Magek Manandin
[ 1 ]MAGEK MANANDIN Dituliskan Oleh: Sutan Pangaduan
Diterjemahkan Oleh: Fitria Dewi
BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA BARAT [ 2 ]MAGEK MANANDIN
Dituliskan Oleh: Sutan Pangaduan
Diterjemahkan Oleh: Fitria Dewi

BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
TAHUN 2021
Penanggung Jawab : Kepala Balai Bahasa
- Provinsi Sumatera Barat
Dituliskan Oleh : Sutan Pangaduan Diterjemahkan Oleh : Fitria Dewi Konsultan Penerjemahan: B. Andioska Sekretaris : Herlinda
- Fajril Kamil
Redaktur : Joni Syahputra Tata Letak : Alvi Rianto Putra Desain Sampul : Cikie Wahab
CETAKAN PERTAMA TAHUN 2021
Diterbitkan pertama kali oleh
Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat
Jalan Simpang Alai, Cupak Tangah, Pauh Limo
Padang, 25162
Telepon (0751) 776789
Faksimile (0751) 776788
Pos-el : balaibahasa.sumbar@kemdikbud.go.id
Laman : balaibahasa_sumbar.kemdikbud.go.id
Katalog Dalam Terbitan
ISBN : 978-623-98669-1-4
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah [ 4 ]KATA PENGANTAR
KEPALA BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA BARAT
Alhamdulilah syukur penerjemahan Kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita rakyat ke bahasa Indonesia dalam rangka memerkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerjemahkan sebanyak 23 kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia.
Adapun kedua puluh tiga kaba tersebut yaitu, Kaba Si Umbuik Mudo, Kaba Sutan Lembak Tuah, Kaba Magek Manandin, Kaba Sabai Nan Aluih, Kaba Rambun Pamenan, Kaba Laksamana Hang Tuah, Kaba Tuanku Lareh Simawang, Kaba Si Sabariah, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Siti Risani, Kaba Cindua Mato, Kaba Si Buyuang Karuik, Kaba Malin Deman, Kaba Si Gadih Ranti, Kaba Puti Nilam Cayo, Kaba Bungo Talang Mamak, Kaba Siti Kalasun, Kaba Siti Baheran, Kaba Amai Cilako, Kaba Untuang Sudah, Kaba Puti Marintan Aluih, Kaba Angku Kapalo Sitalang, dan Kaba Rancak Dilabuah.
Buku ini ditujukan untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia, terutama bagi siswa SLTP dan SLTA, sebagai bahan pengayaan literasi. Dalam buku ini, kami menampilkan dwibahasa, bahasa Minangkabau kaba tersebut dan terjemahan bahasa Indonesia, [ 5 ]sehingga pembaca dapat ilmu yang lebih tentang bahasa sumber. Terkhusus buku ini, Magek Manandin, dituliskan oleh Sutan Pangaduan, diterbitkan pertama sekali oleh Tsamaratul Ichwan Bukittinggi dan dicetak ulang pada tahun 2018 oleh Kristal Multimedia.
Penerjemahan buku ini sendiri dilaksanakan oleh tim penerjemah dengan melibatkan konsultan dari berbagai kalangan. Baik tokoh adat, penulis, sastrawan, serta budayawan. Mereka adalah Baharuddin Andoeska, Dasril Ahmad, Gus tf Sakai, Iyut Fitra, Musra Dahrizal, Pinto Anugrah, Rommi Zarman, S. Metron, Sondri, Syuhendri, dan Yusrizal KW.
Sehubungan dengan itu, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penerjemah dan tim konsultan penerjemahan yang sudah bekerja keras sehingga buku ini hadir di tengah-tengah pembaca.
Mudah-mudahan buku Magek Manandin ini dapat dibaca oleh masyarakat umum. Terutama bagi kalangan pelajar seluruh Indonesia.
Padang, November 2021
Aminulatif, S.E., M.Pd.
ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN
Upaya penerjemahan kaba ke dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan setidaknya pada dua masa, yakni tahun 1880-an dan tahun 1920-an. Penerjemahan tahun 1880-an terjadi karena populernya cerita berbentuk hikayat yang sesuai sifatnya membutuhkan cerita-cerita anonim, sementara penerjemahan tahun 1920-an dilakukan untuk kebutuhan pertunjukan tonil, nama lain sandiwara, pada zaman penjajahan Belanda. Sutan Manangkerang (1885) dan Maninjau Ari (1891), misalnya, adalah contoh kaba yang pernah diterjemahkan sebagai hikayat, sedangkan kaba-kaba yang diterjemahkan sebagai tonil bisa dilihat pada kaba Cindua Mato (1924) atau Sabai Nan Aluih (1929).
Akan tetapi, bila dicermati, penerjemahan kaba dalam bentuk hikayat maupun untuk kebutuhan naskah dalam pementasan tonil, tidak bisa disebut sebagai penerjemahan kaba ke dalam bahasa In-donesia. Kedua upaya penerjemahan dimaksud, dengan segera bisa kita lihat, telah menghilangkan karakter atau substansi kaba yang sangat kental sebagai prosa berirama. Dalam prosa berirama, hal yang paling menentukan, tak lain tak bukan, adalah hadirnya unsur-unsur bunyi yang bisa didendangkan. Itulah sebab, dalam pembukaan berbagai kaba, lazim tercantum pantun berikut:
Pulupuah tadia nan dibantang
Puti batanun suto perak
Sungguahpun kaba nan didendang
Suritauladan untuak rang banyak
(Pelupuh tadir yang dibentang
Puti bertenun sutra perak
Sungguhpun kaba yang didendang
Suri teladan untuk orang banyak)
Hadirnya dendang atau lebih tepat disebut keter-dendangan dalam kaba, setidaknya ditentukan oleh sejumlah hat (1) adanya pantun, (2) adanya talibun (pantun berkait, baik 6 seuntai atau 8 seuntai atau bahkan 10 seuntai), dan (3) adanya pola penulisan tertentu berupa pengulangan gatra yang paling tidak terdiri dari 8 suku kata, sehingga, pada saat membacakan kaba, irama bisamuncul seperti halnya metrum atau ketukan dalam musik. Itulah sebab, bila misalnya sebuah gatra dalam suatu kaba kurang dari 8 suku kata, harus ditambahkan suku kata atau kata penupang seperti "Janyo" (misalnya pada gatra "manolah mandeh janyo denai") atau "Iyo' (misalnya pada gatra "iyo ka ranah batusangka").
Sementara itu, karena struktur bahasa Indonesia tidak sama dengan struktur bahasa Minangkabau, kita harus melakukan berbagai upaya agar keterdendangan tetap terjaga. Padagatra "jadi urang siaklah katidok" misalnya, tentu terjemahannya bukan "jadi orang siaklah ketidak", melainkan, atau mungkin lebih tepat, "jadi orang alimlah hendaknya". Begitu pula harus diperhatikan penggunaan kata dalam bahasa Minangkabau yang sering punya makna berbeda dengan bahasa Indonesia. Pada gatra "itulah nan di ati den" misalnya, tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi "itulah yang saya kehendaki" dibanding "itulah yang di hati saya".
Hal lain, pada kasus gatra tidak bisa diterjemahkan dalam jumlah suku kata yang sesuaimetrum atau disyaratkan oleh ketukan, penerjemahan dilakukan dengan memberikan catatan kaki. Kasus
Minangkabau yang sangat khas, yang padanannya dalam bahasa Indonesia tidak ada sehingga harus diurai atau diterang-jelaskan. Pada kasus gatra memuat kata-kata bahasa Minangkabau yang tidak diketahui artinya (biasanya kata-kata arkaik), hal yang dilakukan adalah kata tersebut dicetak miring (italiq) lalu diberi catatan kaki berupa kemungkinan arti kata dimaksud dalam bahasa Indonesia.
Demikianlah sejumlah hal yang menurut kami, tim konsultan, perlu diperhatikan oleh para penerjemah kaba yang menerjemahkan kaba ke dalam bahasa Indonesia. Sangat ingin kami katakan, penerjemahan kaba sebagai kaba (bedakan dengan penerjemahan kaba sebagai hikayat dan naskah sandiwara untuk kebutuhan pertunjukan tonil seperti pernah terjadi pada dua masa sebelumnya) sungguh sangat penting. Andai upaya penerjemahan kaba—dan kemudian penerbitannya tentu saja—tidak dilakukan sekarang, kita waswas: Apakah pada masa kemudian masih akan ada pihak yang peduli, mengingat zaman serba digital sudah menganga di depan mata. Untuk itu, penghargaan dan terima kasih harus kami ucapkan kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat yang telah berinisiatif melakukan program penerjemahan sejumlah kaba ini (23 judul) ke dalam bahasa Indonesia.
Gus tf Sakai
viii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................ iii
KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT ............. iii ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN ............................... v
DAFTAR ISI .................................................................................... ix
Galanggang Puti Linduang Bulan ................................................... 2
GELANGGANG PUTI LINDUANG BULAN ....................................... 3
Batunangan .................................................................................. 14
BERTUNANGAN ............................................................................ 15
Rajo Duobaleh .............................................................................. 22
RAJO DUOBALEH ......................................................................... 23
Bajudi Mambaok Sansai ................................................................ 42
BERJUDI MEMBAWA PETAKA ..................................................... 43
Hukuman Rajo Kuaso .................................................................... 54
HUKUMAN RAJA KUASA ............................................................. 55
Si Burung Nuri .............................................................................. 84
SI BURUNG NURI ......................................................................... 85
Masuak Kampuang ..................................................................... 102
MASUK KAMPUNG .................................................................... 103
ix
ADAT DI GELANGGANG ............................................................... 133
Pituah Bapak jo Mandeh Kanduang ........................................... 148
PETUAH BAPAK DAN MANDEH KANDUANG ............................ 149 [ 12 ]
Kalau dikana-kana bana, dibujua-bujua jo pikiran, sabarih tidak
nan lupo, saambun tidak talampau, adolah rajo nan tasabuik ka
luaran, asli rajo sunduik basunduik, bukan rajo dang babali, iyolah
rajo nan usali.
Baliau baduo badunsanak, nan bak sarupo anak balam, sikua jantan sikua batino, nan banamo Puti Linduang Bulan, iyolah di Ranah Sandiangbaka.
Pado maso dewaso itu, takana bana dek Rajo Kuaso, lalu bakato maso nantun, “Oi adiak kanduang janyo ambo, adiak den Puti Linduang Bulan, ka mari malah janyo ambo, ado nan takana di kiro-kiro, nan tarumik di dalam hati, iyo taadok diri Adiak, mukasuik nak mancarikan adiak junjuangan,”
Manjawab Puti Linduang Bulan, “Oi Tuan kanduang janyo ambo, salorong tantang itu, pulang maklum pado Tuan, ambo nan tidak duo bicaro.”
Lalu dipanggia malah dubalang, disuruah guguah tabuah larangan, pahimbau urang dalam nagari. Sarato tabuah babuni, sahuik manyahuik tabuah nan banyak, tabuah Jum’at panyudahi.
PUTI LINDUANG BULAN
Kalaulah diingat-ingat, kalaulah dipikir-pikir, sebaris tak kan
lupa, seembun tak kan terlampau, tentang raja yang termasyur,
raja asli turun temurun, bukan raja dapat dibeli, benar-benar raja
asli.
Beliau berdua bersaudara, bagai sepasang anak balam, lakilaki dan perempuan, bernama Puti Linduang Bulan, tinggal di Ranah Sandiangbaka.
Pada masa dewasa itu, teringat oleh Rajo Kuaso, lalu berkata kala itu, “Duhai adik kandung denai, adik Puti Linduang Bulan, kemarilah adik dahulu, ada yang mengganggu dalam hati, mengganggu dalam pikiran, yakni tentang diri adik, denai hendak mencarikan junjungan.”
Menjawab Puti Linduang Bulan, “Duhai Tuan Kandung denai, tentang hal yang satu itu, pulang maklum pada Tuan, denai yang tidak dua bicara.”
Lalu dipanggil lah dubalang, disuruh pukul tabuh larangan, pemanggil orang dalam nagari. Begitu tabuh berbunyi, sahut menyahut tabuh yang banyak, tabuh Jumat menyudahi.
lurah alah mandaki, nan di bukik alah manurun, rapek papek ka sadonyo.
Tidak tabado banyak umaik, nan pakak hariak mahariak, nan bisu languah malanguah, nan lumpuah badukuang juo, sanan bakato pangulu dalam kampuang,
“Ampun ambo daulat Rajo kami, apo sababnyo tabuah babuni, di mano koh pangulu salah hukum, atau koh dubalang rabuik rampeh, nagari mano koh nan manyarang, atau koh parik nan tarampa, atau rando dapek malu.
Kok digantuang kami tinggi, Tuanku juo nan ka rugi, kok dijua kami jauah, Tuanku juo nan kahilangan, namun nan bana kami sampaikan juo.”
Sanan manjawab Rajo Kuaso, “Bukan pangulu salah hukum, bukan nagari didatangi musuah, indak parik nan tarampa, iyo taniat dalam hati, takana dalam kiro-kiro, handak mamancang galanggang, iyo galanggang pancari judu, iyolah ka judu Puti Linduang Bulan, alah patuik pulo inyo basuami.”
Manjawab pangulu dalam kampuang, “Kalau baitu titah Tuanku, kami junjuang bagai gumalo, kini juo kami sugirokan, basiap malah kito kini.”
Alah dibuek malah galanggang, sarato disuruah maantakan surek hilia mudiak, banyaklah urang nan datang, nan mudo-mudo baduyun-duyun, nan gadih-gadih babondong-bondong, datang ka ranah Sandiangbaka, galanggang bamuloi hanyo lai.
Rami alek allahu rabbi, darah ayam bak dibandakan, patah taji bak disukati, tulak batundo bulu ayam, siriah manjadi sarok balai, gambia manjadi tanah liyek, pinang manjadi dama tondeh.
yang dari lurah datang mendaki, yang dari bukit datang menurun, rapat pepat semuanya.
Tiada terhingga banyak umat, yang tuli hardik menghardik, yang bisu lenguh melenguh, yang lumpuh digendong jua, lalu berkata penghulu kampung,
“Ampun hamba, daulat raja kami, apa sebabnya tabuh berbunyi, di manakah penghulu salah hukum, ataukah dubalang rebut rampas, negeri manakah yang datang menyerang, adakah parit yang runtuh, atau janda yang mendapat malu.
Kalau digantung kami tinggi, Tuanku jualah yang akan rugi, kalau dijual kami jauh, Tuanku jualah yang kehilangan, namun kebenaran kami sampaikan juga.”
Lalu menjawab Rajo Kuaso, “Bukan penghulu salah hukum, bukan negeri didatangi musuh, tidak ada parit yang runtuh, ada terniat dalam hati, terbit dalam kira-kira, hendak memancang gelanggang, yakni gelanggang pencari jodoh, untuk Puti Linduang Bulan, sudah patut dia bersuami.”
Menjawab penghulu dalam kampung, “Kalau begitu titah Tuanku, kami junjung bagai gemala, kini jua kami segerakan, bersiap malah kita sekarang.”
Sudah dibuat malah Gelanggang, undangan sudah disebarkan, banyaklah orang yang datang, anak bujang berduyun-duyun, anak gadis berbondong-bondong, datang ke ranah Sandiangbaka, gelanggangpun segera dimulai.
Tamunya ramai Allahurabbi, darah ayam bagai dibandarkan, patah taji bagai disukati, bulu ayam segerobak dorong, sirih menjadi sampah pasar, gambir menjadi tanah liat, pinang menjadi dama tondeh. [ 17 ]Alah sapakan galanggang rami, ramilah rabab jo kucapi, pupuik saluang tidak dietong, bakumpua anak mudo-mudo.
Padi alah babumbun-bumbun
Pinang masak batandan-tandan;
Anak gadih baduyun-duyun
Nan bujang lah batolan-tolan.
Lah lamo galanggang rami, alah banyak kabau nan habih, habih bareh bapikua-pikua, balun dapek nan ka judu, iyolah judu Puti Linduang Bulan.
Balam timbago tigo gayo
Murai babuni ateh pintu;
Salam takzim badan ambo
Kaba baraliah tantang itu.
Sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Datuak Bandaharo. Itulah urang nan tasabuik, nan geneang di kampuang Situmangkuto, di ranah kampuang Sumani, muluik manih kucindan murah, tahu di adat dangan syarak, urang kampuang suko samuonyo.
Sadang dek Datuak Bandaharo, sadang duduak di surambi, alah tasirok darah di dado, hati nan tidak sanang lai, lah hilang pangana sakutiko, tidak batantu dirusuahkan, hati nan sadang bauweh-uweh juo.
Tampaknyo si Bujang Salamat di laman, mambaok surek nan sapucuak, sanan bakato si Salamat, “Manolah Datuak janyo ambo, ikolah surek nan sapucuak, dari Tuanku Rajo Kuaso, dari ranah Kampuang Dalam.”
Surek ditarimo dek Datuak Bandaharo, lalu dibaco malah surek, dari awa sampai akhia, surek panggilan ka galanggang, alah rapek Basa jo Pangulu, sarato anak Rajo-rajo.
Sadang dek Datuak Bandaharo, alah sudah surek dibaconyo, dipikia-pikia dimanuangkan, alah taraso dalam hati, mukasuik nak pai baralek.
puput salung tidak terhitung, berkumpul anak-anak muda.
Padi sudah bertimbun-timbun
Pinang sudah bertandan-tandan;
Anak gadis berduyun-duyun
Anak bujang bertolan-tolan
Telah lama gelanggang ramai, telah banyak kerbau dibantai, habis beras berkarung-karung, namun jodoh belumlah dapat, calon suami Puti Linduang Bulan,
Balam tembaga tiga gaya
Murai berkicau di atas pintu;
Salam takzim badan hamba
cerita beralih tentang itu
Sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Datuak Bandaharo. Itulah orang yang termasyur, yang geneang1 di kampung Situmangkuto, di ranah kampung Sumani, mulut manis kucindan murah, tahu di adat dan syarak, orang kampung menyayanginya.
Ketika Datuak Bandaharo, sedang duduk-duduk di serambi, lalu tersirap darah di dada, hati yang tidak tenang lagi, hilang pikiran seketika, entah apa yang dirusuhkan, hati yang sedang berharapharap jua.
Tampak Bujang Salamat di laman, membawa sepucuk surat, lalu berkata Bujang Salamat, “Duhai Datuak Tuan denai, inilah sepucuk surat, dari Tuanku Rajo Kuaso, dari ranah Kampuang Dalam.”
Surat diterima Datuak Bandaharo, lalu dibacalah surat itu, dari awal sampai akhir, surat undangan ke gelanggang, sudah rapat basa dan pengulu2, serta anak raja-raja.
Sedangkan Datuak Bandaharo, sesudah surat dibacanya, dipikir-pikir dimenungkan, telah terniat dalam hati, maksud hendak pergi berhelat.
1) Terkenal 2) Penghulu Adat
Salamat, Adiak ambiak malah kudo, lakekkan pulo pakaiannyo.”
Dek urang Bujang Salamat, salasai pulo nan bak kian, alah mamakai Datuak Bandaharo, dilakekkan sarawa panjang, diambiak baju biludu, basaruang bugih sapik udang, alah dipakai deta saluak, dikunyah siriah nan sakapua, alah manurun inyo ka bawah, alah tibo inyo di laman.
Bakaja bayang-bayang gigi, gigi putiah bak camin taruih, alah diracak malah kudo, Si Bujang Salamat mairiangkan, dibaok ayam Si Kinantan, sarato urai tigo kaco.
Alah sarantang pajalanan, dek lamo lambek di jalan, labuah panjang basiku-siku, pudiang ameh barumpun-rumpun, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo inyo di sanan, di ranah di Sandiangbaka, di galanggang Si Linduang Bulan, inyolah turun ateh kudo.
Alah disonsong urang nan banyak, disonsong Basa jo Pangulu, samo Dubalang nan barampek, hiru-biru urang banyak, urang lah rusuah kasadonyo, alah datang urang nan patuik, nan ka judunyo Puti Linduang Bulan.
Urang banyak lah haru-biru, maliek urang nan baru datang, lalu bakato maso itu, “Ikolah nan ka judunya puti kito, alamat alek ka lakeh usai, nan manang basanang hati, nan kalah tamanuang sajo.”
Kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo di sanan juo, baraliah kapado Rajo Kuaso, lah naiak baliau ka ateh rumah, bakato Rajo Kuaso,
“Adiak kanduang Linduang Bulan, mangapo mangko lalai juo, adiak kanduang mamakai malah, alah datang Rajo nan patuik, kalau diuji samo merah, jikok dikati samo barek, bagala Datuak Bandaharo, urang ranah Kampuang Sumani.”
Sadang dek Puti Linduang Bulan, alah sudah inyo mamakai, dikunyah siriah nan sakapua, alah turun cando ka laman, diiriangkan dayang jo panginang, kipeh basabuang kiri kanan. [ 20 ]Lalu menyeru Datuak Bandaharo “Adik Kandung Bujang Salamat, Adik ambil malah kuda, pasangkan pula pelananya.”
Oleh si Bujang Salamat, selesai pula yang demikian, bersiaplah Datuak Bandaharo, dipakainya celana yang panjang, diambilnya baju beludru, bersarung bugis capit udang, lalu dipakai destar seluk, dikunyah sirih yang sekapur, lalu menurun Ia ke bawah, sampailah Ia di halaman.
Berkejaran bayang-bayang gigi, gigi putih bak camin taruih3, ditunggangi pula kuda, si Bujang Salamat mengiringkan, dibawa ayam si Kinantan, serta urai tiga kaca.
Telah serentang perjalanan, karena lambat laun di jalan, jalan panjang berliku-liku, puding emas berumpun-rumpun, hampir kan tiba lah dirinya, hampir tibalah di sana, di ranah Sandiangbaka, di gelanggang si Linduang Bulan, lalu turunlah dari atas kuda.
Telah disonsong orang yang banyak, disonsong basa dan penghulu, serta dubalang yang berempat, haru biru orang banyak, rusuhlah orang semuanya, telah datang orang yang patut, jodoh Puti Linduang Bulan.
Orang banyak pun haru biru, melihat orang yang baru datang, lalu berkata masa itu, “Inilah jodoh puti kita, alamat lekas gelanggang usai, yang menang bersenang hati, yang kalah bermenung saja.”
Kabar beralih kemudian, alihnya di sana jua, beralih pada Rajo Kuaso, naiklah beliau ke atas rumah, berkata Rajo Kuaso,
“Adik kandung Linduang Bulan, mengapa adik lalai jua, segeralah adik bersiap, raja yang patut sudah datang, kalau diuji sama merah, kalau ditimbang sama berat, bergelar Datuak Bandaharo, orang ranah kampung Sumani.”
Sementara Puti Linduang Bulan, telah siap Ia berkemas, dikunyah sirih yang sekapur, lalu turun ke halaman, diiringkan dayang dan penginang, kipas bersabung kiri kanan.
3) Putih, Bersih [ 21 ]Alah tibo cando di galanggang, siriah talatak dek Si Kambang, bakato Puti Linduang Bulan, “Oi tuan Datuak Bandaharo, mari kito naiak ka rumah, nasi tahedang alah dingin, bungo dikarang alah layua, Tuan nan tidak datang juo, iyo bana bak pantun urang:
Alah panek ambo dek babansi
Rabab tasanda di pamatang;
Alah panek ambo dek manati
Tuan nan tidak kunjuang datang.
Kini baitu lah dek Tuan, tidak guno lamo di siko, kito naiak malah ka rumah, urang lah rapek manantikan, sarato Imam dangan Khatib.”
Tidak lamo antaronyo, alah bajalan Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, alah naiak ka rumah gadang, alah diduduakkan Datuak Bandaharo, sarato jo Puti Linduang Bulan, di ateh kasua nan gadang.
Alah sudah mamakan siriah, diambiak tampek parasapan, dibaka kumayan putiah, asok mandulang ka udaro, alah manyambah Rajo Kuaso, kapado Basa jo Pangulu, sarato Imam dangan Khatib, niat jo kaua nak nyo lapeh.
“Adiak ambo Puti Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, mamintak ambo basungguah-sungguah, kapado Imam dangan Khatib, sarato Basa jo Pangulu, Angku kawinkan kini nangko, tolong bacokan doa salamaik, kok lai untuang bakakalan, jan ado cacek maro malintang.”
Sadang dek Imam dangan Khatib, alah dibaco khotbah nikah, ijab jatuah kabul dijawek, alah kawin Datuak Bandaharo, dangan Puti Linduang Bulan, di muko saksi nan barampek, alah dibaco doa salamaik.
Lamo sabanta antaronyo, urang banyak mamintak pulang, baitu juo Imam dangan Khatib, sarato Basa jo Pangulu, “Kudian kok [ 22 ]Telah sampai di gelanggang, sirih terletak oleh si Kambang, berkata Puti Linduang Bulan, “Duhai Tuan Datuak Bandaharo, mari kita naik ke rumah, nasi terhidang sudah dingin, bunga dikarang sudah layu, Tuan yang tidak kunjung datang, benar bagai pantun orang,
Telah lelah denai berbansi
Rabab tersandar di pematang;
Telah lelah denai menanti
Tuan yang tidak kunjung datang.
Sekarang begini sajalah Tuan, tiada guna lama di sini, marilah naik ke atas rumah, orang sudah ramai menanti, beserta dengan imam dan khatib.”
Tidak lama antaranya, berjalanlah Datuak Bandaharo, berdua dengan Puti Linduang Bulan, naik ke atas rumah gadang, lalu didudukkanlah Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, di atas kasur kebesaran.
Setelah makan sirih, diambilnya tempat perasapan, dibakar kemeyan putih, asap membubung ke udara, Rajo Kuaso lalu menyembah, kepada basa dan penghulu, serta imam dan khatib, niat dan kaul agar sampai.
“Adik denai Puti Linduang Bulan, berdua dengan Datuak Bandaharo, denai meminta sungguh-sungguh, kepada imam dan khatib, serta penghulu pembesar adat, Angku nikahkanlah sekarang, lalu bacakan doa selamat, agar kekal jodoh mereka, agar tiada aral melintang.”
Oleh Imam dengan Khatib, dibacakan kutbah nikah, ijab jatuh kabul dijawab, telah kawin Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, di hadapan saksi yang berempat, lalu dibaca doa selamat.
Tidak lama kemudian, orang banyak meminta pulang, imam dan katib begitu juga, beserta basa dan penghulu. “Kalau umur [ 23 ]lai umua samo panjang, batamu kito kudian, mintak dilapeh jo hati nan suci.”
Manjawab Rajo Kuaso, “Kalau baitu kato Tuanku, ambo tarimo jo hati suci, tantangan minum dangan makan, kalau ado labiah atau kurang, walaupun muluik nan tadorong, mintak maafkan banyak banyak.”
Mandanga kato Rajo Kuaso, manjawab pulo urang nan banyak, “Namun taupek jo tapuji, jan manjadi sasuatu, kami bajalan hanyo lai.”
Alah pulang urang nan banyak, sabuang baranti hanyo lai, nan kalah baibo hati, nan manang basuko-suko, urang alah pulang hanyo lai, pulang ka kampuang masiang-masiang. [ 24 ]sama panjang, bertemu kita kemudian, minta dilepas dengan hati yang suci.”
Menjawab Rajo Kuaso, “Kalau begitu kata tuanku, denai terima dengan hati suci, di tentang minum dan makan, jika ada lebih dan kurang, walaupun mulut yang terdorong, minta maafkan banyak-banyak.”
Mendengar kata Rajo Kuaso, orang yang banyak lalu menjawab, “Walaupun dicela dan dipuji, janganlah menjadi sesuatu, kami semua mohon diri.”
Orang yang banyak telah pulang, selesailah sudah gelanggang, yang kalah beriba hati, yang menang bersuka ria, semua undangan sudah kembali, kembali ke kampung masing-masing.
Hari baganti pakan, pakan baganti bulan, sadang dek Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, alah dapek hari nan elok, Tuhan Allah sadang ka mambari, alah tibo pambarian Allah, alah hamil Si Linduang Bulan, alah sabulan duo bulan, anam bulan ka lamonyo.
Lah gadang hati Datuak Bandaharo, bakato Puti Linduang Bulan, “Oi tuan Datuak Bandaharo, salamo ambo dalam bababan, balun parnah ambo bakandak, kini lah baru nan tacinto, tolong carikan ambo di Tuan, ikan rayo baradai ameh, itu pangidaman ambo kini-kini.”
Sadang dek Datuak Bandaharo, baru mandanga kato nantun, alah dihimpun anak buah, disuruah carikan ikan nantun, tigo hari lamo mancari, barulah dapek ikan nantun, dibaok dubalang nan barampek, disambahkan kapado Datuak Bandaharo.
Sadang dek Datuak Bandaharo, alah diambiaknyo ikan nantun, dibarikan kapado Si Kambang, ikan digulai dek Si Kambang. Lamo sabanta antaronyo, lah masak malah gulai ikan, sananglah hati Linduang Bulan, diam di ateh anjuang tinggi, kipeh basabuang kiri kanan.
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, bagi Datuak
Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, sudah dapat hari yang baik,
Tuhan Allah akan memberi, telah datang pemberian Allah, hamil lah
si Linduang Bulan, telah sebulan dua bulan, sampailah hitungan enam
bulan..
Senanglah hati Datuak Bandaharo, berkata Puti Linduang Bulan, “Duhai Tuan Datuak Bandaharo, selama denai mengandung, belum pernah denai meminta, kini lah baru yang tercinta, tolonglah Tuan carikan denai, ikan raya bersirip emas, itu yang denai idamkan kini.”
Adapun Datuak Bandaharo, begitu mendengar kata itu, segera dikumpulkan anak buah, disuruh cari ikan itu, tiga hari lama mencari, barulah dapat ikan itu, dibawa dubalang yang berempat, dipersembahkan pada Datuak Bandaharo.
