi aka indak hilang, dicari limau jo kaswi, diuinbiak tawa nan ompek, dijopuk ka tongah ladang, Lah kirg cokuk di raeo, lalu manawa urang paladang tu. Lah sudah inwa diasok, maminiak inyo di sanan. "Ya Allah ya Rasulullah, hurakat Makat: jo Madinah, barakat guru nan barompek, sorang ih serangy bape, sorang Tuanky Sari Alam, nan ohang dalam mu- syrk, nat sumbayang subuali di Makah, sumbayang asa di Madi- nbs, Pinta kok lar ka balaku, kondak kok lai ka buliah, hambo nan sadang imanintak. Diokekkan lah tawa ka lihia anak tu, nak digsae shyaress, bellah disadi disiasek, baitu pintak datuak tu. Splaset inwe tablia. ctuo lewai tawa talilia, cukuk katigo lewainyo, tah) thedisuk Hujang duaro, lah duduak Bujang Lembang Alam. sabusla ducoak nin jadi, aka dapek pikiran sunyi, bakato urang [ 104 ]dangau tu.
"O, buyuang janyo hambo, apo sobab karononyo, apo jo asa usua, mako kalian nan bak nangko. Takah urang dek poniang, takah urang laku mabuak, apo sabab karononyo, cubo torangkan bakeh hambo, nak sonang dalam hati, sojuak dalam kiro-kiro," kato urang dangau tu.
Manyahuk Bujang Juaro, "O, Tuak janyo hambo, kok itu Datuak tanyokan, mako hambo dapek pingsan, mako hambo dapek poniang, nan dicari olah dapek, nan diama olah pocah, nan dituju olah sampai. Tapi saketek nan marusuah, lai samiang nan mancomeh, nan diusuk. indak buliah, nan diamna indak pocah, apo sabab dek bak itu. Aluran diri si Banilai, anak Tuanku Maulana Karim, sado nan Datuak sabuk tu. Pihak di diri si Banilai, inyo tunangan ambo, sati lah sajak di rumah, sajak di koto Hindustan. Tapi nan sakarang kini nangko, o, Tuak apo aka hambo, cubo torangkan bakeh hambo, cubo torangkan dek Datuak, nak sonang dalam hati, sunyi di dalam kiro-kiro."
Aluran diri Bujang Juaro mamintak sipat ka urang dangau, sinan bakato urang dangau, "O. Buyuang janyo hambo, kini co itu lah dek ang, Buyuang coliaklah ka kian, Anak jalanglah ka sinan, ingeklah alua patuknyo, pandanglah laku kurenahnyo. Kok tak dapek nan bak itu, hambo aja ang pituah, hambo tunjuakkan ang kaji. Carilah nasi ateh aia, di situ ang mamintak, di sinan doanyo hambo ajakan."
Dek diri Bujang Juaro, lah sudah doa ditarimo, inintak izin hanyo lai. "O Tuak janyo hambo, kini baitulah dek Datuak, izin kan denai hanyo lai, nak sonang di dalam hati, nak sunyi di kiro-kiro. Datuak tolong hambo jo doa," katonyo Bujang Juaro.
Mako manjawek urang dangau tu, "Molab co itu janyo ang. Anak bajalanlah kini-kini."
Alah poi Bujang Juaro, olah sabonta inyo bajalan, lah duo bonta nyo bajalan, lah tibo goran di sanan, eten di urang nan tami tu. Rami urang indak lai tabado. Rajo mano lai nan tak datang. sutan nan mano lai nan tak tibo. Lah tibo Bujang duaro, lah tibo di tangah galanggang, lah basuuo jo diri Tungga Galanggang
“O, Tungga janyo hambo, aluran diri badan kami, nak manompuah dunia siko, nak manuruk alun patuk, apo lai kami kadapek," katonyo Bujang Juaro. Manyauk Tungga Galanggang, "O, Buyuang tanyo hambo, [ 105 ]kok itu pintak ang, pintak lai ka buliah, kondak lai ka balaku," katonyo Tungga Galanggang.
Pihak di diri Bujang Juaro, saroto Sutan Lembang Alam, lah nyo poi ilia jo mudiak, lah nyo pikiri pakanankan, dalam galanggang nan leba tu. Patuk toruh nyo bataruah, manyabuang lah nyo taruhi, barambuang lah nyo turuki, sagalo pamainan lah dimasuki.
Pado saat maso itu, pihak di diri Bujang Juaro, tiok bamain tiok kalah, tiok bataruah tiok kalah. Tiok dimintak wakatu kamanangan, hutang indak namuah mambaia, kalah indak nyo manimbang. Lah kacau isi galangang, babagai koba di sanan, lah dek doga mandogakan, lah babagai parundiangan, lah kusuk isi galanggang. Lah togak Tungga Galanggang, dihimbau urang nan bagaduah tu, apo sobab karanonyo. Baapo asa usuanyo, dikabakan urang di sanan. Kok itu nak ditanyokan, aluran urang datang ko, nak manggaduah galanggang ko. Hutang indak nak mambaia, kok kalah indak manimbang, kalah nan tak namuah mambayia,"katonyo urang nan banyak.
Lah manjawab Tungga Galanggang, "O, Buyuang janyo hambo, baa co itu kurenah ang, bajalanlah ang dari siko, Buyuang tak buliah lai disiko," katonyo Tungga Galanggang. Lah ditulak dek rang nan banyak, lah diusia dek Tungga Galanggang.
Lah poi Bujang Juaro, duo jo diri Lembang Alam. Lah poi nyo bajalan, lah sarontang pajalanan, duo rontang pajalanan, sampai ka Lubuak Mato Kuciang, aia nyo joniah bukan kapalang. Lah poi inyo di sanan, baranti inyo nan jadi. Lah duduak Bujang Juaro, saroto di Lembang Alam. Duduak bamanuang juo, takona pituah guru, iyo Datuak rang paladang. Lah nyo pasang doa sakali, mamintak sanan nan jadi. Kondak lai ka balaku, pintak lai kabuliah, nan diputa angin limbuhu, nan dimintak angin torang, rampuak rampak rumpuk rantai, nan tajulai ateh batu, niat kandak kok tak sampai, datanglah Sari Banilai. Saru lah barulang-ulang, pintak lah bakali-kali.
Dek diri Sari Banilai, manyontak ka ampu kaki, mandonyuk ka ubun-ubun. Hati indak lai tatahan, rusuah indak loi takiro, jatuah badorai aia mato, lah tobik tangisan diri, manyosa Sari Banilai, "Untuang buruak untuang badan, nan buruak komah nan tatariak, nan elok nan lah tatulak, baapo hanyo nasib hambo." Dek diri Sari Banilai, baiak dek Bujang Juaro, lah raso doa mukabua, pintaknye raso ka buliah, dipakuaiknyo manyaru. Dek koreh [ 106 ]pintak Juaro, pintak lai ka buliah, kondak lai ka balaku. Dek diri Sari Banilai, nyo bajalan maso itu, sanggua indak lai salosai, obuak lah bageraikan. Lah baguluk-guluk pai ka sanan, lah bagogeh-gogeh poi, manuju sumua Lubuak Mato Kuciang.
Lah sabonta nyo bajalan, duo bonta nyo bajalan, cukuk ka tigo rontang panjang, aia mato lah badorai juo, bak maniak putuh talinyo, bak intan putuih pangarang, jatuah ciek jatuah lah duo, jatuah tigo dipikiakan, manangih sapanjang jalan, bakobalah sorag diri, "Iyo buruak untuang hambo, nan cilako nan tacinto. Baapo rasonyo badan, nasib lah co iko, badan lah bak bayang-bayang," katonyo Sari Banilai.
Tibolah goran di sanan, eten di ulak sumua godang, di tapian gadiang mudo, iyo di Lubuak Mato Kuciang. Lah tibo nyo di sinan, lah tampak Bujang Juaro, duo jo diri si Lembang Alam. Lah batomu nyo di sanan, dijawek Sari Banilai, iyo dek diri Bujang Juaro, lalu bakatonyo sakali, "Cubo pikialah dek Adiak, konalah tek badan kami, lah barapo ko ka lamonyo, hanyuk lai kami pinteh, lah sampai ka mano-mano, mano lauk lah kami tompuah lah tajalang ka sadonyo, lah tasuo badan kau. Lah tibo kami di siko, kau lah batomu pulo. Kona lah tek untuang kami, cubolah ingek nan lamo, konalah kaji saisuak, dek diri ibu jo hapo, sarato dunsanak kami, atau dunsananak kau. Nan indak tamakan nasi, baminyak indak lai licin, aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam. Sajak kau tinggakan, baitu nasib untuang kami, iyo di nagori Hindustan. Kini baitulah dek kau, kok lai sayang kau jo kami, kok lai cinto kau jo kampuang, kok lai kasian jo rang nagori, kok lai takana niniak mamak, nan isi sidang Jumaat. Takalo kito basati, takalo kito babuck, di muko ibu jo hapo, o, Diak malah kito pulang, babaliak kito kiun. Kopa lah kami baokan. biduak lah kami adokan," katonyo Bujang Juaro.
Manyauk Sari Banilai, "O Tuan Bujang Juaro, kok itu Tuan katokan, tadonyuak hati di dalam, rusuah lah batimpo-itmpo,karu lah batambah-tambah. Cubo konalah dek Tuan, cubo pikia lah dek Tuan. Pihak di diri badan hambo, badan olah bakobek untuang olah batali-tali, iyo jo anak rang di siko, baapo lai untuang hambo," katonyo Sari Banilai.
Manjawab si Bujang Juaro, "Asa dongalah dek kau, nan pintak kami ka kau, malah kito pulang, malah kito poi bajalan, usah lamo kito di siko. Hilang lai ka bacari, nak dapek kitu babaliak. [ 107 ]malah kito pai ka kian,”katonyo Bujang Juaro.
Manyauk Sari Banilai, "O, Tuan janyo hambo, kok baitu kato Tuan, baapo pulo lai. Tapi Tuan kona untuang hambo, Tuan pikia badan Bapak. Baapo pikiran Bapak, baapo pikiran Ibu, kok habaliak kite pulang. Ibu ka tingga di siko, Bapak baitu pulo, itu nyo nan hambo rusuahkan, itu nyo nan hambo hibokan, asa kona- lah dek Tuan, cubo pikiatah dek Tuan.”
Pado saat maso itu, dek diri si Rambun Podeh, dicoliak si Sari Hanilai, indak lai di ateh anjuang, indak doh di rumah godang, hilung indak fai tontu rimbo, hanyuk indak tontu sungai. Dek diri si Rarabun Podeh, lal takona di dalam hati, Banilai iyo lah poi, di- larikan bujang cilako, nyato inyo nan mangusok. Sajak inyo tibo dj siko, galanggang mdak jai aman, kampuang indak lai santoso, kini Banilai iah pai pulo.
Dicari dek si Rambun Podeh, dicari kawan batigo, dicari itia jo mudiak, diliek Kiri jo kanan, lah sampai badan ka kian, iyo di Lubuak Mato Kuciang. Lah tampak Sari Banilai, batigo inyo di saunas. Nan surang Sari Banilai, nan sorang Bujang Juaro, nan sorang Sutan Lembang Alam. Lah tampak dek si Rambun Podeh, ditujunyo tah ka kian. Lah tibo garan di sanan, andai tibo koba datenpy, amun tiho cacek tbo. Anak setan anak ibilih,"anak min- cacak anak mincacau, anak singlang-ngiang rimbo, anak siapo keh RO, Main mangusuk nun mangacau, nan manggaduah sajak weamule. Kok tyo ang laki-laki, cubokanlah jantan ang,” katonyo si Karta Podeh.
Manjawel Hayang duaro, “Dongakan malah dek Sutan, aluran sor Barulai, takalo niaso dahulu, samusim maso di rumah, eten dy kiatagtarig kao, yo di nagod Hindustan. Antaro kami jo inyo. ainty tasangkuk rian tinggih. Kok junji tak baubah-ubah, kok inek tk tanya mulangga, Kok tumbuah di nan salah, kok Banilai inteliahi, Inyo ka trujadi butu, kok hambo maubahi, hambo ka muniadr ole padang. Ike sabab dek baiko, hilang nyo hambo cari, hangok nye: hantbe pintehi. Bukun kandak hambo sajo, lah di- doped: iss nagart, satin ayah jo hundo, lah sarila korong kam- peeteg Kari dade bajalun, sajak di Koto Hindustan,” katonyo Vaepearsy Breage.
Masjuwals si Kambun Podeh, “dan lai banyak-banyak kato, we dat tamavak banyak kerek, Lai tahu ang jo hambo, ikonyo nan uitan diooko, the tye aan tajo Bulak Jambu. Concang indak doh
"96 [ 108 ]mamampeh, bunuah indak doh mandandam, hutang indak doh ka mambaia. Kini baitu lah dek ang, kalau hibo ang jo nyao ang, buyuang bajalan lah dari siko. Kok tak sayang di diri ang, nantilah sasaat lai, ang diandam jo padang ko, ang dibunuah jo pisau ko," katonyo si Rambun Padeh.
Manjawab Sutan Lembang Alam, "O, Buyuang si Rambun Podeh, jan bakato ini itu, jan bagarang-barang awak. Kito samo hamba Allah, kito samo ummat Nabi. Tapi samantang pun baitu, sapueh-pueh mangalah, sapasai-pasai basoba, kok tak nomuah nan bak kian, kito uji gak sajamang, kito cubo gak sabonta," kato Sutan Lembang Alam. Manjadi bantah mambantah, ganti locuk malocukkan.
Lah saat bakalahi, lah sabonta nyo bacokak, dek diri si Rambun Podeh, lah batigo nyo bakawan. Lah takobek si Juaro, lah takobek pulo Sutan Lembang Alam. Lah sudah takobek, dikobekkan padek-padek. Lah sudah takobek tu, manangih Sari Banilai, maratok maluluang panjang, "Ya Allah ya, Tuhan hambo, baapolai nasib badan ko bona nan lah malang, tubuah ko bona nan cilako. Indak disongko nan bak iko, indak diagak nan bak itu, tapi baalah mangatokannya," katonyo Sari Banilai.
Dek diri si Rambun Podeh, lah dibao Banilai pulang, lah tibo di tongah rumah, lah sabonta di ateh rumah, lah duduak baandai-andai. lah tagak bakoba-koba. Baraliah koba hanyo lai, eten ka datuak rang paladang.
Dinanti Bujang Juaro, dipanggia Sutan Lembang Alam. Aturan tibo nyo tak tibo, aturan datang nyo tak datang. Lah ragu kiro-kironyo, lah comeh di dalam hati, lah baapo koh ka dayo, lalu dituruknyo ka kian, iyo ka tongah galanggang. Lah tiho inyo di sanan, pandang jauah nyo layangkan, pandang hampia nyo tukiakkan, indak tampaknyo di sanan. Dialiahnyo mancuri, poi nyo eten ka sumua Lubuak Mato Kuciang. Lah poi nyo ka sanan, dicari ilia jo mudiak, dipandang kiri jo kanan. Lah tampak Bu- jang Juaro, jo Sutan Lembang Alam, tapinyo lah takobek
Pado saat maso itu, diputuh tali kobek tu, diangkekkan dek rang pakobun. Lah sudah tali tabukak, lah pulang inyo babaliak, eten ka dangau pakobunan, lalu bakato rang pakobun. "O, Buyuang janyo hambo, kini baitu lah dek ang, di sikolah kito diam, tak usahlah babaliak pulang, bakobun kito di siko," katonyo rang paladang. [ 109 ]Andai baraliah hanyo lai, eten ka diri si Banilai, sarato Puti Sari Banun. Dek diri Maulana Karim, duduak lah basuko-suko, di ateh rumah nan godang. Olah sapokan duo pokan, lah sabulan duo bulan, oleklah balangsuang juo, urang lah baransua pulang, dihimbau Tungga Galanggang, dipanggia nan codiak pandai, di- himbau nan patuk-patuk, bakato sanan nan jadi.
“Mano Tuanku nan codiak pandai, sarato nan banyak ko, bia jantan bia padusi, walau ketek walaupun godang, sado nan di dalam galanggang ko. Baitu lah dek kito nan basamo, nan salaruk salamo ko, lah tigo bulan topek kito basamo di siko, mamparo Jekkan anak hambo, iyo Puti Sari Banilai, jo diri Rambun Podeh. Lah tujuah rangkian runtuah, lah sapadang kabau nan habih, makanan kito basamo, nan sakarang iko kini, concang tu hondak dihontikan, sabuang tu hondak hambo hontikan, jonjang ka diku- caikan, olek lansuang jo salamat. Salamo kito di siko, kok lai maken nan tak konyang, kok lai minun nan tak pueh, tak tahinggo tak tabateh, tak taagak taayiahkan, nak salamat anak hambo, “Bari mooh godang-godang, rela nan ka hambo pintak, kapado kito nun basame,” katonyo Maulana Karim.
Manjawah nan codiak pandai, “Wahai Tuanku Maulana Ka- rim, kalau baitu kato ongku, aluran diri badan kami, salamo kami di sike, mukan Konyang minum pueh, makan lah bak janyo kami, ongku lah basuke hati. Suko hati lah dek Datuak, suko hati dek jah baminantu, salame kami di siko, makan konyang minum pueh, stland karat a sike, indak hati nan tarusuah, indak doh pikiran nan taganggu. Apek nan sakarang iko kini, kok iyo olek ka ditu- laik, salam: kami ce siko, relakan sado nan tamakan, moohkan gaciy aan tapakai,” katouyo nan codiak pandai,
lah sudah rele dthari, lab poi urang kasadonyo, Galanggang iuh harem) usat, olek lah banamo sudah. Lah sudah olek sudah, due tidun obek balansuang, tigo bulan olek salasai, indak lai batulang bide, hanyolah babilang tahun.
Dek diri; Sari Banilal, duo jo si Rambun Podeh, duduak lah bagi meko, tagak lah bauneai-andai, di ateh rumah nan godang. Allah taain babick sukandaknyo, lah hamil Sari Banilai, cukup tentang samtalan boiler, lah Jahia anak Banilai. Anaknyo Jaki-laki, paneme Hatan Priane. Isulak ado anak sarancak tu, indak ado anak aajombang tu. Sabarl lahia sahari banamo. Lah sapokan duo peas tat selma due bulan, lah datang puti baronam, rajo mano
| [ 110 ]nan tak datang, Sutan mano nan tak tibo, datang puti nan batujuah. Dek diri Sutan Duano, anaknyo Sari Banilai, lah sonang di dalam hati, lah sunyi dalam kiro-kiro, codiak bak diaja, godang bak diambuang-ambuang, awak rancak baiak laku. Dek diri Sari Banilai, pado hari sahari tu, tarogak nak poi bajalan, didukuang Sutan Duano, bajalan-jalan ka tobiang, eten ka tabiang Paninjauan. lah tibo goran di sanan, pandang jauah nyo layangkan, pandang hampia nyo tukiakkan. Marinai-rinai di sanan, dek sonang basuko-suko, hari rancak angin barombuh, olah jatuah poniang Sutan Duano, tangih indak lai tatahan, tangihnyo taisak-isak, diantokkan indak antok, dijujai indak lai golak, tangih indak lai talawan. Tapi samantang pun baitu, dek diri Sori Banilai, rusuah lai tatahan, dicoliak anak manangih, nyo mamintak di sanan, mamintak-mintak Banilai,
Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104').
Aluran pamenan hambo, pamenan anak kanduang hambo, lah jatuah masuak lauk, pintak ko lai ka buliah, kandak kok lai ka balaku. Koriang kontang lah kau danau, kondak hambo nak man- japuk anak kanduang hambo, iyo banamo Sutan Duano," katonyo Sari Banilai.
Aia nan indak kunjuang susuk, angin indak kunjuang sunyi, dek diri Sari Banilai, diangkekkan pandukuangan, dituruk kan masuak aia, maronangi lauk nan godang tu. Dek sayang kapado anak, dek kasiah kapado anak, tangih nan indak dapek diantokkan, dek diri Sari Banilai, lah baronang-ronang rupo. Ilia bakacimpuang kaki, mudiak bakacimpuang tangan, nan pamenan indak doh dapek, tangih indak doh taantokkan, tangih lah babuah-buah, rusuah lah batimpo-timpo. Pintak lai ka makobua, kondak lai ka balaku, aia lah baransua susuk, sakali inyo mamintak sakali aia susuk, Duo kali inyo mamintak, duo kali aia susuk, lah hampia saparo kariang. Dek diri Sari Banilai, barambuih angin di kiri, barombak angin di badan, sarato galombang turun. Mandanguang angin bukik rimbo, malansia aka barayun, tatumbuak ka Bukik Jambu, taompeh Sari Banilai. Talantak kaki kananyo, [ 111 ]eten di pinggang Bukik Jambu. Allah babuek sakandaknyo, lah lakek kaki Sari Banilai, kaki lah manjadi batu, mamintak-mintak disanan, Ya Allah ya Rasulullah, pintak hambo kok mukobua, kandak kok lai balaku, janji lah hambo tapati, pintaklah hambo paturukkan, lah sonang ibu jo hapo, lah suni karik jo kabiah.