Oleh Datuak Bandaharo, diambilnya lah ikan itu, diberikan kepada si Kambang, ikan digulai oleh si Kambang. Lama sebentar antaranya, telah masaklah gulai ikan, senanglah hati Linduang Bulan, diam di atas anjung yag tinggi, kipas bersabung kiri kanan.
Bulan, “Tuan kanduang Datuak Bandaharo, pacik dek Tuan pitaruah denai, kok tumbuah lahia anak kito laki-laki, bari namo Magek Manandin, kok lahia anak kito parampuan, bari namo Puti Bungsu.”
Manjawab Datuak Bandaharo, “Adiak kanduang Puti Linduang Bulan, usah adiak tagamang tantang itu, ambo pacik pitaruah arek-arek, tidak manupang badan ambo, kok umua samo panjang, mamintak juo kapado Allah, usah cacek maro malintang, salamaik sajo badan adiak.”
Pintak nan sadang ka balaku, alah sampai bilangan bulan, lah datang hari kutikonyo, patang Ahad malam Sinayan, sadangnyo laruik tangah malam, kiro-kiro pukua duo baleh, alah sakik Puti Linduang Bulan, sakik bak raso ka baranak.
Alah dihimbau malah dukun, dukun tibo bidan lah datang, alah duduak tangah rumah. Lamo sabanta antaronyo, iyo alah layia anak kanduang, dicaliak anak laki-laki, dukun basiap hanyo lai, disalamaikkan malah anak kanduang.
Sadang dek Puti Linduang Bulan, alah tahu inyo di badannyo, hari hampia badarok siang, duo kali ayam bakukuak, murai bakicau hari siang, di hari nan sahari nantun, diliek anak laki-laki, lah dinamokan Magek Manandin.
Hari lah baganti hari, alah datang pulo Rajo Kuaso, Allahu Rabbi suko hati, mancaliak adiak lah baranak, surang anak laki-laki.
Sanan bakato Rajo Kuaso, “Adiak kanduang Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, kaba baiak ambo sampaikan, alah patuik kito patunangkan, sabab baitu kato ambo, anak ambo lah lahia pulo, tigo hari baru di dunia, adolah anak parampuan, banamo Subang Bagelang, mandehnyo Puti Andam Dewi.
Kini baitu dek adiak, Si Buyuang Magek Manandin, duo jo Puti Subang Bagelang, kito patunangkan kain pandukuang, supayo
Kandung Datuak Bandaharo, Tuan ingatlah petaruh denai, kalau anak kita laki-laki, beri nama Magek Manandin, kalau lahir anak perempuan, beri nama Puti Bungsu.”
Menjawab Datuak Bandaharo, “Adik Kandung Puti Linduang Bulan, jangan khawatir tentang itu, tentu denai ingat baik-baik, tidak akan denai lupakan, kalau umur sama panjang, meminta kita pada Allah, agar tiada aral melintang, selamat saja badan Adik.”
Pinta yang memang sedang berlaku, setelah sampai bilangan bulan, tibalah hari ketikanya, petang Ahad malam Senin, sedang larut tengah malam, kira-kira pukul dua belas, sakitlah Puti Linduang Bulan, sakit seperti akan beranak.
Sudah dipanggil malah dukun, dukun tiba bidan pun datang, sudah duduk di tengah rumah. Tidak lama kemudian, lahirlah sudah anak kandung, dilihat anak laki-laki, dukun bersiaplah segera, diselamatkan malah anak kandung.
Sementara Puti Linduang Bulan, telah sadar ia dari sakitnya, hari hampir beranjak siang, dua kali ayam berkokok, murai berkicau hari siang, di hari yang sehari itu, dilihat anak laki-laki, diberilah nama Magek Manandin.
Hari sudah berganti hari, datanglah pula Rajo Kuaso, Allahu Rabbi senangnya hati, melihat adik sudah melahirkan, seorang anak laki-laki.
Lalu berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, kabar baik denai sampaikan, sudah patut kita pertunangkan, sebab begitu kata denai, anak denai sudah lahir pula, tiga hari umur di dunia, adalah anak perempuan, bernama Subang Bagelang, mandehnya Puti Andam Dewi.
Sekarang begitulah di Adik, si Buyung Magek Manandin, dengan Puti Subang Bagelang, kita pertunangkan kain pendukung,
panjang umua, hayat pambarian Allah, taliek juo kudian handaknyo.”
Sanan manjawab Datuak Bandaharo, “Kok itu hanyo pintak Tuan, kami nan suko manarimo, kami nan tidak maubahi, pulang maklum pado Tuan.”
Alah dipatunangkan anak kanduang, dilatakkan tando timba baliak. Alah sahari nantun, habih hari babilang pakan, habih pakan babilang bulan, alah satahun ka lamonyo, sadang dek Magek Manandin, gadang bak diambuang-ambuang, bak nyiru di tapi lasuang.
Duo tahun lamo di dunia, diamnyo di ateh anjuang sajo, kipeh basabuang kiri kanan, mandi baturab ayia bungo, jikok litak nasi lah datang, jikok hauih ayia lah tibo, budak banyak sakarek koto. Sadang dek Puti Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, allahu rabbi suko hati, dapek anak balahan nyawo, iyo bana bak pantun urang,
Paranglah anak di Limpasang
Ulando mamasang dalam lawik;
Sayang di anak jolong gadang
Habih dagiang tulang lah luruik.
Bakato Datuak Bandaharo, “Adiak kanduang si Linduang Bulan, kok buliah pintak pado Allah, kalau babari pintak kito, dapeklah anak surang lai, iyo anak nan parampuan.”
Ramilah balai Bangkahulu
Nampak urang mambali siriah;
Pintak nan sadang ka balaku
Kandak nan sadang lai ka buliah.
Tidak barapo lamo antaronyo, kiro sabulan duo bulan, alah datang pambarian Allah, alah hamil pulo Linduang Bulan.
panjang, hayat pemberian Allah, terlihat jugalah di kemudian hendaknya.”
Lalu menjawab Datuak Bandaharo, “Kalau hanya itu pinta Tuan, Kami yang suka menerima, kami yang tidak mengubahi, pulang maklum pada Tuan.”
Telah dipertunangkan anak kandung, diletakkan tanda timbal balik. Setelah sehari itu, habis hari berbilang pekan, habis pekan berbilang bulan, telah setahun lah lamanya, sedang si Magek Manandin, besar bagai diambung-ambung, bagai niru di tepi lesung.
Dua tahun lama di dunia, diamnya di atas anjung saja, kipas bersabung kiri kanan, mandi berturab air bunga, kalau lapar nasi pun datang, kalau haus airpun tiba, budak banyak setengah koto. Sedangkan Puti Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, Allahurabbi senangnya hati, dapat anak belahan nyawa, benar bagai pantun orang.
“Peranglah anak di Limpasang
Belanda memasang dalam laut;
Anak seorang nan disayang
Habis daging tulang diraut.
Berkata Datuak Bandaharo, “Adik kandung si Lindung Bulan, kalau boleh pinta pada Allah, kalau diberi pinta kita, dapatlah anak seorang lagi, hendaknya anak perempuan.
“Ramilah balai di Bengkulu
Nampak orang membeli sirih;
Pinta yang sedang akan berlaku
Kehendak yang sedang akan boleh.
Tidak berapa lama antaranya, antara sebulan dua bulan, datanglah pemberian Allah, hamillah Puti Linduang Bulan.
bulan ka lamonyo, pado suatu hari kutikonyo, alah lahia malah anak kanduang, alah sanang raso paratian, adolah anak parampuan, sahari ado sahari banamo, dinamokan Puti Nan Bungsu, alah buliah lawan baiyo, Allahu Rabbi gadang hati.
Alah sabulan lamo di dunia, gadang bak diambuang-ambuang, bak nyiru di tapi lasuang, mandi baturab ayia bungo, kipeh basabuang kiri kanan, Si Kambang banyak manjagoi.
Tidaklah kaba dipapanjang, dek lamo bakalamoan, anak lah gadang kaduonyo, salah saketek pado bapak, anak nan tidak disarahkan, pai pangaji tidak pulo, baso-basi jauah sakali, hanyo nan labiah sabuang jo judi, manuruik kandak hati sajo, maklumlah tuan anak bujang, di mano sorak nan rami, alah di sanan Magek Manandin, nan suko bana inyo manyabuang
Badan batambah gadang juo, urang barajo di hatinyo, manuruik hati gadang sajo, nan labiah ambuang sipak rago, tidak takana paruik lapa, tidak tantu hino jo mulia, alah baumua duo baleh tahun.
Ramilah balai pasa Gadang
Raminyo sadang tangah hari;
Bari maaf ambo mangarang
Kaba baraliah hanyo lai.
sembilan bulan lamanya, pada suatu hari ketikanya, lahirlah si anak kandung, telah senang rasa perhatian, karena anak perempuan, sehari ada sehari bernama, dinamakan Puti Nan Bungsu, telah dapat kawan beriya, Allahurabbi senangnya hati.
Telah sebulan lama di dunia, besar bagai diambung-ambung, bagai niru di tepi lesung, mandi berturab air bunga, kipas bersabung kiri kanan, si Kambang banyak menjagai.
Tidaklah kabar diperpanjang, setelah lama kelamaan, anak telah besar keduanya, salah sedikit pada si bapak, anak yang tidak disekolahkan, pergi mengaji tidak pula, basa-basi jauh sekali, hanya yang lebih sabung dan judi, menurut kehendak hati saja, maklumlah tuan anak bujang, di mana sorak yang ramai, di sanalah Magek Manandin, dia sangat suka menyabung.
Badan bertambah besar jua, orang beraja di hatinya, menurut hati besar saja, yang lebih ambung sepak raga, tidak diingat perut lapar, tidak tentu hina mulia, sampai berumur dua belas tahun.
Ramilah balai pasar Gadang
Raminya sedang tengah hari;
Beri maaf denai mengarang
Kabar beralih hanya lagi.
Sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Rajo Duobaleh,
urang ranah Kampuang Singkarak, itulah Rajo tidak adia, baadiak
surang parampuan, banamo Puti Nilam Cahayo, dicaliak adiak lah
gadang, alah patuik pulo basuami, dipanggia malah Dubalang.
Datang dubalang nan barampek, bakato Rajo Duobaleh, “Manolah Manti jo Dubalang, lacuik malah tabuah larangan.”
Dek Dubalang nan barampek, lah diambiak rotan palacuik, lalu dilacuik tabuah larangan, bahimpun urang gadang ketek, nan di bukik datang manurun, nan di lurah datang mandaki.
Bakato manti jo dubalang, “Ampun Tuanku rajo kami, kalau dijua kami jauah, Tuanku juo karugian, kato bana disambahkan juo, apo sabab tabuah babuni, di mano dubalang rabuik rampeh, di mano pangulu salah hukum.”
Sanan manjawab Rajo Duobaleh, “Manolah Manti jo Dubalang, sabab ambo panggia bana, bukan Dubalang rabuik rampeh, tidak Pangulu salah hukum, hanyo sabuah nan takana, niat jo kaua disampaikan, adiak ambo iyolah gadang, banamo Puti Nilam Cahayo, alah patuik pulo basuami, kito pancang malah galanggang, kito baralek hanyo lai.”
Sungguh beralih di sana jua, alihnya kepada Rajo Duobaleh, orang ranah kampung Singkarak, itulah raja yang tak adil, beradik seorang perempuan, bernama Puti Nilam Cahayo, dilihat adik sudah besar, sudah patut pula bersuami, dipanggillah para dubalang.
Datang dubalang yang berempat, berkata Rajo Duobaleh, “Duhai manti dan dubalang, pukul malah tabuh larangan.”
Oleh dubalang yang berempat, diambillah rotan pemukul, lalu dipukul tabuh larangan, berkumpul orang besar kecil, dari bukit datang menurun, dari lurah datang mendaki. Berkata manti dan dubalang, “Ampun Tuanku raja kami, kalau dijual kami jauh, Tuanku jua kerugian, kebenaran disembahkan jua, apa sebab tabuh berbunyi, di mana dubalang rebut rampas, di mana penghulu salah hukum.”
Lalu menjawab Rajo Duobaleh, “Wahai manti dan dubalang, sebabnya denai memanggil, bukan dubalang rebut rampas, tidak penghulu salah hukum, hanya sebuah yang teringat, niat dan kaul disampaikan, adik denai sudahlah besar, bernama Puti Nilam Cahayo, sudah patut bersuami, kita pancang malah gelanggang, kita berhelat hanya lagi.”
mancari kayu, satangah pai ka rimbo, habih hari babilang pakan. Alah sudah cando galanggang, baukia bamego-mego, ragam sudah ukia tak jadi, kok sudah banyak sansaronyo.
Urang baralek hanyo lai, dilapeh surek hilia mudiak, datang juaro ka sadonyo, mambaok ayam sikua surang. Alah sabulan galanggang rami, patah taji bak disukati, tulak batundo bulu ayam, darah ayam bak dibandakan, buni ringgik balasau-lasau, pitih ketek usah dihetong, tigo bulan galanggang rami.
Sadang dek Rajo Duobaleh, salamo galanggang rami, alah banyak sutan nan datang, banyaklah rajo nan tibo, balun dapek nan katuju, iyo ka judu Puti Nilam Cahayo.
Sadang dek Rajo Duobaleh, kok kalah pantang mambayia, kok manang suko manarimo, itu karajo siang malam, itulah rajo nan barajo di hatinyo, bakato lalu lalang sajo, tidak mamandang hino mulia, tidak ditimbang randah tinggi, inyo bagadang diri sajo, anak buah banyak nan takuik, urang banyak disangko budak, nan tuo tidak dimuliakan.
Ampek bulan galanggang rami
Murai babuni ateh pintu
Balam timbago tigo gayo;
Salam takzim badan ambo
Kaba baraliah tantang itu
Sungguah baraliah sanan juo.
Aliahnyo kapado Magek Manandin, anak Datuak Bandaharo, anak dek Puti Linduang Bulan, kamanakan Rajo Kuaso, tunangan Puti Subang Bagelang, nan geneang di kampuang itu, nan congkak di Sandiangbaka, mamak kayo bapak batuah.
Kalau dipuji kayonyo, rumah gadang sambilan ruang, tujuah rangkiang tangah lamannyo, kapuak ketek salo manyalo, makanan anak dagang lalu.
setengah mencari kayu, setengah pergi ke rimba, habis hari berbilang pekan. Telah siap malah gelanggang, berukir bermegamega, ragam sudah ukir tak jadi, kalau jadi banyak maranya.
Orang berhelat hanya lagi, dilepas surat hilir mudik, datang jawara semuanya, membawa ayam seekor seorang. Telah sebulan gelanggang ramai, patah taji bak disukati, tulak bertunda bulu ayam4, darah ayam bagai dibandarkan, bunyi ringgit berlasau-lasau, uang kecil usah dihitung, tiga bulan gelanggang ramai.
Sedang bagi Rajo Duo Baleh, selama gelanggang ramai, sudah banayak sutan yang datang, banyak raja yang tiba, belum bertemu yang cocok, untuk jodoh Puti Nilam Cahayo.
Sementara Rajo Duobaleh, kalau kalah pantang membayar, menang suka menerima, itu kerjanya siang malam, raja yang beraja di hatinya, berkata lalu lalang saja, tidak memandang hina mulia, tidak ditimbang rendah tinggi, ia hanya berbesar diri, anak buah banyak yang takut, orang banyak dianggap budak, yang tua tidak dimuliakan.
Empat bulan gelanggang ramai
Murai berbunyi di atas pintu
Balam tembaga tiga gaya;
Salam takzim badan denai
Kabar beralih tentang itu
Sungguh beralih di sana juga.
Alihnya kepada Magek Manandin, anak Datuak Bandaharo, anak dari Puti Linduang Bulan, kemenakan Rajo Kuaso, tunangan Puti Subang Bagelang, yang terkenal di kampung itu, yang sombong di Sandiangbaka, mamak kaya bapak bertuah.
Kalau dipuji kekayaannya, rumah gadang5 sembilan ruang, tujuh rangkiang6 di halaman, kapuk kecil sela menyela, makanan anak dagang lalu.
4) Banyak ayam yang mati
5) Rumah adat Minangkabau
6) Lumbung Padi
bahati gadang tiok hari, awak baduo badunsanak, nan ketek Puti Nan Bungsu, nan gadang Magek Manandin, sadang duduak di kurisi.
Alah tibo surek panggilan, alah dibaco surek nantun, dari awa sampai akhia, sabarih tidak nan lupo, alah dipahami isi surek, dipikia-pikia dimanuangkan, surek panggilan nan baralek, galanggang Puti Nilam Cahayo, alah anam bulan galanggang rami, alah banyak Rajo nan datang, balun dapek nan ka judu, sabuang rami tiok hari.
Alah Dijalang bapak Kanduang, bakato Magek Manandin, “Manolah bapak kanduang ambo, sarato mandeh kanduang ambo, sabab ambo jalang bapak jo mandeh, taniat di dalam hati, ambo nak pai ka balai, ka galanggang Puti Nilam Cahayo, bapak lapeh jo hati suci, sarato mandeh kanduang ambo.”
Manjawab Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, “Ambo lapeh jo hati suci, jikok sampai anak ka balai, usah lamo Anak bajalan, sabagai pulo anak kanduang, jikok anak bamain judi, anak manyabuang jo badadu, usah hati dipaturuikkan, habih piti baranti main, jan sampai mambukak kain, usah sampai mambukak baju, binaso anak sabab itu, hilang rupo takucak roman.
Anak kok tidak bapakaian, urang nan tidak sagan lai, hilang bangso sabab dek itu, pikiakan bana tu Nak kanduang, jan manyasa kamudian. Rusuahkan budi kok tagadai, usah paham sampai tajua, sampai ka cucu piuik Anak, manjadi cacek kamudian.
Kini baitu lah dek anak, bajalan malah kini nangko, baoklah urai limo kaco, sarato ayam biriang balang, mamakai malah anak kanduang.”
Dilakekkan sarawa panjang, dipakai baju biludu, guntiang nan caro Sialahan, basaruang bugih sapik udang, badeta kambang palangi, tiok suduik pakai hikmah, di tangah sipalat gelo.
Telah tiba surat undangan, telah dibaca surat itu, dari awal sampai akhir, sebaris tidak yang lupa, sudah dipahami isi surat, dipikirpikir dimenungkan, surat undangan untuk ke pesta, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, sudah enam bulan gelanggang ramai, sudah banyak raja yang datang, namun jodoh belumlah dapat, sabung yang ramai tiap hari.
Telah dijelang bapak kandung, berkata Magek Manandin, “Duhai bapak kandung denai, juga mandeh kandung Denai, sebab denai jelang bapak dan mandeh, terniat di dalam hati, denai hendak pergi ke balai, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, bapak lepas dengan hati suci, serta mandeh kandung denai.”
Menjawab Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, “Denai lepas dengan hati suci, jika sampai anak ke balai, usah lama anak berjalan, sebagai pula anak kandung, jika anak bermain judi, anak menyabung dan berdadu, usah hati diperturutkan, habis uang berhenti main, jangan sampai membuka kain, usah sampai membuka baju, binasa anak sebab itu, hilang rupa pucatlah roman.
Kalau anak tak berpakaian, orang yang tiada segan lagi, hilang bangsa karena itu, pikirkan benar itu Nak kandung, jangan menyesal kemudian. Rusuhkan budi kalau tergadai, usah paham sampai terjual, sampai ke cucu piut anak, menjadi cacat kemudian.
Sekarang begitulah di anak, berjalanlah anak sekarang juga, bawalah urai lima kaca, serta ayam biring belang, memakai malah anak kandung.”
Dipakainya celana panjang, dipakainya baju beludru, guntingnya gaya Sialahan, bersarung bugis capit udang, berdestar kembang pelangi, tiap sudut pakai hikmah, di tengah sipalat gelo. [ 39 ]Alah sudah inyo mamakai, diambiak taji sabarumbuang, dibaok ayam biriang balang, dimintak izin kapado bapak, manjawab Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, “Anak kanduang Magek Manandin, kami bari malah izin, tatapi pulo anak kanduang, iyolah Anak mambari tahu, kapado tunangan Anak kanduang, nan banamo Subang Bagelang, batunangan kain pandukuang.
Kok tidak Anak mambari tahu, tasalah kito pado adat, sungguah awak samo awak, adat nan jan ditinggakan, garak Allah siapo tahu, buruak jo baiak tak batantu, nyawo di dalam tangan Allah, elok Anak bari tahu, ka rumah tunangan anak kanduang, katokan bana elok-elok, usah lupo tantang itu.”
Kalau nan merah namonyo sago
Kalau nan kuriak iyolah kundi;
Kalau nan indah hanyolah baso
Kalau nan baiak iyolah budi.
Dari benteng ka tangsi kodok
Singgah ka balai nak rang Rao;
Kok rancak bana bungo dadok
Indak harum apo gunonyo.
Pasang palito tangah rumah
Ambiaklah lilin duo tigo;
Budi bahaso jan diubah
Kudian banyak ka gunonyo.
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato Bapak, ambo tarimo jo suko hati.”
Bajalan Magek Manandin, alah tibo di tangah laman, bakaja cacak ateh paran, mangaja bayang-bayang gigi, gigi putiah bak camin taruih, bulu mato samuik bairiang, calak mamutuih rangkai hati.
Bakato Magek Manandin, “Adiak kanduang Bujang Salamat, Adiak ambiak malah kudo, lakekkan malah pakaiannyo.”
ayam biring belang, diminta izin kepada bapak, menjawab Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, “Anak kandung Magek Manandin, kami beri malah izin, tetapi pula anak kandung, anak harus meminta izin, kepada tunangan anak kandung, yang bernama Subang Bagelang, bertunangan kain pendukung.
Kalau anak tak memberi tahu, tersalah kita dalam adat, sungguhpun kita sama kita, adat yang jangan ditinggalkan, gerak Allah siapa yang tahu, buruk baik tak bertentu, nyawa di dalam tangan Allah, elok anak beri tahu, ke rumah tunangan anak kandung, katakan benar baik-baik, usah lupa tentang itu.”
Kalau yang merah namanya saga
Kalau yang kurik namanya kundi;
Kalau yang indah hanyalah bahasa
Kalau yang baik adalah budi.
Dari benteng ke tangsi kodok
Singgah ke balai anak Rang Rao;
Secantik apapun bunga dadap
Jika tak harum apa gunanya.
Pasang pelita tengah rumah
Ambillah lilin dua tiga;
Budi bahasa jangan diubah
Nanti banyaklah gunanya.
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata bapak, denai terima dengan senang hati.”
Berjalanlah Magek Manandin, telah sampai di halaman rumah, berkejaran cicak di atas paran, mengejar bayang-bayang gigi, gigi putih bagai camin taruih, bulu mata semut beriring, calak memutus rangkai hati.
Berkata Magek Manandin, “Adik Kandung Bujang Salamat, Adik ambil malah kuda, pasangkan malah pelananya.”
alah dilakekkan pakaiannyo, maringgiah kudo nan balang, kaki nan rajah ka ampeknyo, bulu cokelat indu basanat.
Bakato Si Bujang Salamat, “Tuan kanduang Magek Manandin, Tuan naiaklah ka ateh kudo.”
Alah naiak Magek Manandin, alah dihimbau adiak kanduang, nan banamo Puti Bungsu, “Adiak kanduang Puti Nan Bungsu, adiak tingga malah di rumah, ambo ka pai hanyo lai.”
Alah dicium Si Bungsu, sadang ketek inyo baru, ayia mato badarai-darai, sanan bakato Puti Bungsu, “Kok buliah pintak ambo di Tuan, usah lamo Tuan bajalan, kito nangko bak anak balam, sikua jantan sikua batino, bapikia malah Tuan kanduang tantang itu”
Alah bajalan Magek Manandin, dihiliakan labuah nan panjang, labuah panjang basiku-siku, pudiang ameh babatang-batang, dek lamo lambek di jalan, alah tibo malah di sanan, iyo di rumah Subang Bagelang, di kampuang tajorong mudiak.
Alah baranti Magek Manandin, alah dipauikkan kudo nan balang, alah naiak inyo ka ateh rumah, dicaliak urang tidak nampak, dihimbau si Kambang Manih, takajuik Si Kambang Manih, mancaliak Magek Manandin, rancak nan bukan alang-alang, alah takana dalam hati, ikolah tunangan aciak ambo, “Oi Tuan kanduang sutan nan datang, duduaklah Tuan sabanta, nak ambo japuik aciak ambo, sadang lalok di ateh anjuang.”
Dibukak kulambu rumin, tabukak kulambu ka tujuahnyo, dibangunkan Subang Bagelang.
“Jagolah Aciak dari tidua.”
Takajuik Subang Bagelang, “Adiak kanduang Si Kambang Manih, apo sabab ambo dijagokan?”
sudah dipasang pelananya, meringkik kuda yang belang, kaki yang rajah keempatnya, bulu coklat indu basanat.
Berkata si Bujang Salamat, “Tuan Kandung Magek Manandin, naiklah Tuan ke atas kuda.”
Sudah naik Magek Manandin, lalu dipanggil adik kandung, yang bernama Puti Bungsu, “Adik kandung Puti Nan Bungsu, Adik tinggal malah di rumah, kakak berangkat hanya lagi.”
Telah dicium si Puti Bungsu, adik yang masih sangat kecil, air mata berderai-derai, lalu berkata Puti Bungsu, “Kalau boleh pinta denai pada Tuan, usah lama Tuan berjalan, kita berdua bak anak balam, satu jantan satu betina, berpikir malah Tuan tentang itu.”
Sudah berjalan Magek Manandin, dihilirkan jalan yang panjang, jalan panjang berliku-liku, puding emas berbatang-batang, karena lambat laun di jalan, telah tiba malah di sana, yakni di rumah Subang Bagelang, di kampung terjorong mudik.
Lalu berhenti Magek Manandin, telah dipautkan kuda yang belang, naiklah Ia ke atas rumah, dilihat orang tidak nampak, dipanggil si Kambang Manih, terkejut si Kambang Manih, melihat Magek Manandin, gagah yang bukan alang-alang, lalu teringat dalam hati, inilah tunangan aciak denai, “Duhai Tuan kandung sutan yang datang, duduklah Tuan sebentar, denai jemputkan acik denai, sedang tidur di atas anjung.”
Disibak kelambu rumin, tersibak kelambu ketujuhnya, dibangunkan Subang Bagelang.
“Bangunlah Acik dari tidur.”
Terkejut Subang Bagelang, “Adik Kandung si Kambang Manih, apa sebab Denai dibangunkan?”
7) warna coklat selalu
adolah urang baru datang, rancak nan bukan alang-alang, kok tidak salah mato ambo, inyolah tunangan Aciak, nan banamo Magek Manandin.”
Baru mandanga di kato nantun, takajuik Subang Bagelang, tasirok darah di dado, badan bak raso bayang-bayang, alah duduak Subang Bagelang, dirintang dayang jo panginang, mandi basiram ayia bungo.
Alah sudah inyo mandi, dilakekkan pulo pakaian, alah turun ka tangah rumah, takajuik Magek Manandin, dicaliak tunangan alah gadang, lah samo duduak di kurisi, si Kambang basiap hanyo lai, nan satangah maambiak ayia, nan satangah mamasak nasi.
Lah masak nasi dangan gulai, digulai parpati mandua, ayam sanan randang pun sanan, gulai manih di sanan pulo, alah dibaok ka tangah rumah, nasi talatak sambah tibo, “Tuan kanduang Magek Manandin, Tuan makan malah dahulu, ka mari baru sakali nangko.”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang si Kambang Manih, kalau baitu kato adiak, tantangan minum dangan makan, kalau makan ka ubek litak, jikok minum ka ubek hauih, sabuah ambo nan takana,
Padi si jirak jiru jintan
Padi sipuluik tulang ladang;
Nasi basanduak balatakkan
Ambo bapantang makan surang.”
Manjawab Si Kambang Manih, sambia bapantun baibarat,
“Padi sijirak jiru jintan
Padi sipuluik linduang daun;
Nasi basanduak balatakkan
Jo sia Tuan ka sadaun.”
adalah orang baru datang, gagahnya bukan kepalang, kalau tak salah mata denai, dialah tunangan Aciak, yang bernama Magek Manandin.”
Baru mendengar di kata itu, terkejut Subang Bagelang, tersirap darah di dada, badan bak rasa bayang-bayang, sudah duduk Subang Bagelang, dirintang dayang dan penginang, mandi bersiram air bunga.
Telah sudah Ia mandi, dipakaikan pula pakaian, lalu turun ke tengah rumah, terkejut Magek Manandin, dilihat tunangan sudah besar, sudah sama duduk di kursi, si Kambang bersiap hanya lagi, setengah mengambil air, setengah memasak nasi.
Sudah masak nasi dan gulai, digulai merpati mandul, ayam ada rendangpun ada, gulai putih ada pula, sudah dibawa ke tengah rumah, nasi terletak sembah tiba, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan makan malah dahulu, ke mari baru sekali ini.”
Menjawab Magek Manandin, “Adik kandung si Kambang Manih, kalau begitu kata Adik, tentangan minum dengan makan, kalau makan obat lapar, kalau minum obat haus, satu hal yang denai ingat,
Padi si jirak jiru jintan
Padi si pulut tulang ladang;
Nasi disenduk diletakkan
Denai berpantang makan seorang.”
Menjawab si Kambang Manih, sembari berpantun beribarat,
“Padi si jirak jiru jintan
Padi sepulut lindung daun;
Nasi disenduk diletakkan
Dengan siapa Tuan ingin sedaun.”
makan sasuok duo suok, cukuik katigo inyo lah kanyang.
Alah sudah makan dan minum, sudah marokok makan siriah, bakato Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, sabab ambo datang ka mari, ambo nak pai ka galanggang, iyo galanggang Puti Nilam Cahayo, dunsanak kanduang Rajo Duobaleh, di ranah kampuang Singkarak, adiak lapeh jo hati suci, mintak salamaik umua panjang.”