Janji lah hambo langkahi, sati lah hambo lalui, iyolah badan manjadi batu. Lah jaleh badan jadi batu, di puncak gunuang Bukik Jambu ko," kato nyo Sari Banilai. Lah jadi batu hinggo lutuk, lah mamintak nan di sanan, pintak kok lai ka buliah, sagalo pakakeh nan di rumah, nan hambo tinggakan, takalo hambo kabajalan, lapiak baguluang hambo tinggakan, datanglah lapiak ka siko, nuk sonang di dalam hati, nak basamo kito jadi batu. Baikpun tumbuang padi, datang pulolah ka mari, nak samo jadi batu. Pintak buliah kondak balaku, lah manjadi batu ka sadonyo. [ 112 ]Kabupaten Agam, Minangkabau
3.3 Lareh Situjuh
Ringkasan Cerita
Babak I
Di negeri Situjuh Gadang tersebutlah nama Dt. Mangkuto Sinaro sebagai Laras (Min. Lareh) dalam Luhak Lima Puluh. Karena itulah ia disebut masyarakat dengan panggilan Lareh Situjuh.
la diperintahkan oleh "Mandur" dari Payakumbuh untuk melaksanakan hukuman denda kepada penduduk yang tidak memelihara kebersihan ladang dan pekarangan rumahnya. Untuk melaksanakan perintah itu Lareh Situjuh selalu didampingi oleh seorang dubalang, bernama Pono Jabak.
Dalam perjalanan ke kampung-kampung untuk memeriksa ladang dan pekarangan tersebut, terasalah haus dan payah, sehingga terpaksa beristirahat dalam kampung. Sedang tugas memeriksa itu diteruskan oleh dubalang Pono seorang diri.
Di kampung itu sebenarnya sudah tumbuh keinginan untuk bersatu mendirikan kelompok tani sebagai usaha untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Keinginan tersebut sedang dibicarakan oleh tiga orang penduduk di ladangnya. Dalam pembicaraan itu tersebut pulalah masalah pelaksanaan denda yang se. [ 113 ]ring dipaksakan oleh dubalang Pono, sehingga tidaklah heran, bila pada saat itu mereka sangat membencinya. Akan tetapi pada saat itu pulalah dubalang Pono sampai ke sana, menagih denda atas ladang mereka yang masih kurang terpelihara itu. Bersitegang urat leher pun terjadilah. Dubalang Pono dengan keras menuntut agar denda dibayar ketika itu juga. Hingga terjadilah perkelahian satu lawan tiga di ladang itu. Namun dubalang Pono sebagai orang tangguh yang tak pernah menimbang lawan, ketiga lawan tersebut dapat juga dikalahkannya. Denda yang dituntutnya terpaksa di- bayar ketika itu juga. Akan tetapi pada saat itu Bujang Iman, sa- lah seorang di antara mereka sempat juga melarikan diri.
Di saat dubalang Pono berkelahi melawan ketiga petani itu, Lareh Situjuh di tempat perhentiannya melihat seorang gadis remaja berjalan seorang diri menuju sumur hendak pergi mandi. Gadis tersebut bernama Kembang Melati, anak tunggal Biduri Sati. Ketika melihat gadis berjalan seorang diri itu, timbullah kem- bali perasaan muda dalam diri Lareh Situjuh hendak menggoda gadis tersebut. Godaan itu kiranya dapat diatasi Kembang Melati dengan halus, sebab ia termasuk gadis yang selalu ditunjuk, diajari oleh ayahnya.
Setelah Kembang Melati berlalu, dubalang Pono kembali menemui Larch Situjuh di tempat itu untuk menyerahkan wang denda yang diperolehnya tadi. Mereka berdua kembali pulang ke kantornya. Namun bayangan paras Kembang Melati sangat menggoda dalam diri Lareh Situjuh. Ingin sekali ia hendak mempersunting gadis remaja itu.
Berbeda dengan keinginan Lareh Situjuh rupanya Malano Kayo, paman Kembang Melati, sudah sepakat hendak menjodohkan gadis ini dengan Dt. Marajo, Angku Palo di Situjuh Dalam, walaupun hanya sebagai isteri kedua. Perkawinan segeralah berlangsung, setelah mendapat izin dari Tati sebagai isteri pertamanya.
Berita perkawinan ini sampai kepada Lareh Situjuh. Pedih hatinya telah menimbulkan amarah dan sifat dengki. Segeralah dipanggilnya dubalang Pono menjemput orang-orang upahan untuk membunuh Angku Palo yang telah mendahului niat hatinya itu.
Sebulan sesudah pernikahan itu Angku Palo dikeroyok dan dibantai orang di tempat sunyi. [ 114 ]Babak II
Mayat Angku Palo penuh berlumuran darah ditemukan uleh penyabit rumput dalam parak kopi, Segera setetah itu tersebarlah kabar ke seluruh kampung, dan tinggallah Kembang Metati sebagai Seorang janda.
Perempuan muda yang hidup menjanda ini Kembali menjadi buah pikiran keluarganya- Oleh karena itulah, maka keluarganye berusaha pula hendak mencari jodoh sebagai suaminya yang telah mati terbunuh itu.
Dalam permufakatan ini pilihan jatuh kepada Lareh Situjuh. dan dicobalah meminangny2- Lamaran itu segera diterima, Riven memang itulah niat hati dan rencananya sejak semula.
Sekarang tersebutlah kisah Bujang lman yang sempat lari ke tika berkelahi dengan dubalang Pono dahulu. Kini ia diketahui tinggal pada sebuah pondok, berladang jauh di pedalaman.Dabalang Pono segera disuruh menjepitnya untuk menagih denda yang belum dibayarnya dahulu itu.
Ketika ia dijumpai dubalang Pono pertengkaran kembali, sebal ia tidak rel denda yang serupa itu atas dirinya. Akan tet Pono bukan lawan yang seimbang dengan dirittya, | lah dan digiring ke kantor untuk menghadap Laveh Sits,
Di hadapan Lareh ja pun asi) Oresat membavar deuchs tersebut. Karena menurul pendapatry? davipada Larch meer rakyat dengan alasan kebersiha itu, feb paik beluae Taaysdby memimpin masyarakat, menggerukkan preys LEHR gharsadarl rapeTe yt sun kelompok "Pemuda Tani” Soba kya ras eENecan ATE pulalah ‘yang tidak disenang Lareh Situyul menyienel aifat kekuasaan yang selama ini sudah dimilikinya Hemibiandab Thay ey: Iman akhirnya menyerah, arus membayar dena Revikae Git ka. karena ia diancam akan jnasuk penjarn seria pens staan terhumdeart ladangnya.
Dt. Giriak sebagai emuka dalam keramaian alek anak gubalv. yaitu guatu tela bagai tanda bersuka ria pada wrk fs pad pulang Tpseys peach} Namun ketidaksenangén Lareh ginajub alas hesepabatne 1 eaeebak itu, telah menyebabkan pt, Giriak paris meoitekane es aban. penjara selama satu pulan. Tetar! dy dadar Per tlunenya, teradiiah a maneyirad pertakuan anipane elipandak saet vary chad art seahaa aise pedabal vabat [ 115 ]mengetahui bahwa kematian Angku Palo sesungguhnya adalah di sebabkan pengkhianatan Lareh Situjuh.
Sekeluarnya dari penjara, segeralah dibuatnya surat peng- aduan yang dikirim ke Padang dan Betawi. Tidak lama kemudian, tiba pulalah surat kepada Angku Mandur di Payakumbuh untuk memeriksa Lareh Situjuh tentang peristiwa kematian Angku Palo.
Karena takut kedok akan terbuka, Lareh Situjuh mengajak anak negeri pergi berburu beramai-ramai. Pada kesempatan itu di tengah hutan, terpisah dari rombongan orang ramai, Lareh Situjuh mengakhiri hidupnya dengan minum sebotol racun.
104
Bidurai Sati (BS) ayah si Kambang
Kambang Melati (KM) anak Bidurai Sati
Dt. Mangkuto Sinaro (DMS) Lareh di Situjuh Dalam
Pono Jabok (PJ) dubalang Lareh Situjuh
Bujang Iman (BI) urang paladang
Kacak (K) urang galia
Antu Padang (AP) Urang bagak
Malano Kayo (MK) mamak si Kambang
Dt. Marajo (DM) Angku Palo
Tati (T) isteri pertama Angku Palo
Dt. Rajo Inatan (DRI) mamak Angku Palo
Pado Nyalo (PN) urang panyamun
105
LAREH SITUJUAH
(Cerita dua babak dalam pertunjukan randai)
Babak 1
Minta ampun kapado Allah
maaf dimintak ka nan banyak
niniak mamak jo pangulu nan gadang basa batuah
nan bapucuak sabana bulek
baurek sahana tunggang
dubalang jo ampang limo
bundo kanduang samo di dalam
manyurek di bandua pintu
manulih di tapak tangan
Joncek dibari basitumpu
rancang dibari balandasan
rundiang lah tiho ka nan banyak.
Mako minta ampunlah ambo ka nan banyak
mak mamak jo pangulu
sm warlang basa batuah,
Sulang panonton ampuni kami
maal nan indak lainggol
dari ramfruik ka ampu kaki
kapuli tatangkuik ka ampu kaki
ditakuekan kapalo kami
kapało panonton nan dihormati."
106
Maaf nan indak tainggoan
dari rambuik ka ampu kaki
barih kok ado sumbang salah
maukua nan indak samparono.
Kami nan ketek mudo matah
pangaja nan balun samparono
Tabek Panjang nagari Baso
di sinan tampek tingga kami
mancubo sakali nangko
manyusun kalompok tani
Mano kito nan mudo-mudo
sagalo sanak jo famili
kito jago kampuang basamo
nak ilang maliang jo curi
Bajago usah dilalaikan
kalau lalai kito nan rugi
hanyo sakitu den katokan
eloklah randai dimulai
Ampunlah kami niniak mamak
disusun jari nan sapuluah
maaf kami mintak banyak-banyak
kapado sanak jo sudaro
Rumah sikola Simpang Lurah
nan ka kida jalan ka Baso
kami nan ketek mudo matah
baru mancubo sakali nangko
Maaf dimintak banyak-banyak
kapado sanak jo sudaro
randai kan kami bao tagak
suni dunsanak nan basamo
dangakan kami sakutiko
107
Anak kanduang Kambang Malati
dangakan malah den katokan
tantangan diri kau Kambang
anak surang tongga babeleang
si tongga indak badansanak
Ado papatah mangatokan
rancak lataknyo rumah gadang
kok ado alang jo rintangan
jo sia anak ka baio
Lai bana dansanak jauah
dek pitih makonyo suko
dek ameh makonyo sayang
dek tulang kuek makonyo ngamuah
Ado ibaraek mangatokan
babunyi sarine di jam gadang
babunyi tando pukua satu
bamamak ka mamak urang
tak dapek bakeh mangadu
Tapi sungguah pun baitu
kok pandai Kambang baparak
tanamlah labu jo pario
kok pandai Kambang bamamak
mamak urang jadi mamak kito
Kok tingga di korong kampuang
mauni dusun jo nagari
ka bukik samo mandaki, Nak
ka lurah samo manurun
nan barek samo dipikua
nan ringan samo dijinjiang
nan tuo kito muliakan
nan kaciak kito kasiahi
samo gadang lawan baio
usah basombong-sombong awak
109
jan basipaik tinggi hati
dek kayo urang tak malu, Nak
dek bagak urang tak takuik
dek budi urang nan malu.
Ado papatah mangatokan
pisang ameh bao balaia
pisang lidi dibao mandi
utang ameh buliah dibaia
utang budi dibao mati
Usah manuhuak kawan sairiang
mangguntiang dalam lipatan
mamapeh ikan di balango
kanalah paham ka tagadai
Nan labiah bana den risaukan
awak lah nyato anak gadih
panagak di simpang labuah
panagun di tapi jalan
caliak bak raso ka malawan
pandang bak raso rang barani
di awak sagalo elok
di urang kurang ka sadonyo
Banyak den liek gadih kini
najak rumah turun rumah
gilo bagunjiang jo maota
io mambincangkan suami awak
nan di awak sagalo elok
di urang kurang ka sadonyo
banyak kecek banyak nan sasek, Nak
banyak kato banyak nan salah
itu nan rumik pado ambo
Dangakan sabuah lai
liek di Anak maso kini
jalan dialiah urang lalu
cupak dipapek urang manggaleh
liek malah di pasa rami
Pandang malah di labuah korong
bairiang basamo-samo
bacudan baduo-duo
bak balam tabang sakawan
bak katitiran duo sasangkak
sarupo lai saroman tidak
tampan sacaro urang barat
lagak sarupo banso asiang
kok iduik tiru-maniru
parangai salah, maaliah kabudayaan kito
Kok basuo bagurau bakucikok
babaua jo samo gadang
ado papatah mangatokan
caliak caliak lawan mandi
aso kasiak kaduo pantai
katigo ondan dari ulu
caliak-caliak kawan bakanti. Nak
aso cadiak kaduo pandai
katigo anak pangulu
nan tantu dikieh kato bandiang
tau di arih kato sampai
takilek ikan dalam ate
lah tantu jantan batinonyo
tau di ujan ka manabak
Lau di paneh ka malatuih
kalau barundiang samo awak
elok jo patuik ka dikaji.
lyo bana pantun anak mudo
asiang lagaknyo kudo bendi
kusia bagala Sutan Basa
panek mandaram mangguritiak
darap maantam babarih panjang
ikua tagak talingo kipik, Nak
ikua sarupo urai pulo
asiang lagaknyo nak gadih kini
lakek kodeknyo manyapu labuah
sarupo kudu bendi
111
bajalan arah manakua
kiri kanan urang tak nampak
nan jauah tampak baginyo
O, Upiak Kambang Malati
kalau tingga di korong kampuang
tau dipakau rabah tagak
pandai barago jo barandai
baraja bacucuak tanam
bapak litak musti dikana
mandeh auih musti dipikiri
kok suami musti dimuliekan
Jikok basuami Anak isuak
kok pulang suami dari jauah
sambuiklah jo muko nan janiah
paliekkan hati nan suci
Jikok sairiang Kambang basamo
jikok kito agak taguluik
mintaklah izin nak daulu
Nan kuriak iolah kundi
nan merah iolah sago
nan baiak iolah budi
nan indah iolah baso
Kok ado urang lalu linteh
di halaman pintu kaporo kito
imbau jo baso urang nan lalu
maminum aie nan sadaguak
mamakan nasi agak sakapa
Baitu adaik Bundo Kanduang
tak bisa dikisa lai
sajak di rahim bundo kanduang
sajak samulo rang daulu
tak mungkin diubah lai
112
Rang sayang arif dan jombang
awak elok baso katuju
lagi paramah budi pulo
kalau dirantang namuah panjang
elok dipunta nak nyo singkek
ambiak sakadar nan paralu
lah jadi sahinggo itu
jawab sugiro kato ambo
Kambang Malati : Ayah kanduang usahlah rusuah
kito nan alah badangaran
nasihaik diganggam taguah
sesaat indak den lupokan
sabarih indak ka lupo, Ayah
alah ka sanang hati Ayah
Bidurai Sati: Kalau baitu kato anak
sananglah rasonyo hati ambo
tinggallah Anak di rumah
ambo bajalan sakutiko
Lareh Situjuah: Pono Jabok urang nan bijak
tampuak tangkai Situjuah Gadang
Pono ka mari malah tagak
ado parentah nan lah datang
Pono Jabok: Ampuni ambo Inyiak Lareh
disusun sapuluah jari
Inyiak panggia denai lah tibo
apo niatan dalam ati
Tasirok darah di dado Inyiak
tapacak paluah di kaniang
curai papahkan pado denai, Nyiak
nak sanang dalam hati
sunyi di dalam kiro-kiro.
Lareh Situjuah: Pono Jabok dangakan kato
dangakan bana sungguh-sungguah
113
parentah datang bakeh kito
datang nan dari Payokumbuah
Parentah tak dapek kito tupang
datang nan dari Tuangku Mandua
jujuang titah jo parentah
sanggah tak dapek dipikiri
Kok tibo latiah jo palak
baranti kito sakutiko
pakarangan siapo nan lah samak
mintaki dando ka sadonyo.
Pono Jabok dubalang ambo
parentah tak dapek kito tupang
kito bajalan kini juo
paruik kito sadang kanyang
Situjuah Batua kito masuaki
lalu kito ka Situjuah Gadang
Tuangku Mandua gagah barani
tampek kito bainduak samang
Pono Jabok usah bapikia
Sipaik dubalang diingati
dando kok indak ka inyo baia
anyo dimasukkan ka dalam tansi
Dan itu buliah untuak kito
ka balanjo tiok hari
kito bajalan kini nangko
sabalun matoari alun tinggi.
Parentah datang dari ateh, Nyiak
datang nan dari Payokumbuah
parentah Inyiak indak den bantah
saketek indak den mungkiri
114
Tuanku Mandua inyo mamarentah
saketek indak nyo disanangi
masuak kito ka Situjuah Batua
taruih kito ka parak urang.
Parak nan samak kito dando
nan punyo parak kito bangihi
pitih dando untuak kito
untuak balanjo tiok hari
Pitih balanjo pun tak sadang
anak bini mamintak pulo
den pakai sipaik dubalang
sia malawan masuk tansi
Sia nan engka kito dando
nan salah indak diampuni
samantaro hari alun tinggi
kito bajalan hanyo lai
Pono Jabok urang nan bagak
barani manantang musuah
latiah badan taraso palak
baranti kito di nan taduah
Ambo baranti lah di siko
sabab tibo auih jo lapa
bajalan Pono sakutiko
maliek urang mauruih parak
Ambo nan indak bajalan
den nantikan Pono di siko
pakarangan nan indak babarasiahan
minta dando kapado inyo.
Inyiak Lareh urang nan arif
Arif budiman hijaksano
bajalan ambo surang diri
barantilah Inyiak nan di siko
115
- Pitih dando kok nyo dapek
- untuak balanjo tiok hari
- ambo sugiro malah barangkek
- bia ka Inyiak ambo tibo
- Bujang Iman(BI) : Kama se Kacak salamo ilang?
- K : Maanjak kabau.
- BI : Ala maanjak kabau. Io kuaik Kacak yo?
- Ha, ha. Kini mantunlah. Ka parak kito lai.
- K : Aden bamukasuik ka manyilau sabanta.
- BI: A, iyo mantunlah. Manyilau jaguang malah kito.
- K: O, baguluiklah kito saketek go.
- BI: A yo. Mantunlah Kacak.
- K: Di siko parak den.
- BI: Iyo santiang parak Kacak yo?
- K: Bato pulo. Jak ikolah panyakikno. Baalah
- ka aka den go.
- BI: Alaa... yo lah antah kinikono Kacak.
- K: Lah panek mamupuak den dino.
- BI: Lah panek mamupuak yo? Jo kua dek
- Kacak bapupuak go.
- K : Alah cukuik bana pupuakno.
- BI: Kua pupukno di Kacak?
- K : Lah sarato cik bantiang i Limah, cik kabau
- i isah dan ...
- Antu Padang : Hai Kacak! Laa . . .
- K : Ua lua. . . Takajuik den.
- BI: O, Antu Padang!
- K : Antu Padang, salamaik siang.
- AP: A curito Kacak sabanta ko du?
- K : Iko curito parak jaguang.
- BI: Curito mamupuak lado.
- AP: Curito mamupuak lado? [ 128 ]
K : Iyo.
AP : Jadi salamoko, jo kua Kacak mamupuak
lado kini.
K : Itu nan kami curitoan
AP : Aa?
K : Cik bantiang i Limah, cik kabau i Isah, sato
pulo cik itiak i Malah.
AP : Cik itiak?
K. : Bato pulo.
AP : A ma jaguang i Kacak. Co caliak i den.
K. : Ha, tolah kiyo jingok
AP : A, uah!
K : Aa, elok-elok sakaciak! Dicucuak duri
AP : 0, duri taleh? Ha, ha . . .
K : Bato pulo. Kaniak lalu aa.
AP : A, lah tibo ak mah Kacak. Ampie komeh.
Baa mangko sirah ko daun no goh?
K : Itulah nan den katokan tadi. Antah dek
talampau paneh goh, antah dek talampau ujan.
AP : A... Iko di i Kacak sabanano ado pupuak
nan rancak.
K : A pupuak nan elok?
AP : Nan paliang santiang pado cik bantiang tu,
pado cik ayam, ado
K. : A pupuak Ntun.
AP : Di dalam ugalan, ado!
K : A du di dalam ugalan?
AP : Cik layang-layang!
BI : A Kacak, cik layang-layang mah.
AP : Lai tantu i Kacak cik layang-layang?
K : 0, dalam ugalan?
AP : A, tu a.
K : Kan kalam di ak manaekno?
A baa caro manack no Antu Padang?
AP : A mantun di i Kacak oh. Kalau io juo
manaek cik layang-layang ko ndak, taek
batuang tuo, a panggang buruang masiak
[ 129 ]
tun. A masuaklah ka dalam, Bao karuang agak ampek.
K : A lai katampak du? Cik no sagadang cik ulek no?
AP : Ala dapek Kacak. No baungguak-ungguak du.
K : O, baungguak-ungguak. Mantun?
AP : Cik layang-layang tu lah pakai lai!
K : Jadi, ikamehi, mantun?
BI : Omaniah i cik ayam lam kandang mah Kacak.
AP : A tua. Kalau nak mancaliak i Kacak, caliak i Kacak lado den
K : A tolah!
AP : A lah!
K : Nah!
K : A kama jalan go? Lah lapuak-lapuak paga komah.
AP : Awak mandaki saketek, Cak!
K : 0, mantun.
AP : A, ko a.
K : A ... di siko.
AP : A bara di Kacak tua?
K : A iyo sabana santiang bana yo!
BI : Ala, iyo santiang lado Antu Padang, yo.
AP : A, ikolah lado den.
K : A iyo panjang-panjang, maunjua-unjua buahnyo yo.
AP : A ko dek ulah pupuk cik layang-layang, dek i kacak ko.
K : Cik layang-layang...
BI : Putiah bungo no du Kacak.
K : Ala . . .
AP : A ko taruang namono. A, i den carono i Kacak batani ko ndak, kalau nak jaleh i Kacak, yo pupuak cik layang-layang koa. A tagaklah kito bacurito sabanta.
K : Taro duduaklah. Pungguang den lah gak pamanek goa.
[ 130 ]
AP: Ndak baa doh, sabanta no.
K: Kalau lamo mek tagak, ndak pandai pinggua den idudukan.
AP: A... pinggue idudukkan? Ijan pinggua ntun.
K: O... mantun Jadih!
AP: A tolah.
K: Jadih.
AP: Manolah kawan nan baduo
O Kacak jo Bujang Iman
Salamo kito batani nangko
lah salamaik apo ditanam.
Ditanam padi lai manjadi
ditanam jaguang baitu pulo
sajak kito tingga batani
rakyat aman kampuang santoso.
Marilah kito basamo-samo
Kito tanam kalompok tani
dicari pamuda sabanyaknyo
sia nan amuah manyukoi.
Kalau lah ado kalompok tani
tanah nan kosong abih ka sadonyo
pupuak lah ado maso kini
kok bibik lah ado pulo
Samantaro kito batani
itiak jo ayam paliharo pulo
untuak balanjo satiok hari
untuak anak cucu kito.
Kulik manih kok ditanam
kok cangkeh baitu pulo
tanamlah pukai nan jo palam
itu ka baka sampai tuo.
Buah-buahan jan lai lupo
Tanamlah limau dan jo tabu
[ 131 ]
itu nan gadang manfaatnyo
untuak panyapo anak cucu.
BI : A anak cucu go nan ka dikana yo Cak.
K :A baagak, jo cucu-cucu bagai ko mah..
AP : Ano nan cucu du, nan kaciak-kaciak. Ga-
dang bagai no Cak.
K : Baranak lah baduo. Bacucu bagai alun lai.
Baa goh?
AP : Lauik surang basampik-sampik
basamo balapang-lapang
indak ado barang nan sulik
cilako kato babana surang.
Pado kito basurang diri
eloklah kito nak basamo
kalau tasusun pamuda tani
untuak ka contoh salamonyo.
K : Ban du, bana!
Sabana no.
AP : Kok nak salamaik apo ditanam
minta pitunjuak ka nan pandai
harinyo sak itu den lapokan
lai koh Kacak katagiahan.
K : A den anjuang tinggi, den amba gadang
bana tua. Ba di ang du.
BI : lyo, Basuai awak du Kacak.
K : Molah! Kiniko juo kito barangkek.
BI : Kama du Cak?
K : Pai mancari anggota!
BI : A jadih! Kito gua canang.
K : Yo!
BI : Masuak kampuang, kalua kampuang.
K : Masuak kito ka Padang Masang. Kalua kito
ka Guguak Padang.
BI : Sah, sah! Baa du?
K : Tu ko den iriangkan di balakang.
BI :A diH!
AP :Ado Cak.
K : Oik!
[ 132 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 133 ]
| AP | : | Jadi, mantunlah Kacak. |
| K | : | A? |
| AP | : | Dek karano awak ka manyusun kalompok tani, yo ndak? Ado ciek nan tadanga di den Kaca ha. |
| K | : | Ha baa bana nan tadanga go Antu Padang? |
| AP | : | Nan tadanga di den, ndak?! Salamo ko Kacak batani, lai Kacak bi kanai dando? |
| K | : | O, lai! 2 kali, 5 kali gai sapakan. |
| AP | : | Sia nan minta dando? |
| K | : | Ado baliau, marantiang sisunguik baliau ntun. Si Jabok namo liau. |
| AP | : | Oo, Jabok namono. |
| K | : | Anak buah Angku Lareh bana, Aden baru lah mandanga namo ntun, mangeok sakali hati den tu mah. |
| AP | : | Tabik paneh ak dino ndak! |
| K | : | Bato pulo! Baa di Antu Padang du? |
| Pono Jabok (PJ) | : | Hap! Manolah kalian nan batigo... |
| AP | : | Sia du nCak? Ko sia goh!? |
| K | : | A, iko bana nan baliau ntun. Basariang-sariang siunguikno yo? |
| PJ | : | Ndak ado lai. Bapilin! |
| K | : | A bakokang sisunguik no ka teh du, mangecek jo awak. |
| AP | A lai ndak ka baa du nCak? Mandanga meanglah kito. | |
| PJ | Mano urang parak katigono | |
manga rang balagak diri |
[ 134 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 135 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/135 [ 136 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 137 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 138 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 139 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 140 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 141 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 142 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 143 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 144 ]
Usah Datuak bapikia banyak
tantangan kaandak ambo nangko
paham nan indak ka batuka
maklum Datuak tantang itu.
Datuak Marajo (MK) : Manolah Malano Kayo
aluran kato nan kalua
elok diadaik nan bapakai
hanyo sakarang kini nangko
paham nan indak ka batuka
rundiang bak raso ka sasuai.
Sabab baalah dek baitu
alah takana dek nan kayo
alah datang pulo ka mari
hanyo saketek nan maragu
Kok bulek lah buliah digolongkan
picak lah buliah dilayangkan
karajo elok dilakehkan
kini juo ambo ka pai
Di bao siriah salangkokno
nak jaleh pahum baikuti
adaik tak dapek diubahi
baa pikiran Bidurai Sati
BS : ::::Paham nan indak ka batuka
sapakaik kito rasono
kok bak tiuang duo snsangka, Tuan
nan bak kapuran jo saokno
Lah tibo patuik sasuai
anak elok minantu jombang
urang bulukih baɲusako
niaik mukasuik nak nyo sampai
kini juo Tuan bajalan
baolah airiah untuk ka tanilo
[ 145 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 146 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 147 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 148 ]
sanang rasono dalam hati
paham nan indak ka batuka
Tinggalah Datuak nan di rumah
ambo bajalan hanyo lai
samantaro ari alun tinggi
ambo pai malah kini
Kaba baraliah hanyo lai
io kapado Datuak Palo
mamintak izin ka amai Tati
lalu barundiang babicaro
0, Tati urang nan bijak
pamenan kampuang jo ilaman
Diak oi, kamari malah tagak
ado sabanta nak denai katokan
Diak kanduang urang babudi
pamenan kampuang jo ilaman
niaik mukasuik dalam ati
kinilah baru disampaikan
Ka sungai ka simpang Lurah
baolah timbo jo parian
o, Tati janji lah sudah
garak lah tibo di bagian
Saidi banamo Malin Ameh
barumah di pakan Baso
O, Tati ajanlah cameh
tantangan kato ambo iko
Dangakan bana nyato-nyato
kato nan indak dipapanjang
siriahlah datang pado ambo
dari kampuang Padang Ambacang
137
[ 149 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 150 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 151 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 152 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 153 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 154 ]
supayo sampai naik hati
eloklah kato dikumbalikan
DRI : Manolah pulo Malano Kayo
lah dapek bana sapai
mananti Tuan sakutiko
kito bararak anyo lai
Kata persembahan : Ramo-ramo sayoknyo kambang
tabangnyo ka ruang tangah
banyaknyo ampek puluah ampek
latak carano bukan kapalang
lataknyo di tangah-tangah
di lingkuang urang nan rapek
Sisiaklah udang jo kulari
urang manjalo di tapi pantai
kanailah lumbo jo tanggiri
siriah galak pinang manari
pananti jamu jo marapulai
pangka kapalo baso basi
Takalo maso daulunyo
takalo alun baralun
awa balun akia pun balun
pihak kapado ibu bapo
manuruik niaik dengan nazar
jiko dapek anak laki-laki
atau pun anak parampuan
Jikok dapek anak parampuan
ka ganti cincin nan jo galang
ibarat tingkai di kalingkiang
pamenan urang korong kampuang
parintang anak mudo-mudo
paigah anak bujang-bujang
manjadi tutua urang nan banyak
}}
143
[ 155 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 156 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 157 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 158 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 159 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 160 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 161 ]
- K : Kariang rangkuangan mah.
- Kok li untuang tibo jo razaki bi ko.
- PN :Teek kupi cah yo.
- K :Jadih.
- PN :Koah kawa! Minumlah!
- K :Ala, iko iyo pulo yo.
- Antu Padang :Hai... Cak!
- K :Ai la . . . si Antu Padang. Lai cigak-cigak
- samiang ko mah. A, kama salamo go?
- AP :Ala, diarak parasaian ak Cak.
- K :Diarak parasaian? Ala, kok untuang taka-
- dia Allah, tibolah razaki di kito baa.
- PN :A, minum gailah kawa daun tu!
- AP :Iyo bana di Kacak tu a. Tapak tangan den
- sabalah suok manggarik-garik. A nan ka- tibo du?
- PN :Pitih du
- AP :A?
- PN :Pitih du!
- AP :Ma lo pitih diang. Kok indak basabak,
- dima lo pitih ka dapek?
- PN :E, ado muarono duh, pitih ntun.
- AP :Antah kok mantun. A dialah. Bataek kupi
- go ah.
- K :Aden tigo ari ko a, tinju den kapiradan-
- kapiradan sen a.
- AP : 0, kabatinju ang ko.
- K :A?
- AP : Kabatinju ang ko.
- K :Kok iyo lai ka babangkik salero kini ndak?
- Bangkik salero batinju?
- AP :Bangkik salero batinju
- K :Bato Pulo
- Pono Jabo:Antu Padang!
- AP :Ha,sia du?
- PN :Dangan lu
- PJ :Oi,Kacak
- K :Sia kini du eh!
- AP :Caliaklah ka laman tu kio?!
- PN :Si Jabok [ 162 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 163 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 164 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 165 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 166 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 167 ]
Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 168 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 169 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 170 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 171 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 172 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 173 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 174 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 175 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104').
- Dalam penghadangan ini perkelahian pun terjadilah dalam bentuk silat. Tangkap-menangkap pisau, hantam menghantam dan hempas menghempaskan. Pada mulanya Datuak Marajo dapat memperlihatkan kema[ 176 ]
- hiran silatnya, tetapi ketika tiba-tiba kakinya tersimpai ia jatuh dan pisau Antu Padang bersarang di lehernya).
- KA : A lah! Kito pai lai.
- AP : A lah. [ 177 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 178 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 179 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 180 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 181 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 182 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 183 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 184 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 185 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 186 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 187 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 188 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104').
177 [ 189 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 190 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 191 ]
siriah dibari bapamegang
bapamacik kato biaso
Bajalan kito di nan tarang
nak sakato kito basamo
sayik diagiah bapamegang
batimbang tando malah kito
Kok siriah alah bakunyah
kok kato alah batarimo
ikolah karih nan sabilah
maklumlah Datuak tu andaknyo
Angku Datuak Mangkuto Sinaro
urang nan mulia di nagari
karih sabilah alah batarimo
ambo tarimo jo suko ati
Dek adaik sajak daulu
tabang biaso batimbalan
baso tak dapek kito maniru
itulah nyato parbuatan
Kok adaik sajak daulu
kok tapuak biaso babaleh
hanyo kito tingga maniru
kok putuih mintak diuleh
Sananglah raso kiro-kiro
sajuaklah raso dalam ati
karih sabilah lah batarimo
cincin sabantuak panukari
Cincin sabantuak panukari
sanangish rano dalam ati
apo di Datuak nan takiro
ambo tarimo suko ati
Kalau baitu kato rangkayo
sananglah raso dalam ati
180
[ 192 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 193 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 194 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 195 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 196 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 197 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 198 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 199 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/199 [ 200 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104').
(Perkelahian sengitpun terjadilah. Hantam-menghantam, hempas menghempaskan. Namun di akhir pertarungan Bujang Iman memekik minta ampun)
Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 201 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 202 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 203 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 204 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 205 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 206 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 207 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 208 ]
Dituju dandang ka sanan
dandang tibo api lah ilang
galap gulito pamandangan
Tadampa dandang di sanan
di ateh puncak Lenggopuri
sampailah papatah maso kini
di malah titiak palito
di balai telong nan batali
di malah asa niniak kito
di puncak gunuang Marapi
Sirauik bari baulu
diasah baru bamato
lautan sajo daulunyo
kini manjadi pulau nangko
Sinan sirangkak nan badangkang
sarato buayo putiah daguak
di bawah batu ampa putiah
itulah bukik Patah Patigo
itulah bukik Patah Sambilan
banamo bukik Siguntang-guntang
Itulah bukik indak barangin
lurah nan indak baraia
di bawah Labuhan Sitimbago
Dek niniak rang tuo kito daulu
dibuek sawah gadang satampang baniah
makanan urang tigo luhak
sambah jo rundiangan
nan tibo lah kapado Datuak
Bana bak andai kato bida
ramo-ramo sikumbang jati
Katik Endah pulang bakudo
adaik pusako baitu juo
197
[ 209 ]Lua error in Modul:Ppoem at line 175: bad argument #1 to 'inNamespace' (unrecognized namespace number '104'). [ 210 ]
lai maso nantun
Oi nan bajalan
indak baranti
Nan dek capek
iak kakinyo
tolong sampaikan
Oi nan lah tibo di kantua
inyo lai maso itu
Manjalang Sutan
lai Ampang Limo
Bajalan anyo lai
tak baranti
Payah sangaik
raso di badan
tolong sampaikan
itam manih oi
Ai nan lah capek
inyo bajalan
Tibo di rumah
lah Datuak Giriak
tolong sampaikan
lah risau oi
Lai mandeh urang
Sutan Palimo
Baliak ka kantua
lai maso itu
Aluran diri
lai Datuak Giriak
Disuruah rajo
lai maso nantun
Lai nan
tasuruah tasarayo
Aluran diri Datuak Giriak
surek dibaco maso nantun
tuan ai sansai badan den
Aluran diri Datuak Giriak
pai ka kampuang maso nantun
sapo parentah sangaik kuaik
Tuan ai tolong sampaikan
199
[ 211 ]
Aluran diri Datuak Giriak
lalu manyambah maso nantun
iyo kapado Angku Mandua
panggilan apo tu kironyo
Sembai ai nan sadiah den di nyo
Lalu didiri Angku Mandua
titiak ukum lai Datuak Giriak
sipakan diri tiok ari
tolong sampaikan
Aluran diri Datuak Giriak
sadang di kantualah tu kini
jatuah ukuman satu bulan
lah manangih badan di tansi
Bak capek putaran maso
nan lah sampai satu bulan
Datuak Giriak lah buliah pulang
sanang ati urang di kampuang
Lab tibo inyo di kampuang
nan haguo jo Sutan Nan Kawi
dibuek mupakaik maso nantun
nun mangadukan angku Lareh
lah sembai tolong sampaikan
Dibuek surek duo pucuak
nan dikirim ka Padang jo Batawi
lah Tuan oi tolong sampaikan
Surk datang panggilan tibo
manyuruah japuik Angku Lareh
lalu bajalan maso nantun
nan lah tibo di Payokumbuah
lalu bakalo Angku Mandua
Aluran diri Inyiak Lareh
lalu diusua dipareso
200
[ 212 ]
baa matinyo Angku Palo
tarangkan malah jaleh-jaleh
Nan dek urang lah Angku Lareh
ati nan ganta-ganta takuik
kato nan indak takatokan
tabik berangnyo Angku Mandua
Angku Mandua abih berangnyo
manyuruah Lareh babaliak bisuak
lah sansai den di nyo sansai oi
Aluran diri Angku Lareh
tibo di rumah maso nantun
ati nan indak sanang lai
Tabik pikiran Angku Lareh
diimbau anak nagari
nan baburu ka bukik cawan
lah sansai den di nyo risau oi
Dek capek putaran dendang
urang banyak sadang baburu
Angku Lareh manyisiah surang
nan tacangang urang nan banyak
Nan lah patang candonyo ari
nan bakumpua urang baburu
Inyiak Lareh tak kunjuang datang
Lareh dicari basamo-samo
dek untuang takadia Allah
batamu garan di Inyiak Lareh
nan tasanda di bania kayu
nan mangucap urang nan banyak
Takajuik urang nan banyak
lalu diusua dipareso
nan basuo bolo sabuah
nan boto baisi racun
201
[ 213 ]
Mati sasek tu Angku Lareh
doso lah banyak tapabuek
nan lah mati maminum racun
lah kabaa juo nan jadi
Rumah Sikola Simpang Lurah
tampak nan dari Kampuang Simpang
randai abih curito sudah
lah sansai juo lah badan den
sansai den di nyo
lah risau ai Tuan ai
202
[ 214 ]Kabupaten Tanah Datar, Minangkabau
3.4 Jumbang Muhammad
Ringkasan Cerita
Di suatu negeri yang bernama Situjuh Banda Dalam, tinggal suatu keluarga yang mempunyai dua orang anak, yang tertua se- orang laki-laki bernama Jumbang Muhammad, dan adiknya perem- puan bernama Malere Suri.
Melihat Jumbang Muhammad semakin besar, terniat oleh ayah bunda untuk mendidiknya agar menjadi anak yang ber- guna di tengah masyarakat. Kepadanya disusuruh pilih ilmu yang diingini, dan mempertimbangkan negeri mana yang disukai untuk memenuhi maksud tersebut.
Setelah mempertimbangkan dengan masak, Jumbang Muham- mad menentukan pilihan, yakni belajar mengaji di Surau Imam Mudo di Negeri Lawang Kuning. Pilihan ini disetujui oleh kedua orang tua, kemudian mengantarkan Jumbang ke negeri tersebut.
Setelah tujuh bulan berada di surau Imam Mudo, namun kepada Jumbang belum juga diajarkan mengaji, malahan ia di- sia-siakan dan disuruh saja duduk di tempat meletakkan perian. setiap orang yang lalu lalang di situ meludahi dan mempermain-mainkannya.
Perlakuan yang demikian disambut Jumbang Muhammad dengan sabar. Namun kesabaran Jumbang ada batasnya. Ia ber-
203
[ 215 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/215 [ 216 ]tidak mengenakkan hatinya. Jumbang Muhammad dibunuh lagi,
namun setelah itu dapat hidup kembali. Begitulah, sehingga sam- pai lima kali dialami oleh si Jumbang pembunuhan atas dirinya, namun ia masih dapat hidup kembali.
Suatu hari Jumbang Muhammad berminat menjenguk orang tuanya. Maksudnya ini disampaikan kepada Imam Mudo, dan ten- tu saja dilepas dengan senang hati. Kesempatan ini dipergunakan pula oleh Imam Mudo untuk melaksanakan maksud jahatnya. Sebelum Jumbang sampai ke rumah orang tuanya, surat Imam Mudo telah lebih dulu tiba, yang isinya mengharapkan agar Jum- bang dibunuh saja, karena ia keras kepala dan tak mau diajari.
Maksud jahat, Imam Mudo juga berhasil baik. Kedatangan Jumbang Muhammad disambut orang tuanya dengan pedang Janawi dan rencong Aceh. Jumbang Muhammad mati tanpa di- ketahui oleh penduduk negeri. Hal ini menyebabkan kemarahan orang tua tersebut. Mayat Jumbang Muhammad dilemparkan ke tengah padang.
Melere Suri adik Jumbang sangat bersedih hati. Ia bermohon ke hadirat Tuhan agar Jumbang dapat hidup kembali. Doanya ini terkabul. Jumbang hidup kembali seperti sedia kala. Oleh Malere Suri, Jumbang dinasehatkan agar kembali saja ke Surau Imam Mudo untuk menghindari kemarahan ayahnya.
Di Surau Imam Mudo, Jumbang kembali menghadapi nasib yang sama seperti sebelumnya. Kali ini Imam Mudo melaksanakan pula pembunuhan atas diri Jumbang Muhammad, Tubuh Jumbang dicencang sampai lumat. Tetapi sewaktu terdengar suara azan dari menara mesjid, Jumbang Muhammad dapat hidup kembali.