Baru mandanga kato nantun, tamanuang Subang Bagelang, dijawab sambia manangih, “Kalau itu Tuan katokan, kok ditagah tidak tatagah, ambo suruah pai lah juo, namun sungguahpun baitu, kalau sampai Tuan ka sanan, sampai bajudi jo manyabuang, usah lamo Tuan di sanan, lakeh Tuan sugiro pulang, sabab baitu kato ambo, rajo nantun lain adatnyo, kalau bicaro di lua bana, mancancang tidak mamapeh, kok kalah pantang inyo mambayia, ingeklah Tuan tantang itu.
Sabagai pulo Tuan kanduang, kito lah lamo batunangan, tatapi kok buliah pintak ambo, elok lah ambo samo pai, kok lai namuah Tuan mambaok.”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, kalau itu adiak katokan, janlah adiak samo pai, sabab baitu kato ambo, bukan ambo karano malu, sabab adat di galanggang, tidak bacampua parampuan, hanyo nan banyak sabuang judi, tapuak jo sorai ado rami, parmainan anak mudo-mudo, saba lah adiak tantang itu.”
Manjawab Subang Bagelang,
“Padi sipuluik dari Jawo
Tibo di rimbo ditugakan;
Ambo manuruik tidak dibaok
Tidaklah ibo maninggakan.
makan sesuap dua suap, cukup ketiga Ia pun kenyang.
Telah sudah makan dan minum, sudah merokok makan sirih, berkata Magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, sebab denai datang kemari, Denai hendak pergi ke gelanggang, yakni gelanggang Puti Nilam Cahayo, saudara kandung Rajo Duobaleh, di ranah kampung Singkarak, Adik lepas dengan hati suci, minta selamat umur panjang.”
Baru mendengar kata itu, termenung Subang Bagelang, dijawab sambil menangis, “Kalau itu Tuan katakan, kalau ditegah tidak tertegah, denai suruh malah pergi, namun sungguhpun begitu, kalau sampai Tuan ke sana, sampai berjudi dan menyabung, usah lama Tuan di sana, lekas Tuan segera pulang, sebab begitu kata denai, raja itu lain adatnya, kalau bicara di luar benar, mencencang tidak memepat, kalau kalah pantang membayar, ingatlah Tuan tentang itu.
Sebagai pula Tuan kandung, kita tlah lama bertunangan, andaikan boleh pinta denai, eloklah kita sama berjalan, kalau mau Tuan membawa.”
Menjawab magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, kalau itu adik katakan, janganlah Adik sama pergi, sebab begitu kata Denai, bukan Denai karena malu, sebab adat di gelanggang, tidak bercampur perempuan, hanya yang banyak sabung judi, tepuk dan sorak sangat ramai, permainan anak mudamuda, sabarlah Adik tentang itu.”
Menjawab Subang Bagelang,
“Padi si pulut dari jawa
Sampai di rimba ditugakan;
Denai menurut tidak dibawa
Tidakkah iba meninggalkan.
Paranglah Talu jo Sinuruik
Parang jo anak Gunuang Rajo;
Namuah bana ambo manuruik
Tuan tak namuah ka mambaok.
Baringin di pasa Sampan
Tumbuah di kampuang Kurai Taji
Ka kida jalan ka Pariaman;
Jikok jauah Tuan bajalan
Asa balun tadanga mati
Tidak diganti jo nan lain.
Salasiah di tapi jalan
Disakah nak rang Tiku
Jatuah badarai salaronyo;
Tadorong kasiah bakeh tuan
Bak anak arek manyusu
Dicaraikan apo ka dayonyo.
Hilalang banyak nan lando
Elok dipotong naknyo randah;
Kasiah surang ruponyo ambo
Bak pisau tajam sabalah.
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, adiak tingga malah di rumah, jan adiak barusuah hati, iyo bana bak pantun urang,
Sutan Berahim pai ka panti
Singgah basukek lado sulah;
Haram nan lain di hati
Namuah batapuak kalam Allah.
Urang marandang sajak malam
Nampak nan dari Pulau Batu;
Urang banyak dipandang haram
Adiak surang sunat paralu.
Peranglah Talu dengan Sinurut
Perang dengan anak Gunung Rajo;
Ingin benar Denai menurut
Namun tuan tak mau membawa.
Beringin di pasar Sampan
Tumbuh di kampung Kurai Taji
Ke kiri jalan ke Pariaman;
Jika jauh Tuan berjalan
Asalkan belum terdegar mati
Takkan diganti dengan yang lain.
Selasih di tepi jalan
Dirusak anak orang Tiku
Jatuh berderai selaranya;
Terdorong kasih kepada Tuan
Bagai anak erat menyusu
Diceraikan apa kan dayanya.
Ilalang banyak yang ungkai
Elok dipangkas agar rendah;
Kasih sendiri rupanya denai
Bagai pisau tajam sebelah.
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, Adik tinggal malah di rumah, janganlah adik bersusah hati, benar bagai pantun orang,
Sutan Ibrahim pergi ke Panti
Singgah bersukat cabai patah;
Haram yang lain di dalam hati
Hingga bertepuk kalam Allah.
Orang merendang sejak malam
Nampak dari pulau Batu;
Orang banyak dipandang haram
Adik seorang sunat dan perlu.
Bapitih sambilan pitih
Baralek sambilan jamba;
Adiak kanduang nan elok manih
Salamaik sajo malah tingga.”
Bajalan Magek Manandin, alah turun ka tangah laman, turun pulo Subang Bagelang, alah tibo di tangah laman, bakato hanyo lai, “Tuan Kanduang Magek Manandin, sabuah ambo rusuahkan, Tuan ka bajalan jauah, pacik pitaruah elok-elok.
Anak rajo di Pulau Punjuang
Balahan rajo dari Jambi
Kulambo juo Tuan pijakkan;
Sayang nan sadang bagaruntuang
Kasiah baputa dalam hati
Badoso Tuan tinggakan.
Ramilah balai Ujuang Guguak
Raminyo sadang tangah hari;
Kasiah Tuan salamo duduak
Baru tagak lupo di kami.”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, hari batambah tinggi juo, adiak tingga malah di rumah, usah adiak bauweh-uweh hati, iyo bana bak pantun urang,
Deta basaluak nak rang Bugih
Buatan anak Rajo Cino
Dikarang mangko dilatakkan;
Adiak nan layuak geneang manih
Lubuak hati pamenan kato
Ibolah ambo maninggakan.
Bungo harum bungo palangi
Bungo langkuweh bungo nago
Dipancuang kalam dipatagak
Dibaok nak rang Koto Tuo;
Berpitis sembilan pitis
Berhelat sembilan sambal;
Adik kandung yang elok manis
Selamat saja malah ditinggal”
Berjalan Magek Manandin, sudah turun ke halaman, turun pula Subang Bagelang, telah sampai di tengah laman, berkata hanya lagi, “Tuan kandung Magek Manandin, satu hal yang denai rusuhkan, Tuan akan berjalan jauh, genggam petaruh erat-erat.
Anak raja di Pulau Punjung
Belahan raja dari Jambi
Kulambo juo Tuan pijakkan;
Sayang yang sedang bergeruntung
Kasih berputar dalam hati
Berdosa Tuan meninggalkan.
Ramailah balai Ujuang Guguk
Ramainya sedang tengah hari;
Kasiah Tuan selama duduk
Baru tegak lupa di kami.”
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, hari semakin siang jua, Adik tinggal malah di rumah, janganlah adik berberat hati, benar bagai pantun orang,
Destar berseluk nak orang Bugis
Buatan anak raja Cina
Dikarang maka diletakkan;
Adik yang anggun dan manis
Lubuk hati mainan kata
Berat rasa meninggalkan.
Bunga harum bunga pelangi
Bunga lengkuas bunga naga
Dipancung kalam dipertegak
Dibawa anak rang Kota Tua;
Kito haru kito kalami
Kito papuweh dunia nangko
Sisiahkan ilimu tampek tagak
Sakiro untuak kito baduo.”
Alah bajalan Magek Manandin, alah diracak malah kudo, mambaok ayam biriang balang, alah sarantang pajalanan, tunangan manangih ditinggakan, manangih babuah-buah, sambia bapantun maso nantun,
“Balayia babelok-belok
Balabuah tantang di nan tanang;
Nan pai hati tak elok
Nan tingga darah tak sanang.”
Sadang dek Subang Bagelang, alah naiak inyo ka ateh rumah, taruih sakali ka ateh anjuang, dibukak kulambu ka tujuahnyo, tidua bagaluang inyo bak kuciang, ayia mato badarai-darai, makan tidak minum pun tidak, badan lah kuruih bagai pimpiang. [ 52 ]
- Kita arungi kita selami
- Kita puas-puaskan dunia ini;
- Sisakan ilmu tempat tegak
- Sekira untuk kita berdua.”
Lalu berjalan Magek Manandin, ditunggangi malah kuda, membawa ayam biring belang, telah serentang perjalanan, tunangan menangis ditinggalkan, menangis berbuah-buah, sambil berpantun kala itu,
- “Berlayar berbelok-belok
- Berlabuh di tempat yang tenang;
- Yang pergi hati tak elok
- Yang ditinggal darah tak senang.”
Sedangkan Subang Bagelang, telah naik ke atas rumah, langsung naik ke atas anjung, disibak kelambu ketujuhnya, tidur bergelung bagai kucing, air mata berderai-derai, makan tidak minumpun tidak, badannya kurus bagai pimping.
41
Bajudi Mambaok Sansai
Kaba baraliah hanyo lai, sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Magek Manandin, dek lamo lambek di jalan, labuah panjang baturuikkan, pudiang ameh babatang-batang, hampia ka tibo hanyo lai.
Pihak kapado lari kudo, bagai tampuruang lakak anam, pai tigo pulang pun tigo, buni gantonyo bak ditimbang, nan gadang buni manjagokan, nan ketek buni malalokkan, adang-adang baibo hati.
Jauah batambah hampia juo, alah tibo inyo di sanan, di galanggang Puti Nilam Cahayo, lah turun inyo ateh kudo, alah dipauikkan malah kudo, haru-biru urang nan banyak, mancaliak Magek Manandin, bakato urang dalam galanggang.
“Salamo hiduik ateh dunia, balun pernah ambo maliek, sutan nan sarancak nangko, laranglah puti ka judunyo.”
Sadang dek Rajo Duobaleh, mandanga urang baru tibo, lalu bakato Rajo Duobaleh, “Manolah Sutan nan baru datang, kito manyabuang agak sajamang, kalau kalah pambuang paluah, kalau manang pambali siriah.”
42
BERJUDI MEMBAWA PETAKA
Kabar beralih lah sekarang, sungguh beralih itu jua, alihnya kepada Magek Manandin, karena lama lambat di jalan, jalan panjang yang diturutkan, puding emas berbatang-batang, hampir kan tiba hanya lagi.
Disebutkan tentang lari kuda, bagai tempurung lakak enam, pergi tiga pulang pun tiga, bunyi gentanya bagai ditimbang, yang besar bunyi membangunkan, yang kecil bunyi menidurkan, kadangkadang beriba hati.
Jauh bertambah hampir jua, telah tiba Ia di sana, di gelanggang Puti Nilam Cahayo, turunlah Ia dari atas kuda, setelah kuda dipautkan, haru biru orang yang banyak, melihat Magek Manandin, berkata orang dalam gelanggang.
“Selama hidup di dunia, belum pernah denai melihat, sutan yang segagah ini, laranglah puti kan jodohnya.”
Sedangkan Rajo Duobaleh, mendengar orang baru tiba, lalu berkata Rajo Duobaleh, “Wahai Sutan yang baru datang, kita menyabung agak sejamang, kalau kalah pembuang peluh, kalau menang pembeli sirih.”
43
cubo malah malawan, tatapi taruah tidak banyak.”
Alah dibulang malah ayam, dibulang samo-samo kanan, ayam angku Rajo Duobaleh, ayam kuriak bataji gadang, dimintak malah taruahnyo, sadang dek Magek Manandin, dilatakkan malah taruah ayam, dilatakkan limo kaco urai.
Tamanuang Rajo Duobaleh, jo apolah taruah kan di lawan, pitih tak sampai ka taruahnyo, digadaikan sawah jo ladang, dimintak tolong pado anak buah. Alah batampin malah ayam, alah balago hanyo lai, sakali mambulang naiak, duo kali mambulang turun, lah patah ayam biriang balang, basorak urang tangah balai, urang lah suko gadang ketek, lapeh utang bakaciak-kaciak, bak mandapek durian runtuah.
Tidaklah kaba dipanjangkan, lah mati ayam biriang balang, tamanuang Magek Manandin, pitih bakisa pado urang, sadang dek Rajo Duobaleh, gadang hati Allahu Rabbi, lah kayo sabab dek manyabuang, taruah disimpan hanyo lai.
Kununlah Magek Manandin, pitih habih badan lah sansai, awak disisiah samo gadang, alah bamanuang-manuang surang, tidak tantu jalan ka dituruik.
Alah dibukak kain saruang, alah digadaikan kain nantun, kapado mandeh rang balapau, dicubo pulo main dadu, dadu dipasang kalah juo, dimintak dadu pado janang, dicaliak gundu linduang merah, bataruah sakupang ganok, lah dihambuangkan malah gundu.
- Barisuak hari ka Salasa
- Urang manjamua buah palo;
- Gundu dihambuang baliak pangka
- Pitih diambiak urang juo
- Buruang di pucuak kayu mati
- Ula disasok majo lapai;
- 44 [ 56 ]Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Angku, denai
coba malah melawan, tetapi taruh tidak banyak.”
Telah dibulang malah ayam, dibulang sama-sama kanan, ayam Angku Rajo Duobaleh, ayam kurik bertaji besar, diminta malah taruhannya, sedang si Magek Manandin, diletakkan malah taruh ayam, diletakkan lima kaca urai.
Termenung Rajo Duobaleh, dengan apa taruh kan di lawan, uang tak sampai untuk taruhannya, digadaikan sawah dan ladang, diminta tolong pada anak buah.
Sudah bertampin malah ayam, telah berlaga keduanya, sekali membulang naik, dua kali membulang turun, patahlah ayam biring belang, bersorak orang tengah balai, besar kecil orang senang, lepas utang yang ringan-ringan, bagai mendapat durian runtuh.
Tidaklah kabar dipanjangkan, matilah ayam biring belang, termenung Magek Manandin, uang berpindah pada orang, sedangkan Rajo Duobaleh, senang hati Allahu Rabbi, telah kaya karena menyabung, taruh disimpan dengan segera.
Kononlah Magek Manandin, uang habis badan sansai, diri disisih kawan sebaya, hanya bermenung-menung sendirian, tak tentu jalan kan diturut. Telah dibuka kain sarung, lalu digadaikan kain itu, kepada mandeh orang berlepau, dicoba pula main dadu, dadu dipasang kalah jua, diminta dadu pada jenang, dilihat gundu lindung merah, bertaruh sekupang genap, lalu dilemparkan malah gundu.
- Besoknya hari selasa
- Orang menjemur buah pala;
- Gundu dilambung balik pangkal
- Uang diambil orang jua
- Burung di pucuk kayu mati
- Ular disesap maja lapai; [ 57 ]
- Ambuang dikacak gundu mati
- Koa nan tidak namuah sampai.
Tamanuang Magek Manandin, alah digadaikan pulo kudo, sakali tidak nan manang, badan batambah bansaik juo.
Tigo hari lamo di sanan, alah habih pakaian ka samuonyo, utang nasi alah banyak pulo, pitih tak ado ka pambayia, urang lah banci ka sadonyo, surang pun tidak urang nan sayang. Hari lah patang hanyo lai, alah dimintak malah nasi, kapado mandeh rang balapau, urang tak namuah manyanduakkan, bakato mandeh rang balapau,
“Mano Sutan baru datang, kalau nasi nan sutan mintak, kami tak suko mambarikan, sabab baitu kato kami,
- Cikarau di hulu ayia
- Diambiak sado nan mudo;
- Utang lamo balun babayia
- Kini lah ka tibo pulo.
Kini baitulah dek Sutan, tidak suko kami manaruah, elok bajalan kini-kini.”
Alah bajalan Magek Manandin, alah tibo di tangah laman, hari nan laruik tangah malam, ayia mato badarai-darai, buni tangih babuah-buah, bansaik nan tidak tatangguangkan, sabab dek main judi juo.
- Hilia ka labuah Rimbo Panjang
- Tikuluak jan dibasahi;
- Dahulu ditumpang hati gadang
- Kini lah badan sansai.
- Apo ka tenggang kabau gadang
- Pamatang tinggi tak tadaki;
- Apo ka tenggang di anak dagang
- Utang tak buliah mintak janji.
46
- Lambung dikecap gundu mati
- Koa yang tidak bisa sampai.
Termenung Magek Manandin, lalu digadaikan pula kuda, sekali pun tidak menang, badan semakin miskin jua.
Tiga hari lama di sana, telah habis pakaian semuanya, utang nasi sudah banyak pula, uang tak ada pembayarnya, semua orang sudahlah benci, seorangpun tak ada yang sayang. Hari telah beranjak petang, telah diminta malah nasi, kepada mandeh yang berlepau, orang tak mau menyendukkan, berkata mandeh yang berlepau,
“Duhai Sutan yang baru datang, kalau nasi yang sutan minta, kami tidak bisa memberikan, sebab begitu kata kami,
- Cikarau di hulu air
- Diambil semua yang muda;
- Utang lama belum dibayar
- Sekarang akan tiba pula.
Sekarang beginilah di Sutan, kami sudah tidak suka, elok berjalan kini-kini.”
Telah berjalan Magek Manandin, telah sampai di tengah laman, hari yang larut tengah malam, air mata berderai-derai, bunyi tangis berbuah-buah, miskin yang tidak tertanggungkan, sebab karena bermain judi.
- Hilir ke jalan Rimbo Panjang
- Tengkuluk jangan dibasahi;
- Dahulu ditumpang hati riang
- Kini badan disesali.
- Apa kan tenggang kaki panjang
- Pematang tinggi tak terdaki;
- Apa kan tenggang anak dagang
- Utang tak bisa minta janji.
47
- Gantang kanso paluiknyo loyang
- Sakalat layah pangguntiangan;
- Sadang kayo banyak nan sayang
- Bansaik lah surang manangguangkan.
- Tubuah buruak kampuang bajojo
- Dibali pandan manyalasai;
- Untuang buruak tibo di ambo
- Pitih habih badan marasai.
- Masaklah buah taruang tunjuak
- Makanan rajo di Painan;
- Barambuih angin dari rusuak
- Mangaluah bujang kadinginan.
Hari hampia badarok siang, dingin nan tidak tatangguangkan, bajalan Magek Manandin, bakain babaju tidak, tingga sarawa genggang buruak.
Alah tampak rumah sabuah, alah tibo inyo di sanan, duduak di laman urang, dicaliak kampuang sangaik rami, masuak inyo ka dalam kandang, alah duduak inyo di dalam. Sabab dek hari sangaik dingin, rangik mamakan timba baliak, lah takajuik itiak jo ayam, alah babuni itiak angso.
Takajuik urang punyo rumah, urang lah jago sakampuangnyo, alah turun urang ka laman, diliek basamo-samo, pintu kandang alah tabukak, alah tampak urang surang sajo, babaju bakain tidak, urang mamakiak hanyo lai.
Alah dihimbaukan urang maliang, bakaja urang dalam kampuang, nan hilia bakaja mudiak, nan mudiak bakaja hilia. Bakumpua urang gadang ketek, alah banyak urang di laman, alah diambiak Magek Manandin, tidak urang tanyo batanyo, alah dipatinjukan hanyo lai.
Nan surang mambaok batu, apo nan dapek digadokan, lapeh di tangan nan surang, bajawek pulo dek nan lain.
48
- Gantang gangsa palutnya loyang
- Sekalat layah pengguntingan;
- Sedang kaya banyak yang sayang
- Miskin sendirian menanggungkan.
- Tubuh buruk kampung dijaja
- Dibeli pandan menyelesai;
- Nasib buruk tiba di hamba
- Uang habis badan merasai.
- Masaklah buah terung tunjuk
- Makanan raja di Painan;
- Berhembus angin dari rusuk
- Mengeluh bujang kedinginan.
Hari hampir beranjak siang, dingin yang tidak tertanggungkan, berjalan Magek Manandin, berkain berbaju tidak, hanya celana genggang buruk.
Lalu nampak sebuah rumah, telah tiba ia di sana, duduk di halaman orang, dilihat kampung sangat ramai, masuklah ia ke dalam kandang, sudah duduk ia di dalam. Karena hari sangat dingin, nyamuk menggigit timbal balik, terkejutlah itik dengan ayam, telah berbunyi itik angsa.
Terkejut orang punya rumah, bangunlah orang sekampungnya, turunlah orang ke halaman, dilihat bersama-sama, pintu kandang sudah terbuka, tampaklah orang satu orang, berbaju berkain tidak, orang menjerit seketika.
Telah dipanggil orang maling, berkejar orang dalam kampung, yang hilir berkejar mudik, yang mudik berkejar hilir. Berkumpul orang besar kecil, sudah banyak orang di halaman, sudah ditangkap Magek Manandin, tidak orang tanya bertanya, langsung dipertinjukan seketika.
Yang seorang membawa batu, apa yang dapat dipukulkan, lepas dari tangan yang seorang, disambut oleh tangan yang lain. [ 61 ]Sadang dek Magek Manandin, tidak tahu di diri lai, lah bakabek Magek Manandin urang kampuang maninju juo.
- Mandi ka lubuak Maralian
- Mandi bakusuak daun lado;
- Dek buruak untuang jo bagian
- Bagaluik sunat di kapalo
- Bakato urang di nagari, lai juo nan ibo surang-surang,
- “Gadang ayianyo rimbo malalak
- Ka hilia tanjuang muaronyo;
- Urang maliang jangan diantak
- Tantukan sabab karanonyo
- Antah salah antah moh tidak.”
Hari siang hanyo lai, alah tingga darah di batu, mato lah sambok kanai tangan, darah mahilia tak baranti, roman nan rancak alah buruak, tidak tahu jo diri lai.
Alah datang Rajo Duobaleh, manyambah Manti jo Dubalang, “Ampun tuanku Rajo kami, kalau dibunuah kami mati, kato bana disabuik juo, di hari samalam tadi, kami mandapek urang maliang, urang nangko mamaliang jawi.”
Sadang dek Rajo Duobaleh, dicaliak roman jo tampannyo, tidak pulo urang di siko, tak tantu dusun nagarinyo, dihimpun urang nan banyak, urang bahimpun hanyo lai, pai maliek urang maliang, surang pun tidak tahu,
- Bakato Rajo Duobaleh,
- “Cingkariang elok ditutuah
- Pado marimbo dalam padi
- Urang maliang elok dibunuah
- Pado manyeso di nagari.”
Manjawab manti jo dubalang, sarato urang dalam kampuang,
50
Magek Manandin, orang kampung meninju jua.
- Mandi ke lubuk Maralian
- Mandi berlulur daun lada;
- Karena buruk nasib badan
- Bergelut sunat di kepala.
- Berkata orang di nagari, ada yang iba satu-satu,
- “Besar airnya rimba Malalak
- Ke hilir tanjung muaranya;
- Orang maling jangan dihentak
- Tentukan sebab karenanya
- Entah salah entah tidak.”
Haripun beranjak siang, telah tinggal darah di batu, mata pun sembab kena tangan, darah mengalir tak berhenti, roman yang rancak telah buruk, tidak lagi tahu di diri.
Telah datang Rajo Duobaleh, menyembah manti dan dubalang, “Ampun Tuanku raja kami, kalau dibunuh kami mati, kebenaran disebut jua, di hari semalam tadi, kami mendapat orang maling, orang ini mencuri sapi.”
Sedang di Rajo Duobaleh, dilihat roman dan tampannya, tidak pula orang kampung sini, tak tentu dusun nagarinya, dihimpun orang yang banyak, orang berkumpul semuanya, pergi melihat orang maling, tak seorang pun mengenali.
- Berkata Rajo Duobaleh,
- “Cingkaring elok dipangkas
- Daripada merimba dalam padi
- Orang maling elok ditumpas
- Daripada menyusahkan dalam nagari.”
Menjawab manti dan dubalang, serta orang dalam kampung,
51
- “Cingkariang jan ditutuah
- Kok tidak condong ka laman;
- Urang maliang jan dibunuah
- Kok tidak tatangkok tangan.
Urang bahimpun hanyo lai, pai maliek urang maliang, surang pun tidak urang nan tahu, bakato Rajo Duobaleh, “Mano dubalang nan barampek, cubo pandang-pandang bana, tantukan bana sia urang nantun.”
Sadang dubalang nan barambek, alah dicaliak urang nantun, alah tantu rupo jo tampannyo, bakato Dubalang nan barampek, “Ampun Tuanku rajo kami, alah kami pandang nyato-nyato, sapanjang pikiran kami, ikolah urang nan baru datang, lawan Tuanku nan manyabuang.” Bakato Rajo Duobaleh, “Mano dubalang nan barampek, elok diirik urang nangko.”
Dikabekkan Magek Manandin, bakabek jo tali gadang, dilatakkan di rumah jago. Alah sahari antaronyo, makan tidak minum pun tidak, datanglah urang surang-surang, satangah lai urang nan ibo, dicari malah pamakanan.
Alah tigo hari kan lamonyo, badan bakabek juo baru, alah pandai mangana Allah, alah takana kasalahan, dipasang niat dangan kaua, “Ya Allah Tuhanku Rabbi, kok lai babaliak ambo sehat, ambo ubah parangai lamo, ambo hantikan main judi.”
Pintak nan sadang ka balaku, Tuhan nan sadang ka mambari, alah hilang raso panyakik, alah sehat Magek Manandin, hari malam hanyo lai, dingin nan tidak tatangguangkan, manangih Magek Manandin, takana untuang parasaian,
- Ramilah balai Pasa Gadang
- Rami nan sadang tangah hari;
- Bari maaf ambo mangarang
- Kaba baraliah hanyo lai.
52
- “Cingkaring jangan dipangkas
- Jika tidak condong ke halaman;
- Orang maling jangan ditumpas
- Jika tidak tertangkap tangan.
Orang berkumpul seketika, hendak melihat orang maling, tak seorangpun yang tahu, berkata Rajo Duobaleh, “Wahai dubalang yang berempat, coba pandang sungguh-sungguh, tentukan benar siapa orang itu.”
Sedang dubalang yang berempat, diperhatikan benar orang itu, tentulah rupa dan tampannya, berkata dubalang yang berempat, “Ampun Tuanku raja kami, telah kami pandang nyata-nyata, sepanjang pikiran kami, dialah orang yang baru datang, lawan Tuanku yang menyabung.”
Berkata Rajo Duobaleh, “Wahai dubalang yang berempat, elok diseret orang ini.”
Diikatkan Magek Manandin, diikat dengan tali besar, diletakkan di rumah jaga. Telah sehari antaranya, makan tidak minumpun tidak, datanglah orang satu per satu, setengah ada jua yang iba, lalu dicarikan malah makanan.
Telah tiga hari lamanya, badan masih terikat jua, telah bisa mengingat Allah, telah teringat kesalahan, dipasang niat dengan kaul, “Ya Allah tuhanku Robbi, kalau denai kembali sehat, denai ubah perangai lama, denai hentikan main judi.”
Pinta yang sedang akan berlaku, tuhan yang sedang akan memberi, hilanglah rasa sakit di badan, telah sehat Magek Manandin, hari pun beranjak malam, dingin yang tidak tertanggungkan, menangis Magek Manandin, teringat untung perasaan,
- Ramilah balai Pasa Gadang
- Rami ketika tengah hari;
- Beri maaf hamba mengarang
- Cerita akan beralih lagi.
53
Hukuman Rajo Kuaso
Sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, salamo paningga anak, tidak ado bahati sanang, kaba tidak barito tidak, nasi dimakan raso sakam, ayia diminum raso duri, anak kanduang takana juo, rintang manangih siang malam.
Tidaklah kaba dipanjangkan, baraliah ka Subang Bagelang, tunangan Magek Manandin, hari nan sadang tangah hari, manangih Subang Bagelang, takana pulo tunangan, lah lamo raso inyo bajalan, kaba tidak barito tidak, apo ka tenggang aka ambo, ambo surang anak gadih, tidak patuik bajalan-jalan, hari lah malam hanyo lai, manangih babuah pantun,
“Dari subaliak ka sabalah
Lah bakili tapi kain
Dijahik tantang kapalonyo;
Sudah untuang takadia Allah
Dirintang bana jo nan lain
Tuan kanduang takana juo.
Anak angso di rumah gadang
Kurang dadak tumbuakkan padi
Dibari makan kaduonyo;
HUKUMAN RAJA KUASA
Sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, selama si anak pergi, tidak ada berhati senang, kabar tidak berita tidak, nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri, anak kandung terkenang jua, rintang menangis siang malam.
Tidaklah kabar dipanjangkan, beralih ke Subang Bagelang, tunangan Magek Manandin, hari yang sedang tengah hari, menangis Subang Bagelang, terkenang pula pada tunangan, lama sudah Ia berjalan, kabar tidak berita tidak, apa kan tenggang akal badan, diri hanya anak gadis, tidak patut berjalan-jalan, hari semakin malam jua, menangis berbuah pantun,
- “Dari sebalik ke sebelah
- sudah dikili tepi kain
- Dijahit tentang kepalanya;
- Sudah untung takdir Allah
- Meski dirintang dengan yang lain
- Tuan kandung terkenang jua.
- Anak angsa di rumah gadang
- Kurang dedak tumbukkan padi
- Diberi makan keduanya; [ 67 ]
- Disangko Tuan lakeh pulang
- Dinanti sahari lai
- Batambah jauah moh kironyo.