Tatkala Jumbang Muhammad mencari jalan menuju negeri Lawang Kuning, ia tersesat ke negeri lain. Di negeri tersebut Jum- bang menemui seorang putri raja yang bernama Siti Rahima, yang sedang terhimpit oleh batu besar. Tak seorangpun penduduk negeri tersebut yang mampu menggeser batu yang sebesar itu. Jumbang Muhammad menawarkan jasa baiknya. Tak seorang pun yang percaya akan kemampuan Jumbang menggeser batu yang se- besar itu, tetapi sewaktu terbukti bahwa Jumbang benar-benar mampu mengangkat batu besar tersebut dengan mudah, semua orang menjadi tercengang, dan hormat pada Jumbang Muhammad. Ia diajak ke istana. Ajakan itu ditolaknya, tetapi setelah Siti Ra- hima mendesak dan membujuknya, akhirnya ia mengalah, dan
205
[ 217 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/217 [ 218 ]yang sedang menyiram bunga di halaman istana. Tanya jawab
antara keduanya pun berlangsung, dan ketahuanlah bahwa suami Siti Rahima adalah Jumbang Muhammad.
Mambang Surau amat mengharapkan agar Jumbang Muhammad menjadi milik mereka bersama. Mambang Surau menjelaskan bahwa Jumbang adalah kekasihnya juga. Sudah lama mereka ber-cintaan, ia merasa tak bisa hidup tanpa Jumbang Muhammad.
Permintaan Mambang tidak dapat dikabulkan oleh Siti Ra- hima. Akhirnya terjadilah perkelahian antara keduanya. Mam- bang Surau memenangkan perkelahian itu, Siti Rahima meninggal dunia.
Mambang Surau langsung mencari Jumbang Muhammad dan mengajaknya kembali ke Lawang Kuning. Jumbang Muhammad mengikuti ajakan Mambang Surau. Di sana mereka melaksanakan pesta perkawinan.
Jumbang Muhammad, menghabiskan sisa hidupnya sebagai guru mengaji, menggantikan Imam Mudo yang telah menjadi siamang, akibat perlakuan yang tak senonoh terhadap Jumbang Muhammad.
Jumbang Muhammad dan Mambang Surau akhirnya hidup bersama dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan.
Transkripsi
Ya Allah ya Rasulullah, sudahlah garak takadia Allah, sudah-lah untuang den jo bahagian, adok kapado satu nagari, etan Ma-layu Tujuah Gunuang, anak si kabau-kabau tenggi, amal Situjuah Banda Dalam, puti banamo Kasua Tabantang, junjuangan Dt. Bandaro Ijau. Ado anaknyo Kasua Tabantang, anak sajoli nan bak balam, anak sabodi bak pisang labek, anak sandun bak ambacang.Sikuanyo jantan sikua batino, anak satu namonyo dua, si Malin sajo kato mandenyo, si Malin Jumbang kato bapaknyo, banamo anak Jumbang Muhammad, Malere sajo kato mandenyo, Malere Suri kato bapaknyo Tuan banamo Jumbang Muhammad, adiak banamo Malere Suri. Sanan bakato mande kanduang, "A wai Nak kanduang sitawa jo sidingin, capo sikumpai nan ibu bao, awai Nak kanduang si jantuang hati, a wai Nak kanduang sibiran tulang,palipua hati panawa jantuang, nan ditaluak tapian mato, iyo di
207
[ 219 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/219 [ 220 ]bapitih ndak pantang kurang, iyo bakain bapantang cabiak, pai daulu pulang kudian, baitu bana urang pangulu Ndeh. Itu nan pan-tagan anibo bana, elok dialiah jo nan lain Ndeh."
- "Den suruah waang jadi parewa Nak."
- "Jadi perawa lai mujua bana Ndeh, tapi tak murah urang pa-
rewa, urang parewa di pintu susah Ndeh, susah nan tibo tiok ari,seso nan tibo tiok malam, jauah jo ampiang disilau juo, barek jo ringan dipikua juo Ndeh, kalau nyo kalam carian suluah, kalau-nyo ujan carian tuduang, Ndeh usahkan dapek kato nan bana, berang jo bangih nan tasuo Ndeh, baitu bana urang parewa'.
Jadi dubalang Ndeh katuju bana, tapi tak murah urang du- balang Ndeh urang dubalang di pintu mati, pagi di pintu kandang urang deh, lalok bakalang jo tanah batu, ikua bakalang jo pisau tajam Ndeh, inyo nan pueh Ndeh awak nan abih, baitu bana urang dubalang Ndeh, itu nan pantangan ambo bana, elok Ndeh aliah jo nan lain.
"Tasarah waang pado pamin Nak, den cari pitih babilang ra- tuih, pitihnyo ado babilang ribu Nak. Mano galanggang nan tadanga rami, sinanlah waang mamuta dadu, pandai mancabuik karateh koa, pandai mambulang taji ayam, sabuang tabulang taruhan ayam, main Nak kanduang sampai manang.'
Sanan manjawek Jumbang Muhammad, "Mandeh den juo janyo ambo, jadi pamain ntu jadi pulo, tapi tak murah urang pamain, urang pamain di pintu bansaik, nyampang kok manang si badan diri, iyo bapitih nan sabalik pinggang, iyo bakain rimi di badan, nyampang kok malang si badan diri, pitih lah abih kain tagadai, kanakkan baju sahinggo siku, la barek pulo iyo dek pa-numbok saruangkan sirawa nan sainggo lutuik, la barek iyo dek panumbok, bakain karuang baterak terai, deta sagadang tali ayam,tiok ka pulang sanak la banci, tampak jauah nyo saokkan pintu,siang pauni palak rampak, siang pauni lai dangau tingga, siang bamato dek bakokolai. Dek mandanga urang babuek naha, awak saurang nan kanai dakwa, itu nan pantangan bujang bana, elok Ndeh aliah iyo jo nan lain."
Sanan manjawek si Mandeh kanduang, "Cilako bana waang oh malang bana waang yo Jumbang, la malang yo Jumbang, bana mande baranak, sabanyak itu pangaja mandeh, ciek nan indak waang iyokan, sado wae nan indak waang turuik, cilako bana waang yo Jumbang. Kini baitulah dek Nak kanduang, asa ka duo
209
[ 221 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/221 [ 222 ]gang Nak, tarimo daulu pangaja ayah, mintalah izin labiah daulu
Nak, mintaklah izin ka kampuang nan tigo, kampuang banamo katigonyo Nak, kalau nan tuo Rajo Babandiang, kalau di tangah Rajo Maharam Nak, iyo nan kaciak Sitinjau Lauik, mintalah izin pai mangaji Nak, mintaklah izin pai badagang, lauik sati rantau batuah Nak, mintak izin iyo ka bajalan."
Konon di ati si Malin Jombang, Jumbang bajalan ka kam- puang nan Tigo, ganok sarantang-rantang di jalan, cukuiik duo rantang iyo pajalanan, cukuik katigo yo rantang panjang. Satalah tibo di kampuang nan tigo, dimintaklah izin ka Rajo Babandiang, rumah nan gadang barando satu, lapehlah Jumbang pai mangaaji, diminta izin ka Rajo Maharam, rajo nan tinggi manyarah sajo, di- mintak izin ka Sitinjau Lauik, tabang mambubuang rangkiang padi, izin lah buliah pintak jo pinto. Jumbang bajalan ka rumah Bundo, alun sabatang paisok abih, satalah tibo Jumbang di rumah, jatuah pituah di ayah kanduang, "Mano Nak kanduang si Malin Jumbang, dangakan daulu pangaja ayah, lauiknyo sati rantau batuah Nak, kalau ka iyo ka pai mangaji, pakai bana adat bada- gang Nak, pakai bana sifaik marantau, kalau manyauak di ilia- ilia, kalau bakato di bawah-bawah kalau ang duduak di lakang- lakang, iyo nan kaciak dikasiahi, kalau nan tuo dipamulia Nak, baitu adaik badagang, elok lahianyo di rantau urang Nak, kanalah awak urang badagang, kanalah awak urang rantau Nak, kanalah awak dagang malaraik, kanalah awak dagang musikin Nak, kanalah awak dagang manompang, jaweklah dek ang tapak tangan den Nak, baruik ka muko sampai ka dado, sapuluah jari sapasang ta- ngan Nak," iyo nan suok manjawek salam, iyo nan kida maapuih aia mato." Jumbang bajalan ka pai mangaji, Jumbang bajalan ka Lawang Kuniang, duo jo adiak Malere Suri, tigo jo Mandeh Kasua Tabantang.
Panek sarantang-rantang di jalan, cukuik ka duo rantang di jalan, cukuik katigo rantang panjang, sanan bakato mandeh kan- duang, "A wai Nak kanduang Malere Suri, dangakan bana dek Anak kanduang, dangakan bana ambo tunjuaki, Anak ai sijan- jang-janjang, sarang marak karantiang pauah ujanpun jaan paneh pun jaan, alamaik dagang ka bajalan jauah."
Bajalan jauah iyo nan lai, cukuik katigo rantang panjang, bakato pulo Kasua Tabantang, "Anak kanduang den kaduonyo, bakain panjang kampua tu mera, satangah lusuah pandukuang juo,
211
[ 223 ]Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/223 [ 224 ]
Bukan kumbari-kumbari sajo Guru
buek salacuik daun ilalang.
Bukan kumari-kumari sajo Guru
gadang mukasuik nan ambo jalang.
Manyarahkan Jumbang ka mangaji, Guru, manyarahkan mangaji jo sumbayang, aja dek Guru jaleh-jaleh Guru, aja dek Guru batua- batua, kok untuang lakeh apo lanca, kok untuang lakeh Kuraan tamaik, gilo mangaji jo sumbayang, jan badabui iyo samo gadang."
Bana diambiak dek Imam Mudo, ambiak lah api baka kuma- nyan, doa dibaco dek Imam Mudo, bakato pulo Kasua Tabantang, doa ditampuang basamo-samo, rundiang abih dibaco sampai, adaik tapakai sarak batampuah, Jumbang ka tingga di Lawang Kuniang. Mandeh ka baliak pulang ka kampuang, bakato pulo nan saulang lai, "A wai Nak kanduang si Malin Jumbang dangakan bana pang- aja mandeh, mandeh ka pulang waang ka tingga, jaweklah dek ang tapak tangan den, baruik ka niuko sampai ka dado, sadang ba- salam mandeh bakato, "Inoklah inok di rantau urang, baiaklah baiak di kampuang urang, pakaian bana adaik badagang, lauiktan sati rantau batuah, kalau manyauak di ilia-ilia, kalau bakato di bawah-bawah, kalau Nak ang duduak di lakang-lakang, baitu bana badagang, jaan badongkak sasamo gadang, kok untuang lakeh kaji ang dapek, kok untuang lakeh Kuraan tamaik, gilo mangaji jo sum- bayang, jaan badamaik sasamo gadang.'
Sampai bajawek tapak tangan mandeh, tangan nan kanan manjawek salam, tangan nan kiri maapuih aia mato, Jumbang lah tingga di Lawang Kuniang, mandeh babaliak pulang ka kam- puang, etan ka Kubuang Nan Tigo Baleh, di bawah jirak lai jirak mudo, alah saari duo ari, alah sapakan duo pakan, alah sabulan duo bulan, alah satahun duo tahun, alah tigo tahun Jumbang di sinan.
Jaan lai si Jumbang diaja ka mangaji Ndeh, duduak di bawah parian sajo, datang lai sorang maludahi, Tan Iman Mudo maludahi pulo, lah cabiak-cabiak baju di dado, lah kerak-kerai baju di pung- guang, jaan lai si Jumbang kan mangaji, babuni tidak sorang juo.
Sinan bakato si Malin Jumbang, "A wai di Guru Tan Iman Mudo, dangakan bana dek Tuan Guru dangakan bana ambo kato- an, abih lai hari babilang pakan Guru, abih bulan babilang tahun, abih musim baganti musim Guru, lah tujuah tahun dagang di
213
[ 225 ]siko, jan Jai di ambo diaja mangaji Guru, babuni tidak Guru jo ambo, Kini baitu lah di Guru, amho kini putuih balanjo, padoi bareh ambo sacangkieGuru, samintaro bilanjo ambo tibo.”
Jaan lai bareh kan dapek dek Jumbang, babuni tidak Tan Iman Mudo.
“Awai di Guru jonyo ambo Guru, suto juo ka tali tuduang, abuak di dalam pacian ujung, patuik bana dagang bamanuang, pariuak tarang bareh tak ado, a wai di dagang saratuih ampek, padoi bareh ambo sapakan nak urang, samintaro bilanjo ambo tibo.”
Jan lai bareh danek dek Jumbang babuni tidak surang juo.
Sute juo ka tali tuduang abunk dilemhaj-lembai aia patuik lah hana dagang bamanuang untuang jo apo ka dibaia
Kimbo barimbo daun kacang ambo baladuang ka wjuangnyo Patusk jut hang dagang bamanuang badun tasanda dj untuangnyo
“Kati bette lah dek kum, lapeh lah ambo pai bajalan suruah lah amho mintak sidakah,Guru, kan balanjo mangaji dek ambo. Jan ja: kan izin dapek dek Jumbang, babunt tidak Imam ual de Diambiak tungkek jo aig mato, diambiak tungkek jo ati ibo, tungkek digwnvyam huntia dijinjiang, Jumbang bajalan ka dalam Karopoaay, Jombang hajalan mintak sidakah, lah masuak kam Masuak nagari, lah tigo bulan Jumbang pek dek Jumbang, babuni tidak saka dapek dek Jumbang, aia tak dapek aatitiink jora,
Jumbang bajulan kg Surau, sadang manangih lalu bakato,
“Tae clipwpek aug badengkiang, jetiah niarank kumbang tigo, lat diewliok nagar amplang guru, Haetetsst tidak Atrang jug,"
214 [ 226 ]Elok babaliak ka Lawang Kuniang, elok babaliak dagang ka surau, alah sarantang-rantang bajalan, cukuik lah yo pajalanan. Alah tibo di Lawang Kuniang, lah bangih Tan Iman Mudo, "Cilako bana waang nyo Jumbang, lah malang bana waang nyo Jumbang, sa- tangah dagang mintak sidakah, bareh bakaruang pulang ka surau, satangah dagang mintak sidakah Jumbang, pitih babilang pulang ka surau. Iyo nyo waang mintak sidakah Jumbang, buntia balipek pulang ka surau."
Sadang manangih si Malin Jumbang, "Oh Guru juo janyo am- bo, lai ambo takiak aua badangkiang Guru, iyo marayok kumbang tibo, lai ambo caliak nagari ampiang Guru, babuni tidak surang juo. Batakiak juo aua badangkiang Guru, nan sambilan kumbang di jalan, ambo caliak juo nagari ampiang Guru, lah tigo bulan yo dek bajalan. Kini baitu lah dek Guru, lah tujuah tahun ambo di siko, banyak parasaian nan ambo tangguang, nan indak bausai lah ambo tangguang Guru, aja lah baa ambo mangaji, kok untuang lakeh kaji ambo lanca Guru, kok untuang lakeh Kuraan tamaik, gilo mangaji jo sumbayang Guru, jaan badampaik ambo samo gadang."
Jan lai si Jumbang ka diaja mangaji, babuni tidak Tan Iman Mudo. Sadang manangih lalu bakato, "A wai Guru Tan Iman Mu- do, barimbo juo daun kacang Guru, den bao guluang ka ujuang nyo, patuik bamanuang si anak dagang Guru, badan tasada di untuang nyo. Ajalah baa ambo mangaji Guru, kok untuang lakeh kaji ambo lanca, kok untuang lakeh Kuraan tamaik, Guru, gilo mangaji jo sumbayang."
Sampai lah hangih Tan Iman Mudo, "Dagang cilako malah ang Jumbang, dagang mularaik malah ang Jumbang, urang nan samo datang jo waang satangah urang jadi alim, satangah urang lah jadi tuangku, satangah urang lah jadi iman, satangah urang lah jadi katik. Sorang nyo waang alun mangaji Jumbang, dagang mularaik lah waang Jumbang.
"A wai dek Guru Tan Iman Mudo, dangakan bana ai Tuan Guru, urang nan samo datang jo amho, satangah urang lah guru tuo, satangah urang lah jadi alim, satangah urang lah jadi imam. Bana di hati kato Guru, ajalah baa ambo mangaji. Kok untuang lakeh kaji ambo lanca Guru, kancang lah baa Kuraan tamaik, gilo mangaji jo sumbayang, jan badampaik samo gadang."
"A wai di waang dagang, cilako, manolah waang dagang mi- sikin, kalau kan iyo ka mangaji, Jumbang, ambiak lah surek lah jo jalehan."
215
[ 227 ]Bana diambiak dek si Malin Jumbang, diambiak surek lah
jolehan. jaleh si Jumbang ka diaja, namun pihak Tan Iman Mudo, sadong mangaji si Jumbang bamanuang, a wai di guru Iman Mudo,
Barimbo juo daun kacang Guru,
rimbo baralun ka udaro
Patuik bana dagang bamanuang Guru,
duduak bamanuang jo sureknyo.
"Ajalah baa ambo mangaji, kalau untuang lakeh kaji ambo ianes, kok untuang lakeh Kuraan tamaik, gilo mangaji anyo si Jumbang, nak jen badompak samo gadang.
Sanan manjawek Tan Iman Mudo, "Manolah waang dagang malaraik. mano la waang dagang cilako, kalau kan io diajakan mangaji Jumbang, pacik la deang tapak kaki den, baruik ka muko sampai ka dado, kok untuang lakeh kaji ang lanca, kok untuang lakeh Kuraan tamaik Jumbang, gilo mangaji ang jo sumbayang.
Bana di ati si Malin Jumbang, sampai nyo baluik tapak kaki guru, anyo barikan dari muko nyo sampai ka tapek kaki. Jum- bang diaja dek Iman Mudo, Jumbang diaja mangaji alif, diaja alif kuraan dapek, kuraan dapek dek si Jumbang. Diaja Jumbang ma- ngaji Kuraan, nan tapasia lah lanca dek Jumbang, diaja Jumbang mangaji nahu, iyo sabanta dapek, nan tapasia alah lanca dek Jum- hang, diaja Jumbang parukunan, sipaik duo puluah dialih dek Jumbang, sampailah pandai Jumbang mangaji, sampailah pandai Jumbang halagu. Jumbang diaja balagu-lagu, inyo ajae balagu Makah, lagu Madinah dapek dek inyo, diaja lagu Madinah, lagu Masie tambuak dek Jumbang, sampai lah pandai Jumbang mangaji, dumbang lah pandai mangaji nahu, Jumbanglah pandai malagu-lagu.
Kaba dialiah ka Mambang Surau, anak guru Tan Iman Mudo, Adok kapado suatu hari, hari nan sadang tangah hari, sadang pun muntak bayang-bayang, sadang pun litak letai badan, sadang pun langang tangah kampuang,sadang pun linduang saliguri, sadang pun htak letai anjiang, sadang pun rami urang di pakan, sadang pun tangang urang di kampuang, Jumbang di surau balagu-lagu, lagu Makah iyo jo Madinah, lagunyo basiadang-adang, suaronyo lanyuik alang kapalang, babuni ganto di awang-awang, buni sarunai iyo biola, buni sarunai pupuik tan kaliang, ba aia ilia tatagun-tagun, buruang tabang talalu karam, angin ilia baliak mudiak. Mandanga-
216
[ 228 ]kan lagu suaro Jumbang, tadayo anaknyo Tan Iman Mudo. Anak.
banamo Mambang Surau, gilo batanun iyo manarawang, gilo man- jarum iyo di ateh anjuang, sakali manikam tujuah talampau. Rancak nan bukan alang kapalang, nan bak bulan bapaga bintang, iyo nan rancak bukan kapalang, rambuiknyo panjang bajalai- jalai, iyo panyorong tikikuluak limau, sarang kupalo takanak sanggua, mukonyo bak bulan panuh, pajalanan siganjua lalai. Makan dianta dek sikambang, minum basiram jo aia ambun, mandi basiram jo minyak harum.
Ado kapado suatu hari, mandanga lagu si Malin Jumbang, pangana nan tidak ka tanun lai, tanun kusuik banang lah putih, jarumlah patah pangana pun ilang, mandanga lagu Tuan Jumbang, aia diminum bak raso duri, nasi dimakan baraso sakam, badan baraso bak bayang-bayang, pangana nan indak ka tanun lai. Jikok di guru sasudah makan, disilau anak dek Taniman Mudo, satalah tibo Iman di anjuang, dicaliak anak sadang bamanuang, dicaliak tanunlah kusuik-kusuik, dicaliak jarum lah patah-patah, lalu ba- tanyo Tan Iman Mudo, "A wai Nak kanduang si jantuang ati, awai Nak kanduang sibiran tulang, lubuak hati tapian mato, mano Nak kanduang si Mambang Surau, bari nyo luruih ayah batanyo,
ambo batanyo siluruih sajo Nak, apo sabab tanun kau kusuik, mako dek jarumlah patah-patah, mako dek bananglah putuih- putih, atau dek salah kau batanun Nak, atau dek caliak sirajo-rajo, bari lah luruih ayah batanyo, ambo batanyo sakali koh sajo, kok ado sakik den carikan ubek Nak, kok salah tanun den carikan gantinyo, barilah luruih ayah batanyo." Sanan manjawek si Mambang Surau, "Manolah Ayah kan- duang ambo, dangakan bana Ayah kanduang, dangakan bana batua- batua dek salah ambo batanun, bukan dek salah ambo manjarum, indak dek salah ambo nan lalai, dangakan bana dek Ayah kan- duang. Alah baratuih dagang nan tibo, alah bapuluah Ayah dagang nan pai, saratuih ampek puluah dagang di siko, indak bacando si Jumbang bana, sadang sado dagang bi pai, sadang surang inyo tadi, iyo si Jumbang balagu-lagu, lagu nyo Makah jo Madinah, sa- rato jo lagu Mesir, suaro nyo lanjuik bukan kapalang, buni ganto di awang-awang, aia ilia tatagun-tagun, buruang tabang talalu karam, angin ilia babaliak mudiak, sadang batanun aka lah ilang. pangana nan indak ka tanun lai, pangana kapado suaro Jumbang. Itulah sabab tanun ambo kusuik, itu sabab jarum ambo patah-
217
[ 229 ]patah, indak dek salah ambo batanun, indak dek sasek kum-
palan banang, itulah sabab karanyo nyo, katolah sampai kapado Ayah."
Lalu nyo jawek dek Iman Mudo, "Cilako bana kau nyo Mam- bang, lah malang hana ambo baranak, cilako bana kironyo Mam- bang, tadayo bana dek dagang hino Nak, tacinto bana di dagang bansaik, tadayo bana dek inyo Nak, dagang malaraik dagang si Jumbang, dagang jauah dagang misikin Nak, tadayo bana kau dek inyo. Cilako bana diaja mangaji, kaji den nyo impik, kau nyo dayo, elok den bunuah buliah nyo mati Nak, elok den jua buliah nak jauah, elok den gantuang inyo nak tinggi, elok den bunuah inyo mati, cilako dagang malaraik, tadayo bana kau dek inyo. Iman lah turun dari mahligai, Mambang manangih di ateh anjuang, xadang manangih nyo luruik dado," Ayahlah jaleh kan mambunuah Jumbang, kalau si Jumbang Ayah bunuah, ka mano si Jumbang Ayah buang, pado ambo baputiah mato, bia nak samo baputiah tulang:
si Jumbang mandi ambo manyauak Ayah,
ka taluak ambo jo inyo,
Jumbang mati ambo baramuak,
sakubus pulo ambo jo inyo.
Tagak sakali Tan Iman Mudo, "Anak cilako kau nyo Mam- buang, anak mularaik kau manungkan, tadayo bana dek dagang bino."
Sadang nyo bangih Tan Iman Mudo, inyolah turun ka tangah laman, inyolah marak ka musajik gadang, satalah tibo di ateh surau, hangh sakali Tan Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Malin Mu- hammad, idak habanak waang doh Jumbang, dagang misikin da- kong nan jauah, malang bana diaja mangaji, kaji den ang impik, unak den ang dayo, elok den bunuah ang nak mati, elok den gan- Luang ang nak tinggo, elok den bunuah ang nak mati, mularaik bana den aja mangaji, kaji den ang impik anak den ang dayo."
"Guru an juo janyo ambo, dangakan bana dekTuan Guru,iyo abja ambo kan jauah, iyo digantuang iyokan tinggi, iyo dibunuh akan mati, tapi sabuah pintak pinto ambo, iyo taserak aia tahakin, iyo tawanda mejan duo, iyo taserak tanah panggaian, iyo diganbarang ambo kan tinggi, iyo dibunuah amo kan mati, tapi sa-
218
[ 230 ]buah jo pintak ambo, kok tibo usua jo pareso, jaan dikatokan
mati babunuah, katokan mati sampai aja, jan seso Guru paningga ambo."
Bangih di ati Tan Iman Mudo, "Awai dagang nan saratuih ampek puluah, dangakan bana iyo dek kalian, dagang nan datang iyo rami juo, sasian batambah banyak juo, surau batambah sampik juo, elok ka rimbo kito basamo, manabang kayu sabatang surang, elok ka rimbo kito barisuak, manjapuik tonggak ciek su- rang."
Dagang saratuih nan ampek puluah, lalu bajalan nan ka dalam rimbo, Jumbang Muhammad lah pai pulo. Alah sarantang dagang bajalan, cukuik kaduo rantang pajalanan, sarato lah tibo di dalam rimbo, lah masuak rimbo kalua rimbo, basuo bukik alah didaki, basuo lurah alah dituruni, indak doh dapek kayu kan ditabang. Iyo dek Allah mantakadiakan, dapeklah kayu sabatang sajo, kayu nan indak lai gadang bana, pucuak manyisi awan biru, urek manyanda ka tunggak bandue, iyo tigo bulan balun kan rabah. Kayu ditabang dek Jumbang Muhamad, lah limo minik kayu ba- rabah liyau kayu bakato. Lalu ba- timbali, kayukan kato Tan Iman Mudo, "Awai ang Jumbang Malin Muhammad, elok ang layok pandangan jauah Jumbang, tukikkan dek ang pandangan ampiang, baju batanun dandang nyo sudah Jumbang. dunia tak dapek ang liek lai, waang dibunuah sakarang kini, waang cilako den aja mangaji, kaji den ang impik, anak den ang dayo.
Sanan manjawek si Malin Jumbang, "A wai dek Guru Iman Mudo, dangakan banadek Tuan Guru, urang barutang karano dek salah, ambo barutang karano dek bana, ambo dibunuah iyokan mati Guru, relakan bana jariah payah Guru, Gurulah payah mang- aja ambo Guru, sajak di mulo mangaji alih, karano juo ambo ka mati Guru, rilakan bana aia nan taminun, relakan bana nasi nan tamakan, Guru."
Rundiang abih bicaro sampai, Jumbang lah duduk ka bawah kayu, kayu ditimba dek Iman Mudo, kayulah rabah Jumbang taimpik, lah ancua luluah banak kapalo, lah serak serai daging si Jumbang. Lalu bakato Tan Iman Mudo, "Indak si Jumbang ka iduik lai, indak si Jumbang ka pulang lai, indak anak den ka kanai dayo lai indak kaji den ka taimpik, babaliak pulang kito dahulu nak urang. Jumbanglah tingga di dalam rimbo." Dagang babaliak ka Lawang Kuniang, etan ka surau Tan Iman
219
[ 231 ]Mudo. Urang babaliak Jumbanglah tingga di dalam rimbo, salang bacarai jo nyawo di badan, sadang bacarai dagiang jo tulang, dagang bahaliak pulang ka surau. Alah sarantang-rantang di jalan, cukuik sarantang pajalanan, cukuik kaduo rantang panjang, satajah tibo anyo di surau. Alun sabatang paisok abih, Allah Taala
mauntuangkan, turun si Mambang dari mahligai, turun si Mambang ka tangah halaman, alah tasirok darah di dado sadang gumarak darah di muko, sadang manangih si Mambang Surau, lalu batanyo ka ayah kanduang, “Ayah juo janyo ambo, bari lah luruih ambo batanyo, ambo batanyo siluruih sajo, sabanyak itu dagang ka timbo, surang si Jumbang nan indak baliak, saratuih ampek puluah dagang nan pai, sorang si Jumbang nan indak nampak, sabanyak itu ka dalam rimbo, sorang si Jumbang nan indak baliak, di mario tuan tagaluang kini, cahayo mato di mano kini, si jantuang hati di mano kini, pamenan mato iyo den ilang, lauiktan ano iyo ranang, rimbe nan mano nan inyo uni, rimbo di manohan dilungeuinyo, tanah di mano nyo nan tasirah.”
Sadang manangih si Maminang Surai sanan bakato ayah Mambeng Surau, “Indak si Jumbang ka pulang lai, indak si Jumbang Kit baliak lai, indak lai kau ka kanai dayo, indak kaji den doh ka laimpik. inyo den impik jo kayu gadang, inyo den bunuah di dalam rimbo, sadang bacarai daging jo tulang, indak si Jumbang ka duik lai, indak kaji den nan ka taimpik indak doh kau kan kanai dayo, hautu gadang iyo Tan Iman Mudo.”
Mandangakan kato gj ayah kanduang sampai manangih si Marnbing Surai, sadanp manangih maratok juo, ratok si Mambang baiho-the, ratok sf Mambang maracun hati, sadang manangih si Mamban Surau. Sadang maimbau manangih juo, maratok-ratok misdialt él Marbang, ‘Awai dek Tuan pulanglah pulang Tuan, si jantiiang hati “Tuan Maimbau, Tuan ai pulang pulanglah pulang Pear, sibiran filang manangih juo. Tuan den pulang, pulanglah pulang, Tuan, si Mambang Surau maimbau-imbau. Jikalau Tuan indak pulang Tuan.
Tuan mandi ambo Manyauak satao bagusuak buah palo, Tuan Tuan mati ambo baramuak nak sakabua kito baduo. Dari pado ambo baputiah mato tuan, bia nak samo baputiah tulang.”’
220 [ 232 ]Ratok si Mambang ba buah-buah, ratok si Mambang baibo- ibo. Mandangakan ratok si Mambang Surau, mandangakan imbau si Mambang Surau, Jumbanglah duduak di tangah rimbo, batam. bah rancak dari nan lamo, labiahlah elok dari nan dahulu, rimbo lah tarang dek cahayo bulan, rimbolah tarang cando siang.
Sudahlah garak takadia Allah, sudahlah untuang den jo ba- gian, Jumbang lah duduak dalam rimbo, sadang manangih lalu bakato, "A wai di Guru Tan Iman Mudo, dangakan bana dek Tuan Guru, Gurunan indak bahati ba jantuang, Guru ba padi ladang sajo, guru nan indak bahati jo jantuang, Guru bahati jo gadang sajo. Di dalam rimbo den Guru tinggakan, tagah dek aja kan balun sam- pai, tagah dek gadang ka balun sudah, iyo dari rumah kan mangaji, tibo di surau Guru dayo Guru, Guru buang ka dalam rimbo. Tagah dek aja ka balun sampai guru, tagah dek gadang kan balun sudah. Elok babaliak ambo ka surau, elok babaliak ka Lawang Kuniang, elok ditulakkan kayu nan gadang, kok untuang inggok ka Lawang Kuniang, buliah koh kayu dek Guru ambo."
Kayunyo renjeng dek jari manih, lah nyo tulakkan jo jari manih, alah mambubuang kayu nan gadang, kayu malayok ka Lawang Kuniang, inggok lah kayu ka laman surau, kayu badabuak babuni ombak, kayu badantuang babuni guruah. Takajuik Tan Iman sadang sumbahyang, iyolah sudah Tan Iman sumbahyang, manjanguak Tan Iman ka tangah ilaman, 'Kironyo kayu gadang alah datang, kayu dari mano iko datangnyo, atau mandasua nan dari bumi, atau mancucue dari langik, sajak samulo adenlah tuo, alun nan ado nan cando iko, antah ko iduik dagang cilako, antah ko iduik si Malin Jumbang, mungkinnyo iduik di dalam rimbo, mungkinnyo duduak ka dalam rimbo."
Balun kan ciek balun kan duo, Jumbanglah tibo di tangah laman. "Awai dek Guru Iman Mudo, dangakan bana dek Tuan Guru; tidaklah ibo Gurutinggakan, tagah dek aja kan balun sampai, tagah dek gadang kan balun sudah, Guru, tagah dek gadang kan ba- lun sudah Guru, babaliak juo dagang ka surau, sajak di rumah kan mangaji Guru, niaik dari kampuang iyo kan mangaji, kini di bao ka dalam rimbo Guru.”
Bangih di ati Tan Iman Mudo, "Indak den sangko ka baliak lai Jumbang, indak den sangko waang kan pulang, babaliak juo waang ka mari Jumbang, awai ang balun agiah aia, litak nan balun den agiah nasi Jumbang, susunlah kayu dek ang daulu, susunlah
221
[ 233 ]batang samo batang Jumbang, susunlah rantiang, susunlah daun samo daun. Buek rang kampuang kan manyusun kayu, gak tigo bulan balun kan sudah. ”Kayu disusun dek Jumbang, limo minik sudah tasususun, kayu takabuang, tigo bulan.
Satalah sudah kayu tasusun, sanan bakato Tan Iman Mudo, "Mano ang Jumbang Malin Muhammad, awuih nan balun den agiah aia, litak nan balun den bari nasi, pai mandi kito dahulu, eien ka tilago aianyo janiah Jumbang, eten tilago aianyo sajuak, baliak mandi kito minum makan.” .
Bana di hati si Malin Jumbang, sampai bajalan ka dalam tilago, dagang nan banyak lah pai pulo, saratuih ampek puluah dagang nan pai, Jumbang mangikuik dari balakang. Ganok sarantang raniang di jalan, cukuk duo rantang jo pajalanan, cukuik katigo rantang panjang, sato lah tibo dalam tilago. Sanan bakato Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Malin Muhammad, layang kan dek ang kok pandang jauah Jumbang, tukiakan dek ang bak pandangan ampia, bacupak panuah, bagantanglah sudah Jumbang, waang den bunuah saulang lai, waang den buang ka dalam tilago ‘Jumbang, waang cilako den aja mangaji, kaji den ang impik, anak den ang dayo Jumbang.”
“Awai dek Guru Tan Iman Mudo, iyo dibunuah ambo kan mati Guru, nan dijua ambo kan jauah, iyo digantuang ambo kan tinggi Guru, tapi sabuah pisawek ambo, rila kan bana aia nan tammum Guru, rilakan bana nasi nan tamakan, bacupak panuah haysntanuiah sudah Guru, rilakan bana jariah payahGuru, Gurulah paveh maja ambo Guru, sajak samulo mangaja alih, sampai lah panda ambhe mangaji Guru,”
Bangih di hati Tan Iman Mudo, satangah dagang lah mandi juno, satungah mandi bakacimpuang kaki, satangah mandi batali tintho, Juinbang disewek dek Iman MudoJah nyo buangkan kahla tage, dumbang dicampakkan ka dalam tilago, lah andam karam balan 3 Jumbang, Indak si Jumbang ka pulang lai, indak sibatredoanays ka batlak lai”) —Indak anak den ka kanai dayo, indak Ye den ka taimpik, babaliak pulang kito dahulu nak urang.”
Bapa di hati nak urang nan banyak, sampai babaliak ka Lawaty Kuniiang, Jumbanglah karam dalam tilago. Alah sarantang rantinst di jalan, cokuik ka rantang jo pajalanan, sato di Lawang Kuriiariy, sete lah tibo inyo di surau, alun sabatang paisok abih, bile batanyts xi Mambang Surau, Ayah juo janyo ambo, sabanyak
222 [ 234 ]itu ka dalam tilago, sorang si Jumbang nan indak baliak, sabanyak itu dagang nan pai, sorang Tuan Jumbang nan indak pulang, sa- banyak itu nan pai mandi, sorang Tuan Jumbang nan indak nam- pak, cahayo di mano garan, tampan di mano ambo tinggakan, tampan di mano Ayah bunuah.
Ayah nan indak bahati jo bajantuang
Ayah bapadi jo ladang sajo
Ayah nan indak bahati jo bajantuang
Ayah bahati iyo gadang sajo
Julek bajulek daun padi
julek nan sampai ka istano rajo
Jumbang disarahkan dek urang pai mangaji
Ayah buang ka dalam tilago
Tuan den pulang pulanglah pulang
si jantuang hati maimbau juo
Tuan den pulanglah pulang
sibiran Tuan maratok juo.
Jikalau Tuan indak pulang, pado hai ambo baputiah mato, bialah nak samo baputiah tulang. Tuan pulang lah pulanglah Tuan, da- ngakan bana dek Tuan Jumbang.
Jikalaunyo Tuan indak pulang
Tuanlah mandi ambo manyauak
samo bagusuak jo buah palo
Tuanlah mati ambo baramuak
nak samo karam ka dalam talago
Sampai maratok si Mambang Surau, imbau si Mambang habuah-buah, imbau si Mambang maracun hati, "Tuan ai pulang pulanglah Tuan, kalaunyo Tuan nan indak pulang, dangakan bana Tuan kanduang, pado ambo baputiah mato, bia nak samo bapu- tiah tulang, Tuan disarahkan mandeh kan mangaji, kini tabuang ka dalam tilago Pulanglah pulang sibíran tulang, Tuan ai pulang pu- laglah pulang, Tuan pulang pulanglah si Jumbang,"
Si Mambang Surau maratok juo, si Mambang Surau maratok
223
[ 235 ]juo, imbau si Mambang babuah-buah, imbau si Mambang kan ma-
racun hati, "Tuan ai pulang pulang lah Tuan."
Mandangakan ratok si Mambang Surau, Jumbang tasumbua dalam tilago, duduak tamanuang saurang diri, sadang manangih lalu bakato.
"Guru e juo Tan Iman Mudo
Guru nan indak padi bagaduang
Guru bapadi di ladang sajo
Guru nan indak bahati jo jantuang
Guru bahati lai gadang sajo
untuang tak mati di dalam tilago.
Taga dek aja ka balun sampai, taga dek gadang ka balun sudah, niaik di rumah iyo kan mangaji, tibo di surau ka taniayo, lah duo kali dagang babuang, lah duo kali dagang babunuah, tagah dek aja nan balun sampai, babaliak juo hanyo di surau."
Jumbang bajalan babaliak pulang, ganok sarantang rantang di jalan, cukuik duo rantang pajalanan, cukuik katigo ondeh ran- tang panjang, satalah tibo di Lawang Kuniang, awai di guru Tan Iman Mudo. "Taga dek aja ka balun sampai, taga dek gadang ka balun sudah, babaliak juo ambo ka surau, tagah dek aja balun sam- pai, babaliak juo dagang ka mari."
Sanan manjawek Tan Iman Mudo, "Indak den sangko kan ba- baliak juo, indak den sangko nan ka pulang lai, babaliak juo waang ka mari, elok den buang sakali lai, elok den buang ka pupuitan ka- liang."
Sato lah tibo Jumbang di surau, sanan bakato si Malin Jum- bang, "Oh Guru janyo ambo, dangakan bana dek Tuan Guru, lah tujuah tahun ambo di siko Guru, lah banyak parasaian ambo tangguang, nan indak batangguanglah batangguang Guru, nan indak ambo rasai lah ambo rasai, lah limo kali dagang babunuah guru, tagah dek aja balun sampai, babaliak juo dagang ka surau guru : patamo iyo jo kayu gadang, Guru impok jo kayu gadang, baliak juo dagang ka surau; bunuah kaduo dalam tilago, Guru campakkan dalam tilago, Guru, babaliak dagang ka surau; bunuah katigo ka pupuitan kaliang Guru, sarato sapuluh macamnyo ransang, ambo hao ransang ka surau, buliah ka ubek de Tuan Guru; bunuah ka ampek jo batu gadang, Guru, Guru impik jo batu gadang; bunuah
224
[ 236 ]ka limo Guru gantuang, Guru gantuang ka dalam rimbo, babaliak
juo dagang ka surau Guru, tagah dek aja ka balun sampai, tagah dek gadang ka balun sudah Guru; niaik di rumah yo pai mangaji. Kini baitu malah dek Guru, lah tujuah tahun dagang di surau, alun pulang saulang juo Guru, balun ka kampuang sakali juo, kini nyo ambo taragak ka kampuang Guru, iyo taragak jo kampuang ambo, eten di Malayu, Gunuang Tigo, anak si kabau-kabau tinggi, anak s Tujuah Banda Dalam, Guru, nan di balik gunuang nan tigo. Iyo taragak di ayah kanduang, inyo banamo Bandaro Ijau Guru, ambo taragak jo mande ambo, liau banamo Kasua Tabantang Guru, ambo tacinto di adiak ambo, inyo banamo Malere Suni, Guru. La- peh dek Guru ambo ka pulang, lapeh dek Guru jo ati suci Guru, lapeh dek guru jo muko janiah."
Sanan manjawek Tan Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Ma- lin Muhammad, pintak baraso lai ka buliah Jumbang, kandak ba- raso lai ka balaku, tapi den bari janji dahulu Jumbang, dicari da- hulu ari nan elok, pandang dahulu katiko nan baiak Jumbang, lauik sati rantau batuah." Bana di hati si Malin Jumbang, sanan taguah ati kan pulang, sanan taguah pikiran nak pulang.
Dibuek surek dek Tuan guru, surek palasu nan anyo karang, dangakan bana isinyo surek. Awai dek mandeh Kasua Tabantang, duo jo ayah Bandaro Ijau, lah malang bana Jumbang baladang.
Urang baladang dalimo tumbuah
Jumbang baladang capo nan tumbuah
Lah malang bana Jumbang badagang
Jumbang cilako nan tumbuah
Tidak mangaji yo jo sumbahyang, anyo badagak jo samo gadang, siang malapeh jo layang-layang, malam manjago kadai urang, sureknyo buek ka layang-layang, surek nyo buek karateh koa, ba- abih balanjo Jumbang mangaji, cilako bana pai badagang, tandeh harato jo pusako, kalaunyo pulang si Malin Jumbang ndeh, elok dibunuah nak nyo mati, elok dibuang nak nyo jauah, elok di- gantuang nak nyo tinggi, cilako bana pai mangaji.
Surek dikirim dek Iman Mudo, surek dibao balam tigo gayo, inggok lah surek di gunuang nan tigo, sadang sumbayang Bandaro Ijau, surek dikambang dek ayah kanduang, surek dibaco dek ayah kanduang. Baru dibaco surek nan datang, aia mato jatuah baurai,
225
[ 237 ]baru dikambang surek nan datang, iyo gumaram darah di muko,
sanan batanyo surek nan tibo, sanan batanyo Kasua Tabantang, "A wai junjuangan janyo ambo, barilah luruih ambo batanyo, ambo batanyo siluruih sajo, surek dari mano tu datangnyo, kaba dari mano tu datangnyo, atau dek rando tu dapek malu, atau dek cakak indak balarai, mangko manangih mambaco surek."