- Ayam kinantan putiah cotok
- Disabuang nak rang Koto Tuo;
- Bagai gunuang Tuan diharok
- Iko malah ka balasannyo.
- Bacincin parmato intan
- Patah tatimpo ateh kaco;
- Sadang kasiah Tuan bajalan
- Bahati saba malah ambo.
- Simpang Tanang tabeknyo runtuah
- Badakek jalan ka parik;
- Dalam sanang manaruah rusuah
- Rumik batenggang dalam raik.”
Hari lah badarok siang, lah kiro-kiro pukua anam pagi, kaba baraliah hanyo lai, sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Rajo Kuaso.
Alah sudah makan dangan minum, bajalan Rajo Kuaso, dihiliakan labuah nan panjang, dek lamo lambek di jalan, tidaklah kaba dipanjangkan, alah tibo malah di sanan, di ranah di Sandiangbaka, di rumah Puti Linduang Bulan.
Bakato Rajo Kuaso, “Adiak kanduang Si Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, bari luruih ambo batanyo, Si Buyuang dima nyo kini, nan banamo Magek Manandin?”
Manjawab Puti Linduang Bulan, “Kalau itu Tuan tanyokan, itulah nan kami rusuahkan, siang malam bahati mabuak, si Buyuang Magek Manandin, inyo kan pai ka galanggang, ka galanggang Puti Nilam Cahayo, pasan tidak barito pun tidak, antah bak mano lah tu kini, ramuak raso paratian.”
56
- Disangka Tuan lekas pulang
- Dinanti sehari lagi
- Semakin jauh malah kiranya.
- Ayam kinantan putih sayap
- Disabung anak Koto Tua;
- Bagai gunung Tuan diharap
- Apakah ini balasannya.
- Bercincin permata intan
- Patah tertimpa atas kaca;
- Sedang kasih Tuan berjalan
- Berhati sabar malah hamba.
- Simpang Tanang tebatnya runtuh
- Berdekat dengan jalan ke parit;
- Dalam senang menyimpan rusuh
- Rumit bertenggang dalam raib”
Hari sudah beranjak siang, sekitar pukul enam pagi, kabar beralih seketika, sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Rajo Kuaso.
Setelah sudah makan dan minum, berjalanlah Rajo Kuaso, dihilirkan jalan yang panjang, setelah lama lambat di jalan, tidaklah kaba dipanjangkan, telah tiba malah di sana, di ranah Sandiangbaka, di rumah Puti Linduang Bulan.
Berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung si Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, beri lurus denai bertanya, si buyung dimana kini, yang bernama Magek Manandin?”
Menjawab Puti Linduang Bulan, “Kalau itu yang Tuan tanyakan, itulah yang sedang kami rusuhkan, siang dan malam berhati mabuk, si buyung Magek Manandin, dia pergi ke gelanggang, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, pesan tidak berita pun tidak, entah bagaimana lah sekarang, remuk rasa perhatian.”
57
Bajalan juo hilia mudiak, jawi dicari tidak dapek, alah batamu Rajo Duobaleh, batamu di simpang jalan, bakato Rajo Duobaleh, "Oi tuan Rajo Kuaso, ka mano Tuan ka bajalan, apo mukasuik Tuan cari?"
Manjawab Rajo Kuaso, "Sabab ambo datang ka mari, mancari jawi ka pambajak, kokado urang nak manjua."
Bakato Rajo Duobaleh, "Jikok itumukasuik Tuan, laiado ambo ba jawi, sadang bakabek lah tu kini, kalau Tuan suko mambali, murah bana haragonyo, liek dek tuan jawi nantun, bakabek di pondok jago."
Alah bajalan Rajo Duobaleh, manuruik Rajo Kuaso, paimaliek jawi nantun, alah tibo di pondok jago, bakato Rajo Duobaleh, "Oi tuan Rajo Kuaso, ikolah jawi kato ambo," ditunjuakkan Magek Manandin, "Baok dek Tuan urang nangko, sabab inyo mamaliang jawi."
Sadang dek Rajo Kuaso, dicaliak bana hampia-hampia, alah tarang Magek Manandin, kironyo kamanakan kanduang, bakain babaju tidak, nan tingga sarawa genggang buruak.
Alah tasirok darah di dado, malu nan tidak tatangguangkan, awak kayo disabuik urang, budak banyak sakarek koto, kamanakan mamaliang jawi, ka mano muko ka disuruakkan, sadang dek Rajo Kuaso, alah diambiak Magek Manandin, diirik jo taligadang, harinan sadang tangah hari, sadang lah bunta bayang-bayang, dibaok juo bajalan.
Alah sarantang pajalanan, di mano panek inyo baranti, manangih Magek Manandin, ayia mato badarai-darai, bakato Magek Manandin, "Oimamak Rajo Kuaso, barilah baa ambo ampun, sakik [ 70 ]Sementara Rajo Kuaso, baru mendengar kata itu, telah berjalan Rajo Kuaso, telah serentang perjalanan, karena lama lambat di jalan, hampir kan tiba hanya lagi, telah tiba malah di sana, di kampung Rajo Duobaleh, berjalan-jalan masuk kampung, maksud sengaja dalam hati, mencari sapi untuk pembajak, orang lah hampir turun ke sawah.
Berjalan jua hilir mudik, sapi dicari tidak dapat, lalu bertemu Rajo Duobaleh, bertemu di simpang jalan, berkata Rajo Duobaleh, “Oi Tuan Rajo Kuaso, kemana Tuan akan berjalan, apa maksud Tuan cari?”
Menjawab Rajo Kuaso, “Sebab denai datang ke mari, mencari sapi untuk pembajak, kalau ada orang yang menjual.”
Berkata Rajo Duobaleh, “Kalau itu maksud Tuan, denai punya seekor sapi, sedang diikat malah kini, kalau Tuan suka membeli, murah benar harganya, lihat di Tuan sapi itu, diikat di pondok jaga.”
Telah berjalan Rajo Duobaleh, mengikuti Rajo Kuaso, pergi melihat sapi itu, telah tiba di pondok jaga, berkata Rajo Duobaleh, “Oi Tuan Rajo Kuaso, inilah sapi kata denai” ditunjukkan Magek Manandin, “Tuan bawalah orang ini, sebab dia mencuri sapi.”
Sedang di Rajo Kuaso, dilihat benar dekat-dekat, teranglah itu Magek Manandin, kiranya kemenakan kandung, berkain berbaju tidak, yang tinggal celana dalam buruk. Tersiraplah darah di dada, malu yang tidak tertanggungkan, diri disebut orang kaya, budak banyak setengah koto, kemenakan mencuri sapi, kemana muka kan disembunyikan, sedang oleh Rajo Kuaso, dibawalah Magek Manandin, diseret dengan tali besar, hari yang sedang tengah hari, sedang nya bulat bayang-bayang, dibawa jua berjalan.
Telah serentang perjalanan, di mana penat Ia berhenti, menangis Magek Manandin, air mata berderai-derai, berkata Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, tolong berilah denai ampun, [ 71 ]nan tidak tatangguangkan, ikolah rupo paneh hari, mamak irik di tangah labuah, paruik ambo lapa bana, hauih nan tidak tatangguangkan.”
Mandanga kato Magek Manandin, baranti Rajo Kuaso, sanan bakato Rajo nantun, “Oi Buyuang Magek Manandin, lai tahu malah di lapa, kok hauih nan tidak dapek minum, tahan dek waang hantam tarajang.”
Diambiak batu tangah labuah, alah dilacuik Magek Manandin, manangih Magek Manandin, “Oi Mamak kanduang ambo, usahlah nasi nan ka dapek, hantam tarajang nan ditangguang, Mamak lacuik pulo jo batu.”
Bakato Rajo Kuaso, “Oi buyuang Magek Manandin, lai malah tahu di sakik, apo sabab mamaliang jawi, sajak dahulu den katokan, elok paralu pai mangaji, manyabuang juo nan waang sukokan, bamain dadu tiok hari, iko malah balasannyo.
Kini baitu malah dek waang, pado hiduik baiaklah mati, mambari malu dalam kampuang, tidak didanga tidak batanyo, di dalam kampuang Sandiangbaka, awak den manjadi Rajo, budak banyak sakarek koto, kabau bantiang ayam jo padi, tidak nan kurang suatu juo, salamo Buyuang gadang nangko, kinilah baru dapek malu.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato Mamak, kok tidak buliah mintak ampun, barilah juo ambo ayia.”
Sadang dek Magek Manandin, usahlah ayia nan ka dapek, kanai lacuik sakali lai, alah mamakiak Magek Manandin, “Kalau baitu kato mamak, bunuah bana badan ambo, nak sanang hati mamak tingga, carilah padang nan agak tajam, nak tantu ambo manangguangkan.”
Biduak gajah pincalang banyak
Usah dikali anak Cino;
Biduak pacah pelang lah rarak
Kapa ditompang karam pulo
seret di tengah jalan, perut denai sangat lapar, haus yang tidak tertanggungkan.”
Mendengar kata Magek Manandin, berhenti Rajo Kuaso, lalu berkata Rajo itu, “Oi Buyung Magek Manandin, sungguhpun perut terasa lapar, kalau haus tak dapat minum, tahan dek buyung sepak dan terjang.”
Diambil batu di tengah jalan, lalu dilempar Magek Manandin, menangis Magek Manandin, “Oi mamak kandung denai, usahlah nasi akan dapat, sepak dan terjang yang ditanggung, mamak lempar pula dengan batu.
Berkata Rajo Kuaso, “Oi Buyung Magek Manandin, kalau buyung merasa sakit, lalu mengapa mencuri sapi, sejak dahulu denai katakan, elok buyung pergi mengaji, menyabung jua yang buyung sukai, bermain dadu tiap hari, maka ini lah balasannya.
Sekarang beginilah saja, daripada hidup eloklah mati, memberi malu dalam kampung, tidak didengar tidak bertanya, di dalam kampung Sandiangbaka, denai yang menjadi raja, budak banyak setengah kota, kerbau banting ayam dan padi, tidak yang kurang satupun jua, sampai buyung sebesar ini, kinilah baru dapat malu.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata mamak, kalau tak boleh minta ampun, berilah Denai air.”
Namun bagi Magek Manandin, usahkan air akan dapat, malah dipukul sekali lagi, berteriaklah Magek Manandin, “Kalau begitu kata mamak, bunuhlah saja badan denai, agar senang hati mamak, carilah pedang yang tajam, agar tentu denai tanggungkan.
- Biduk gajah pencalang banyak
- Usah dikali anak Cina;
- Biduk pecah pelangpun rusak
- Kapal ditumpang karam pula.
61
- Luruih jalan ka Batusangka
- Babelok jalan ka Rambatan
- Di simpang jalan nan ka gaduang;
- Tidak guno ambo manyasa
- Lah tigo hari tidak makan
- Hantam tarajang nan ditangguang.
- Ditiuik api di puntuang
- Sakarek ka kayu bajo;
- Sajak ketek dimabuak untuang
- Gadang ditimpo dek sansaro.
Sadang dek Rajo Kuaso, sabuah tidak didangakan, alah diirik Magek Manandin, alah tingga darah di batu.
Dek lamo lambek di jalan, alah tibo di Sandiangbaka, tibo di rumah bundo kanduang, takajuik Puti Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, diliek urang nan diirik, dipandang bana nyato-nyato, alah tarang Magek Manandin.
Mamakiak Puti Linduang Bulan, duo jo Datuak Bandaharo, takajuik pulo Puti nan Bungsu, alah turun ka tangah laman, bakato Puti Linduang Bulan, “Oi tuan kanduang Rajo Kuaso, apo bana kasalahannyo, sabab Si Magek Tuan bunuah, jikok sabab ameh jo perak, lai banyak ambo taruah, Tuan kanduang bapikia malah, anak ambo bairik sajo, tidak Tuan manaruah ibo.”
Manangih Puti Nan Bungsu, buah pantun baibo-ibo, “Tuan kanduang Magek Manandin,
Gadang korok pasa dahulu
Nampak nan dari ayia bangih;
Gadang harok ambo dahulu
Kini manjadi buah tangih.
Tuan kanduang Magek Manandin, barapo banyak utang Tuan, nak tantu ambo mambayia, Oi mamak denai Rajo Kuaso, tidak koh
mamak manaruah santun.”62
- Lurus jalan ke Batusangkar
- Berbelok jalan ke Rambatan
- Di simpang jalan ke gedung;
- Tiada guna denai menyesal
- Tiga hari sudah tiada makan
- Hantam dan terjang yang ditanggung.
- Ditiup api dipuntung
- Sekerat untuk kayu baja;
- Sejak kecil dimabuk untung
- Besar ditimpa sengsara.
Sementara Rajo Kuaso, sebuah tidak didengarkan, lalu diseret Magek Manandin, tercecerlah darah di batu.
Karena lama lambat di jalan, telah tiba di Sandiangbaka, tiba di rumah bundo kanduang, terkejut Puti Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, dilihat orang yang diseret, dipandang benar nyata-nyata, teranglah itu Magek Manandin.
Menjerit Puti Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, terkejut pula Puti Nan Bungsu, turunlah ke tengah halaman, berkata Puti Linduang Bulan, “Oi Tuan kandung Rajo Kuaso, apa benarkah kesalahannya, sebab si Magek Tuan bunuh, jika sebab emas dan perak, denai yang ada banyak menyimpan, Tuan Kandung berpikirlah, anak denai diseret saja, tidakkah Tuan merasa iba.”
Menangis Puti Nan Bungsu, buah pantun beriba-iba, “Tuan Kandung Magek Manandin,
- Besar korok pasar dahulu
- Nampak dari Aia Bangih;
- Besar harap hamba dahulu
- Kini menjadi buah tangis.
- Tuan Kandung Magek Manandin, berapa banyak utang Tuan,
tentulah denai melunasi, Oi mamak denai Rajo Kuaso, tidakkah mamak menaruh santun.”
63
Sadang dek rajo Kuaso, alah diambiak malah padang, dipancuang Magek Manandin, Allah Ta’ala kayo sungguah, tidak namuah basi mamakan, tidak luko inyo dipancuang.
Diambiak pulo malah rencong, ditikam Magek Manandin, sadang batolong pado Allah, rencong baguluang ka pangkanyo, manangih urang dalam kampuang, mancaliak urang kanai pancuang, bapak jo mandeh alah pangsan, manangih pulo Puti Nan Bungsu, bakato Magek Manandin,
“Oi Mamak Rajo Kuaso, tidak koh mamak manaruah ibo, nak sanang bana hati mamak, carikan tombak ka pambunuah, kok tidak dapek tombak panjang, carikan kayu dalam rimbo, suruah malah anak buah, pai mancari kayu banyak-banyak, jadikan api kayu nantun, masuakkan ambo ka dalamnyo, nak sanang hati Mamak nan tingga.”
Sadang dek Rajo Kuaso, dilacuik tabuah larangan, bahimpun urang dalam kampuang, diparintahkan pado anak buah, mancari kayu ka dalam rimbo.
Lamo sabanta antaronyo, alah tibo kayu di laman, alah dibaka kayu nantun, dimasuakkan Magek Manandin, ka dalam api sangaik nyalo, tidak namuah api mamakan.
Hilang aka Rajo Kuaso, jo apo inyo ka dibunuah, alah dicari malah tali, dikabek Magek Manandin, diparintahkan di anak buah, “Tolong campakkan paja nangko, basamo-samo kito mambunuah, usah manyeso kamudian.” [ 76 ]Mendengar kata demikian, termenung Rajo Kuaso, tidaklah kabar dipanjangkan, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung si Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, serta dengan Puti Nan Bungsu, kalau utang yang ditanyakan, utang yang tidak bisa dibayar, bukan utang emas dan perak, anak ini mencuri sapi, malu terjujung di kepala, sangat pantas dihukum pancung, kalau besar banyak sengsaranya, elok dibunuh kini kini.”
Sedang oleh Rajo Kuaso, diambil malah pedang, dipancung Magek Manandin, Allah Taala sungguh kaya, tidak bisa besi memakan, tidak luka yang dipancung.
Diambil pula malah rencong, ditikam Magek Manandin, sedang bertolong pada Allah, rencong bergulung ke pangkalnya, menangis orang dalam kampung, melihat Magek kena pancung, bapak dan mandehnya sudah pingsan, menangis pula Puti Nan Bungsu, berkata Magek Manandin,
“Oi Mamak Rajo Kuaso, tidakkah mamak menaruh iba, senangkan lah hati mamak, carikan tombak untuk membunuh, kalau tak dapat tombak panjang, carikan kayu dalam rimba, suruh malah anak buah, mencari kayu banyak-banyak, jadikan api kayu itu, masukkan denai ke dalamnya, agar senang hati mamak yang tinggal.
Oleh Rajo Kuaso, dipukul tabuh larangan, berkumpul orang dalam kampung, diperintahkan pada anak buah, mencari kayu dalam rimba.
Lama sebentar antaranya, telah tiba kayu di laman, lalu dibakar kayu itu, dimasukkan Magek Manandin, ke dalam api sangat nyala, tidak bisa api memakan.
Hilanglah akal Rajo Kuaso, dengan apa Magek akan dibunuh, lalu dicari malah tali, diikat Magek Manandin, diperintahkan di anak buah, “Tolong buang anak ini, bersama-sama kita membunuh, usah menyusahkan kemudian.
65
manangih Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, bari baa ambo ampun, tidak ibo mamak mambunuah, ikolah jinih badan ambo.”
Sadang dek bapak jo mandehnyo, alah tahu inyo jo badannyo, diliek anak alah bakabek, manangih manggaruang panjang, bakato Puti Linduang Bulan,
“Anak kanduang Magek Manandin, kok utang dapek denai bayia, salah tidak dapek ditimbang, dilawan tidak talawan, urang barajo di hatinyo, kini baitu malah dek anak:
- Kudo malompek batu balah
- Tibo di lurah pandakian;
- Usah diduo kahandak Allah
- Untuang lah sudah jo bagian.
- Sinaro Sutan Saidi
- Anak rang darek Banuhampu
- Barumah di ujuang tanjuang;
- Tidak guno anak sasa lai
- Suratan sudah dahulu
- Sajak di rahim bundo kanduang.”
Manjawab Magek Manandin, “Mandeh kanduang tingga malah di rumah, mandeh serahkan sajo pado Allah,
- Ambo saruangkan malah baju
- Karano dek baju ambo
- Disaruangkan lalu dihampaikan;
- Ambo tangguang malah dahulu
- Sabab dek laku ambo
- Badan ko juo marasaikan.
- Ambiak dek mandeh nan babuah
- Bialah pandan nan babungo;
- Ambiak dek mandeh nan batuah
- Bajalan ambo nan cilako. [ 78 ]Orang berhimpun seketika, diseretlah Magek Manandin,
menangis Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, tolonglah beri ampunkan denai, tak iba kah mamak membunuh, inilah rupa badan diri.”
Sementara bapak dan mandehnya, setelah sadarkan diri, dilihat anak sudah diikat, menangis menggarung panjang, berkata Puti Linduang Bulan, “Anak kandung Magek Manandin, kalau utang bisa mandeh bayar, salah yang tidak dapat ditimbang, dilawan tidak terlawan, orang beraja di hatinya, kini begitulah di anak,
- Kuda melompat batu belah
- Tiba di lurah pendakian;
- Usah didua kehendak Allah
- Untung telah sudah dengan bagian.
- Sinaro Sutan Saidi
- Anak rang Darek Banuhampu
- Berumah di ujung tanjung;
- Tidak guna anak sesali
- Suratan sudah dahulu
- Sejak di rahim bunda kandung.”
Menjawab Magek Manandin, “Mandeh kandung tinggallah di rumah, mandeh serahkan saja kepada Allah,
- Denai sarungkan malah baju
- Karena memang baju Denai
- Disarung lalu dihamparkan;
- Denai tanggungkan malah dahulu
- Karena memang salah denai
- Badan ini jua yag merasakan.
- Ambil oleh mandeh yang berbuah
- Biarlah pandan berbunga
- Ambil oleh mandeh yang bertuah
- Berjalan denai yang celaka.
67
Ramilah balai Tujuah Koto
Parintah Lareh Pariaman;
Bajalan bujang nan cilako
Tingga jajak sapu halaman.
Rami pakannyo Kurai Taji
Nampak nan dari Ujuang Tanjuang;
Bajalan bujang di nagari
Mamintak doa urang kampuang.
Kamih balainyo Lubuak Basuang
Salasa di Pauah Kamba
Sinayan pasa nak rang Tiku
Hari Ahad ka Sungai Limau;
Bangih ruponyo mamak kanduang
Namuah mambunuah badan ambo
Malang Si Upiak Puti Bungsu
Ka mano ambo kan mahimbau.”
Alah sudah inyo bapantun, bakato Rajo Kuaso, “Mano dubalang nan barampek, sarato urang dalam kampuang, kito basigap hanyo lai, kito irik Magek Manandin, dicampakkan ka lurah dalam, kok gadang manyeso juo.”
Urang basigap hanyo lai, diambiak tali sahalai surang, alah diirik Magek Manandin, manangih Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, tigo jo Puti Nan Bungsu, maliek anak lah bairik,
buni tangih babuah-buah, “Anak kanduang Magek Manandin, tidak dapek kami manolong.”
Banduanglah ratok tangah rumah, manangih pulo Puti Bungsu, “Tuan kanduang Magek Manandin, kito baduo badunsanak, tidak nan lain diharokkan, ka mano ambo ka mangadu, jikok tidak dunsanak kanduang, ka sansai malah badan ambo, ikolah jinih panangguangan, iyo bana bak pantun urang,
Kampuang Jambak manyisia rimbo
Di baliak kampuang Mandahiliang;
- Ramilah balai Tujuh Kota
- Perintah ]lareh Pariaman;
- Berjalan bujang yang celaka
- Tinggal jejak sapu halaman.
- Rami pekannya Kurai Taji
- Nampak dari ujung Tanjung;
- Berjalan bujang dari nagari
- Meminta doa dari orang kampung.
- Kamis balainya Lubuk Basung
- Selasa di Pauh Kembar
- Senin pasar orang Tiku
- Hari ahad ke Sungai Limau;
- Marah rupanya mamak kandung
- Hendak membunuh badan denai
- Malang si Upik Puti Bungsu
- Kemanakah denai kan menghimbau.”
Setelah ia berpantun, berkata Rajo Kuaso, “Wahai dubalang yang berempat, serta orang dalam kampung, kita bersigap lah segera, kita seret Magek Manandin, dicampakkan ke lurah dalam, kalau besar menyusah jua.”
Orang bersigaplah segera, diambil tali sehelai sorang, lalu diseret Magek Manandin, menangis Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, bertiga dengan Puti Nan Bungsu, melihat anak telah diseret, bunyi tangis berbuah-buah, “Anak kandung Magek Manandin, tidak dapat kami menolong.”
Bandunglah ratap di tengah rumah, menangis pula Puti Bungsu, “Tuan kandung Magek Manandin, kita berdua bersaudara, tidak yang lain diharapkan, kemana denai akan mengadu, jika tidak saudara kandung, akan sansai malah badan denai, inilah rupa penanggungan, benar bagai pantun orang,
- Kampung Jambak menyisir rimba
- Di balik kampung Mandahiling;
69
- Sadang mamak lai tak ibo
- Kununlah urang bakuliliang.”
Tidaklah kaba dipanjangkan, manangih Magek Manandin, urang banyak mairik juo, alah tingga darah di batu, bakato Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, hauih nan tidak tatangguangkan, raso ka putuih nyawo badan, barilah baa ambo ayia.”
Manjawab Rajo Kuaso, “Oi Buyuang Magek Manandin, hauih jo lapa nan takana, lai malah tahu di litak, anto namuah mamaliang jawi.”
Usah ayia nan ka dapek, jankan nasi nan ka buliah, diambiak tungkek dilacuikkan, alah dilacuik pulo Magek Manandin.
“Oi Buyuang Magek Manandin, ikolah ka ganti ayia, paubek lapa dangan hauih, sajak dahulu den katokan, tidak namuah masuak pangaja, kato urang tuo tidak didanga, bajudi juo waang sukokan, siang jo malam rintang badadu, bangso mulia jadi hino, sajak samulo den katokan, tidak waang latak dalam hati, badan ang juo manangguangkan!”
Manangih Magek Manandin, badan batambah latiah juo, bakato Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, Mamak sampaikan malah mambunuah, nak sanang hati Mamak tingga, tatapi sungguahpun baitu, kok jadi ambo mati, pacik pitaruah baiak-baiak, kalau dapek mamak mancarinyo, nan ka laki Subang Bagelang, iyolah nan mudo samo mudo, usah maharok kayo di urang, jan maharok di bangso tinggi, pandang anak pandang minantu, iyolah nan jolong samo jolong.
Sabab ambo mandapek kaba, mamak ka manjapuik Rajo Duobaleh, sabab itu urang nan kayo, lai rajo lai asa pulo.
Tapi sungguahpun baitu, pikiran ambo salah bana, harok di kayo urang sajo, tidak dicaliak roman anak, iyo bak buni pantun urang,70
Sedangkan mamak sudah tak iba
Apalagi orang sekeliling.”
Tidaklah kabar dipanjangkan, menangis Magek Manandin, orang banyak menyeret jua, tercecer darah di batu, berkata Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, haus yang tidak tertanggungkan, rasa kan putus nyawa di badan, berilah jua denai air.”
Menjawab Rajo Kuaso, “Oi buyung Magek Manandin, haus dan lapar yang teringat, malah tahu di rasa lapar, mengapa buyung mencuri sapi.”
Usahkan air akan dapat, jangankan nasi akan beroleh, diambil tongkat dilecutkan, dilecutlah pula Magek Manandin.
“Oi Buyung Magek Manandin, inilah pengganti air, pengobat lapar dan dahaga, sejak dahulu denai katakan, tidak mau masuk sekolah, kata orang tua tidak didengar, berjudi yang buyung sukakan, siang dan malam bermain dadu, bangsa mulia jadi hina, sejak semula denai katakan, tidak diletak dalam hati, buyung jua menanggungkan.”
Menangis Magek Manandin, badan bertambah letih jua, berkata Magek Manandin, “Oi Mamak Rajo Kuaso, mamak sampaikan malah membunuh, agar senang hati Mamak tinggal, tetapi sungguhpun begitu, kalau jadi denai mati, pegang petaruh baikbaik, kalau dapat mamak mencarinya, calon suami Subang Bagelang, hendaknya yang sama muda, usah mengharap kaya orang, jangan mengharap di bangsa tinggi, pandang anak pandang menantu, hendaknya yang jolong sama jolong.
Sebab denai mendapat kabar, mamak akan menjemput Rajo Duobaleh, sebab dia orang yang kaya, raja pula di nagarinya.
Tapi sungguhpun begitu, menurut denai sungguh salah, harap di kaya orang saja, tidak dilihat roman anak, bagai bunyi pantun orang, [ 83 ]Sawahlunto bapaga kawek
Bapaga sampai ka Durian;
Anak gadih balaki gaek
Harok dek murah pancarian.
Mamak kanduang bapikia malah, usah tangguang mangacak dunia, usah dihalang kapalangan, manjadi cacek kamudian, tidak diagak dipikiri, tangguang-tangguang buluah saruweh, samo namuah mangko manjadi.
Cubo hiduik bacacah jangek, rangkuah ka badan diri mamak, nak tahu di asin garam, nak tahu di padeh lado, usah elok di mamak surang, iyo bana bak pantun urang,
Diantak mangko dihantun
Didulang di lapaknyo;
Marasai mangkonyo santun
Kalau tidak digalakkannyo.
Ganjo di parak rang Subarang
Sarumpun jo duri lunak;
Elok di hati mamak surang
Tidak ditenggang hati anak.
Akhia kalaknyo kamudian, tandonyo tidak ka salamaik, arang habih basi binaso, urang mahambuih payah sajo, jariah banyak badaso tidak, Mamak juo manangguangkan, maklum pulang pado mamak.”
Baru mandanga kato nantun, bangih berang Rajo Kuaso, “Buyuang Magek Manandin, banyak bana kato waang lai, malah pandai baundang-undang, pandai bana bakato-kato, antoh namuah mamaliang jawi.
Mano dubalang nan barampek, hari basarang tinggi juo, kito bajalan hanyo lai.”
Diirik Magek Manandin, alah tibo di pintu rimbo, di tapi lurah nan dalam, manangih Magek Manandin, latiah nan tidak tatangguangkan, raso ka putuih nyawo di badan, kok dimintak bana [ 84 ]
- Sawahlunto berpagar jua
- Berpagar sampai ke Durian;
- Anak gadis bersuami tua
- Harap kan mudah pencarian.
Mamak kandung pikirkanlah, jangan tanggung menggenggam dunia, usah dihalang kepalangan, menjadi cacat kemudian, tidak diagak dipikiri, tanggung-tanggung buluh seruas, saling suka baru menjadi.
Coba hidup bercacah jangat, rengkuh ke badan diri Mamak, agar tahu di asin garam, agar tahu di pedas cabai, jangan yang elok di mamak saja, benar bagai pantun orang,
- Dihentak maka dihantun
- Didulang di lapaknya;
- menderita makanya santun
- kalau tidak ditertawakannya.
- Ganja di parak orang seberang
- Serumpun dengan duri lunak;
- Elok di hati mamak seorang
- Tidak ditenggang hati anak.
Akhir kelaknya kemudian, tandanya tidak akan selamat, arang habis besi binasa, orang meniup payah saja, jerih payah tak berguna, Mamak jua yang menanggungkan, pulang maklum pada Mamak.”
Baru mendengar kata itu, terbit marah Rajo Kuaso, “Buyung Magek Manandin, banyak benar kata buyung, malah pandai berundang-undang, pandai pula berkata-kata, mengapa mencuri sapi jua?”
Wahai dubalang yang berempat, hari semakin tinggi jua, mari kita berjalan sekarang.”