Sanan manjawek Bandaro Ijau, "Mano dikau kasua Taban- tang, kalau nyo itu kau tanyokan, indak dek rando ka dapek ma- lu, indak dek cakak indak balarai, surek nan datang dari Lawang Kuniang, surek nan datang dari guru si Jumbang, surek nan datang dari Iman Mudo.
Lah malang bana kito baranak
urang baladang dalimo tumbuah
awak baladang capo nan tumbuah
urang badagang malin samonyo
kito badagang cilako nan tumbuah
Indak si Jumbang gilo mangaji, anyo badamaiek samo gadang, siang malapeh layang-layang, malam mairuik kadai urang, surek nyo buck karateh koa, karateh nyo ka layang-layang, lehannyo buck ka rumah catua, baabih balanjo Jumbang mangaji, cilako huna pai badagang. Kok untuang pulang sakarang kini, elok di- búnuah nak nyo mati, elok digantuang anyo nak tinggi, elok di- butang nak nyo jauah, kalaunyo pulang si Malin Jumbang, pa- gang dek kau si rencong Aceh, dek den pagang padang jinawi, elok dibumuah nak nyo mati."
Mandangakan kaba lah Iman Mudo, bana di ati mandeh kan- luang, sanan bakato Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Malin Mu- hammuik, kalau kan iyo waang kan pulang, elok pulang sakarang kini, jaan lah lambek waang di rumah Jumbang, kaji nan sadang nan takapalang, gak tigo ari waang babaliak Jumbang.
"A wai dek Guru Tan Iman Mudo, asa lai pintak ka buliah Guru, kok tai kandak lai ka balaku, itu malai tigo hari Guru, dua an ambo babuliak, jawek lah salam tangan ambo Guru, ambo ka pulang ka kampuang ambo, untuang indak tantu tangah jalan Guru, cilakan bana jariah payah Guru, Guru lah payah mangaja amboGu- ni, najak dek mulo mangaja alih, sampainyo pandai ambo manga- », rilakan bana aia nan taminun, rilakan pulo nasi nan tamakan "
226
[ 238 ]Guru." Sampainyo jawek tapak tangan guru.
Jumbang bajalan pulang ka kampuang, eten ka nagari Gu- nuang Nan Tigo, eten Situjuah Banda Dalam, eten ka nagari si Kabau Tinggi. Alah sarantang rantang di jalan, cukuik duo rantang yo pajalanan, cukuik katigo rantang panjang, iyo lah ampiang Jumbang lah tibo. Jumbang lah tibo di Gunuang Nan Tigo. Lah tampak dek mandeh kanduang, lalu bakato Kasue Tabantang, "Awai junjungan janyo ambo, kok nan di pinto lai ka buliah, untuang lai kandak lai ka balaku, iyo lah pulang malang cilako, eten lah tampak si Malin Jumbang, pagang dek kau si rencong Aceh, aden tapagang padang jinawi, elok dibunuah nak nyo mati, elok dijua nak nyo jauah, elok digantuang nak nyo tinggi, cilako bana pai mangaji, batandeh rato jo pusako."
Dalam babincang-bincang juo, sato lah tibo Jumbang di la- man, sampai nyo naiak ka batu tapaan, barulah tibo pareso pun tibo, padang lah tibo di lihia si Jumbang, lah carai lihia jo ka palo, lihia bacarai yo nan Jumbang, kapalo lah jatuah ka bawah janjang, nan badabuak ka tangah laman. Lalunyo mati si Malin Jumbang, mati dipancuang dek ayah kanduang, iyolah kompong dek mande kanduang, sampainyo amuak paruik si Jumbang, paruik nan pan- jang bajelo-jelo, alahnyo mati dagang cilako, lalunyo bakato Kasue Tabatang, "Indak katandeh harato pusako, alahnyo mati dagang cilako, kini baitu nyo dek junjungan, di mano si Jumbang kito kubuakan, ka mano si Jumbang kito campakan, elok dibuang isuak sugiro, jaan tahu pulo Malere Suri, jaan tahu pulo adiak kanduang- nyo, jan ingek pulo urang di nagari, elok dicampakkan ka parak lalang."
Bana di ati ayah kanduang, anak di dagang ka tangah padang, anak diosong ka palak lalang. Sadang lihie jo kapalo, paruik nan panjang lah bajelo-jelo, sadang bacarai nyawo di badan. Alah sa- rantang di jalan, cukuik duo rantang pajalanan, cukuik katigo ran- tang panjang, sarato lah tibo di tangah padang tubuah dicampak- kan ka parak ilalang, kapalo dicampakkan ka dalam rimbo, andeh jo bapak babaliak pulang.
Jumbang lah tingga di tangah lapang, indak si Jumbang ka iduik lai, indak si Jumbang ka pulang lai, ba ati gadang salamo- lamonyo, indak kan batandeh harto jo pusako, indak abih harato bando, inyo babaliak pulang ka kampuang. Alah sarantang jo pajalanan, alah cukuik ka tigo jo rantang panjang sarato lah tibo
227
། [ 239 ]
inyo di rumah, eten di baliak Gunuang Nan Tigo, eten Sikabau Kabau Tinggi, alun sabatang paisok abih, turun Malere Suri katangah ilaman, Malere Suri adiak si Jumbang, sadang manangih Malere Suri, lalu batanyolah sugiro, "Ayahnyo juo jo nyo ambo, bari luruih ambo batanyo, ambo batanyo basiluruih sajo, darah siapo nan bataburan, darah lai apo nan sirah-sirah, jaweklah tanyo lakeh sugiro, supaya nak sanang di dalam hati, supayo nak suci di kiro-kiro."
Sanan manjawek jo ayah kanduang, "Mano Nak kanduang Malere Suri, darah tatabue kau tanyokan, darah taserak kau pareso, iyo tun kau di Lawang Kuniang, mamantai ayam iyo dek inyo, baka balanjo iyo kan kito bari."
Sanan manjawek Malere Suri, "Barapo ikua kabau Ayah bantai, barapo lusin ayam potong, sabanyak ko bana darah baserak, Ayah juo jo nyo ambo,
Ayah nan indak bapadi jo jaguang,
Ayah bapadi lai ladang sajo,
Ayah nan indak bahati jo jantuang,
Ayah ah hati nan gadang sajo, Ayah bahati sanang sajo.
Tidak diusua jo pareso, si Tuan ambo nan Ayah bunuah, Tuan ambo nan Ayah amuak, surek palasu Ayah tarimo, tidak usua Ayah jo pareso, ambo sajoli nan bak balam, ambo sabodi nan bak pisang labek, ambo sadondong nan ba ambacang, sikua jantan sikua batino, kusuik siapo nan kan manjaniahkan, kalau la mati si Malin Jumbang."
Sampai manangih tu Malere Suri, "Ayah kanduang tu sibiran tulang, dangakan bana dek Ayah kanduang: pado ambo baputiah mato yo Ayah, bia nak samo baputiah tulang."
Malere balari ka maligai, inyo bao si rencong Aceh, anyo pasisik padang jinawi, anyo turuikan darah baciciran, lah nyo turuikun dek Malere, ka padang lalang darah taserak, ka tangah padang darah bataburan, Malere bajalan ka parak lalang. Alah sarantang jalan, cukuik duo rantang yo pajalanan, satu lah tibo yo di parak lalang, sato lah tibo di tangah padang, dicaliak ilia jo mudiak, han dipandang kiri jo kanan, dicaliak darah lah serak serai, dicaliak lalang lah panuah dek darah, dipandang bana di tangah padang, karo si Jumbang lab tajelo, kiro si Jumbang lah tak iduik, nan ba[ 240 ]carai lihia jo kapalo, badan taunjua di parak lalang, kapalo nan indak iyo basuo. Sampai manangih Malere Suri, sarato maratok yo adiak kanduang.
Satalah tibo di parak lalang sanan bakato Malere Suri, "Oh Tuan kanduang sibiran tulang, Tuan kanduang si jantuang hati, Tuan mangaji di Lawang Kuniang eten di Kubuang Tigo nan sa- batang, eten di surau Iman Mudo, mangko tajelo Tuan di siko, atau dek salah Tuan barundiang Tuan, atau dek salah kaki malangkah, atau dek salah tangan manjangkau Tuan. Tuan kanduang si Malin Jumbang, awak sajoli nan bak balam, Tuan, awak sabado bak pi- sag labek, awak sadondong nan bak ambacang Tuan, sikua jan- tan sikua batino, kalau lah mati yo nan jantan, Tuan, apo kan tenggang iyo nan batino, anyuik siapo mamintasi Tuan karam siapo nan kan manyalam, kusuik siapo nan kan manyalasai Tuan, Tuan kanduang si Malin Jumbang."
Sampai maratok si Malere Suri, sampai manangih si biran tulang, sadang manangih Malere Suri, dangakan bana ratok Male- re, ratok Malere tak alang alang, ratok Malere babuah-buah, "Oh Tuan kanduang si Malin Jumbang, dangakan bana dek Tuan kan- dung, duduak lah baa bak urang tidua Tuan, jago lah baa bak urang lalok, si jantuang hati nan lah tibo sibiran tulang iyo nan lah datang. Malere Suri iyo manjagokan, Tuan duduak, duduaklah duduak, jikalau Tuan indak duduak Tuan, ambo diminum si- rencong Aceh, jikalau Tuan indak jago Tuan, ambo dimakan pa- dang Jinawi Tuan lai duduak duduaklah duduak Tuan."
Rencong dibuka dek adik kanduang, rencong dicabuik nan dari pinggang, padang dibukak dari saruangnyo. Sanan maratok Malere Suri, sadang maratok maimbau juo, ratok Malere babuah- buah, ratok Malere baibo-ibo, "Ondeh Tuan ai duduaklah dulu, duduak Tuan den duduak si Jumbang, jikalau Tuan indak duduak, ambo diminum si rencong Aceh, jikalau Tuan indak duduak Tuan, ambo dimakan padang Jinawi..."
Rencong dibukak dari pinggang, padang dibacuik dari sarang- nyo, maliek suok Malere Suri, ratok Malere babuah-buah, ratok Malere baibo-ibo, "Tuan ai duduak duduaklah duduak, jikalau Tuan indak duduak, pado yo ambo baputiah mato, bia nak samo baputiah tulang,
229
[ 241 ]
Tuan mandi ambo manyauak
samo bagusuak daun talang
Tuan mati ambo baramuak
samo mauni si parak lalang
Tuan duduaklah duduak."
Sadang manangih Malere Suri, sadang nyo kiak padang ka baramuak, batamu lihia jo kapalo, sampai nyo bukak si rencong Aceh Jumbanglah sintak di parak lalang, baru dikiaknyo nak ba- ramuak, sampailah duduak si Malin Jumbang, Jumbanglah duduak di parak lalang, padang lah masuk ka saruangnyo, renconglah ba- liak ka tampeknyo. Sadang manangih Malere Suri, lalu bakato si Malin Jumbang, "Oh Adiak kanduang sibiran tulang, Adiak kan- duang Malere Suri,
Usahnyo padi kau uruikkan
aianyo ka pamatang
Usahnyo ati kau pituruikkan
alahnyo duduak si Malin Jumbang."
Jumbanglah duduak di pokok lalang, luko nan indak lai ka- liatan, kulik nan aluih bak talua balam, lalang lah tarang baca- hayo. Jumbang, labiah nyo rancak darinyo dahulu, kan labiah elok kan dari lamo, umpamo jo bulan bapaga bintang. Sanan bakato Malere Suri, "Tuan ai juo yo jo denai ambo, bari yo luruih ambo batanyo, ambo batanyo siluruih sajo, Tuan mangaji di Lawang Kuniang eten di surau Tan Iman Mudo, eten di Kubuang di Tigo Baleh, mako tajelo Tuan nan di siko, apo yo sabab yo jo karano, bari lah luruih yo ambo batanyo, supayo nak sanang nan di dalam hati, supayo nak suni di kiro-kiro."
Lalu manjawab si Malin Jumbang, "A wai Diak kanduang Malere Suri, kalau yo itu kau tanyokan, dangakan bana ambo kabakan.
Indaknyo murah urang batimbakau
dalam kan maraso pulo
Indak nyo murah urang kan marantan
dalam basakik marasoi pulo
Lah banyak parasaian nan ditangguang, nan indak ditangguang
230
[ 242 ]lah ambo tangguang, nan indak dirasai lah ambo rasai, lah tujuah
tuan nan di Lawang di Lawang Kuniang, jaan di ambo kan diaja mangaji, babuni indak guru jo ambo, duduak di bawah parian sajo, lah cabiak-cabiak baju di pungguang, lah kerek kerai baju di dado, jan lai kan dapek kaji di ambo, manyapo indak Tan Iman Mudo. Iyo dek Allah kan manguntuangkan, iyo dek Tuhan pulo kan manggarakkan, sampailah mahia ambo mangaji, bukan dek pandai yo dek baguru, bukan dek Malin iyo dek baraja, pandai nyo ambo yo dek mandanga, Malinnyo ambo yo dek manyimak. Sampai- nyo bangin Tan Iman Mudo, sampainyo dayo ambo basamo, sampainyo bunuah ka dalam rimbo, limo kali ambo dibunuah, tagah dek aja nan balun sampai, tagah dek gagang ka balun sudah, babaliak juo dagang ka surau. Mulonyo badan sampai ka siko di- mintak izin ka pulang, izinlah buliah mintak jo pinto, awak kan pulang iyo ka kampuang. Surek dahulu dari pado awak, surek dibuek dek Iman Mudo, surek palasu dibuek guru, surek ditarimo dek ayah kanduang. Suatulah tibo ambo di rumah, indak diusuik iyo jo pareso, suatulah tibo di tangah laman, padang lah tibo di lihia ambo, hanyo di ulang dek mandeh kanduang, sampai nyo amuak dayo badan diri, anyo campakkan ambo ka mari, itu dek sobaik tibo di siko."
Mandanga kato si tuan kanduang, raso kan luruah sirangkai hati, rasokan carai banak kapalo, mandanga parasaian tuan kan- duang, raso kan carai nyawo di badan. Sadang manangih Malere Suri, "A wai di Tuan jo kanduang ambo, kalau baitu parasaian Tuan, jan lah Tuan babaliak pulang, bialah ambo surang ajo pulang Tuan, baliak lah Tuan ka Lawang Kuniang, baliak lah Tuan ka surau Tuan, jikalau Tuan ka baliak pulang, babantah ambo tibo di rumah Tuan, badoso jo ayah bundo, mandanga paraisan, Tuan kanduang elok babaliak Tuan ka surau. Iko mah pitih kan balanjo Tuan sambilan, uang kan Tuan bao."
Bana di hati tuan Jumbang, bana di hati tuan Jumbang, Jum- bang bajalan ka Lawang Kuniang, adiak babaliak pulang jo sanang. Lalu bakato Malere Suri, "Kalau baitu Tuan badagang, banyak parasaian nan ditangguang, sarahkan diri kapado Tuhan, Tuan, elok pataguah iman di dado, Tuan bajalan ka Lawang Kuniang Tuan, batulak pungguang jo adiak kanduang."
Suatu lah tibo Malere di rumah, hanyo naiak ka maligai, satonyo tibo nyo tidua kalimun banta, iyolah basah dek aia mato,
231
[ 243 ]mandangakan nasib Tuan mangaji.
Jumbanglah tibo di Lawang Kuniang, eten di surau Tan Iman Mudo, alun sabatang paisok abih sanan bakato Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Malin Muhammad, ayo panduto waang ko- mah Jumbang, dagang malaraik waang komah Jumbang, dagang musikin dagang mularaik, waang bajanji tigo hari Jumbang, cilako bana dagang ang Jumbang.'
Sanan manjawek tuan Jumbang, "A waidi Gurujanyo ambo, mako nyo ambo talambek Guru, ambo pulang sakali samusim, ka sawah ka ladang ambo dahulu manolong ayah di rumah daulu, itu dek lambek ambo babaliak Guru, bari yo maaf iyo dek Guru."
Sanan manjawek dek Iman Mudo, "A wai ang Jumbang Ma- lin Muhammad, indak den sangko ka baliak lai babaliak juo waang ka mari, cilako bana waang ko Jumbang, elok den bunuah sakali lai, elok den buang sakali lai, elok den cancang ka tangah padang, cilako bana dagang ang Jumbang, indak den sangko ka baliak lai, babaliak juo waang ka mari Jumbang.”
"A wai dek dagang saratuih ampek puluah, babaliak juo da- gang cilako, ambiak lah tali sajantang surang, ambiak lah kapak sabuah surang nak urang, elok dibao ka tangah padang."
Bana di hati dagang nan banyak, diambiak tali sajantang su- rag, dikabek kapak di batang pinggang, Jumbang diarak ka tangah padang, eten ka padang bio-bio, eten ka padang yo sinanai, sanan si Jumbangkan inyo bunuah, sinan si Jumbang kan anyo cancang. Lalu bakato Tan Iman Mudo, tanyo indak pareso pun indak, sadang bajalan Tan Iman Mudo, aduhai tuan latiahlah badan, patuik jo maso paruntuangan, patuik di mabuak parasaian.
Suatu lah tibo di tangah padang, padanglah tibo di lihie si Jumbang, kapalo buang masuak rimbo, badan nyo cancang basamo-samo, kuliknyo jamua di tangah padang, dagingnyo jo tulang nyo caraikan. "Indak si Jumbang kan baliak lai, indak si Jumbang ka pulang lai, indak anak den kan kanai dayo, indak kaji den ka taimpik."
Jumbanglah tingga di tangah padang, hanyo babaliak ka La- wang Kuniang, badan bacarai jo kapalo, sadang bacarai da- giunų jo tulan, kini lah baliak ka Lawang Kuniang, dagang nan ba- nyak lah pulang pulo, ganok sarantang di jalan, lah tujuah kali Jumbang babunuah.
Sudahlah garak takadia badan, sudahlah untuang jo bagian,
232
[ 244 ]Jumbanglah tinggal di tangah padang, Iman lah baliak ka Lawang
Kuniang. Satalah tibo Iman di surau, ukatu luhua iyo nan lah tibo, sampainyo naiak Tan Iman Mudo, Iman abangkan mindaro, suaro Tan Iman yo kan bukan kapalang, babuni ganto yo awang awang, buni sarunai yo jo biola, buni sarunai yo pupuitan kaling. Abang. partamo Tan Iman Mudo, batamu dagiang samo dagiang, abang ka- duo Tan Iman Mudo susun basusun yo samo tulang, abang ka tigo Tan Iman Mudo, jawek bajawek samo urek, abang ka ampek Tan Iman Mudo baluik jo samo tulang, abang ka limo Tan Iman Mudo, tubuah tahunjua di tangah padang, abang ka anam Tan Iman Mudo batamu lihia jo kapalo, cukuik ka tujuah Tan Iman abang, Jumbang lah duduak di tangah padang, sadang manangih lalu ba- kato, "A wai di Guru Tan Iman Mudo di tangah padang Guru ting. gakan Guru, tagah dek aja kan balun sampai, tagah dek gadangkan balun sudah."
A wai dek guru Tan Iman Mudo, iyo ka pulang jalan tak tan- tu, iyo ka baliak jalan tak abeh, Jumbanglah karam eten di pa- dang si anai-anai, Jumbang bajalan di tangah padang, ilian padang, mudiak an padang, iyo dek lambek lamo bajalan, batamu surang iyo rang tuo, sadang bapikek-pikek balam. Lalu batanyo si Malin Jumbang, "A wai dek Datuak orang pabalam, tolonglah bao balam ambo Tuak, batandeh Datuak di dalam rimbang, tolonglah bao pa- san ambo Tuak. Ko anak guru si Mambang Surau, iyo kan pulang jalan tak abeh Tuak, nan ka babaliak jalan tak tantu, datuak juo saulang lai, tolonglah bao balam ambo, rasuak di ateh kasau, to- longlah bao pasan ambo, ka mande kanduang Kasua Tabantang, nan ka pulang jalan tak abeh, iyo ka baliak jalan tak tantu, Datuak juo janyo ambo, tolong lah bao balam ambo Tuak di ateh kurisi, tolonglah bao pasan ambo Tuak ka adiak kanduang Malere Suri. Iyo ka pulang jalan tak abeh, nan ka baliak jalan tak tantu."
Jumbang bajalan anyo lai, Datuak lah tingga di tangah pa- dang, iyo dek lamo lambek. di jalan, lah tigo bulan Jumbang ba- jalan, indaklah minum indaklah makan, sikih walilulloh nan inyo makan. Iyo dek Allah pulo manantukan, basuo jalan basim- pang duo, sasimpang jalan ka dalam rimbo, sasimpang jalan ka ta- ngah padang, elok ka suok, jalan ditampuah, ka tangah padang Jumbang ka painyo. Iyo děk lambek lamo bajalan, batamu surang parampuan, sadang nyo duduak babanuang juo, sadang duduak manangih juo, sadangnyo baurai aia mato. Sanan batanyo si Malin
233
[ 245 ]Jumbang, ”A wai rang mudo parampuan di siko, bari nyo luruih ambo batanyo, matonyo sangaik kironyo sadang, apohnyo rusak kironyo tingkah, mangkonyo duduak bamanuang surang barinyo luruih ambo batanyo.”
Lalu manjawek parampuan mudo, "Mano dek Tuan urang mudo, bukan dek mati kironyo badan Tuan.
Bukan dek roman kironyo tuduang lado nan sadang di halangan bukan bamanuang sajo Tuan banyak nan sadang disusahkan
Sumue ambo diimpok batu Tuan, lah tigo bulan diimpok batu, jawi jo bantiang indak biminum Tuan, pipik marapatilah banyak mati.”
Sanan manjawek Malin Jumbang, Mano dek kau parampuan, bari jo juruih ambo batanyo, siapo namo diimbaukan urang, siapo mandeh siapo ayah, di mano kampuang jo halaman.”
Sanan manjawek parampuan, ”Kalaunyo itu Tuan tanyokan, ambo banamo Siti Rahimah, ayah banamo Rajo Makah, mandeh banama Siti Asiah. A wai dek Tuan urang Mudo tanyo lah Tuan sudah ambo jawek Tuan, kok pipatah jo urang Minang, kato biaso hasautan, panggang biaso babaliakkan, siapo namo Tuan kini, dimano kampuang jo halaman, siapo ayah bundo kanduang Tuan.”
Sanan manjawek Tuan Jumbang, "Mano dek kau si Rohimah, kalau nyo itu kau tanyokan, namo nan indak tantu lai, kampuang hilaman indak nyo jaleh, ambo banamo si Buruang Rimbo, anak bingkatak si bingkatai, anak singiang-ngiang rimbo, Indal tantu kampuang hilaman. Ambolah lamo dalam rimbo Rahimah, amboluh jamo urang tabuang, kini baitulah dek nyo kau Rahimah, di mano sumua cubo tunjuakkan kapado ambo Rahimah, nak ambo caliak sumua nyo kau, nak ambo cubo mambukak batu Rahimah, kok untuang tabukak batu nan gadang.”
Sinan manjawek si Rahimah, "Mano dek Tuan urang mudo, jelcbkan batu tabukak dek Tuan, dangakan bana yo riwayaik nyo, lah tigo bulan balun taangkek, lah tujuah ikua kabau bahantas, abih nagari baganti kampuang, itu banyak nyo mambukak hatu, Tuan, indak doh lanteh yo dek pikiran, indak doh sampai ‘lek angan ambo Tuan.”
244 [ 246 ]Sampai manjawek dek urang mudo, "Mano dikau si Rahimah, cubo tunjuakan kapado ambo, nak ambo cubo-cubo mambukak, talang bakecuik juo, talang batonggak batonggak juo." Sampai batunjukkan dek Rahimah, lalu bakato si Malin Jum- bang, "A wai dek kau si Rahimah, jikalau ka manunjuakkan ka ambo Rahimah, jan daulu kau bajalan, iyo kudian kau jalan Ra- himah."
Bana di hati si Rahimah, sampai manunjuakkan sumua si Rahimah, ganok sarantang rantang bajalan, cukuik duo rantang pajalanan, cukuik katigo rantang panjang, suatu lah tibo di sumua Rahimah. Iyo dicaliak dek si Jumbang, batu nan gadang bukan ka- palang, bukan kapalang basanyo batu, batu maimpik sumua Ra- himah, iyo rang kampuang mangaluakan, tigo bulan balun ka talok, sabalun nyo sampai ka batu, inyo kalilingi dek si Jumbang, limo minik mako nyo sampai. Tibo di tangah inyo manajat, sa- sudah itu mamintak kapado Allah, inyo badoa kapado Tuhan. Batu dijinjiang jo jari manih, nyo tulakan jo jari manang, tabang talambuang batu nan gadang, batulah tabang batu ka udaro, aia manyambua ka tangah padang, jawi jo bantiang iyolah nyo mi- num, pipik marpati iyo mangirai, iyo tacangang si Rahimah, urang kiramaik kironyo inyo, si Waliullah malah kironyo.
Sanan manjawek si Malin Jumbang, "Mano di kau si Rahi- mah pintaklah buliah kandak lah balaku, babaliaklah kau ka kam- puang kau, ambo nak baliak nak ka dalam rimbo."
Sampai manjawek si Rahimah, "Dangakan bana dek urang mudo, urang disirayo nan dibari nasi, urang diupah nan dibari pitih, itu nan iyo bapakai, nan bapakai iyo jak dahulu, adaik baisi limbago batuang, baitu adaik di Minangkabau."
Lalu manjawek si Malin Jumbang, "Ambo nan indak kau si- rayo, ambo nan indak iyo kau upah, ambo manolong karano Lillah, mintak lah buliah kandaklah balaku, baliaklah kau nan ka rumah kau, ambo nak baliak nan ka dalam rimbo."
Sampai manangih malah nan kanduang sampai nyo pacik dek Siti Rahimah, "Mano dek kau Siti Rahimah, jan doh ambo nan kau pacik, cando bana pandangan urang, kau saurang nak urang rajo, ambo saurang nak urang rimbo, anak bingkatak anak bing- katau, anak singiang lai ngiang rimbo, babaliaklah kau ka kam- puang kau."
Sampai manangih, Siti Rahimah, sadang manangih lalu ba-
235
[ 247 ]kato, "ratok Rahimah lah babuah-buah, ratok Rahimah lai ma-
nindiak-nindiak,
Patuiklah bana tolong ka rimbo
alah babungo lai aua duri
patuik tak namuah Tuan dibao
caliak dek Tuan si badan diri.
Tuan pun ameh ambo pun loyang, patuik tak namuah iyo nyo samo, iyo Tuan kanduang ambo, urang mudo, kalau tak na- muah Tuan dibao, pado bacarai baputiah mato, bia ka bacarai baputiah tulang. Iko lai pisau lai ambo bao, amuak lah ambo dek Tuan di siko, pado bacarai yo kito di siko, bia bacarai nyawo di badan, pulanglah pulang kito daulu."
Sampai manangih Siti Rahimah, dalam barundiang-rundiang juo, sampai manjawek si Malin Jumbang, "Indak lah patuik ta- lang ka rimbo, alah barubah daun pariak, indak doh patuik ambo dibawo, kau saurang lain nak urang rajo, ambo nak urang nan ka tangah tabek, anak singiang lai ngiang rimbo."
Mandangakan kato si urang mudo, lalu bakato Siti Rahimah, pisau dibukak dek Rahimah, sampai nyo sewek dek Tuan kan- duang, lalu bakato si Malin Jumbang, "A wai dikau Siti Rahimah, pado dikau baramuak diri Rahimah, bia den antaan kau nyo pu- lang, bajalan lah kau kudian, ambo bajalan yo daulu, dari bala- kang tunjukan jalan, baitu adaik urang laki bini, baitu sarak nan maukum Rahimah, baitu adaik mangatokan."
Lalu manjawek Siti Rahimah, "Pintak buliah kandak balaku."
Sampai bajalan nyo baduo, dari balakang ditunjuakkan jalan, yo dek lamo lambek bajalan, lah tigo rantang yo pajalanan, Allah Taala pulo manggarakkan. Suatu lah tibo di tangah jalan, bakeh Jumbang bacacancang daulu, bakeh si Jumbang bapotong daulu, Allah Taala pulo mauntuangkan, ukatu luhua nan lah tibo, lalu bakato urang mudo, "Mano dikau hai si Rahimah, wakatu luhua nanlah tibo, Rahimah sumbahyang lah kito nan daulu." Sanan manjawek si Rahimah, "Mano ai Tuan si urang muao, kalau di siko kito sumbayang, di mano kito ka bauduak, kito nan sadang di tangah padang Tuan."
Sanan manjawek yo urang mudo, "Iyo baranti kito di siko
236
[ 248 ]Rahimah, iyo sumbayang kito daulu, aia nan indak guno diru
rusuahkan, Rahimah, Alalh Taala pangasiah panyayang, tanah tabanam tujuah kamudi Rahimah, aia menyambua di tangah pa- dang, alah tabuang tilago pulo.'
Heran tapikia si Rahimah, sampai manyambua aia di sanan, tapak si Jumbang dicancang juo, tangah si Jumbang didayo guru, lalu sumbayang di tangah padang, anyo bauduak si Rahimah. Suatulah sudah Rahimah bauduak, bauduak pulo si Malin Jum- bang. Suatulah sudah bauduak kaduonyo baimamlah di tangah padang, sampai sumbayang kaduonyo. Rahimah mangikuik dari balakang, ayo Rahimah mangikuik pulo, sakali Rahimah mang- ikuik si Jumbang, tagak si Jumbang tagaklah kayu dalam rimbo, rukuak si Jumbang rukuaklah kayu, sujuik si Jumbang sujuiklah kayu.
Kaba dialiah ka Iman Mudo, eten di Kubuang Tigo Baleh, kanduang sabatang nan lah sujuik pulo, di laman surau Tan Iman Mudo, takajuik Tan Iman di ateh surau, nan talah sudah Tan Iman Mudo, sampai nyo panjek kanduang nan sabatang, inyo ma- mandang ka dalam rimbo, kayu di rimbolah sujuik samonyo, da- gang nan banyak mamandang pulo, sampai barenggeh di dahan ka- yu, sampai mamandang di dalam rimbo, sadang bakato Tan Iman Mudo, "Mano kalian dagang nan banyak, mungkinnyo iduik ma- lang cilako, mungkinnyo duduak si Malin Jumbang, mungkinnyo duduak si Malin Jumbang, mungkinnyo sumbayang di dalam rim- bo."
Lah tibo inyo samonyo, Allah Taala lah manggarakkan, sam- pai lah sudah Jumbang sumbayang, kayu lah tagak kasadonyo. Kanduang nan sabatanglah tagak pulo, sampainyo tating Tan Iman Mudo, idung dibao ka pucuak kayu, dagang dibao ka ran- tiang kayu, Jumbanglah sudah inyo sumbayang, Iman lah jadi siamang ungko, dagang nan banyak jadi karanggo, itulah baleh- nyo dayo mandayo.
Jumbang bajalan anyo lai, Jumbang bajalan iyo jo Rahimah, eten manuju kampuang Rahimah. Iyolah lamo lambek bajalan, ganok sarantang rantang di jalan, cukuik duo rantang yo paja- lanan, iyo kok ampiang ka rumah Rahimah, sampai manitah du- balang nan tuo, lalu bakato panjago rajo, "Mano dikau Siti Rahi- mah, cilako bana kau Rahimah, awak saurang oi anak rajo, kini siapo nan kau bao Rahimah, anak bingkatak anak bingkatau, anak
237
[ 249 ]singiyang-ngiyang rimbo, elok dibunuah nak nyo mati, elok den
pancuang lakeh sugiro Rahimah, urang nan kau bao."
Sanan manjawek si Rahimah, "Mano di tuan, dubalang nan tuo, usah nak urang dipancuang sajo, usua pareso yo dahulu, kalaulah inyo kan dipancuang, kalau wa inyo kan waang bunuah, bialah den bunuah dek waang, usua pareso labiah dahulu."
Padang disewek dek Rahimah, "Mano waang dubalang tuo, mulonyo urang kan di bao, bukan taingkeh taingkeh sajo, jasonyo baiak kapado ambo, lah tigo bulan sumua diimpik batu, indak sa- urang nan kan tabukak, dek urang mudo yo la tabukak, aialah manyambua lah di tangah padang, jawi jo bantiang alah minum, itiak marpati mangirai bulu, jasonyo labiah kapado ambo, itu dek sobaik ambo, itu dek ambo bao, anta jo apo jaso kan dibaleh."
Lalu bakato duhalang nan tuo, "Mano dek kau si Rahimah, kalau baitu kato urang nan tau, baolah inyo lakeh sugiro, untuang baiak kapado kito." Rahimah bajalan dari sinan, Rahimah bajalan jo urang mudo, lalu bajalan dari sanan, ganok sarantang rantang di jalan, cukuik katigo rantang panjang. Suatulah tibo di halaman rumah, iyo lah tampak dek ayah Rahimah, padang diambiak sugi- ro, padang diambiak dek ayah Rahimah, inyo balari ka tangah ha- laman, "Citako bana kau Rahimah, awak saurang nak urang rajo, urang tamusahua di dalam nagari, Rahimah, kini mambao nak urang rimbo, nak bingkatak anak bingkatau, anak singiyang ngi- yung rimbo, urang nan dapek di dalam kubangan Rahimah, urang cilako nan kau bao."
Sanan manjawek si Rahimah, "A wai di Ayah kanduang Ambo, dangakan bana dek Ayah kanduang, dangakan bana yo ja- leh-jaleh, dangakan bana batua-batua, bukan urang rimbo nan ambo hawo, bukan nyo urang anak bingkatak ai yo Ayah, indak- nyo urang si ngiang rimbo, indaknyo dapek dalam kubangan, urang bajaso kapado kito. Lah tigo bulan sumuanyo kito Ayah, yo diimpok batu gadang, indak tabukak dek urang basamo yo Ayah, kinilahı tabukak sumua nan gadang, tuan sorang mambukak- nyo Ayah, urang mudo iko nan mambukak. Jasonyo baiak kapado kito, itu dek sabab nan ambo bao, kalau nyo inyo kan Ayah bu- nuah Ayah, kalaunyo inyo kan Ayah pancuang, bialah ambo pan- tung dek Ayah, pado Ayah ambo baputiah mato, bialah ambo ba- putiah tulang Ayah."
Sanan manjawek ayah Rahimah, "Mano nak kanduang si
238
[ 250 ]jantuang hati Nak, a wai Nak kanduang si biran tulang, kalau baitu
kato kau Rahimah, baolah tuan kau nan ka rumah, baolah iyo naiak ka rumah, basuah kaki ai tuan kau, ambiak lah aia di kuan ameh Rahimah, jasonyo baiak kapado kito."
Sanan manjawek si Rahimah, "Ayah kanduang jonyo ambo, kalau baitu kato Ayah Yah, usua pareso labiah dahulu, usah takaca banang bagomok ayah, usah lah ayah balantai padi.
"Kini baitu dek Rahimah Nak, baolah tuan kau ka rumah, ambiak lah aia di kuan ameh Rahimah, basuah kaki si tuan kau."
Sanan manjawek urang mudo, "Mano dek kau si Rahimah kaulah tibo di rumah kau Rahimah, ambo nan indak naiak ka rumah, naiaklah kau ka rumah kau Ranimah, ambo nak baliak ka dalam rimbo, ambo saurang nan urang rimbo Rahimah, anak bingkatak anak bingkatau, anak singiyang ngiyang rimbo Rahimah, ambo nan gadang dalam kubangan, kini kau naiak ka rumah rajo Rahimah, cando bana pandangan urang."
Sanan manjawek si Rahimah, "A wai dek Tuan urang mudo, bukan digala pandan baduri Tuan, alahnyo rabah yo batugakan, bukan dek salah si badan diri Tuan, iyo nan salah tanyo. Naiaklah kito ka ateh rumah Tuan, naiaklah Tuan ka batu tapaan, nak ambo basuah kaki Tuan ai."
Capak manjawek jo urang mudo, "Kini baitu dek Rahimah ai, rilakan bana jariah payah kau, ambo nak baliak ka dalam rim- bo Rahimah, tinggalah kau di kampuang kau, ambo indak biaso dibasuahkan kaki Rahimah, ambo biaso di dalam aia, ambo indak biaso naiak ka rumah Rahimah, ambo biaso di dalam rimbo."
Dalam baunjuak baunjuik juo, sampai manangih Siti Rahi- mah, "Mano dek Tuan si urang mudo, kalaunyo Tuan indak na- muah naiak, pado bacarai baputiah mato Tuan, bia bacarai bapu- tiah tulang, dangakan bana dek urang mudo bia baramuak ambo di siko." Padang dicabuik dek Rahimah, padang ditaiak dek urang mudo,
"Usah di padi dirunduakkan Rahimah
alah babungo daun jilatang
usah do hati dipaturuikkan Rahimah,
iyo ka naiak ka rumah nan gadang."
Dalam baunjuik barundiang juo, sampailah naiak si Malin
239
[ 251 ]Jumbang, suatulah tibo di dalam rumah, Jumbang indak namuah.
duduak di tangah, inyolah duduak ka dalam parien, sanan bakato Siti Rahimah, "Mano dek Tuan urang mudo Tuan, jan di siko Tuan duduak, cando bana pandangan urang Tuan."
"Mano dek kau si Rahimah, bia di siko ambo duduak Ra- himah, cando bana ambo ka tangah, ambo biaso di ateh batu Rahimah, ambo biaso dalam kubangan, anak bingkatak anak si ngiyang ngiyang rimbo, ka duduak pulo ka rumah rajo Rahimah, cando bak bana pandangan urang.”
Lalu bakato ayah Rahimah, "Mano Nak kanduang urang mu- do, jan di siko waang duduak, kini lah sudah pasadioan, kurisi ameh lah talatak iyo ka mari waang duduak."
"Mano jo Ayah denai ambo Ayah, ambo indak biaso duduak di tangah, ambo biaso di ateh batu Ayah, ambo biaso di dalam rimbo, ambo saurang anak urang rimbo Ayah, anak bingkatak anak bingkatau, anak si ngiang-ngiang rimbo, Ayah, ambo biaso dalam kubangan, kinikan duduak ka rumah rajo Ayah, cando bana pandangan urang."
Dalam baunjuik baulai juo, sampai bakato Siti Rahimah, "Mano dek Tuan urang mudo Tuan, jikalau tak namuah Tuan ka tangah, pado bacarai baputiah mato Tuan, bia bacarai baputiah tulang, iko lai padang dibao Tuan, baramuak ambo nyo lai di siko,"
Mandanga kato si Rahimah, sampai duduak si Malin Jum- hang, anyo lai ansua duduak ka tangah. Lalu bakato ayah Rahi- mah, "Mano Nak kanduang si jantuang hati Rahimah, mano Nak kanduang sibiran tulang, bana dek kau si Rahimah, dangakan bana pituah ayah, urang batanyo lapeh urak Rahimah, urang barundiang sudah makan, baitu adaik nan bapakai nak, baitu sarak yo nan la- zim, ambiak lah aia dek tuan kau Rahimah, ambiak nasi yo lah dek inyo, sasudah minun jo makan, baru kito barundiang lai."
Bana di hati Siti Rahimah, aia diambiak lah dicangkia, nasi diambiak yo di piriang, sanan manitah si Malin Jumbang. "A wai di kau si Rahimah, ambo indak biaso minun di cangkia, ambo biaso minun di sayak yo Rahimah, ambo indak biaso makan di piriang, ambo biaso makan di daun Rahimah, ambo biaso di dalam rimbo, kini lah naiak di rumah rajo Rahimah, cando bana pandangan urang."
Dalam baunuak-baulai juo, dalam babincang babilai juo,
240
[ 252 ]sampailah minun si Malin Jumbang, sampailah minum sampailah
makan, makan sasuok lai duo suok, sadang makan lalu bakato, lalu bakato si Rahimah,
"Padi si puluik rimbun daun,
padi si arang nan daun mudo,
asa lai namuah Tuan yo minun,
bia lai namuah jo makan, bialah kito iyo sadaun."
"A wai di kau Siti Rahimah, cando babana pandangan urang, kau saurang nak urang rajo ambo saurang nak urang rimbo, kan baduo iyo sadaun bak bana pandangan urang."
Sampai iyo makan si Malin Jumbang, makan sasuok lah duo suok, cukuik katigo anyo baranti. Suatu lah sudah minun jo makan, rundiang nyo sabuik dek ayah Rahimah. Lalu bakato ayah Rahimah, "Mano nak kanduang si urang mudo, urang batanyo lai lapeh arak, urang barundiang sasudah makan, kini yo jawek yo tanyo ambo, ambo batanyo basiluruih sajo."
Lalu manjawek si urang mudo, "Mano lai Ayah iyo urang rajo, kini baitu lah dek Ayah, sabalun gayuang kan ambo sambuik, sabalun kato ka ambo jawek, barilah izin ambo daulu, sabab lah sudah iyo minun jo makan, mukasuik lah sampai diama lah pacah, manuruik adaik di Minangkabau, pai iyo nan jo rundiangan, iyo nak pulang iyo ka tangah padang, duduaknyo ambo nak maurak selo, tagak ambo maayun langkah, rilakan bana aia nan taminun, sukokan bana nasi nan tamakan, ambo nak baliak ka dalam rimbo, ambo nak baliak ka tangah rimbo, ambo yo lah lamo yo dalam rimbo, mako dimabuak yo parasaian."
Sanan manjawek ayah si Rahimah, "Kandak nan balun yo ka balaku, pintak nan balun yo kan dibari, tanyo nan balun yo kan dijawek, barek nan balun yo kan waang irik."
"Awai dek Ayah si rajo Makah, tanyo nan tidak yo kan ta- jawek, pareso nan tidak ka baawasi, ambo nak urang rimbo, anak bingkatak anak bingkatau, anak si ngiang-ngiang rimbo, kini manjawek yo kato rajo, elok babaliak ambo daulu."