Lalu diseret Magek Manandin, diseret sampai ke pintu rimba, sampai di tepi lurah yang dalam, menangislah Magek Manandin, letih yang tidak tertanggungkan, rasa kan putus nyawa di badan, [ 85 ]lah ayia, jankan ayia nan ka dapek, hantam tarajang nan ka tibo, eloklah hauih ditangguangkan.
Bakato Rajo Kuaso, “Mano sagalo urang banyak, kito buang Magek Manandin, bialah lapuak dalam lurah, usah manyeso di nagari.”
Alah diambiak Magek Manandin, dicampakkan ka dalam lurah, alah tibo malah di lurah, badan lunak batambah latiah, raso ka putuih nyawo di badan, Allah juo nan tahu, tidak ajal bapantang mati.
Kaba baraliah hanyo lai, sungguahpun baraliah sanan juo, iyo kapado Rajo Kuaso, sarato dubalang nan barampek, bakato Rajo Kuaso, kapado dubalang nan barampek, sarato urang nagari.
“Alah ka sanang hati kito, jikok makan raso ka kanyang, sananglah hati urang kampuang, alah hilang Magek Manandin, tidak ado manyeso lai, kito babaliak malah pulang, hari lah badarok patang.”
Alah babaliak Rajo Kuaso, sarato dubalang nan barampek, diiriangkan urang nagari, dek lamo lambek bajalan, alah tibo di Sandiangbaka, di halaman Puti Linduang Bulan, bakato Rajo Kuaso, “Adiak kanduang Si Linduang Bulan, Si Buyuang Magek Manandin, alah diam di lurah dalam, antah hiduik antah nyo mati, sananglah hati kito nan tingga.”
Sadang dek Puti Linduang Bulan, baru mandanga kato nantun, manangih Puti Linduang Bulan, ayia mato badarai-darai, bak maniak putuih talinyo, takana untuang anak kanduang, hilang siapo ka mancari, luluih nan tidak ka basilami, babuah-buah buni ratok, tidua bagaluang di kulambu.
Sakik surang damam barampek, tigo hari lamonyo manangih, makan tidak minum pun tidak, alah kuruih badan Puti Linduang Bulan, alah sansai Puti Nan Bungsu, manangih Datuak Bandaharo, takana di anak kanduang.
74
terjang malah yang tiba, eloklah haus ditahankan.
Berkata Rajo Kuaso, “Wahai semua orang yang banyak, kita buang Magek Manandin, biarlah lapuk dalam lurah, usah menyusahkan di nagari.”
Lalu diseret Magek Manandin, dilemparkan ke dalam lurah, telah sampai malah di lurah, badan lemah semakin letih, rasa kan putus nyawa di badan, Allah sajalah yang tahu, tidak ajal berpantang mati.
Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di situ jua, yakni kepada Rajo Kuaso, serta dubalang yang berempat, berkata Rajo Kuaso, kepada dubalang yang berempat, serta semua orang nagari,
“Senanglah sudah hati kita, kalau makan rasa kan kenyang, senanglah hati orang kampung, telah hilang Magek Manandin, tidak akan menyusah lagi, kita berbalik malah pulang, hari semakin petang jua.”
Berbaliklah pulang Rajo Kuaso, serta dubalang yang berempat, diiringkan orang nagari, karena lama lambat di jalan, sampailah di Sandiangbaka, di halaman Puti Linduang Bulan, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Puti Linduang Bulan, si buyung Magek Manandin, sudah diam di lurah dalam, entah hidup entahlah mati, senanglah hati kita yang tinggal.
Sedangkan Puti Linduang Bulan, baru mendengar kata itu, menangis Puti Linduang Bulan, air mata berderai-derai, bagai manik putus talinya, mengenang untung anak kandung, hilang siapa akan mencari, luluh siapa kan menyilami, berbuah-buah bunyi ratap, tidur bergelung dalam kelambu.
Sakit surang demam berempat, tiga hari lama menangis,makan tidak minumpun tidak, kuruslah badan Puti Linduang Bulan, sansailah sudah si Puti Bungsu, menangis Datuak Bandaharo, teringat pada anak kandung.75
kapado Rajo Kuaso, alah bajalan Rajo Kuaso, dek lamo lambek bajalan, alah tibo di rumah baliau, alah naiak baliau ka ateh rumah, bakato Rajo Kuaso,
“Anak kanduang Puti Subang Bagelang, danga dek anak denai katokan, si Buyuang Magek Manandin, alah denai buang ka lurah dalam, sananglah hati denai kini, usahlah anak barusuah hati, kito cari nan ka gantinyo, ka pangganti Magek Manandin, urang nan rajo di nagari, nan tahu di paruik litak, kito baralek hanyo lai, kito pancang malah galanggang.”
Baru mandanga kato nantun, manangih Subang Bagelang, ayia mato badarai-darai, sanan bakato Subang Bagelang, “Daulat Bapak kanduang ambo, bari luruih ambo batanyo, tuan kanduang Magek Manandin, apo sabab Bapak buang, banakan malah pado ambo, kok nyampang mati tuan kanduang, ka sansai malah badan ambo.”
Manjawab Rajo Kuaso, “Anak kanduang Subang Bagelang, jikok itu anak tanyokan, kasalahan Magek Manandin, salah tak dapek dimaafkan, sabab manyabuang nangko juo, sampai kalah inyo bajudi, sampai tacemo mamaliang jawi, bangso nan mulia jadi hino.”
Baru mandanga kato nantun, alah manangih Subang Bagelang, sabuah tidak inyo manjawab, lalok sajo ka ateh anjuang, alah basah banta sabuah, tidua bagaluang di kulambu, makan tidak minum pun tidak, badan lah kuruih bagai pimpiang, habih hari babilang pakan, buni pantun babuah-buah.
- Anak rang darek barumah sudah
- Baukia janjang tanggonyo;
- Janji arek karang lah sudah
- Ka mungkia pulo moh kironyo.
- Parahu Si Marah Gelang
- Patah dititi kambiang hutan;
76
“Anak kandung Puti Subang Bagelang, dengar di anak bapak katakan, tentang si buyung Magek Manandin, telah dibuang ke lurah yang dalam, senanglah hati denai kini, usahlah anak berusuh hati, kita cari akan gantinya, pengganti Magek Manandin, orang yang raja di nagari, yang tahu di perut lapar, kita akan segera berhelat, kita pancang malah gelanggang.”
Baru mendengar kata itu, menangis Subang Bagelang, air mata berderai-derai, lalu berkata Subang Bagelang, “Daulat bapak kandung denai, beri lurus denai bertanya, Tuan kandung Magek Manandin, apa sebab bapak buang, ceritakanlah pada denai, andai mati Tuan kandung, akan sansailah badan denai.”
Menjawab Rajo Kuaso, “Anak kandung Subang Bagelang, kalau itu anak tanyakan, kesalahan Magek Manandin, salah tak bisa dimaafkan, sebab karena menyabung jua, sampai kalah Ia berjudi, sampai tercemar mencuri sapi, bangsa yang mulia jadi hina.”
Baru mendengar kata itu, menangislah Subang Bagelang, sebuah tidak Ia menjawab, tidur saja ke atas anjung, sampai basah bantal sebuah, tidur bergelung dalam kelambu, makan tidak minum pun tidak, badan kurus bagai pimping, habis hari berbilang pekan, bunyi pantun berbuah-buah,
Anak rang kampung berumah sudah
Berukir jenjang dan tangganya;
Janji erat terikat sudah
Akan ungkai malah kiranya.
Perahu si Marah Gelang
Patah dititi kambing hutan;
Tigo tahun mandanga hilang
Tidak diganti jo nan bukan.
Anjuang di lawik Nago Sati
Sampan dikayuah nangkodohnyo;
Jauah nan tidak taturuti
Didangakan sajo baritonyo.
Kaba baraliah hanyo lai, baraliah kapado Rajo Kuaso, dihimpunkan urang nagari, bahimpun urang gadang ketek, diparentahkan di anak buah, dipabuek malah galangggang, galanggang pancari judu, ka judu Subang Bagelang.
Alah basiap urang nagari, dibuek malah galanggang, baukia bamego-mego, ukia sudah ragam tak jadi, jikok sudah maracun hati.
Alek bamuloi hanyo lai, alah sahari galanggang rami, darah ayam dibandakan, patah taji bak disukati, siriah manjadi sarok balai, gambia manjadi tanah liyek, pinang manjadi dama tondeh.
Alah banyak sutan nan datang, rajo pun banyak nan lah tibo, balun dapek nan ka judu, tidaklah kaba dipanjangkan. Kaba baraliah tantang itu, baraliah kapado Magek Manandin, sadang diam di dalam lurah, alah tahu inyo di bana, dicaliak kiri jo kanan, rimbo gadang baliak batimba, di suok di kida bukik, badan litak bukan kapalang, hauih nan tidak tatangguangkan, manangih Magek Manandin.
Hari nan sadang tangah hari
Sadanglah bunta bayang-bayang;
Siapo lawan ka bapari
Tatumbuak di badan surang.
Ladang urang banyak nan tampak
Parak mandeh ditanam padi;
Anak urang lah banyak tampak
Anak mandeh di mano kini.
78
Tiga tahun mendengar hilang
Takkan diganti dengan yang bukan
Anjung di laut nago sakti
Sampan dikayuh nakhodanya;
Jauh yang tidak dituruti
Ditunggu saja beritanya.
Kabar beralih kemudian, beralih kepada Rajo Kuaso, dihimpunkan orang nagari, berhimpun orang besar kecil, diperintahkan ke anak buah, dibuat malah gelanggang, gelanggang pencari jodoh, untuk Puti Subang Bagelang.
Telah bersiap orang nagari, dibuat malah gelanggang, berukir bermega-mega, ukir sudah ragam tak jadi, jika sudah meracun hati.
Helat dimulailah segera, sehari sudah gelanggang ramai, darah ayam bak dibandarkan, patah taji bagai disukati, sirih menjadi sampah balai, gambir menjadi tanah liat, pinang menjadi dama tondeh.
Telah banyak Sutan yang datang, telah banyak raja yang tiba, belum dapat yang disuka, tidaklah kabar dipanjangkan. Kabar beralih tentang itu, beralih kepada Magek Manandin, sedang diam di dalam lurah, telah sadar dari pingsannya, dilihat kiri dan kanan, rimba raya balik bertimba, di kanan di kiri bukit, badan letih bukan kepalang, haus yang tidak tertanggungkan, menangislah Magek Manandin.
“Hari yang sedang tengah hari
Sedang bulat bayang-bayang;
Siapakah lawan akan berpari
Tertumbuk di badan sendiri.
Ladang orang banyak yang nampak
Kebun mandeh ditanam padi;
Anak orang banyak yang nampak
Anak mandeh dimanakah kini.
Sikujua tabang jo pipik
Tabang jo anak tiuang api;
Kok mujua runtuahlah bukik
Panimbun kubua dagang sansai.
Mandaki Bukik Paminyak
Manurun ka Koto Tuo
Di kida jalan ka Rambatan;
Kok lai badan badunsanak
Bapitih mangkonyo suko
Bansaik lah surang manangguangkan.
Tabanglah balam dari Rao
Hinggok di rantiang taruak-taruak;
Ka mano untuang ka dibao
Urang kampuang tulak batulak.
Koto rajo mandaram malam
Mandaram tantang Kubu Camin;
Untuang ambo Wallahu ‘alam
Antah sansai jadi angin.
Si Simun anak rang Bonjo
Tidua bagaluang di paseban
Tibo ponih hukum gantuang;
Jikok salorong untuang ambo
Bak batu dalam lawitan
Antah pabilo ka tarapuang.
Paiambo ka balai Canduang
Tagak juo di Gunuang Gadang
Basanda di baniah gunuang;
Malah ambo mangana untuang
Badan di dalam rimbo gadang
Takana juo di adiak kanduang.
“Adiak kanduang Subang Bagelang, adiak tinggalah di nagari, ambo lah sansai dalam rimbo, iyo bak pantun urang,
Sikujur terbang dengan pipit
Terbang dengan anak tiung api;
Kalau mujur runtuhlah bukit
Penimbun kubur badan diri.
Mendaki bukit Peminyak
Menurun ke Koto Tua
Di kiri jalan ke Rambatan;
Kalau badan berdunsanak
beruang makanya suka
Miskin sendiri menanggungkan.
Terbanglah balam dari Rao
Hinggap di ranting tarak-tarak;
Ke mana untung akan dibawa
Orang kampung tolak menolak.
Kata raja mendaram malam
Mendaram tentang Kubu Camin;
Untung hamba Wallahu alam
Entah akan sansai jadi angin.
Si Simun anak rang Banda
Tidur bergelung di paseban
Tiba vonis hukum gantung;
Selorong nasib badan hamba
Bagai batu dalam lautan
Entah pabila kan terapung.
Hamba pergi ke balai Candung
Tegak jua di Gunung raya
Bersandar di benih gunung;
Hamba sedang mengenang untung
Badan di dalam rimba raya
Terkenang jua adik kandung.
“Adik kandung Subang Bagelang, tinggallah adik di nagari, denailah sansai dalam rimba, benar bagai pantun orang,
Balenggek tangsi di Muaro
Putuih suto uleh kulindan;
Dek bansaik apo nan tido
Putuih kato dalam janjian.
Ikan rayo mudiak ka hulu
radainyo tingga di tapian;
Nan kayo tibo dahulu
nan bansaik tingga dijanjian
Naiak bendi satangah balun
Pasang lantera kaduonyo;
Ambo baniat sampai balun
Manangguang ikara salamonyo.
Salasiah di Gunuang Bungsu
Tampak nan dari Gunuang Sago
Di bateh Gunuang Pasaman
Aua duri rimbo daun
Hiliakan pasa Pariaman
Balai nak urang Ujuang Koto;
Kasiah kok dilarang ibu
Sayang lah dilarang bapo
Ambiaklah upeh kito makan
Ambiaklah racun kito minum
Tasirah tanah panggalian
Sakubua kito baduo.”
Sadang dek Magek Manandin, inyo manangih dalam rimbo, badan manangguang parasaian, adiak kanduang takana juo.
Bertingkat tangsi di muara
Putus sutra ulas kelindan;
Karena miskin apa yang tiada
Putus kata dalam janjian.
Ikan raya mudik ke hulu
Siripnya tinggal di tepian;
yang kaya tiba dahulu
yang miskin tinggal dijanjian.
Naik bendi setengah belum
Pasang lentera keduanya;
Hamba berniat sampai belum
Menanggung ikrar selamanya.
Selasih di gunung Bungsu
Tampak yang dari Gunung Sago
Di batas gunung Pasaman
Aur duri rimba daun
Hilirkan pasar Pariaman
Balai anak orang Ujung Koto;
Kasih kalau dilarang ibu
Sayang sudah dilarang bapak
Ambillah upas kita makan
Ambillah racun kita minum
Memerah tanah galian
Sekubur kita berdua.”
Begitulah Magek Manandin, menangis dalam rimba
raya, badan menanggung perasaan, adik kandung terkenang
jua.
Si Burung Nuri
Kaba baraliah hanyo lai, sungguahpun baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Puti Taruih Mato, anak Subarang Ayia Gilo, adiak dek Rajo Sunsang Baraik, kamanakan Sambah di Lawitan.
Kununlah Puti Taruih Mato, sadang duduak di ateh anjuang, alah diambiak Burung Nuri, bakato Puti Taruih Mato, “Adiak kanduang si Buruang Nuri, bajalan malah kini nangko, pai maliek dusun urang, kok lai taubek hati rusuah, badan ambo tidak manantu, hati nan samak-samak ibo, bamimpi ambo tiok malam, mimpi sudah ambo tagamang, hati ibo bacampua rusuah, bajalan Adiak kanduang kini-kini.”
Alah tabang si Buruang Nuri, tabang manyisia-nyisia awan, pueh malayang inyo malayok, banyaklah kampuang tajalani, banyaklah rimbo nan diliek, tigo hari lamonyo tabang, malayok inyo ka lurah dalam, bajalan hilia dangan mudiak, Allah Taala manggarakkan, tampaklah urang sadang bakabek, basanda di batang kayu, bakato si Buruang Nuri, “Oi Tuan urang nan bakabek, apo sabab karanonyo, sabab manangguang parasaian?”
Takajuik Magek Manandin, dicaliak hilia jo mudiak, tidak tampak urang di sanan, dipandang bana nyato nyato, iyolah tampak Buruang Nuri, bakato Magek Manandin, “Adiak kanduang si Buruang [ 96 ]SI BURUNG NURI
Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di situ jua, alih kepada Puti Taruih Mato, anak Subarang Ayia Gilo, adik dari Rajo Sunsang Baraik, kemenakan Sambah di Lawitan.
Kononlah Puti Taruih Mato, sedang duduk di atas anjung, lalu diambil Burung Nuri, berkata Puti Taruih Mato, “Adik kandung si Burung Nuri, berjalan malah adik kini, pergi melihat dusun orang, agar terobat hati rusuh, badan denai tidak menentu, hati yang gelisah tak menentu, bermimpi denai tiap malam, mimpi sudah denai tergamang, hati iba bercampur rusuh, berjalanlah Adik kini-kini.”
Terbanglah si Burung Nuri, terbang menyisir-nyisir awan, puas melayang Ia menukik, banyaklah kampung dilalui, benyaklah rimba yang dilihat, tiga hari lamanya terbang, menukik Ia ke lurah dalam, berjalan hilir dengan mudik, Allah Taala menggerakkan, tampaklah orang sedang diikat, bersandar di batang kayu, berkata si Burung Nuri, “Oi Tuan orang yang terikat, apakah sebab karenanya, hingga menanggung perasaan?”
Terkejutlah Magek Manandin, dilihat hilir dan mudik, tidak nampak orang di sana, dipandang nyata-nyata, lalu nampaklah burung Nuri, berkata Magek Manandin, “Adik kandung si Burung Nuri, inilah [ 97 ]Nuri, ikolah jinih parasaian, tolonglah baa badan ambo, tolonglah bukak kabek nangko.”
Manjawab si Buruang Nuri, “Kalau baitu kato Tuan, suko ambo manolong, tapi ambo tidak batangan, namun tali ka ambo cotok, naknyo lapeh kabek nantun.”
Diangsua juo malah mancotok tali, habih hari baganti hari, tigo hari lamo di sanan, alah tabukak kabek nantun, sadang dek Buruang Nuri, dicaliak Magek Manandin, rancak nan bukan alangalang, laranglah puti ka judunyo, antah kok Puti Taruih Mato.
Bakato si Buruang Nuri, “Tuan kanduang dangakan malah, bari luruih ambo batanyo, di mano bana kampuang Tuan, banakan juo pado ambo.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau itu nan buruang tanyokan, namo ambo Magek Manandin, dusun nagari adiak tanyokan, kampuang ambo di Sandiangbaka, bapak ambo Datuak Bandaharo.
Tatkalo badan ka tabuang, ulah dek sabuang main judi, habih pakaian sapatagak, disangko lai ka manang, kironyo kalah nan basuo, cilako datang kamudian, mamak kanduang nan mambuangkan, bagala Rajo Kuaso, salah tak dapek mintak ampun.”
Mandanga kaba parasaian, manangih si Burung Nuri, alah bakato burung nantun, “Tuan kanduang Magek Manandin, Tuan tingga malah di siko, kok lai umua samo panjang, tajajak juo tanah tapi.”
Alah tabang si Buruang Nuri, alah tingga Magek Manandin, alah tibo di ateh lurah, hinggok inyo di kayu gadang, dicaliak hilia jo mudiak, tampaklah urang marambah ladang.
Bakato si Buruang Nuri, “Oi Angku urang baladang, tando urang mamancang rimbo, layokkan malah nasi kunyik, nak nyo salamaik buah padi, baitu pituah urang tuo-tuo.” [ 98 ]rupa perasaan, tolonglah badan diri denai, tolonglah buka ikatan ini.”
Menjawab si Burung Nuri, “Kalau begitu kata Tuan, denai yang senang menolong, tapi denai tidak bertangan, namun tali bisa dipatuk, agar lepas ikatan itu.”
Diangsur jua malah mamatuk tali, habis hari berganti hari, tiga hari lama di sana, telah putus ikatan itu, sedang si Burung Nuri, dilihat Magek Manandin, gagah yang bukan kepalang, laranglah puti kan jodohnya, mungkinkah Puti Taruih Mato.
Berkata Burung Nuri, “Tuan kandung dengarkan malah, jawab jujur denai bertanya, di manakah kampung Tuan, ceritakan jua kepada denai.”
Menjawab Magek Manandin “Kalau itu yang burung tanyakan, denai bernama Magek Manandi, dusun nagari Adik tanyakan, kampung denai di Sandiangbaka, bapak denai Datuak Bandaharo.
Tatkala badan akan terbuang, karena sabung main judi, habis pakaian seluruhnya, disangka akan bisa menang, kiranya kalah yang tersua, celaka datang kemudian, mamak kandung yang membuangkan, bergelar Rajo Kuaso, salah tak dapat meminta ampun.”
Mendengar kisah perasaan, menangis si Burung Nuri, lalu berkata burung itu, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan tinggal malah di sini, kalau umur sama panjang, terjejak jua tanah tepi.
Terbanglah si Burung Nuri, tinggal malah Magek Manandin, telah sampai di atas lurah, lalu hinggap di pohon besar, dilihat hilir dan mudik, tampaklah orang merambah ladang.
Berkata si Burung Nuri, “Oi Angku orang berladang, tanda orang memancang rimba, layangkan malah nasi kunyit, agar selamat buah padi, begitu petuah orang tua-tua.” [ 99 ]Sadang dek urang baladang, mandanga suaro nan bak kian, dipandang hilia jo mudiak, dicaliak urang tidak tampak, hari alah badarok patang, alah pulang urang baladang, namun malam samalam nantun, alah dimasak nasi kunyik, hari lah siang hanyo lai.
Lah bajalan rang baladang, alah tibo di tangah ladang, alah dilatakkan nasi kunyik, hari patang babaliak pulang, alah tibo cando di rumah, namun malam samalam nantun, sapiciang tidak talalokkan.
Birawari Buruang Nuri, diliek di dalam ladang, alah tampak pulo nasi kunyik, digungguang dibaok tabang, alah tabang ka dalam lurah, alah tibo di lurah dalam, bakato pulo si Buruang Nuri, “Tuan kanduang Magek Manandin, Tuan makan malah nasi, kok untuang umua Tuan panjang, tajajak juo tanah tapi, kok sampai badan Tuan sehat, kalau ado takadia Allah, tapasah juo ka nagari, sampai Tuan di kampuang ambo.
Garak Allah siapo tahu, batamu Tuan jo aciak ambo, banamo Puti Taruih Mato, anak rang Subarang Ayia Gilo, alah ka sanang hati Tuan, hati aciak baitu pulo.”
Alah tabang si Buruang Nuri, alah tibo di ateh lurah, buruang hinggok di kayu gadang, lamo sabanta antaronyo, alah tibo pulo nan punyo ladang, bamulo pulo bakarajo, alah dirambah rimbo nantun.
Bakato si Buruang Nuri, “Oi anak urang nan baladang, kok jadi Angku baladang, tanamkan manau dahulu, julaikan pucuak ka bawah, baitu tando rang baladang.”
Baru mandanga kato nantun, sadang dek urang baladang, diambiak manau sarumpun, ditanam di tapi ladang, dijulaikan pucuak ka bawah, hari lah badarok patang, alah pulang urang punyo ladang.
Kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo kapado Buruang Nuri, alah takana di nan bana, babaliak pulang hanyo lai. [ 100 ]Sementara orang berladang, mendengar kata demikian, dipandang hilir dan mudik, dilihat orang tidak nampak, hari sudah beranjak petang, lalu pulanglah orang berladang, namun di malam semalam itu, dimasaklah nasi kunyit, haripun siang kembali.
Berangkatlah orang peladang, sesampainya di tengah ladang, diletakkan nasi kunyit, hari petang berbalik pulang, tiba kembali Ia di rumah, namun di malam semalam itu, tak sekejap pun ia tertidur.
Sementara Burung Nuri, dilihat di dalam ladang, nampak lah nasi kunyit, digunggung dibawa terbang, lalu terbang ke dalam lurah, sesampainya di dalam lurah, berkata si Burung Nuri, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan makan malah nasi, untung panjang umur Tuan, sampai jua ke tanah tepi, kalau sampai badan Tuan sehat, kalau ada takdir Allah, terjejak jua ke nagari, sampai Tuan di kampung denai.
Gerak Allah siapa tahu, bertemu Tuan dengan aciak ambo, bernama Puti Taruih Mato, anak orang Subarang Ayia Gilo, semoga senang hati Tuan, hati aciak begitu pula.”
Lalu terbanglah si Burung Nuri, terbang sampai di atas lurah, burung hinggap di pohon besar, tidak lama kemudian, datanglah pula yang punya ladang, dimulailah pula bekerja, mulai merambah rimba itu.
Berkata si Burung Nuri, “Wahai orang yang berladang, kalau jadi Angku berladang, tanamkan manau dahulu, julaikan pucuknya ke bawah, begitu tanda orang berladang.”
Baru mendengar kata itu, oleh orang yang berladang, diambil manau serumpun, ditanam di tepi ladang, dijulaikan pucuknya ke bawah, ketika hari beranjak petang, pulanglah sudah orang peladang.
Kabar beralih kemudian, alihnya kepada Burung Nuri, telah teringat hendak kembali, kembali berbalik pulang. [ 101 ]Alah tabang si Buruang Nuri, tigo hari lamonyo tabang, alah sampai di kampuang nantun, di rumah Puti Taruih Mato, alah hinggok di ateh anjuang.
Bakato Puti Taruih Mato, “Adiak kanduang si Buruang Nuri, lamo bana adiak bajalan, kampuang di mano adiak jalan, adiak nan tidak datang juo.”
Manjawab si Buruang Nuri, “Aciak den Puti Taruih Mato, jikok itu aciak tanyokan, sababnyo lamo ambo bajalan, banyak maliek dusun urang, banyaklah rimbo dijalani, sampai maliek lurah dalam.
Alah tibo ambo di lurah, lurah dalam bakalo-kalo, di suok di kida bukik, tabiang tarah sajo ka bawah.
Dijalani hilia mudiak, tampaklah urang sadang bakabek, dipandang bana nyato-nyato, rancak nan bukan alang-alang, ditanyo dusun jo nagarinyo, sarato gala jo namonyo, alah manjawab urang nantun, urang tabuang dek mamaknyo, cilako nan datang kudian.
Inyo banamo Magek Manandin, anak rang Sandiangbaka, anak dek Datuak Bandaharo, kok dipandang bana tubuahnyo, kok diuji bana rancaknyo, laranglah puti ka judunyo.
Ayam jalak anaknyo jalak
Tabang ka Muaro Leman;
Gadang tidak ketek pun tidak
Sadang elok ka pamenan.”
Mandanga kato nan bak kian, tamanuang Puti Taruih Mato, tasirok darah di dado, badan bak raso bayang-bayang, bak raso ado patamuan, bakato Puti Taruih Mato,
“Adiak kanduang si Burung Nuri, tolong banalah sampaisampai, kok lai tajalang tanah tapi, sampaikan bana sayang adiak.”
Mandanga kato nan bak kian, alah tabang si Buruang Nuri, tabang manyisia-nyisia awan, tigo hari lamonyo tabang, alah tibo di [ 102 ]Terbanglah si Burung Nuri, tiga hari lamanya terbang, sampai sudah di kampung itu, di rumah Puti Taruih Mato, lalu hinggap di atas anjung.
Berkata Puti Taruih Mato, “Adik kandung si Burung Nuri, sangat lama adik berjalan, kampung di mana adik kunjungi, adik yang tidak datang jua.”
Menjawab si Burung Nuri, “Aciak denai Puti Taruih Mato, kalau itu Aciak tanyakan, sebabnya lama denai berjalan, banyak melihat dusun orang, banyaklah rimba dijalani, sampai melihat lurah dalam.
Sesampainya denai di lurah, lurah dalam berkala-kala, di kanan di kiri bukit, tebing curam saja ke bawah.
Dijalani hilir mudik, tampaklah orang sedang terikat, lalu dipandang nyata-nyata, tampan yang bukan kepalang, ditanya dusun dan nagarinya, serta gelar dan namanya, lalu menjawab orang itu, orang terbuang oleh mamaknya, celaka yang datang kemudian.
Ia bernama Magek Manandin, anak orang Sandiangbaka, anak dari Datuak Bandaharo, kalau diperhatikan tubuhnya, kalau diuji benar gagahnya, laranglah puti akan jodohnya.
Ayam jalak anaknya jalak
Terbang ke Muara Leman;
Besar tidak kecilpun tidak
Sedang pas untuk mainan.”
Mendengar kata yang demikian, termenung Puti Taruih Mato, tersirap darah di dada, badan serasa bayang-bayang, bagai rasa ada pertemuan, berkata Puti Taruih Mato,
“Adik kandung si Burung Nuri, tolong benarlah sampaisampai, agar terjejak jua tanah tepi, sampaikan benar sayang Adik.”
Mendengar kata demikian, terbanglah si Burung Nuri, terbang menyisir-nyisir awan, tiga hari lamanya terbang, sampailah [ 103 ]kampuang nantun, di ranah Sandiangbaka, inyo hinggok di lurah dalam, alah tajalani lurah nantun, dicari Magek Manandin.
Lamo sabanta antaronyo, alah tampak Magek Manandin, basanda di batang kayu, bakato si Buruang Nuri, “Tuan ambo Magek Manandin, alah koh sehat badan Tuan?”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang si Buruang Nuri, kok itu adiak tanyokan, badan ambo lah hampia sehat, mintak salamaik umua panjang.”
Lamo lambek di dalam lurah, habih hari baganti pakan, habih pakan baganti bulan, siang basilinduang paneh, malam basalimuik ambun, adang-adang makan adang-adang tidak, adang-adang mandapek makan, si Buruang Nuri mancarikan.
Tigo tahun lamo di lurah, manau batambah gadang juo, manjulai pucuak ka bawah, hampia sampai ka lurah dalam.
Bakato si Buruang Nuri, “Tuan ambo Magek Manandin, pintakkan doa pado Allah, tapasah juo handaknyo ka nagari.”
Pintak nan sadang ka balaku, manau batambah gadang juo.
“Kok sampai panjang manau nantun, buliah tampek Tuan mandaki, jalan nan lain tidak ado.”
Dek lamo kalamoan, alah sampai manau ka bawah.
Talateh talang baduri
Tasanda di baliak lumbuang;
Tangah malam baibo hati
Alah takana mandeh kanduang.
Balayia biduak salido
Batambang tidak bakamudi
Biduak nan hilia ka taram;
Jikok salorong badan ambo
Hilang nan tidak ka bacari
Luluih nan tidak ka basilam.
lurah dalam, ditelusurinya lurah itu, dicari Magek Manandin.
Tidak lama antaranya, nampaklah Magek Manandin, bersandar di batang kayu, berkata si Burung Nuri, “Tuan denai Magek Manandin, sudah sehatkah badan Tuan?”
Menjawab Magek Manandin, “Adik kandung si Burung Nuri, kalau itu Adik tanyakan, badan Denai sudah hampir sehat, mintakan selamat umur panjang.”
Lambat laun di dalam lurah, habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan, siang berselindung panas, malam berselimut embun, kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak, kadang-kadang mendapat makan, si Burung Nuri mencarikan.
Tiga tahun lama di lurah, manau bertambah besar jua, pucuk menjulai ke bawah, hampir sampai ke lurah dalam.
Berkata si Burung Nuri, “Tuan denai Magek Manandin, pintakan doa pada Allah, sampai jua hendaknya ke nagari.”
Pinta yang sedang kan berlaku, manau bertambah besar jua. “Kalau sampai panjang manau itu, bisa tempat Tuan mendaki, jalan yang lain tidak ada.”
Setelah lama kelamaan, sampailah pucuk manau ke bawah.
tertebang talang berduri
Tersandar di balik lumbung;
Tengah malam beriba hati
Teringat pada mande kandung.
Berlayar biduk Salido
Ditambang tidak berkemudi
Biduk yang hilir ke Taram;
Jika tentang badan hamba
Hilang yang tidak akan dicari
Luluh tidak akan disilam.
Apuang-apuang Sitinjau Lawik
Tampak nan dari gudang garam;
Untuang ambo bak limau hanyuik
Balun batantu tampek diam.
Rami galanggang ateh gunuang
Urang manyabuang latiek-latiek;
Kato dierak dalam tanuang
Untuang nan tidak namuah baiak.
Parahu Sutan Mano Baiak
Balabuah tantang kuntang-kuntang
Sarek bamuatan api-api;
Kok lai untuang nan ka baiak
Panek tatungkuik tatilantang
Kok lai tajajak tanah tapi.
Namun malam samalam nantun, mato nan tidak namuah lalok, takana juo adiak kanduang, ditampa dado dikaluahkan, badan di dalam lurah juo, manangih sambia bapantun, “Adiak kanduang Subang Bagelang, iyo bana bak kato urang,
Lubuak Buayo jo Padang Sarai
Tigo jo Kampuang Koto Tangah;
Urang nan kayo mukasuik sampai
Ambo nan bansaik patah di tangah.
Singapura tanjuang mamutuih
Tampek bamain sipak rago;
Sasa kudian tidak putuih
Sadang kasiah sansaro tibo.
Tinggilah bukik gunuang Padang
Padi di lambah masak balun;
Kok bacarai sabab dek urang
Hati di dalam salasai balun.
Sutan Iskandar ka Kiniko
Patah buluah padagang garam;
Jikok takana di parasaian iko
Apung-apung Sitinjau Laut
Tampak dari gudang garam;
Nasib hamba bagai limau hanyut
Belumlah tentu tempat diam.
Rami gelanggang di atas gunung
Orang menyabung latik-latik;
Kata dieja dalam tenung
Untung yang tidak jua baik.
Perahu Sutan Majo Baik
Berlabuh di kuntang-kuntang
Sarat bermuatan api-api;
Jikalau bernasib baik
Lelah tertelungkup tertelentang
Terjejak jua tanah tepi
Namun di malam semalam itu, mata yang tidak bisa lelap, terkenang jua adik kandung, diurut dada dikeluhkan, badan di dalam lurah jua, menangis sambil berpantun, “Adik kandung Subang Bagelang, benar bagai kata orang,
Lubuk buaya dan Padang Sarai
Tiga dengan kampung Koto Tangah;
Orang yang kaya maksudnya sampai
Denai yang miskin patah di tengah.
Singapura tanjung memutus
Tempat bermain sepak raga;
Sesal kemudian tiada putus
Sedang kasih sengsara tiba.
Tinggilah bukit gunung Padang
Padi di lembah masak belum;
Jika bercerai karena orang
Hati di dalam selesai belum.
Sutan Iskandar ke Bukittinggi
Patah buluh pedagang garam;
Jika dikenang derita ini
Langik runtuah matohari padam.
Ayam kuriak si Lenggo Janang
Mambaok taji sabarumbuang
Ulando pulang ka Batawi;
Adiak lah dapek ka nan sayang
Kayu gadang tampek balinduang
Urang nan rajo di nagari.
Mandaki kampuang Arikam
Manurun mangko mandata;
Untuang ambo sakik mancangkam
Bandaharo juo nan kaka.”
Kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo kapado Subang Bagelang, alah lamo galanggang rami, inyo nan balun namuah kawin, dari sahari ka sabulan, badan batambah kuruih juo, makan tidak minumpun tidak, badan lah kuruih bagai pimpiang, tidua bagaluang di kulambu, tidak nan lain pangananyo, tuan kanduang takana juo, nan banamo Magek Manandin, antah pabilo ka batamu, batunangan kain pandukuang.
Antah hiduik antah nyo mati, rimbo di mano nan lah busuak, lurah di mano nan lah kanyang, manangih laruik tangah malam.
Tatagak gaduang di Panyabuangan
Gaduang Rasidin Ayia Bangih;
Kalau takana di tunangan
Ambiak banta lalu manangih.
Balirik pinang di halaman
Balai-balai bapaga ganjo;
Walau dirintang jo panjahitan
Tunangan takana juo.
Kaba baraliah hanyo lai, sungguah baraliah sanan juo, aliahnyo kapado Magek Manandin, sadang di dalam lurah juo. Dek untuang takadia Allah, pintak nan sadang ka balaku, alah sampai manau ka
96
Langit runtuh matahari padam.
Ayam kurik si Lenggo Janang
Membawa taji seberumbung
Belanda pulang ke Betawi;
Adik sudah ada yang menyayang
Kayu besar tempat berlindung
Orang yang raja dalam nagari.
Mendaki kampung Arikam
Menurun baru mendatar;
Nasib denai sakit mencekam
Bandaharo jua yang kekal.”
Kabar beralih kemudian, alihnya kepada Subang Bagelang, sudah lama gelanggang ramai, dia yang belum mau kawin, dari sehari ke sebulan, badan bertambah kurus jua, makan tidak minumpun tidak, badan nya kurus bagai pimping, tidur bergelung dalam kelambu, tidak yang lain diingatnya, tuan kandung terkenang jua, yang bernama Magek Manandin, entah pabila kan bertemu, bertunangan kain pendukung.
Entah hidup entah mati, rimba di mana yang telah busuk, lurah di mana yang telah kenyang, menangis larut tengah malam.
Berdiri gedung di Penyabungan
Gedung Rasyidin Ayia Bangih;
Kalau teringat pada tunagan
Ambil bantal lalu menangis.
Berderet pinang di halaman
Balai-balai berpagar ganja;
Walau dirintang dengan jahitan
Namun tunangan teringat jua.
Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di sana jua, alihnya kepada Magek Manandin, sedang di dalam lurah jua. Berkat untung takdir Allah, pinta yang sedang akan berlaku, sudah sampai manau
97
bajalan hanyo lai, mandaki Tuan di manau, sarahkan untuang pado Allah.”
Sadang dek Magek Manandin, alah mandaki inyo di manau, tangan suok mamacik manau, diansua juo mandaki, tangan kida lah mangulipak.
Tigo hari lamo mandaki, tabiang tarah sajo ka bawah, tagamang Magek Manandin, alah tibo di tangah, ka ateh kabuik ka bawah kalam, tangan kanan mamacik juo, hampia ka tibo hanyo lai.
Alah tibo inyo di ateh, Buruang Nuri tibo dahulu, bakato si Buruang Nuri, “Oi Tuan Magek Manandin, baranti kito dahulu, raso ka payah bana Tuan.”
Alah barati Magek Manandin, lamo sabanta antaronyo, alah bajalan Magek Manandin, manurun cando ka bawah, dek lamo lambek bajalan, alah tibo di titian panjang.
Bakato Magek Manandin, “Adiak kanduang si Buruang Nuri, adiak bajalan malah pulang, ka Subarang Ayia Gilo, ka rumah Puti Taruih Mato, kabakan ambo lai sehat, pintakkan doa salamaik pado Allah.”
Lamo sabanta antaronyo, alah tabang si Buruang Nuri, tabang manyisia-nyisia awan, tigo hari lamonyo tabang, alah tibo di kampuang nantun, di rumah Puti Taruih Mato, inyo hinggok di ateh anjuang.
Bakato Puti Taruih Mato, “Adiak kanduang si Buruang Nuri, lamo bana adiak bajalan, lai batamu nan dicari.”
Manjawab si Buruang Nuri, “Aciak den Puti Taruih Mato, kalau itu aciak tanyokan, lai batolong pado Allah, lai dapek nan ambo cari. [ 110 ]ke bawah, berkata si Burung Nuri, "Tuan denai Magek Manandin, marilah kita berjalan, mendaki Tuan di manau itu, berserah diri pada Allah."
Sedangkan Magek Manandin, mulai mendaki di manau, tangan kanan memegang manau, diangsur jua mendaki, tangan kiri sudah mengelupas.
Tiga hari lama mendaki, tebing curam saja ke bawah, tergamang Magek Manandin, telah sampai ditengah, ke atas kabut ke bawah gelap, tangan kanan memegang jua, hampir kan sampailah Manandin.
Telah sampai la di atas, Burung Nuri sampai dahulu, berkata si Burung Nuri, "Oi Tuan Magek Manandin, berhentilah kita dahulu, rasa kan payah badan Tuan."
Lalu berhenti Magek Manandin, tidak lama kemudian, mulai berjalan Magek Manandin, menurun terus ke bawah, lama lambat berjalan, sampailah la di titian panjang.
Berkata Magek Manandin, "Adik Kandung si Burung Nuri, Adik berjalan malah pulang, ke Subarang Ayia Gilo, ke rumah Puti Taruih Mato, kabarkan denai sudah sehat, mintakan doa selamat pada Allah."
Lama sebantar antaranya, telah terbang si Burung Nuri, terbang menyisir-nyisir awan, tiga hari lamanya terbang, telah sampai di kampung itu, di rumah Puti Taruih Mato, lalu hinggap di atas anjung.
Berkata Puti Taruih Mato, "Adik Kandung si Burung Nuri, sangat lama Adik berjalan, bertemukah yang Adik cari?"
Menjawab si Burung Nuri, "Acik denai Puti Taruih Mato, kalau itu Aciak tanyakan, Allah yang maha menolong, denaitemukan yang denaicari. [ 111 ]Salorong Tuan Magek Manandin, alah sehat badannyo kini, alah pulang inyo ka kampuang, ambo antakan sahinggo jalan, sampai dititian panjang, disuruah nyo ambo babaliak, bakirim salam pado aciak, tolong jo doa banyak-banyak, kok untuang tajajaktanah tapi."
Sadang dek Puti Taruih Mato, baru mandanga kato nantun, hatilah rusuah-rusuah ibo, tak batantu dir usuahkan, angin baputa-puta baliak, bacampua harok-harok cameh, nasi dimakan raso sakam,iyo bana bak pantun urang,
Dek alang tidak tatabangkan
Dek balam tidak talayokkan
Dek jauah rantau Palembang
Dibaliak rantau Indopuro;
Siang nan tidak tasanangkan
Malam nan tidak takalokkan
Hati pacah bicaro bimbang.
Niat bak raso sampai juo
Taligarok di batang kapeh
Tiok tunggak baisibuang
Barang kauih pulo ujuangnyo;
Tidak diharok buruang lapeh
Buruang Basayok pandaitabang
Badan ka mabuak dek lakunyo.
Sedangkan Puti Taruih Mato, baru mendengar kata itu, hati rusuh-rusuh iba, tak bertentu yang dirusuhkan, angin berputar-putar balik, bercampur harap-harap cemas, nasi dimakan rasa sekam, benar bagai pantun orang,
Oleh elang tidak teterbangkan
Oleh balam tidak tertukikkan
Karena jauh rantau Palembang
Di balik rantau Indropura;
Siang yang tiada disenangkan
Malampun tidak terlelapkan
Hati pecah bicara bimbang
Niat bagai rasa akan sampai jua.
Tali garap di batang kapas
Setiap tonggak diisi buang
Direngkuh pula ujungnya;
Tiada diharap burung lepas
Burung bersayap pandai terbang
Badan mabuk karena ulahnya.
Masuak Kampuang
Kaba baraliah hanyo lai, aliah nyo kapado Magek Manandin, alah dititi titian panjang, alah tibo inyo di subarang, manurun ka dalam kampuang, alah tibo di simpang ampek, tampaklah urang baduo, mambaok ayam sikua surang.
Bakato Magek Manandin, "Oi Tuan urang nan lalu, bari luruih ambo batanyo, datang dimano kolah Tuan, mambaok ayam sikua Surang."
Manjawab urang nan lalu, bagala Bagindo Leman, "Kalau itu Sutan tanyokan, kami nangko datang dari balai, balai rami tidak baranti, sabab kami dahulu pulang, galanggang hampia ka dibukak, sabab nan punyo alah ka kawin, banamo Puti Subang Bagelang, bajanjitujuah hari lai, kawin dangan Rajo Duobaleh.
Kaminangko baibo hati, ibo bacampua jo rusuah, nan banamo Subang Bagelang, dahulu tunangan rajo kami, nan banamo Magek Manandin, anak angku Datuak Bandaharo. Jikok dicurai dikabakan, banyak bana baibo hati, salamo rajo kami hilang, kampuang langang nagari sunyi, hilang sumangaik Sandiangbaka. Sutan kamano ka bajalan, barilah maaf banyak-banyak, kito batamu ditangah jalan." [ 114 ]MASUK KAMPUNG
Kabar beralih kemudian, alihnya kepada Magek Manandin, sudah dititi titian panjang, sampailah ia di seberang, menurun ke dalam kampung, sampailah di simpang empat, tampaklah orang dua orang, membawa ayam seekor sorang.
Berkata Magek Manandin, “Wahai Tuan orang yang lalu, jawablah jujur denai bertanya, dari mana kah Tuan berdua, membawa ayam seekor sorang?”
Menjawab orang yang lalu, bergelar Bagindo Leman, “Kalau itu Sutan tanyakan, kami ini dari balai, balai ramai tak berhenti, sebab kami dahulu pulang, gelanggang hampir kan usai, sebab yang punya akan kawin, bernama Puti Subang Bagelang, berjanji tujuh hari lagi, kawin dengan Rajo Duobaleh.
Kami ini beriba hati, iba bercampur dengan rusuh, puti bernama Subang Bagelang, dahulu tunangan raja kami, yang bernama Magek Manandin, anak angku Datuak Bandaharo. Kalau dicurai dikabarkan, sangat banyak beriba hati, selama raja kami hilang, kampung lengang nagari sunyi, hilang semangat Sandiangbaka. Sutan ke mana kan berjalan, berilah maaf banyakbanyak, kita bertemu di tengah jalan.” [ 115 ]Manjawab Magek Manandin, "Sungguh baitu kato Tuan, barilah juo tanyo ambo, salorong Magek Manandin, salamo inyo dibuangkan, lai hiduik juo bapak mandeh nyo, baitu pulo adiaknyo Surang?"
Manjawab Bagindo Leman, "Jikok itu Sutan tanyokan tidak guno bana disabuik, banyak bana baibo hati, salorong bapak jo mandehnyo, sampai mularaik kaduonyo, si bungsu alah hampia gilo, tunangan si Magek lah hampia kawin."
Menjawab Magek Manandin, "Kalau itu kato Tuan, kito bacarai hanyo lai."
Alah dijawek malah salam, bajalan Magek Manandin, dihiliakan labuah nan panjang, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo di ladang urang, ladang lamo indak bahuni, diambiak siriah disinan, diam biak siriah banyak-banyak, kan dijua ka galanggang, iyo ka galanggang Subang Bagelang.
Siriah dikabek hanyo lai, alah sudah siriah dikabek, diambiak kulik pisang busuak, alah dikabek pulo kaki, sarupo urang sakik biriang, rupo ditukak jo ditekong.
Alah dijunjuang malah siriah, badan busuak tidak tatangguang, bajalan Magek Manandin, bajalan tatengkak-tengkak, hampia ka tibo hanyo lai, di ranah Sandiangbaka, di laman rumah mandeh kanduang.
Alah tibo inyo di laman, babunyi buni-bunian, mandariang salindik jantan, mancareceh tupai janjang, malanguah jawi bapauik, kudo balang mamutuih tali, takajuik dayang-dayang banyak, hiru biru cando tangah rumah.
Bakato Puti Linduang Bulan, "Anak kanduang Puti Nan Bungsu, samulo tuan kau hilang, balun ado sarupo iko, apolah sabab karanonyo?" [ 116 ]Menjawab Magek Manandin, “Sungguh begitu kata Tuan, jawablah jua tanya denai, perihal Magek Manandin, selama Ia dicampakkan, masih hidupkan bapak mandehnya, begitu pula adik bungsunya?”
Menjawab Bagindo Leman, “Jikalau itu Sutan tanyakan, tiada guna itu disebut, terlalu banyak beriba hati, akan hal bapak dan mandehnya, sampai melarat keduanya, si bungsu pun hampir gila, tunangan si Magek hampir kawin.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, kita berpisahlah sekarang.”
Setelah bersalaman, berjalan Magek Manadin, dihilirkan jalan yang panjang, hampir kan sampai lah di sana, sampai di ladang orang, ladang yang lama tidak dihuni, diambil sirih di sana, dipetik sirih banyak-banyak, untuk dijual ke gelanggang, yakni gelanggang Subang Bagelang.
Sirih diikat seketika, setelah sirih diikat, diambil kulit pisang busuk, lalu diikatkan ke kaki, serupa orang sakit biriang, seperti kena tukak dan tekong.
Telah dijujung sirih itu, badan busuk tidak terkira, berjalan Magek Manandin, berjalan tertatih-tatih, hampir tiba lah di sana, di ranah Sandiangbaka, di halaman rumah mandeh kandung.
Setelah sampai di halaman, berbunyi bunyi-bunyian, mendering salindik jantan, mencicit tupai janjang, melenguh sapi di pautan, kuda belang memutus tali, terkejut dayang-dayang banyak, haru biru tengah rumah.
Berkata Puti Linduang Bulan, “Anak Kandung Puti Nan Bungsu, semenjak Tuan anak hilang, belum pernah seperti ini, apakah sebab karenanya?” [ 117 ]Alah tagak Puti Nan Bungsu, inyo mancaliak ka laman, alah tampak malah urang buruak, urang sadang manjunjuang siriah, bakato Puti Nan Bungsu, "Oi Tuan urang manggaleh, Tuan naiak malah ka rumah, ambo handak mambali siriah, ibo bana ambo di Tuan, tacinto ambo di nan hilang, tuan ambo Magek Manandin, antah hiduik antahnyo mati, tidak batantu tampek diam, lurah di mano nan lah busuak, antah bakajang langau hijau."
Alah lamo kecek mangecek, nasilah masak dek si Kambang, alah dibaok nasi ka lua, bakato Puti Nan Bungsu, "Tuan makanlah dahulu, kok ka pai Tuan ka balai, sanang hati ambo malapeh."
Alah makan Magek Manandin, makan sasuok duo suok, cukuik katigo inyo lah kanyang, malompek kuciang balang tigo, bapaluak inyo ka si Magek, marantak kudo balang kandi, mamutuihtali bilang- bilang.
Maliek nan bak kian, takajuik Puti Linduang Bulan, balun pernah nan bak nangko, apolah garantakwianyo, kok lah mati Magek Manandin, tampan tidak batamu lai.
Sadang dek Magek Manandin, alah sudah makan dangan minum, kato mandeh tadanga juo, adiak kanduang baibo hati, dirintang sajo jo galak, badan nan tidak dibanakan, sabab mukasuik balun sampai, dimintak izin ka bajalan, "Mandeh tinggalah malah dahulu, ambo ka pai ka balai."
Alah turun cando ka laman, alah tibo ditangah laman, bajalan Magek Manandin, siriah dijunjuang hanyo lai. Alah sarantang pajalanan, manuruik kuciang balang tigo, mamutuih tali ayam biriang, kudo balang lah lapeh pulo, manangih Puti Nan Bungsu.
"Oi Tuan urang manggaleh, babaliak pulang malah dahulu, salamo tuan ambo hilang, balun pernah nan bak nangko."
Alah babaliak Magek Manandin, diantakan kudo ka kandangnyo,alah dikabek ayam biriang, kuciang dikuruang hanyo lai. [ 118 ]Lalu berdiri Puti Nan Bungsu, hendak melihat ke halaman, nampaklah orang buruk rupa, orang yang sedang menjujung sirih, berkata Puti Nan Bungsu, "Oi Tuan orang menggalas, Tuan naik malah ke rumah, denai hendak membeli sirih, sangat iba denai di Tuan, terkenang Denai di yang hilang, tuan denai Magek Manandin, entah hidup entah mati, tidak bertentu tempat diam, lurah dimana yang lah busuk, entah berkerumun langau hijau."
Setelah lama jawab berjawab, nasi pun masak oleh si Kambang, lalu dibawa nasi ke luar, berkata Puti Nan Bungsu, "Tuan makanlah dahulu, setelah itu baru ke balai, senang lah hati denai melepas."
Lalu makanlah Magek Manandin, makan sesuap dua suap, cukup ketiga kenyanglah sudah, melompat kucing belang tiga, naik ke pelukan Magek Manandin, merentak kuda belang kandi, memutus talibilang-bilang.
Melihat hal demikian, terkejut Puti Linduang Bulan, belum pernah seperti ini, apa gerangan lah takwilnya, kalau lah mati Magek Manandin, alamat tak akan bertemu lagi.
Sementara Magek Manandin, ketika makan dan minum, kata mandeh terdengar jua, adik kandung beriba hati, dirintang saja dengan senyum, diri yang tidak dikenalkan, sebab maksud belumlah sampai, diminta izin hendak berjalan, "Mandeh tinggalmalah dahulu, denai akan pergi ke balai."
Lalu turunlah ke halaman, sesampainya di tengah laman, berjalan Magek Manandin, sirih dijujung seketika. Telah serentang perjalanan, menurut kucing belang tiga, memutus tali ayam biring, kuda belang lepaslah pula, menangis Puti Nan Bungsu.
"Oi Tuan orang menggalas, berbalik pulang malah dahulu, selama tuan senai hilang, belum pernah seperti ini."
Lalu berbaliklah Magek Manandin, diantarkan kuda ke kandangnya, lalu diikatkan ayam biring, kucing dikurung lah pula. [ 119 ]Salasai nan bak nantun, bajalan Magek Manandin, hati ibo batambah rusuah, lah tigo rantang pajalanan, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo cando di balai, alah dilatakkan malah siriah, siriah nan balun dibukaknyo, lalu bakato Magek Manandin, bakato sambia badendang,
"Urang balai bali lah bali, urang balai balilah siriah, nan bansaik kok lai ka kayo, nan kayo kok lai ka bansaik, hiduik nangko sakali Surang."
Tamanuang urang tangah balai, surangpun tidak urang nan tahu, siriah nan balun dikadaikan nyo, tatapi inyo badendang juo, busuak nan tidak tabadokan.
Bahimpun urang kasadonyo, uranglah bancigadang ketek, urang banyak nan mamukua juo, lah datang Rajo Duobaleh, sarato dubalang nan barampek, "Manolah urang manggaleh siriah, bajalan malah kini-kini, sababmanyusah urang kampuang."
Manjawab Magek Manandin, "Ampun tuanku rajo kami, kalau dibunuah ambo mati, Tuanku buang ambo jauah, kato bana disabuik juo.
Kok dilarang ambo manggaleh, jo apo nasiambo bali, utang lah banyak manantikan, pikialah diangku dagang sansai, sawang nan tidak bapagantuangan, bapak tidak mandehpun tidak, dusun nagari jauah pulo, iboimalah anak dagang."
Manjawab Rajo Duobaleh, dijawab jo muko bangih, tapuak tibo hantampun datang, dipalu pulo dangan tungkek, disuruahjuo inyo bajalan, datang surang manulakkan. Alah bajalan Magek Manandin, paika sumua Subang Bagelang, alah tibo inyo di sumua, alah duduak Magek Manandin, dicaliak urang tidak ado, sadang bapaneh-paneh juo, badan sarupo kanai biriang, rupo di tukak jo ditekong. [ 120 ]Selesai yang demikian, berjalan Magek Manandin, hati iba bertambah rusuh, setelah tiga rentang perjalanan, hampirkan tiba di sana, tiba di balai itu, lalu diletakkan malah sirih, sirih yang belum dibukanya, lalu berkata Magek Manandin, berkata sambil berdendang,
"Orang balai belilah beli, orang balai belilah sirih, yang miskin mungkin akan kaya, yang kaya mungkin akan miskin, hidup ini sekali seorang."
Termenung orang tengah balai, seorangpun tiada yang tahu, sirih yang belum dihamparkannya, tetapi la berdendang jua, bau busuk tiada terkira.
Berkumpul orang semuanya, orang yang benci besar kecil, orang banyak memukul jua, sampai datang Rajo Duobaleh, serta dubalang yang berempat, "Duhai orang menggalas sirih, berjalan malah kini-kini, sebab menyusahkan orang kampung."
Menjawab Magek Manandin, "Ampun Tuanku Raja kami, kalau dibunuh kami mati, Tuanku buang kami jauh, kebenaran ungkapkan jua.
Kalau dilarang denaimenggalas, dengan apa nasidenaibeli, banyak utang menantikan, pertimbangkan lah dagang melarat, sawang yang tiada berpegantuangan, bapak tidak mandeh pun tidak, dusun nagari jauh pula, kasihanilah anak dagang."
Menjawab Rajo Duobaleh, dijawab dengan muka marah, tampar tiba hantampun datang, dipukul pula dengan tongkat, disuruh jua Magek berjalan, datang seorang mendorongkan.
Berjalanlah Magek Manandin, pergi ke sumur Subang Bagelang, sesampainya di sumur itu, duduklah Magek Manandin, dilihat orang tidak ada, sedang berpanas-panas itu, badan seperti kena biring, seperti kena tukak dan tekong. [ 121 ]Tidaklah kaba dipanjangkan, kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo kapado Subang Bagelang, sadang lalok di ateh anjuang, tasirok darah di dado, badan bak raso bayang-bayang, ayia mato badarai-darai, manangih babuah pantun,
Dikirok kain di kandang
Dibaok urang ka Bangkahulu;
Tasirok darah kadang-kadang
Takana zaman nan dahulu.
Alah takana di tunangan, tuan kanduang Magek Manandin, antah hiduik antahnyo mati, kaba tidak barito tidak, ambo iyolah hampia kawin, sabab dipakso bapak juo, tidak dapek mailak lai, tuan kanduang antah di mano, rimbo di mano nan lah busuak, antah dijanguak langau hijau.
Kok lamo Batang Sikalang
Kok rumpun panjanglah padi
Padi diambiak urang juo;
Lah lamo bana tuan ambo hilang
Kok hiduik gadanglah kini
Kok mati pasankan ambo.
Pacah cawan ditimpo cawan
Pacah ditimpo ramo-ramo;
Hilang nyawo baganti badan
Tuan kanduang dikana juo.
Alah sudah inyo bapantun, alah takana nak pai mandi, alah turun inyo ka laman, sarato jo dayang-dayang nan banyak, alah tibo di tangah laman, bajalan Subang Bagelang, alah sarantang pajalanan, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo inyo di sumua, dicaliak hilia jo mudiak, lah tampak urang sadang duduak, takajuik Subang Bagelang.
“Manolah urang nan manggaleh, apo sabab mandi ka mari, sumua lah nyato balarangan, tidakkoh mandanga baritonyo?” [ 122 ]Tidaklah kaba dipanjangkan, kaba beralih kemudian, alihnya kepada Subang Bagelang, sedang tidur diatas anjung, tersirap darah di dada, badan serasa bayang-bayang, air mata berderai-derai, menangis berbuah pantun,
"Dikirap kain di kandang
Dibawa orang Bengkulu
Tersirap darah kadang-kadang
Teringat masa yang dahulu.
Subang terkenang pada tunangan, tuan kandung Magek Manandin, entah hidup entahlah mati, kabar tidak berita tidak, denai sudah hampir kawin, sebab dipaksa bapak jua, tidak dapat mengelak lagi, tuan kandung entah dimana, rimba dimana yang sudah busuk, entah dijenguk lalat hijau.
Kalau lama batang Sikalang
Kalau rumpun panjanglah padi
Padi diambil orang jua;
Telah sangat lama Tuan hilang
Jika hidup besarlah kini
Jika mati pesankan hamba.