Tangan dipacik dek ayah Rahimah, "Mano dek waang yo urang mudo, baitu adaik nan kito pakai, urang diupah dibari pitih, urang disarayo dibari nasi, pareso nan balun waang jawek, waang
241
[ 253 ]nan balun buliah pai dek ambo. Kini baitu dek urang mudo,
waang di siko anyo daulu, anak den surang iyolah baduo, sikua jantan sikua batino. Waang indak buliah yo pai lai, waang di siko batahan dahulu, badan tapawuik nan indak baliak."
Sinan manjawek si urang mudo, "Jikalau ambo tak buliah pai, jikalau ambo tatap di siko, cando bak bana pandangan orang, ambo saurang urang mudo, anak bingkatak anak bingkatai, anak singiang-ngiang rimbo, ka diam pulo di rumah rajo, candolah bana pandangan urang."
Dalam baunyan baunyai juo Jumbang dipegang dek ayah Rahimah, Jumbang ditahan dek ayah Rahimah, suatu ditahan si Malin Jumbang, Jumbang lah diam di rumah rajo. Alah saari lak duo ari, alah sapakan lah duo pakan, alah sabulan lah duo bulan, lah tigo bulan Jumbang di sinan. Lalu batanyo dek ayah Rahi- mah, "Barilah luruih ambo batanyo, siapo namo urang mudo ai, di mano kampuang halaman, siapo ayah bundo kanduang Nak, bari yo luruih ambo batanyo."
"Mano jo Ayah Rajo Makah, kalau itu Ayah tanyokan, ambo banamo nak urang rimbo, anak bingkatak anak bingkatai, anak si ngiang-ngiang rimbo, diam ambo dalam kubangan, Ayah pun tidak mandeh pun tidak Ayah, ambolah lameh di dalam rimbo."
Heran tacangang ayah Rahimah, imbau nan indak basauti, kato nan indak bajawati. Sanan batanyo ayah Rahimah, "Mano Nak kanduang si jantuang hati, mano Nak kanduang si biran tu- lang, Nak, a wai Nak kanduang si urang mudo, anak den surang lah baduo, sikua jantan sikua batino, bari jo luruih ambo ba- tanyo, siapo namo buyuang kini ai, di mano kampung jo hila- man, siapo ayah bundo kanduang Nak, supayo nak sanang hati di dalam, supayo nak suni di kiro-kiro, barilah jaleh tanyo ambo."
Sinan manjawek si urang mudo, "Mano dek AyahRajo Makah, kalau nyo namo Ayah tanyokan, ambo banamo si Buyuang Rimbo, kalaunyo kampuang ambo Ayah tanyokan, indak jaleh jo nyo tahu, kalau nyo Ayah nan ditanyokan, Ayah, ayah kanduang tidak- lah tantu Ayah, ambolah lamo ka dalam rimbo, ambolah lameh urang tabuang Ayah, ambolah lamo di dalam rimbo."
Sanan manjawek ayah Rahimah, "Kalau yo baitu jawek ta- tanyo waang, waang nan indak buliah pai, waang di sikolah da- ulu."
"Kalau baitu kato Ayah, Yah, bana di dalam jo ati ambo, alah
242
[ 254 ]sahari lah duo hari, alah sabulan duo bulan, alah satahun duo
tahun."
Lah tigo tahun Jumbang di sanan, lalu bakato ayah Rahi- mah, "Ayah batanyo ka si anak kanduang. Mano Nak kanduang Siti Rahimah, bari yo luruih ambo batanyo Rahimah, ambo ba- tanyo basiluruih sajo, anak den ketek alah gadang Rahimah, ma- nuruik adaik patatah Minang, alah sabalik patai dek buah, sajak ketek ambo gadangkan, ambo lah patuikkan minantu Rahimah, siapo yo ka jodo kau, bari jo luruih ambo batanyo Rahimah.
Sanan manjawek Siti Rahimah, "Kalau baitu tanyo Ayah, Yah kato nan indak patuik dek ambo, kato nan patuik caliak dahulu. Ayah, dangakan bana dek Ayah kanduang. Kalau baitu nan dek Ayah, mintak bak raso lai ka buliah, kandak bak raso lai ka balaku Ayah, pukua dek Ayah tabuah larangan. Bakumpua urang dalam nagari, bakumpua urang datang ka mari, adaik anak rajo mancari tunangan, caliak dahulu ka tukang tanuang, cari dahulu dalam tareh Ayah, tantu daulu nan ka mamamakai, sinannyo rundiang mako patuik Ayah, sinan kato jo ka dijawek, anak yo urang, kato Jumbang."
Lalu lacuik tabuah larangan, takajuik urang dalam nagari, baumpua urang dalam kampuang, bakumpua urang ka rumah rajo, lalu manitah dubalang nan tuo. "Ampunlah sayo tepak ambo, apo dek sabab tabuah bagua, di mano rando dapek malu, di ma- no cakak nan indak balarai." Lahnyo sabuik ka samuonyo, Jum- bang manyimak nan dikato, sampai manjawek ayah Rahimah, "Mako tabuah iyo dek bagua, mako tabuah dek babunian, iyo ambo nak bapitua, anak den ketek yolah gadang, iyo lah patuik bajunjuangan, kini baitu dek kalian, iyolah ambo kan batanyo, cubolah japuik tukang tanuang, cubolah cari tukang tareh, buliah dicarikan namo hurufnyo, jauah adaik di Minangkabau."
Bana di hati dubalang nan tuo, sampai dijapuik ka tukang tanuang, lah bajapuiknyo tukang tanuang, bana di hati kaduonyo, sampailah hadie basamo-samo, lalu manitah Bajo Makah," Mano kalian tukang tanuang, mano kalian tukang tareh, cubolah liek namo hurufnyo, cubolah liek dalam tareh, janjang nak tantu den naiakkan, bandua nak tantu kan den manapiak, adaik den isi lim- bago batuang."
Bana di hati tukang tanuang, bana di hati tukang tareh, sato dilihek namo hurufnyo, sampai diliek dalam tareh, sato basuo
243
[ 255 ]saluruahnyo, sampai hakato si tukang tanuang, "Ampun Tuangku
rajo ambo, kalau baitu kato Tuangku, pintak bak raso lai ka bu- liah, kandak baraso lai ka balaku, kini baitu dek rajo kami. Kalau baitu mukasuik angku, dangakan bana ambo katokan. Kawannyo rajo yo rajo pulo, lawan dubalang yo dubalang pulo, lawan nyo puti yo puti pulo, kalau jodoan Siti Rahimah, kalau nyo itu ambo tarehkan, urang banamo si Malin Jumbang, ayah banamo Bandari Ijau, mandeh banamo Kasua Tabantang, antah di mano kampuang halaman, cubo lah tingkek janjang inyo, cubolah tapiak bandua- nyo urang."
Iyo kaua tuan ayah Rahimah, sakali balun duo kali balun, iyo nan tasuo bacando itu. Sampai manjawek ayah Rahimah, "Kalau baitu kato kalian, panduto bana bunyi undiannyo, tidak lah tantu nan saulang juo, indak basuo sakali juo, kini baitu dek kalian, gualah tabuah nan saulang lai, kumpuan rajo lai sado rajo, panggialah puti samo puti, supayo kaluan urang samonyo, sinan diliek sinan dipandang, sinan dicari jodoan Rahimah."
Bana di hati dubalang nan tuo, sampai diguguah tabuah la- rangan, bakumpualah rajo lai samo rajo, bakumpualah puti lai samo puti. Urang lah rami dalam ustano, rajo baalek lai tujuah hari, mancari jodoan lai Siti Rahimah. Rahimah mamakai pa- kayan rajo, mamakai pakayan lai anak rajo, Rahimah diarak dalam undangan, iyo mamiliah jodoannyo. Satangah rajo iyolah mama- kai, satangah rajo iyo basisampiang, satangah rajo iyo manangih. Rahimah mamakai di dalam karando, inyo maliek di dalam ka- rado, sabanyak itu urang elakan, indak katuju deknyo surang juo. Bangih di hati ayah Rahimah, pitihlah habih dek baralek mukasuik nan indak kunjuang sampai, iyo nan diama nan indak pacah.
Rahimah dipanggia saulang lai, lalu batanyo dek ayah kan- duang. Rahimah batanyo dek ayah kanduang, iyo batanyo bajaleh, "Mano nak kanduang Siti Rahimah, sabanyak itu urang diundang Rahimah, surang nan tidak katuju dek kau, iyo malang bana kau Rahimah, kini bak itulah dek nak kanduang, cubo tunjuakkan kato nan bana Rahimah, cubo tarangkan sado ado, cubo kaluakan batua batua Rahimah, nak tantu den maningkek janjang."
"Mano dek Ayah kanduang ambo Ayah kalau itu Ayah tanyo- kan, kalaunyo itu Ayah pareso Ayah, alah itu tujuan Ayah, pacah parahu lelo mudo Ayah, pacah malimpah yo ka tapian, mako sabulan di rahim bundo Ayah, untuang lah sudah jo bagian, nasib
244
[ 256 ]jo paruntuangan ayah, aja mati kalamullah, di mano untuang ma-
imbaukan Ayah sinan nasib dituang, untuanglah sudah jo bagian Ayah. Sabanyak itu urang, diundang indak tacinto sorang juo Ayah. ciek nyo nan tacinto dek badan diri, iyo nan datang dari rimbo yo Ayah, urang nan ambo bao di tangah padang, itu tasurek di pa- runtuangan ambo Ayah, ujuik satu yo takadia, itu urang nyo nan basuo Ayah, dalam rahim yo nan sabulan."
Sampai manangih ayah Rahimah, "Taharak horaahulu, kalau baitu dek Rahimah, cubo den usua jo pareso, mari den tanyo nan daulu."
Sanan mananti Siti Rahimah. Lalu batanyo ayah Rahimah; sampai nyo yo urang mudo, "Mano Nak kanduang yo rang mudo, pado Nak kanduang rang mudo ai, barilah luruih ambo batanyo, indak do deyen kabapanjang tanyo, rang mudo, sajak ketek kau den gadangkan, lah tigo tahun waang di siko, dangakan bana dek urang mudo. Kalau ditiliak Rahimah lah gadang nak urang, nyo lah patuik basuami, alah den carikan jodoan inyo Nak, urang, alah nan indak nan tunangnyo, indak tacinto saurang juo nak urang, kini waang yo nan tacinto, suratan Tuhan takadia Allah, nak urang, waang den kawinkan jo Rahimah."
Sanan jawek yo rang mudo, "Mano dek Ayah kanduang am- bo, ambo saurang nak urang rimbo Ayah, anak tak tahu tanah tapi, anak singiang-ngiang rimbo ambo nan dapek dalam kubangan, ka kawin pulo jo anak rajo Ayah, cando bana pandangan urang, lawan kan ado nan anak rajo Ayah, lawan nyo puti samo puti, cari daulu kan nan lain Yah indak lah ambo patuik jo inyo."
"Kini baitu lah dek rang mudo, sadangkan rajo aden sajo, indaklah namuah ang jo Rahimah, dari pado kami baputiah mato, bia nak baputiah tulang, waang den pancuang sakarang kini."
Lalu manjawek urang rimbo, "Dangakan bana dek Ayah kan- duang. Pancuang nan indak sakali sudah Ayah, kato nan indak sakali putuih, cubo bapikia ambo daulu Ayah, ambo bari janji Ayah daulu basuo bana pituah Ayah, Yah;
Tenggi bukik buliah didaki
dalam lurah batalo-talo, Yah
urang ulik buliah dinanti
kok urang andak apo kadayo Yah."
245
[ 257 ]Rundiang putuih kato lah sudah, rundiang dijawek dek urang
mudo, rundiang sudah bicaro sampai, iyo rundiang jo ayah Rahi- mah. Kan iyo baduo jo rang mudo, sampai nyo pakaian si Malin Jumbang, sampai nyo bao ka undangan, lah nyo sandiangan jo Rahimah. Sabanyak itu rajo diundang, tidak sarancak nak urang rimbo, tidak sarancak urang nan dibao, rundiangan putuih bicaro sampai.
Samulo ditarimo nak urang rimbo, kironyo anak urang rajo pulo, anak urang rajo si Kamang Dalam, etan di Kubang yo gu- nuang nan tigo, basuo pulo ai dalam tareh, tabukak rasio dalam rasian, rasio nan indak kan urang bukak, rasio tabukak di dalam hati, rajo nan banyak lah pai sajo, maliek urang yo nan dibao, urang nan rami lah usai sajo, lah inggok sajo nan bak langau, iyo dikawinkan jo Rahimah.
Sanan bakato urang mudo, "Mano di Ayah kanduang ambo, kalau yo yo ambo kawin jo Rahimah, darah nan balun satampuak pinang, umua nan balun satahun jaguang, kalau salah tolong tun- juakkan, kalau baubah yo bairih Yah." Rajo manitah samaso itu. Sabab kadiagiahan ka urang mudo, iyo minantu kan jadi rajo."
Sanan bakato ayah kanduang, "Pintak buliah kandak lan balaku."
Alek dibuek dalam nagari, tujuah hari yo tujuah malam, iyo nan jauah surek talayang ai, iyo nan ampiang manatiang siriah, iyo dipanggie rajo-rajo, iyo dipanggie puti.
Surek talayang ka Kampuang Surau, anak iman yo iman Mudo. Surek dijawek dek Mambang Surau. Baru dibaco surek nan datang, alah asirok darah di dado, di rambuang badan ko, surek nan datang dari Rahimah, surek baralek dalam nagari. Padi taserak dalam aia, iyo tasaru dalam mimpi, lah tujuah tahun pa- menan ilang, kini tasirok di dalam ati. "Elok den pai lakeh sugiro, elok jauah yo nan dijalang, yo nan ampiang yo disilau, dangakan bana yo dek guru." Mambang bajalan dari rumah, Mambang bajalan ka kampuang Rahimah, alah saari lah duo hari, alah sapa- kan lah duo pakan, alah sabulan lah duo bulan, lah tigo bulan Jamo bajalan, iyo manuju ka Si Rahimah, Rahimah kan iyo bajunjuangan.
Adok kapado suatu hari, hari elok kutiko nan baiak, sadang basuo dek si Mambang, iyo kampuang barumah rajo, iyo rumah rajo sadang bauni, lah tigo bulan sudah baralek, didapati Siti Ra-
246
[ 258 ]himah sadang menyapu-nyapu laman, sadang mahiasi bungo di
laman, lalu manitah si Mambang Surau, "Mano di kau si urang mudo, barilah luruih ambo batanyo, ambo batanyo siluruih sajo. Mano di kau si urang mudo, ambo batanyo siluruih sajo. Kam- puang di mano urang baralek, iyo di siko kampuang kau, bari nyo luruih ambo batanyo?"
Sanan manjawek si Rahimah, "Mano di kau urang mudo, anak mudo nan baru tibo, iyo di siko urang baralek, apo kaba mintak jalehkan. Jiko manjapuik siurang mudo, kau tak buliah mandakek ka mari, inyo tu lah jadi laki den. Anak cilako kau mah kironyo, iyo manampuah ka rumah ambo."
Lalu manjawek si Mambang Surau, "Mano di kau Siti Ra- himah, bukan nyo ambo urang nan dareh Rahimah, ka mandareh ambo sabanta, indak si ngiang-ngiang rimbo Rahimah, ambo man- dapek kaba-kabeh, ambiak dek kau ka suami Rahimah, dek ambo ka ambiak kan junjungan, iyo nan elok samo dipakai Rahimah, nan buruak samo kito buang, baitu adaik limbago nyo Rahimah." Hanyo manjawek Siti Rahimah, "Urang cilako dagang ka mari, urang nan sasek dari dalam rimbo."
Lalu mandakek si Mambang Surau, "Mano di kau Siti Ra- himah, di mano nyo Jumbang Malin Muhammad, di mano inyo kau surukkan, itu nyo urang ambo nan tahu, Rahimah, sajak ke- tek ambo manggadangkan, kalau yo adaik limbagonyo, kalau adaik inyo iyo den gadangkan, kau mandapek yo suami Rahimah, ambo mandapek yo junjuangan, iyo nan elok samo dipakai Rahi- mah, nan buruak samo kito buang.”
Padang diambiak dek Rahimah, inyo ka amuak si Mambang Surau, "Cilako bana kau mah Mambang, urang rimbo iyo datang ka mari." Padang diayun dek Rahimah, lalu manikam si Mambang Surau.
"Kau manikam tahu asa nyo Rahimah, ambo tahu ayah bun- do nyo, dangakan bana dek Rahimah. Jumbang rang suruah pai badagang, anak si Kabau-kabau Tenggi, inyo mangaji di dangau ambo, alun tabaleh Lawang Kuniang, etan di Kubung nan Tigo Baleh. Ambiak dek kau ka suami Rahimah, dek ambo, ambo am- biak ka junjuangan, baduo kito mamakainyo Rahimah."
Lalu diambiak padang dek Rahimah, lalu bakato si Rahimah, Inyo ambiak padang jinawi, anyo pancuang si Mambang Surau, pancuang partamo inyo ilakan, sampai patah padang jinawi. Pa-
247
[ 259 ]dang jinawi lah patah tigo, nyo ambiak pulang si rencong Aceh,
lalu nyo amuak si Mambang Surau, anyo ilakan dek si Mambang, tabanam yo ka tanah. Anyo diambiak dek si Mambang Surau. "Kini baitu dek Rahimah, dangakan bana dek Rahimah, dangakan bana ambo badakwa Rahimah. Kini kau mamakai urang mudo, jan lah lamo baduto-duto Rahimah, ambo nan tahu asa mulonyo, urang si Tujuah Banda Dalam Rahimah, anak dek Datuak Bandaro Ijau, urang nan rajo asa mulo nyo Rahimah, urang nan rajo di Kampuang Nan Tigo. Inyo baduo badunsanak Rahimah, adiak banamo Malere Suri, mandeh jo ayah nan ambo danga Rahimah, iyo baduo kito mamakai nyo, iyo nan elok samo dipakai Rahimah, iyo nan buruak samo kito buang, baitu adaik limbagonyo Rahimah."
Bangih di hati si Rahimah, lah inyo tikam saulang lai, lalu bakato si Mambang Surau. Rencong nyo sambuik dek si Mam- bag, lalu bakato si Mambang, "Mano di kau si Rahimah, dangakan bana dek Rahimah."
Lalu batanyo ka batanyo, Mambang lan tibo kamambaleh, "Kini yo ambo ka mambaleh Rahimah, rilakan bana nyawo dek Rahimah, bacubo bana badan ka sudah Rahimah, dunia tak dapek kau liek lai."
Bangih di hati si Rahimah, anyo ulang saulang lai, alah nyo tikam si Mambang Surau, lah nyo tikam jo rencong Aceh, lah ampek kali Mambang nyo tikam, anyo ilakan dek si Mambang, cukuik ka limo inyo mamancuang anyo tikam jo suduik mato, alahnyo tikam Siti Rahimah, padang manasok di lia Rahimah. Renconglah makan di paruik Rahimah, lalu tadabuak Siti Rahi- mah. Rahimah lah mati tangah hilaman, iyo Allah mangabuakan, Rahimah tadabuak di halaman, Mambang lah naiak yo ma maligai, Mambang lah naiak ka dalam biliak.
Satalah tibo di mahligai lalu manitah si Mambang Surau, "Mano nyo si Malin Jumbang, lah tujuah tahun den nantian, kini bakiro yo waang di siko, Jumbang, turunlah waang ka tangah hi- laman, iyo bini ang iyolah mati, Jumbang, kanai dituriah si ren- cong Aceh, kini dek waang baitu pulo Jumbang, satu duo ka waang piliah, kalau namuah waang kan iduik, kaduo waang ka mati, turunlah waang dari mahligai, Jumbang, kalau ka mati waang di siko, pado nyo den baputiah mato, Jumbang, elok lah kito baputiah hati."
248
[ 260 ]Jumbang diirik dek Mambang Surau, lah nyo elok ka tangah
ilaman, iyo maliek Siti Rahimah,. Rahimah lah mati di tangah ilaman, lalu bakato si Mambang Surau, "Cubo dangakan dek waang Jumbang, waang den bao sakarang kini, waang den bao ka Lawang Kuniang, kalau den inok-inok juo Jumbang, ingek lah janji di Lawang Kuniang, indak ado urang mamarentah Jumbang. Jumbangkan mamarenth di Lawang Kuniang, niaik di sinan di- sampaikan Jumbang, kaua di sinan kito laksanokan."
Jumbang dibao dek Mambang Surau, Jumbang dibao ka La- wang Kuniang, Rahimah mati lah ditinggakan, Jumbang dibao dek Mambang Surau, lah nyo bao ka Lawang Kuniang. Niaik di situ disampaikan Jumbang babaliak ka Lawang Kuniang, samo babaliak nyo baduo, ayam nan pulang ka pauiktan, bajapuik nan tabao.
249
[ 261 ]PERPUSTAKAAN BALAI BAHASA
Pengarang: Bakar, Jamil Judul: Kaba Minang
Call: 899.223 13 NIB: 5186/H/2001/X:3(4)