Pecah cawan ditimpa cawan
Pecah ditimpa rama-rama;
Hilang nyawa berganti badan
Tuan kandung dikenang jua
Setelah sudah berpantun, teringatlah hendak mandi, lalu turun ia ke halaman, bersama dayang-dayang yang banyak, sesampainya ditengah halaman, berjalanlah Subang Bagelang, telah serentang perjalanan, hampir kan sampai lah di sana, sampai di sumur pemandian, dilihat hilir dan mudik, nampaklah orang sedang duduk, terkejut Subang Bagelang.
"Wahai orang yang menggalas, apa sebab mandi ke mari, sumur lah nyata berlarangan, tidakkah mendengar beritanya?" [ 123 ]Manjawab Magek Manandin, "Jikok itu puti katokan, ambo kan urang baru datang, dusun nagari tidak tantu, sabab dibaok untuang buruak, alah taragak ambo nak mandi, itu sabab datang ka mari.
Mandi nan sakali nangko, mamintak ambo sungguah-sungguah, janlah puti ketek hati, jan adiak salah tarimo, kok untuang laimambaleh guno."
Mandanga kato nan bak kian, tamanuang Subang Bagelang, mandanga jawab urang manggaleh, kato sarupo basindiran, "Adiak kanduang puti nan datang, bari luruih ambo batanyo, jan adiak salah tarimo, apo namonyo kampuang nangko, siapo galanya rajo disiko, sabagai pulo kato ambo, dahulu ambo mandapek kaba, maso lai diam di nagari, nan bagala Rajo Kuaso, inyo disabuik urang bana, urang kayo di Sandiang baka, ado surang kamanakannyo, nan geneng di Sandiangbaka, iyo banamo Magek Manandin.
Inyo disabuik urang bana, juaro di tangah balai, pamenan mato urang kampuang, sabab ambotanyokan bana, ambonan baniat nak batamu, kalau buliah bali jo pintak, tolonglah adiak baritahu, di mano bana kampuangnyo?"
Baru mandanga kato nantun, manangih Subang Bagelang, "Oi tuan urang manggaleh, usah disabuik duo kali, ula lalok tuan jagokan, hatiambo bakao sanang, alah kusuik pulo babaliak.
Jikok itu Tuan tanyokan, nak ambo katokan bana, nan banamo Magek Manandin, itulah tunangan ambo, batunangan kain pandukuang, kini dimano inyo lai, alah dibuang di bapak ambo, alah bakajang di lurah dalam."
Manjawab Magek Manandin, "Adiak kanduang puti nan datang, sabuah ambo katokan, kok lai juo hanyo si Magek, kok hiduik juo inyo kini, laika suko hati adiak, manarimo urang tabuang dek mamaknyo?" [ 124 ]Menjawab Magek Manandin, “Kalau itu puti katakan, denai kan orang baru datang, dusun nagari tidak tentu, sebab dibawa untung buruk, teringin denai hendak mandi, itu sebab datang ke mari.
Mandi yang sekali ini, meminta denai sungguh-sungguh, janganlah Puti berkecil hati, jangan Adik salah terima, mudahmudahan membalas guna.”
Mendengar kata demikian, termenung Subang Bagelang, mendengar jawab orang menggalas, kata serupa bersindiran, “Adik kandung puti yang datang, izinkan denai bertanya, jangan Adik salah terima, apa namanya kampung ini, siapa gelarnya raja di sini, sebab begitu tanya denai, dahulu denai mendengar kabar, semasa tinggal di nagari, yang bergelar Rajo Kuaso, Ia sangat termasyur, orang kaya di Sandiangbaka, ada seorang kemenakannya, yang gagah di Sandiangbaka, yang bernama Magek Manandin.
Dia sangat terkenal, juara di tengah balai, pamenan mata orang kampung, sebab denai ingin bertanya, denai terniat ingin bertemu, kalau boleh denai meminta, tolonglah Adik beri tahu, di mana benar kah kampungnya?”
Baru mendengar kata itu, menangis Subang Bagelang, “Oi Tuan orang menggalas, usah disebut dua kali, ular tidur tuan bangunkan, hati denai berangsur baik, menjadi kusut lah kembali.
Jika itu Tuan tanyakan, biarlah denai jelaskan, yang bernama agek Manandin, itulah tunangan denai, bertunangan kain pendukung, kini entah di manakah berada, telah dibuang di bapak denai, hilang sudah di lurah yang dalam.
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung puti yang datang, satu hal denai tanyakan, andaikan Manandin masih ada, andaikan Manandin masih hidup, akankah senang hati Adik, menerima orang terbuang oleh mamaknya?” [ 125 ]Manangih Subang Bagelang, dijawab dangan hati ibo, “Jikok itu Tuan tanyokan, kok lai hiduik inyo kini, bialah bangih bapak kanduang, bialah banci niniak mamak, iyo bak undang urang tuo,
Pipik parik tabang ka parik
Tibo di parik kanai gatah
Tumbuah sipuluik badaun mudo;
Tatungkuik bumi jo langik
Balenggang nagari Makah
Tuan kanduang dinanti juo.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato adiak, nak ambo katokan bana, salorong Magek Manandin, inyo nan lai hiduik juo, lai ambo mambaok pasan, bapasan buni dalam bapantun,
Barambuih angin dari Salatan
Angin banamo Silangsari;
Jikok pulang baoklah pamenan
Banakan untuang badan kami.
Kurai Taji kampuang jilatang
Rumpuik dimakan ka tumbuah lai;
Sansai badan dirunduang malang
Kampuang tidak tajalang lai.
Banyak pasannyo bakeh ambo, bakirim pantun duo tigo, tak tasabuik lai pantunnyo,
Masaklah padi di Manggilang
Pucuak nan mintak digatahkan
Kok lai di dalam padi juo;
Adiak di dalam tangan urang
Inyo nan mintak disabakan
Kok lai di dalam hati juo.
Hiliakan Padang Silanggeni
Mudiak kampuang Silinjato
Pipit parit terbang ke parit
Tiba di parit kena getah
Tumbuh sipulut berdaun muda;
Tertelungkup bumi dan langit
Terbenam bumi Mekah
Tuan kandung dinanti jua.
Menjawab Magek Manandin, "Kalau begitu jawab Adik, biarlah denaikabarkan yang sebenarnya, tentang Magek Manandin, sebenarnya dia masih hidup, denai datang membawa pesan, berpesan di dalam buah pantun,
Berhembus angin dari Selatan
Angin bernama angin Silangsari;
Jika pulang bawa mainan
Jelaskan untung badan kami.
Kurai Taji kampung jilatang
Rumput dimakan akan tumbuh lagi;
Sansai badan dirundung malang
Kampung yang tidak terjalang lagi
Banyak pesan pada denai, berkirim pantun dua tiga, tak tersebut lagi pantunnya,
"Masaklah padi di Manggilang
Pucuk yang minta digetahkan
Jika masih di dalam padi jua;
Adik di dalam tangan orang
Dia meminta disabarkan
Jika masih di dalam hati jua.
Hilirkan Padang Silanggeni
Mudik kampung Silinjato
Tantang Suliki Pakandangan
Bandakan ka Sungai Sariak
Kok di dalam padi juo;
Kok iyo lai sayang ka nan kini
Cubolah agak ka nan lamo
Harisaharidipatenggangkan
Banakan ka tuan adiak
Kok lai di dalam hati juo."
Manjawab pulo Subang Bagelang, "Oi Tuan urang manggaleh, kok lai hiduik tuan ambo, tuan kanduang Magek Manandin, Allahu Rabbisuko hati, Tuan sampaikan salam ambo, katokan ambo mintak pulang, Tuan katokan sampai-sampai.
Lapeh nan dari pasa Sampan
Handak manjalang Bukik Apik
Parentah lareh Tujuah Koto;
Tuan kanduang baoklah pasan
Baju baguntiang tak bajahik
Talatak apo ka gunonyo.
Talang dirimbo Mangkapuyan
Ditanam kalasi kapa
Dibaok nak rang Koto Tuo;
Cindai kapalo pakodian
Harun ditaruah saudaga
Lapuak di dalam toko juo.
Harilah badarok patang, alah mandi Subang Bagelang, sudah mandi balimau jo bakasai, bakato Subang Bagelang, "Tuan kanduang urang manggaleh, Tuan tinggamalah disiko, pabilo Tuan ka babaliak, kok batamu jo tuan ambo, pasan nan jan dilupokan."
Alah pulang Subang Bagelang, alah tibo inyo di rumah, hari badarok patang juo, sadang dek Magek Manandin, namun malam samalam nantun, alah bajalan Magek Manandin, alah tibo di tangah [ 128 ]Tentang Suliki Pakandangan
Bandarkan ke sungai Sarik
Jika di dalam padi jua;
Jika sayang pada yang kini
Cobalah pikirkan yang lama
Hari sehari dipertenggangkan
Jelaskan kepada tuan adik
Jika dia masih di hati jua.
Menjawab Subang Bagelang, “Oi Tuan orang menggalas, kalau masih hidup Tuan denai, tuan kandung Magek Manandin, Allahu Rabbi senangnya hati, Tuan sampaikan salam denai, katakan denai menyuruh pulang, Tuan katakan sampai-sampai.
Lepas dari pasar Sampan
Hendak menjelang Bukik Apik
Perintah laras Tujuh Koto;
Tuan kandung bawalah pesan
Baju digunting tidak dijahit
Terletak apalah gunanya.
Talang di rimba Mangkupuyan
Ditanam kelasi kapal
Dibawa orang Koto Tuo;
Cindai kepala perkodian
Harun ditaruh saudagar
Lapuk di dalam toko jua.
Hari makin beranjak petang, sudah mandi Subang Bagelang, mandi berlimau dan berlulur, berkata Subang Bagelang, “Tuan kandung orang menggalas, Tuan tinggal malah di sini, kapanpun Tuan akan berbalik, kalau bertemu dengan tuan denai, pesan yang jangan dilupakan.
Lalu pulanglah Subang Bagelang, setelah sampai di rumah, hari beranjak petang jua, sedang si Magek Manandin, di malam semalam itu, berjalanlah Magek Manandin, berjalan sampai ke
117
ka surau hanyo lai. Alah sudah sumbahyang Isya, bakato urang di surau, “Cukuiklah imam dangan khatib, urang banyak baitu juo, namun malam samalam nangko, kito pai malah baralek, ka rumah Subang Bagelang, alek banamo alek kawin, lakinyo Rajo Duobaleh.”
Sadang dek Magek Manandin, mandanga kato nantun, mandanga tunangan alah ka kawin, takajuik Magek Manandin, ditampa dado dikaluahkan, ayia mato badarai-darai, manangih sambia bapantun,
“Alang jo kekek bari makan
Di simpang jalan ka muaro;
Panjang jo singkek paulehkan
Tidak ka sampai ka baa juo.
Elok luluaknyo sawah Solok
Ambiak pambajak kabau gadang
Dipandang sarugo elok
Ka masuak amalan kurang.
Balayia kapa Sutan Buyuang
Balabuah tantang Indopuro;
Alang sesonyo kok tidak untuang
Buah manjadi bungo pulo.
Si miskin baburu gajah
Baburu ka Koto Pauah
Pandan ditateh urang juo;
Ambo miskin sapantun atah
Bacampua ka baraso jauah
Nyato disisiah urang juo
Rami balainyo Tujuah Koto
Perintah Laras Pariaman;
dek bansaik ambo juo
Tunangan lapeh dari tangan.
Tidaklah kaba dipapanjang, kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo kapado Rajo Duobaleh, namun malam samalam nantun, bajalan Rajo
118
bermalam, lalu pergilah ia ke surau. Setelah sembahyang Isya, berkata orang di surau, “Cukuplah imam dengan Khatib, orang yang banyak begitu pula, di malam semalam ini, marilah kita pergi berhelat, ke rumah Subang Bagelang, helat bernama helat kawin, suaminya Rajo Duo baleh.
Sedang si Magek Manandin, mendengar kata itu, mendengar tunangan akan kawin, terkejut Magek Manandin, diraba dada dikeluhkan, air mata berderai-derai, menangis sambil berpantun,
“Elang dan kekek beri makan
Di simpang jalan ke muara;
Panjang dan singkat disambungkan
Tidak sampai harus bagaimana.
Bagus tanahnya sawah Solok
Ambil pembajak kerbau besar;
Dipandang surga sungguh elok
Akan masuk amalan kurang.
Berlayar kapal Sutan Buyung
Berlabuh di Indrapura;
Sungguh tersiksa bila tak beruntung
Buah menjadi bunga pula.
Si miskin berburu gajah
Berburu ke koto Pauh
Pandan ditoreh orang jua;
Hamba miskin sepantun atah
Bercampur akan berasa jauh
Nyata disisihkan orang jua.
Rami balainya Tujuh Koto
Perintah Laras Pariaman;
Karena kemiskinan hamba jua
Tunangan lepas dari tangan.
Tidaklah kabar dipanjangkan, kabar beralih kemudian, alihnya kepada Rajo Duobaleh, di malam semalam itu, berjalan Rajo
119
Dek lamo lambek bajalan, alah tibo di kampuang nantun, di laman rumah Subang Bagelang, alah naiak Rajo Duobaleh, sarato basa jo pangulu, duduak inyo di kasua manggalo, basanda di banta gadang.
Lamo sabanta antaronyo, alah tibo imam dangan khatib, tibo pulo Tuanku Kadhi, alek lah duduak tangah rumah, sadang dek angku Rajo Kuaso, alah ka sanang paratian, manarimo minantu urang kayo, lai kayo lai pulo rajo, salah saketek urang tuo, tidak sapadan dangan anak.
Tidaklah kaba dipapanjang, kaba baraliah tantang itu, baraliah ka si Magek, sadang dek Magek Manandin, inyo bamanuang dalam surau, dapek pikiran sakutiko, elok ambo ka kiun, ka rumah Subang Bagelang. Asa sabuik nak tarapuang, namun batu tanggalam juo, kalau ado suratan baiak, barang ka mano baiak juo, jikok hanyo suratan buruak, barang ka mano buruak juo, iyo nan bak buni pantun urang,
Si Amat Sutan Marajo
Urang Simabua di Parabek
Barumah di Kapeh Panji;
Ampek bulan dikanduang bundo
Buruak jo baiak lah tasurek
Kini nan utang mandapati.
Dari Mangguang ka Limo Koto
Sikalat labiah pangguntiangan;
Pado manangguang nan bak nangko
Bialah badan marasaikan.
Lamo sabanta antaronyo, sadang bapikia-pikia juo, bajalan malah Magek Manandin, ka rumah Subang Bagelang, dek lamo lambek di jalan, alah tibo di kampuang nantun, di laman rumah Subang Bagelang.
120
penghulu.
Lambat laun berjalan, telah sampai di kampung itu, di halaman rumah Subang Bagelang, naiklah Rajo Duobaleh, serta basa dan penghulu, lalu duduk di kasur manggalo, bersandar di bantal besar.
Tidak lama kemudian, tibalah imam dan khatib, tiba pula Tuanku Kadhi, duduk lah tamu di tengah rumah, sedang angku Rajo Kuaso, sangat senang rasa hati, menerima menantu orang kaya, sudah kaya raja pula, hanya sedikit kurangnya, tidak sepadan dengan anak.
Tidaklah kabar diperpanjang, kabar beralih tentang itu, beralih kepada si Magek, sedang si Magek Manandin, duduk bermenung dalam surau, dapat pikiran seketika, elok denai datang ke sana, ke rumah Subang Bagelang. Asal sabut biar terapung, namun batu tenggelam jua, kalau ada suratan baik, bagaimanapun baik juga, jika hanya suratan buruk, bagaiamanapun buruk jua, sungguh bak bunyi pantun orang,
Si Amat Sutan Marajo
Orang Simabur di Parabek
Berumah di Kapeh Panji;
Empat bulan dikandung bundo
Buruk dan baik sudah tersurat
Utang kita hanya menepati.
Dari Mangguang ke Koto Sani
Sikalat lebih pengguntingan;
Daripada menanggung serupa ini
Biarlah badan merasaikan.
Tidak lama kemudian, sedang berpikir-pikir itu, berjalan Magek Manandin, ke rumah Subang Bagelang, karena lama lambat di jalan, sudah sampai di kampung itu, di halaman rumah Subang Bagelang.
21
alah duduak ditapi pintu, badan busuak tidak tabado, kaki dipaluik jo balacu, lah tigo bulan tidak mandi, alah bahuruang langau hijau, dek busuak Magek Manandin, urang lah bancikasadonyo.
Datang dubalang nan barampek, dikabek Magek Manandin, dielo ka tangah laman, bakato Rajo Duobaleh, "Bunuah banalah anak rang nangko, anak bincacak anak bincacau, anak rang tidak basuku, elok dibunuah kini-kini, kok mati tidak mambangun!"
Baru mandanga kato nantun, alah bahimpun urang nagari, gadang ketek mampatinjukan, apo nan da pek digadokan, sadang dek Magek Manandin, tidak talok kanai tangan, sadang batolong pado Allah, tidak pulo dimakan batu, hilanglah aka kamambunuahnyo.
Alah bakabek Magek Manandin, diirik jo tali gadang, alah tibo di jalan kabau, dikubuakan Magek Manandin, bakubua di jalan kabau, inyo takubua sahinggo lihia, nak buliah dipijak dek kabau banyak, urang banyak babaliak pulang.
Lamo sabanta antaronyo, alah datang kabau nan banyak, di tantangan Magek Manandin, kabau tak namuah mamijaknyo.
Hari batambah laruik malam, sadang dek Magek Manandin, takana alemu kapandaian, nan diajakan urang tuo, dilapeh gayuang parmayo, sarato pitanggang jo palalai, dilapeh doa galanggang, kapado Subang Bagelang, kok buliah usah jadi kawin.
Pintak nan sadang ka balaku, sadang batolong pado Allah, alah sakik Subang Bagelang, alah dapek panyakik paruik, namun malam samalam nantun, haru biru urang nan banyak, bahimpun dukun pandai ubek, sakik nan tidak namuah sanang, usahkan sanang, batambah sakik nan labiah, tidak jadi lai kawin.
Urang lah rintang dek panyakik, sakik batambah sangaik juo, urang manangih gadang ketek, namun malam samalam nantun,
122
Datang dubalang yang berempat, lalu diikat Magek Manandin, diseret ke tengah halaman, berkata Rajo Duoabaleh, "Bunuh sajalah anak itu, anak bincacak anak bincacau, anak orang tidak bersuku, elok dibunuh kini-kini, kalau matitidak membangun!"
Baru mendengar kata itu, telah berkumpul orang nagari, besar kecil mempertinjukan, apa yang dapat dipukulkan, sedang di Magek Manandin, tidak mempan kena tangan, sedang bertolong pada Allah, tidak pula dimakan batu, hilanglah akal untuk membunuhnya.
Telah diikat Magek Manandin, diseret dengan tali besar, sampailah di jalan kerbau, dikuburkan Magek Manandin, berkubur di jalan kerbau, dikubur sebatas leher, agar diinjak kerbau yang banyak, orang banyak berbalik pulang.
Tidak lama kemudian, datanglah kerbau yang banyak, tepat dimana Magek Manandin, kerbau yang tidak mau menginjak.
Hari semakin larut malam, sementara Magek Manandin, teringat ilmu kepandaian, yang diajarkan orang tua, dilepas gayung permaya, serta pitanggang dan palalai, dilepas doa gelanggang, kepada Subang Bagelang, agar jangan sampai kawin.
Pinta yang sedang dikabulkan, sedang bertolong pada Allah, sakitlah Subang Bagelang, dapatlah sakit perut, namun di malam semalam itu, haru biru orang yang banyak, berkumpul dukun pandai mengobat, sakit yang tidak bisa hilang, usahkan hilang, bertambah sakit malah yang jadi, sehingga tak jadi kawin.
Orang pun sibuk karena penyakit, sakit bertambah parah jua, orang menangis semuanya, namun di malam semalam itu, [ 135 ]takalok Subang Bagelang, dalam lalok mimpi lahtibo, di dalam mimpi mangatokan, ka jalan kabau mangkonyo sanang.
Mimpi sudah inyotasintak, bakato Subang Bagelang, "Adiak kanduang si Kambang Manih, sakik batambah-tambah juo, ubek jauah panyakik hampia,
Guruah patuih panubo limbek
Pandan tajamua disubarang;
Tujuah ratuih carikan ubek
Ka jalan kabau mangkonyo sanang.
Baitu kato mimpi ambo, kinimolah samo pai, antakan malah badan ambo, antakan ka jalan kabau."
Manjawab Si Kambang Manih, "Kalau baitu kato Aciak, kito bajalan kini nangko."
Alah bajalan si Kambang Manih, duo jo Subang Bagelang, alah sarantang pajalanan, tidaklah kaba dipanjangkan, kaba baraliah ka Magek Manandin. Sadang dek Magek Manandin, badan bakubua sahinggo lihia, alemu dikana juo, iyo takana pituah guru, alah dilapeh diputa baliak, doa pitanggang kalaparan, sadang mandoa inyo manangih, ayia mato bak maniak putuih, manangih sambia jo bapantun,
"Languah langah buni limpato
Urang mamanggang pariangan
Takajuik urang di Silaiang
Pado bakirai bungo lado;
Kok tidak lalu satampuah nangko
Dikarek kalingkiang kanan
Dipakai tarekat jangkiang
Jan batambah doso juo.
Kok tidak ka ladang diam
Padisiapo nan ka luluah
Banto kan iyo ambo bubuik juo;
Mimpi sudah la tersentak, berkata Subang Bagelang, "Adik kandung si Kambang Manih, sakit bertambah-tambah jua, obat jauh penyakit hampir,
Guruh petus penuba limbat
Pandan terjemur di seberang;
Tujuh ratus carikan obat
Ke jalan kerbau makanya senang.
Begitu kata mimpi denai, sekarang mari kita pergi, antarkan malah badan denai, antarkan ke jalan kerbau."
Menjawabsi Kambang Manih, "kalau begitu kata Aciak, kita berjalan sekarang jua."
Lalu berjalan si Kambang Manih, berdua dengan Subang Bagelang, telah serentang perjalanan, tidaklah kabar diperpanjang, kabar beralih kepada Magek Manandin, badan dikubur sebatas leher, ilmu diingat jua, terkenang pada petuah guru, lalu dilepas diputar balik, doa pitanggang kelaparan, sedang mendoa dia menangis, air mata bagaimanik putus, menangis sambil berpantun,
Lenguh lengah bunyi limpato
Orang memanggang pariangan
Terkejut orang di Sila ing
Pada berkirai bunga lada;
Jika tidak lalu sekali ini
Dipotong kelingking kanan
Dipakai tarekat jengking
Agar tak menambah dosa
Jika tidak ke ladang diam
Padisiapa yang akan luluh
Banto akan dicabut jua;
Jikok tidak ka sanang diam
Hati siapo nan ka rusuah
Namun kasiah ka ambo sabuik juo."
Sadang bapantun pantun juo, bapantun lalu manangih, pintak nan sadang ka balaku, alah tibo Subang Bagelang, dihampiri Magek Manandin.
Bakato Subang Bagelang, "Oi Tuan urang manggaleh, salamo Tuan dikubuakan, badan ambo lah jatuah sakik, kini baitu malah dek Tuan, tolonglah ubek badan ambo, kudian kok lai mambaleh guno, nak kamikali kubua Tuan."
Manjawab Magek Manandin, "Adiak kanduang puti nan datang, kalau suko adiak manolong, dagang tabuang dek nan punyo, ambo mamintak pado Allah, salamaik juo badan adiak."
Sadang dek Subang Bagelang, duo jo si Kambang Manih, dikali malah kuburan nyo, alah kalua Magek Manandin, alah duduak inyo batigo.
Bakato Subang Bagelang, "Oi Tuan urang manggaleh, pado marasai badan Tuan, elok Tuan bajalan dahulu, Tuan mangatokan tantang Tuan ambo, nan bagala Magek Manandin, inyo lai hiduik juo, lai pulo inyo bapasan, lakeh juo nak batamu.
Sabagai pulo tuan kanduang, Tuan banakan elok-elok, tatkalo Tuan kamari, dimano inyo Tuan tinggakan."
Manjawab Magek Manandin, "Adiak kanduang Subang Bagelang, jikok itu Adiak tanyokan, kok salorong Magek Manandin, nak ambo katokan bana, tidak ambo baduto-duto, nan banamo Magek Manandin, kok mahimbau adiak talampau, kok babisiak kadangaran."
Mandangadi kato nantun, takajuikgadang Subang Bagelang, sanan bakato hanyo lai, "Kalau baitu kato Tuan, tidaklah ado urang [ 138 ]Jika tidak akan senang diam
Hati siapa yang akan rusuh
Namun kasih akan disebut jua.”
Sedang berpantun-pantun jua, berpantun lalu menangis, pinta yang sedang akan berlaku, datanglah Subang Bagelang, dihampiri Magek Manandin.
Berkata Subang Bagelang, “Oi Tuan orang menggalas, selama Tuan dikuburkan, badan denai jatuh sakit, sekarang begini saja, tolonglah obati badan denai, kemudian mungkin membalas guna, biar kami kali kubur Tuan.”
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung Puti yang datang, kalau Adik suka menolong, dagang terbuang oleh empunya, denai meminta pada Allah, selamat jua badan Adik.”
Oleh Subang Bagelang, berdua dengan si Kambang Manih, dikali malah kuburan itu, lalu keluarlah Magek Manandin, duduklah mereka bertiga.
Berkata Subang Bagelang, “Oi Tuan orang menggalas, daripada tersiksa badan Tuan, elok Tuan berjalan dahulu, Tuan mengatakan tentang Tuan denai, yang bergelar Magek Manandin, dia masih hidup jua, dan berpesan kepada Tuan, semoga lekas Tuan bertemu.
Sebagaimana Tuan kandung, Tuan sampaikan benar-benar, tatkala Tuan akan kemari, di mana dia Tuan tinggalkan.”
Menjawab Magek Manandin, “Adik kandung Subang Bagelang, jika itu Adik tanyakan, tentang si Magek Manandin, biar denai katakan saja, tidak denai berdusta-dusta, yang bernama Magek Manandin, kalau memanggil Adik terlampau, kalau berbisik kedengaran.”
Mendengarkan kata itu, sangat terkejut Subang Bagelang, lalu berkata seketika, “Kalau begitu kata Tuan, tidaklah ada orang [ 139 ]nan lain, kito batigo hanyo barundiang, iyolah Tuan garan tuan ambo, nan bagala Magek Manandin.
Kok iyo bana kato Tuan, mari kito babaliak pulang, nak nyo tantu nan ka dituruik, jan bahati rusuah juo, banakan malah tuan kanduang.”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, jikok itu kato Adiak, babaliak pulang ambo, tapi Adiak dalam batunangan, sabagai pulo tdiak kanduang, jikok sampai kito ka kampuang, Adiak ka kawin hanyo lai, dangan angku Rajo Duobaleh, baibo hati malah ambo.”
Baru mandanga kato nantu, manangih Subang Bagelang, “Kalau itu nan Tuan rusuahkan, Tuan nan tidak ka tagamang, handak parang geleng paluru, jan takuik karano salah, barani karano bana, samo namuah mangko manjadi, labiah murah mangisa subang, antah kok Tuan tidak suko.
Jikok salorong badan ambo, bapantang mungkia di janji,
Tuan mandi ambo manyauak
Nak samo babasah-basah
Di lubuak urang Koto Tuo;
Tuan mati ambo mangamuak
Nak samo bakalang tanah
Sakubua kito baduo.
Tuan kanduang Magek Manandin, tidak guno lamo di siko, mari kito babaliak pulang.”
Alah pulang Magek Manandin, bajalan inyo batigo, hari nan sadang laruik malam, bajalan bairiang-iriang, di muko Magek Manandin, di tangah Subang Bagelang, kudian si Kambang Manih.
Dek lamo lambek bajalan, hampia tibo hanyo lai, alah tibo inyo di kampuang, di laman rumah Subang Bagelang, alah naiak [ 140 ]lain, selain dari kita bertiga, tuankah gerangan Tuan denai, yang bergelar Magek Manandin?”
Kalau benar kata Tuan, marilah kita berbalik pulang, agar tentu yang akan diturut, jangan kita berhati rusuh, benarkan malah Tuan kandung.”
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, jika begitu kata Adik, kalau denai ikut pulang, tapi Adik dalam bertunangan, sebagai pula Adik kandung, kalau sampai kita ke kampung, Adik yang akan segera kawin, dengan angku Rajo Duobaleh, beriba hati malah denai.”
Barumendengar kata itu, menangis Subang Bagelang, “Kalau itu yang Tuan rusuhkan, Tuan yang tidak kan tergamang, hendak perang geleng peluru, jangan takut karena salah, berani karena benar, bersama maka menjadi, lebih mudah mengisa lubang, entah Tuan yang tak suka.
Akan hal diri denai, berpantang memungkir janji,
Tuan mandi denai manyaut
Agar sama-sama basah
Di lubuk orang Koto Tuo;
Tuan mati denai mengamuk
Agar sama berkalang tanah
Sekubur kita berdua.
Tuan kandung Magek Manandin, tiada guna lama di sini, mari kita berbalik pulang.”
Lalu pulanglah Magek Manandin, berjalan mereka bertiga, hari yang sedang larut malam, berjalan beriring-iringan, di depan Magek Manandin, di tengah Subang Bagelang, kudian si Kambang Manih.
Lambat laun di jalan, hampir kan sampai lah di sana, sampai lah mereka di kampung, di halaman rumah Subang Bagelang, naiklah [ 141 ]Magek Manandin, lamo sabanta antaronyo, bakato Subang Bagelang, “Tuan kanduang Magek Manandin, Tuan pai malah mandi, buangkan malah baju buruak.”
Lamo sabanta antaronyo, alah mandi Magek Manandin, sudahnyo mandi babaliak pulang, alah duduak Magek Manandin, nasi talatak dek si Kambang, sudah makan sudah minum, sudah marokok makan siriah, bakato Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, hari lah laruik tangah malam, ambo bajalan hanyo lai, rilahkan nasi nan tamakan.”
Manjawab Subang Bagelang, “Tuan kanduang Magek Manandin, namun malam samalam nangko, tidak suko ambo malapeh, barisuak kok siang hari, pai malah Tuan ka balai, nak ambo bari Tuan pitih, untuak palawan dunia urang, ambo bari ayam nan sikua, lawan manyabuang tunangan ambo, nan bagala Rajo Duobaleh.
Lawan bataruah banyak-banyak, kalau kalah Tuan dibayia, kok lai batolong pado Allah, usahlah kalah ayam kito, sabab lah lamo di pautan.”
Manjawab Magek Manandin, “Adiak kanduang Subang Bagelang, Adiak kanduang bapikia malah, adiak di dalam batunangan, sabagai pulo adiak kanduang, jikok di siko ambo bamalam, kalau tahu Rajo Duobaleh, manjadi musuah kamudian.”
Alah panek tangka batangka, manangih Subang Bagelang, “Tuan kanduang Magek Manandin, usah Tuan bajalan lai, laloklah Tuan ateh anjuang, ambo tidua di tangah rumah.”
Alah patuik jarami lapuak
Alah lamo batang tarandam;
Alah patuik mato takantuak
Hari lah laruik tangah malam.
Bagelang, "Tuan kandung Magek Manandin, pergilah Tuan mandi, buangkanlah baju yang buruk."
Tidak lama antaranya, selesailah Magek Manandin mandi, sesudah itu berbalik pulang, duduklah Magek Manandin, dihidangkan nasi oleh si Kambang, sudah makan dan minum, sudah merokok makan sirih, berkata Magek Manandin, "Adik kandung Subang Bagelang, haritlah larut tengahlmalam, lenai berjalan lah sekarang, relakan nasiyang termakan."
Menjawab Subang Bagelang, "Tuan kandung Magek Manandin, di malam semalam ini, tidak suka denaimelepas, besok setelah harisiang, pergimalah Tuan ke balai, akan denai beri Tuan uang, untuk melawan dunia orang, denai beri seekor ayam, lawan menyabung tunangan denai, yang bergelar Rajo Duobaleh. Lawan bertaruh banyak-banyak, kalau kalah Tuan dibayar, semoga bertolong pada Allah, usahlah kalah ayam kita, sebab telah lama di pautan."
Menjawab Magek Manandin, "Adik Kandung Subang Bagelang, Adik kandung berpikir malah, Adik di dalam bertunangan, sebagai pua Adik kandug, kalau di sini denai bermalam, kalau tahu Rajo Duobaleh, menjadi musuh kemudian."
Setelah lama berdebat, menangis Subang Bagelang, "Tuan kandung Magek Manandin, usahlah Tuan berjalan, tidurlah Tuan di atas anjung, denai tidur di tengah rumah."
Sudah patut jerami lapuk
Sudah lama batang terendam;
Sudah patut mata mengantuk
Hari sudah larut malam.
Adat di Galanggang
Lamo sabanta antaronyo, alah lalok Magek Manandin, inyo lalok di ateh anjuang, di dalam kulambu rumin.
Hari badarok siang juo, ayam bakukuak manjagokan, alah kiro kiro pukua anam pagi, alah mandi Magek Manandin, sudah mandi inyo sumbahyang, mamintak inyo pado Allah, lapehkan badan dari sansaro, datang pitunjuak dari Allah, alah barubah parangainyo, alah tahu manyambah tuhan, tidak namuah bajudi lai.
Hari kiro-kiro pukua sambilan, nasi lah masak dek si Kambang, bakato si Kambang Manih, “Tuan makan malah dahulu.”
Alah makan Magek Manandin, sudah makan sudah minum, bakato Subang Bagelang, “Tuan kanduang Magek Manandin, mamakai malah Tuan Kanduang, Tuan ka pai ka galanggang.’
Alah mamakai Magek Manandin, alah lakek kain jo baju, alah sudah inyo mamakai, sadang dek Subang Bagelang, diambiak urai limo kaco, dibarikan ayam nan sikua, sarato taji sabarumbuang, si Salamat mambao ayam, alah bajalan inyo baduo.
Dek lamo lambek bajalan, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo cando di galanggang, di galanggang Subang Bagelang, hiru biru urang nan banyak, maliek sutan baru datang, rancak nan bukan [ 144 ]ADAT DI GELANGGANG
Tidak lama kemudian, telah tidur Magek Manandin, tidur di atas anjung, di dalam kelambu rumin.
Hari beranjak siang jua, ayam berkokok membangunkan, kira kira pukul enam pagi, lalu mandi Magek Manandin, sudah mandi Ia sembhayang, meminta kepada Allah, lepaskan badan dari sengsara, datang petunjuk dari Allah, telah berubah perangainya, telah tahu menyembah Tuhan, tidak mau berjudi lagi.
Kira-kira pukul sembilan, masak lah nasi oleh si Kambang, berkata si Kambang Manih, “Tuan makan malah dahulu.”
Makanlah Magek Manandin, sudah makan sudah minum, berkata Subang Bagelang, “Tuan Kandung Magek Manandin, memakai malah Tuan kandung, Tuan akan pergi ke gelanggang.
Bersiaplah Magek Manandin, memakai kain dan baju, selesai lah Ia bersiap, sedang si Subang Bagelang, diambil urai lima kaca, diberikan ayam seekor, serta taji seberumbung, si Salamat membawa ayam, berjalanlah mereka berdua.
Karena lambat laun di jalan, hampir sampai mereka di sana, sampailah di gelanggang, di gelanggang Subang Bagelang, haru biru orang yang banyak, melihat sutan baru datang, gagah yang [ 145 ]alang-alang, laranglah puti ka judunyo, bakato manti jolong pandai,
“Manolah Tuan baru datang, di mano bana kampuang Tuan, salamo galanggang rami, balun parnah kami maliek, urang nan sarancak sutan, bari luruih kami batanyo.
Kalau dipandang-pandang bana, sarupo saroman tidak, mato kami salah mamandang, hampia sarupo jo nan hilang, anak angku Datuak Bandaharo, kamanakan Rajo Kuaso, nan geneang di Sandiangbaka, banamo Magek Manandin.
Tatapi tidak kan mungkin, sabab inyo lah kami buang, dicampakkan ka dalam lurah, kini di mano inyo lai, antah lah lapuak jadi tanah.”
Manjawab Magek Manandin, “Jikok itu Tuan tanyokan, dusun nagari tidak tantu, banyak manangguang parasaian,
Ka ayia ka lubuak pulo
Ka pulang mambaok labu;
Lahianyo ambo di siko
Batinnyo dagang tidak tantu.”
Lamo sabanta antaronyo, alah datang Rajo Duobaleh, alah tibo inyo di balai, bakato Rajo Dubaleh, “Manolah Sutan baru datang, hari nangko lah rambang tinggi, kito manyabuang malah salapeh, jikok kalah pambuang maro, kalau manang pambali siriah.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato Angku, nak kito padan malah ayam.”
Alah dibulang ayam biriang, ayam Angku Rajo Duobaleh, ayam gadang bataji gadang, banamo Biriang Sanggonani, sadang dek Magek Manandin, alah dibulang pulo ayam, ayam kuriak Gadih Gadanggo.
Alah sudah ayam dibulang, dilatakkan di ateh medan, sarato dangan taruah ayam, taruahnyo limo kaco urai. Sadang dek Angku Rajo Duobaleh, baru maliek taruah ayam, tamanuang Rajo Duobaleh, [ 146 ]bukan alang-alang, laranglah puti akan jodohnya, berkata manti jolong pandai, “Wahai Tuan baru datang, di mana kah kampung Tuan, selama gelanaggang ini ramai, belum pernah kami melihat, orang yang segagah sutan, izinkan kami bertanya.
Kalau dipandang-pandang, serupa seroman tidak, entah mata salah memandang, hampir serupa dengan yang hilang, anak angku Datuak Bandaharo, kemenakan Rajo Kuaso, yang terkenal di Sandiangbaka, bernama Magek Manandin.
Tetapi tidak kan mungkin, sebab dia telah kami buang, dicampakkan ke dalam lurah, entah di mana dia sekarang, mungkin sudah lapuk jadi tanah.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau itu Tuan tanyakan, dusun nagari tiada tentu, banyak menanggung penderitaan,
Ke air ke lubuk pula
Pulang membawa labu;
Lahirnya denai ada
Batin denai tiada tentu.”
Tidak lama setelah itu, datanglah Rajo Duobaleh, datang Ia ke tengah balai, lalu berkata Rajo Duobaleh, “Duhai sutan yang baru datang, hari sudah semakin siang, marilah menyabung agak sekali, kalau kalah pembuang mara, kalau menang pembeli sirih.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, marilah ayam kita padan.”
Lalu dibulang ayam biring, ayam angku Rajo Duobaleh, ayam besar bertaji besar, bernama Biriang Sanggogani, sementara Magek Manandin, telah dibulang pula ayam, ayam kurik Gadih Godanggo.
Setalah ayam dibulang, diletakkan di atas medan, serta dengan taruh ayam, taruhnya lima kaca urai. Sedangkan Angku Rajo Duoabaleh, baru melihat taruh ayam, termenung Rajo Duobaleh,
tidak sampai.
Mamanca paluah di kaniang, disemba pitih tangah balai, mamintak tolong ka anak buah, habih tajua sawah ladang.
Alah batampin taruah ayam, dibaok ayam kaduonyo, dilatakkan di tangah medan, bakato Rajo Duobaleh, “Manolah Sutan baru datang, di mano Sutan dapek ayam, sabab ambo batanyo bana, sarupo kaki jo bulunyo, sarupo ayam tunangan ambo, nan banamo Subang Bagelang.”
Manjawab Magek Manandin, “Jikok itu Angku tanyokan, pandang bana lah nyato-nyato, ayam kok banyak nan sarupo, kok lai di angku ayam kuriak, ayam kuriak Gadih Gadanggo, di ambo antah lai pulo, kok lai di Angku Subang Bagelang, di ambo antah lai pulo, sabab baitu kato ambo, ayam kok banyak nan sarupo, kukuak banyak nan saroman, kok urang banyak nan sanamo, iyolah dakwa bagalanggang, tatap-tatap mato dakwa.”
Tamanuang Rajo Duobaleh, hati samak-samak ragu, antah iyo antah moh tidak, balun dapek kato nan sahieh. Tidaklah kaba dipanjangkan, singkek sakadar ka pangguno, alah batampin taruah ayam, alah diadu malah ayam, sasudah ayam dilapeh, bakato Magek Manandin, “Ampun Tuanku Rajo di siko, sarato sanak jo saudaro, bari luruih ambo batanyo, apo pantangan di galanggang, sabab ambo baru ka balai, jan sampai tadorong-dorong sajo.”
Manjawab Rajo Duobaleh, didanga di urang tangah balai, “Jikok itu Sutan tanyokan, nan jadi pantangan di galanggang, mahariak mahantam tanah, jikalau kalah di ameh sajo, muluik nan usah dipabanyak, ayam nan buliah kito sabuang, namun adat dipakai juo, baso jo basi indak lupo, baitu adat di galanggang.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato Angku, ambo simpan di dalam dado, samo manyarah pado Allah.”
terjual sawah ladang.
memancar peluh di kening, dipinjam uang di tengah balai, meminta tolong ke anak buah, habis terjual sawah ladang. Telah bertampin taruh ayam, dibawa ayam keduanya, diletakkan di tengah medan, berkata Rajo Duobaleh, “Wahai Sutan baru datang, di mana Sutan dapat ayam, sebab begitu tanya denai, serupa kaki dan bulunya, serupa ayam tunangan denai, yang bernama Subang Bagelang.”
Menjawab Magek Manandin, “Jika itu angku tanyakan, pandanglah nyata-nyata, ayam mungkin banyak yang serupa, kalau Angku punya ayam kurik, ayam kurik Gadih Gadanggo, di denai entah ada pula, kalau Angku punya Subang Bagelang, di denai entah ada pula, sebab begitu kata denai, ayam kan banyak yang serupa, kokoknya banyak yang seroman, kalau orang banyak yang senama, itulah dakwa bergelanggang, tetap-tetap mata dakwa.”
Termenung Rajo Duobaleh, hati semak-semak ragu, entah iya entah tidak, belum dapat kata yang sahih.
Tidaklah kabar dipanjangkan, singkat sekedar yang berguna, sudah bertampin taruh ayam, lalu diadu ayam itu, sesudah ayam dilepas, berkata Magek Manandin, “Ampun Tuanku rajo di sini, izinkan denai bertanya, apa pantangan di gelanggang, sebab denai baru ke balai, jangan sampai terdorong-dorong saja.”
Menjawab Rajo Duobaleh, didengar orang tengah balai, “Kalau itu sutan tanyakan, yang jadi pantangan di gelanggang, menghardik menghantam tanah, kalau kalah di emas saja, mulut yang usah diperbanyak, ayam yang boleh kita sabung, namun adat dipakai jua, basa basi jangan lupakan, begitu adat di gelanggang.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, denai simpan dalam hati, denai berserah kepada Allah.”
barumbuang naiak, alah patah ayam kuriak, patah kaki nan bataji, basorak urang di tangah balai, “Lapeh utang baketek-ketek, mujua bana wakatu kini, rajo kito nan mujua bana, inyo manang tunangan pun dapek.”
Bakato Magek Manandin, “Manolah niniak mamak ambo, sarato juaro tangah balai, tatkalo ayam ka diadu, ambo batanyo pado angku, nan jadi pantangan di galanggang, Tuanku sudah mangatokan, kok balai lai baadat, sabuang lai batantu, kok kampuang lai bapusako, kok kalah di ameh sajo. Kini bak nangko ambo dangakan, bak sarupo di kampuang balun sudah, nagari baru bahunyi, kok adat jan disabuik, baso-basi jauah sakali, bak urang lapeh dari kungkuangan, bagai baruak buliah ka langau…!”
Mandanga kato nan bak kian, urang banyak tidak babuni, urang rintang mancaliak ayam, bakato urang nagari,
“Tampak tidak ka lari lai
Dicaliak batang kapo;
Nampak tidak ka baiak lai
Alah kanai ulak-ulak paho.”
Manjawab Magek Manandin,
“Ribuik usah padareh bana
Palapah daunnyo hitam-hitam;
Hiduik usah pancameh bana
Ayam patah kok lai manikam.
Jikok salorong ayam ambo, nak ambo himbaukan tuahnyo, ayam kuriak Gadih Godanggo, mancotok di tapak tangan, pantangnyo mati di galanggang, pamenan Subang Bagelang, tikam lah baa dek ang kuriak.
Ayam kuriak Sutan Palangai
Makannyo ka banto juo;
Sajak ketek bapantang kanai
Lamo jo lambek binaso juo.”
berumbung naik, patahlah ayam kurik, patah kaki yang bertaji, bersorak orang di tengah balai, “Lunas utang yang kecil-kecil, sungguh sedang beruntung kini, raja kita yang lebih betuntung, sudah menang tunangan pun dapat.”
Berkata Magek Manandin, “Duhai ninik mamak denai, serta jawara tengah balai, sebelum ayam akan diadu, denai bertanya pada Angku, apa pantangan di gelanggang, Tuanku sudah menyampaikan, bahwa balai ada beradat, sabung ada beraturan, kampung ada berpusaka, jika kalah cukup sebatas emas saja. Sekarang begini denai dengar, seperti kampung belum sudah, serupa nagari belum dihuni, tentang adat usah disebut, basa basi jauh sekali, bagai orang lepas dari kurungan, bagai beruk di pantat lalat..!
Mendengar kata demikian, orang yang banyak jadi terdiam, orang rintang melihat ayam, berkata orang nagari,
“Tampaknya tidak akan lari lagi
Dilihat batang kelapa;
Nampaknya tidak akan baik lagi
Sudah kena sendi paha.”
Menjawab Magek Manandin,
“Ribut usah dibesar-besarkan
Pelepah daunnya hitam-hitam;
Hidup usah dicemaskan
Ayam yang patah mungkin menikam.”
Akan hal ayam denai, akan denai panggilkan tuahnya, ayam kurik Gadih Godanggo, mematuk di telapak tangan, pantangnya mati di gelanggang, pamenan Subang Bagelang, tikamlah si ayam biring.
Ayam kurik Sutan Palangai
Makanannya rumput jua;
Sejak kecil berpantang kena
Lambat laun binasa jua.”
patah ayam Sanggonani, alah bakukuak ayam kuriak, alah dapek cemo tangah balai, alah rusuah urang di nagari, siko lah kalah rajo kito.
Lamo sabanta antaronyo, alah mati Biriang Sanggonani, ayam Angku Rajo Duobaleh, bakato Magek Manandin, “Manolah Angku Rajo Duobaleh, kito cotokkan malah ayam, nak tantu kalah jo manangnyo.”
Manjawab Rajo Duobaleh, “Manolah Sutan baru datang, kok diambiak bana lah ayam, jikok Sutan nyato lah manang, ayam ambo nyato lah mati, tapi manang tidak manarimo, kalah pantang ambo mambayia. Tidak koh didanga baritonyo, kan ambo Rajo Duobaleh, mambunuah tidak mambangun, bautang pantang mambayia.
Sabagai lai den katokan, samaso hari dahulunyo, adolah urang nan barani, nana geneang di Sandiangbaka, urang tanamo sajak ketek, sampai marasai inyo di siko, kini lah mati dalam rimbo.
Tunangannyo den ambiak pulo, inyo banama Magek Manandin, mamak kayo bapak batuah, kini lah sansai jadi luluak. Kok sarupo Sutan nangko, ditambah bana agak saratuih, tidak ka dapek juo manang, utang nan tidak babayia, antah kok nyawo nan ka pai.”
Manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato angku, manang kok tidak manarimo, utang kok tidak babayaran, bialah ambo tidak pulang, jikok baiyo iyo bana, sareceh indak ditinggakan, tapi sungguahpun baitu, kok sapanjang pikiran ambo, elok lah angku babaliak pulang, kok lai lamak buah jarami, lai takana anak kamanakan.
Jikok salorong badan ambo, salangkah turun di janjang, tidak baniat ka nan buruak, kalau takadia dari Allah, musuah tidak dicaricari, basuo pantang dihindakan.
Pipik jantan tidak basarang, Angku nan tidak bapikiran, lah nyato anak dagang sansai, kok elok ratak tangan ambo, banduanglah ratok dalam kampuang, manjadi abu kampuang nangko.
ayam Sanggonani, ayam kurik lalu berkokok, dapatlah cemar di tengah balai, rusuhlah orang di nagari, kalahlah sudah raja kita.
Sesaat sesudah itu, sudah mati ayam biring Sanggonani, ayam angku Rajo Duobaleh, berkata Magek Manandin berkata, “Duhai Tuan Rajo Duobaleh, marilah kita patukkan ayam, agar tentu kalah menangnya.”
Menjawab Rajo Duobaleh, “Duhai Sutan yang baru datang, Kalaupun diambil ayam, ayam Tuan nyata telah menang, ayam Denai nyata telah mati, tapi menang tidak menerima, kalah pantang denai membayar. Tidakkah Tuan dengar beritanya, denailah Rajo Duobaleh, membunuh tidak menyesal, berutang tidak membayar.
Tambahan lagi, semasa hari dahulunya, ada orang yang berani, orang terkaya di Sandiangbaka, orang termasyur sejak kecil, sampai menderita dia di sini, kini lah mati dalam rimba.
Tuanangannya denai ambil pula, ia bernama Magek Manandin, mamak kaya bapak bertuah, kini lah hancur jadi tanah. Kalau seperti tuan ini, meski ditambah seratus orang, tetap tidak bisa menang, utang yang tidak akan dibayar, entah bila nyawa pembayarnya.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, menang yang tidak menerima, utang yang tidak sudi membayar, biarlah denai tidak pulang, jika benar-benar dihitung, sereceh tidak ditinggalkan, namun sungguh demikian, sepanjang pikiran denai, eloklah Tuan berbalik pulang, jika masih ingin makan nasi, jika masih ingat anak kemenakan.
Adapun badan diri denai, selangkah turun dari tangga, tidak menyimpan niat buruk, hanya menjalani takdir Allah, musuh tidak denai cari, bertemu pantang denai menghindar.
Pipit jantan tidak bersarang, Tuan yang tidak berpikiran, denai hanya orang melarat, jika baik takdir denai, dengarlah ratap dalam kampuang, kampung ini menjadi abu.
mati jan dikubuakan, baok bapikia malah dahulu!”
Sadang dek Rajo Duobaleh, tidak diagak dipikiakan, awak nan bagak kato awak, makan kaki sajamba makan, mahariak mahantam tanah, dubalangpun mancabuik padang. Sadang dek Rajo Duobaleh, alah dipancuang Magek Manandin, tuhan Allah ado manolong, tidak namuah basi mamakan.
Hiru-biru tangah balai, basigap urang di nagari, urang bahimpun gadang ketek, datang surang mambaok batu, apo nan dapek dipukuakan. Sadang dek Magek Manandin, hati nan tidak rusuah bana, baribu-ribu nak nyo datang, manyarah sajo pado Allah, tidak aja bapantang mati, alah takana di nan bana.
Bakato Magek Manandin, kapado Dubalang nan barampek, sarato urang tangah balai, “Manolah niniak mamak ambo, aluran adiak dangan kakak, ambo surang lawan baribu, tidak ibo di anak dagang, tapi sungguahpun baitu, bapikia malah tuan-tuan, jikok salorong badan ambo, kalau ka pulang pulang sajo, tidak malawan dunia urang, pado hiduik baiaklah mati.”
Urang banyak tidak manjawab, urang rintang mamukua juo, bakato pulo Magek Manandin, “Mano angku Rajo Duobaleh, tidak tatangguang parasaian, raso kan putuih nyawo di badan, ambo mambaleh hanyo lai!”
Alah mambaleh Magek Manandin, mato sirah sarupo saga, sarupo harimau ka manangkok, dibuang langkah nan kanan, diganjua suruik bak batanam, mamintak ampun pado Allah, tabunuah juo rajo nangko.
Pintak nan sadang ka balaku, ditikam Rajo Duobaleh, tibo di ulak-ulak dado, darah lah manyambua-nyambua, diambiak pinggang dilacuikkan, sadang dek Rajo Duobaleh, tidak tahu di diri lai, alah mati Rajo Duobaleh.
mati usah dikuburkan, Tuan pikirkanlah itu dahulu!”
Sementara Rajo Duobaleh, tidak diagak dipikir, diri merasa sangat hebat, makan kaki sejamba makan, meghardik menghantam tanah, dubalangpun mencabut pedang. Sedangkan Rajo Duobaleh, dipancungnya lah Magek Manandin, tuhan Allah yang melindungi, tidak terluka oleh besi.
Hiruk pikuk di tengah balai, bersigap orang di nagari, orang berkumpul besar kecil, datang seorang membawa batu, apa yang dapat dipukulkannya. Sementara Magek Manandin, hati yang tidak dirusuhkannya, meski beribu-ribu serangan datang, berserah diri saja pada Allah, tidak ajal berpantang mati, yakin pada kebenaran.
Berkata Magek Manandin, kepada keempat dubalang, serta orang tengah balai, “Duhai seluruh ninik mamak, yang pantas disebut adik atau kakak, denai seorang lawan beribu, tidakkah kasihan di orang datang, namun sungguhpun begitu, cobalah tuan-tuan pikirkan, kalau di badan diri denai, jika akan pulang, pulang saja, denai tidak melawan dunia orang, daripada hidup lebih baik mati.”
Orang yang banyak tidak menjawab, malah terus memukulinya berkata pula Magek Manandin, “Duhai Angku Rajo Duobaleh, tiada tertanggungkan perasaan, rasa akan putus nyawa di badan, kini denai akan membalas.”
Lalu membalaslah Magek Manandin, mata merah bagaikan saga, serupa harimau akan menerkam, dibuang langkah yang kanan, diganjur surut bagai bertanam, meminta ampun pada Allah, terbunuhlah raja itu.
Pinta yang sedang dikabulkan, ditikam Rajo Duobaleh, ditikam tepat di jantungnya, darahpun menyembur keluar, diraih pinggang dihempaskan, sedangkan Rajo Duobaleh, jatuh pingsan seketika, mati sudah Rajo Duobaleh.
Hati lah samak-samak ibo, nan lain pado badan diri, alah manjadi musuah kasadonyo, apo nan dapek dilacuikkan, batamu rumah di bakanyo, baratuih urang nan alah mati, latiah tulang tidak tatangguangkan.
Hari lah hampia badarok patang, lah banyak urang nan lah rusak, urang lah takuik samuonyo, tidak mungkin inyo talawan, elok kito mangaku kalah, manyambah manti jo dubalang,
“Ampunlah kami Tuan Sutan, kami nan tidak ka malawan, bialah rajo kami mati, kami nan jan dirusakkan, jikok parentah kami turuik, basumpah kapado Allah, tidak kami malawan lai.”
Baru mandanga kato nantun, manjawab Magek Manandin, “Kalau baitu kato Tuan, Insyaallah ambo tarimo, sabagai pulo Tuan kanduang, nak dmbo katokan bana, nak tarang dusun kampuang ambo, jikok dihinok dimanuangkan, ramuak rasonyo paratian.
Ambo nan bukan urang jauah, hampia di siko kampuang ambo, bapak ambo Datuak Bandaharo, mamak ambo Rajo Kuaso, namo ambo Magek Manandin.
Jikok disabuik dahulunyo, patuik bana barusuah hati, dahulu lai ambo datang, maso baralek Nilam Cahayo, manyabuang dangan Rajo Duobaleh, kain abih baju tagadai, sampai dicemo mamaliang jawi.”
Baru mandanga kato nantun, urang manyambah kasadonyo, manyambah manti jo dubalang, alah tahu urang sanagari, sadang dek Magek Manandin, diparentahkan di urang kampuang, mangubuakan Rajo Duobaleh.
Kaba baraliah hanyo lai, aliahnyo kapado Puti Nilam Cahayo, mandanga Rajo Duobaleh alah mati, manangih Puti Nilam Cahayo,
144 [ 156 ]Melihat Rajo Duobaleh mati, perkelahian semakin menjadi, lawan dan kawan tiada tentu, tidak dihalang-halangi, badan seorang lawan seribu, kalau dihitung tidak terhitung, remuk redam di dalam hati.
Sungguh malang nasib Manandin, berlain saja tiba di diri, menjadi musuh semuanya, apa yang dapat dihempaskan, bertemu rumah dibakarnya, ratusan orang sudah mati, letih tulang tak tertanggungkan.
Hari beranjak semakin petang, makin banyak korban berjatuhan, orang mulai takut semunya, tidak mungkin Sutan dilawan, elok kita mengaku kalah, lalu menyembah manti dan dubalang,
“Ampunkan kami Tuan Sutan, kami tidak akan melawan, biarlah raja kami mati, janganlah kami dilukai, perintah Tuan kami patuhi, kami bersumpah kepada Allah, tidak akan melawan lagi.”
Baru mendengar kata itu, menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, Insyaallah denai terima, sebenarnyalah Tuan kandung, biarlah denai jelaskan saja, agar tentu dusun dan kampung denai, kalau dipikir diperungkan, sungguh hancur perasaan.
Denai bukanlah orang jauh, kampung denai dekat dari sini, bapak denai Datuak Bandaharo, mamak denai bernama Rajo Kuaso, Denai bernama Magek Manandin.
Jika diingat dahulunya, hal yang membuat rusuh hati, denai pernah datang kemari, waktu pernikahan Nilam Cahayo, menyabung dengan Rajo Duobaleh, kain habis baju tergadai, Denai dituduh mencuri sapi.”
Baru mendengar kata-kata itu, orang menyembah semuanya, manti dan dubalang menyembah pula, sudah tahu orang nagari, lalu oleh Magek Manandin, diperintahkan orang kampung, menguburkan Rajo Duobaleh.
Kabar beralih selanjutnya, alihnya kepada Puti Nilan Cahayo, mendengar Rajo Duobaleh mati, menangis Puti Nilam Cahayo,
145
Bakato Magek Manandin, kapado Puti Nilam Cahayo, “Adiak kanduang Nilam Cahayo, nak ambo katokan bana, bukan salah di ambo, salah dek Angku Rajo Duobaleh, sakali alah sampai ampek, ambo lawan juo dangan saba, nan sakali iko kini, tidak tatangguangkan lai, bacarai nyawo dangan badan.”
- Ka pasa ka tangah pakan
- Mambali kain tanah liyek;
- Di siko kaba dihantikan
- Nan lain kan kito liek.
146
Berkata Magek Manandin, kepada Puti Nilam Cahayo, “Adik kandung Puti Nilam Cahayo, denai katakan yang sebenarnya, bukan salah di diri denai, salah di Tuan Rajo Duobaleh, sekali sampai empat kali, denai tahankan dengan sabar hati, namun yang sekali ini, sudah tidak tertanggungkan lagi, berpisah nyawa dengan badan.
Ke pasar ke tengah pekan
Membeli kain tanah liat;
Di sini kabar dihentikan
Yang lain akan kita lihat.
Pituah Bapak jo Mandeh Kanduang
Alah sahari antaronyo, alah pacah kaba hilia mudiak, alah sampai ka Sandiangbaka, baraso Magek Manandin alah pulang, Rajo Duobaleh alah mati.
Takajuik Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, sarato dangan Puti Bungsu, badan nan sakik alah sehat, mandanga anak alah pulang.
Bajalan Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, sarato dangan Puti Bungsu, si Kambang banyak mairiangkan, manjapuik Magek Manandin.
Alah sarantang pajalanan, dek lamo lambek bajalan, alah tibo inyo di sanan, di kampuang Rajo Duobaleh, batamu Magek Manandin, di laman Puti Nilam Cahayo.
Manyambah Magek Manandin, kapado ayah kanduangnyo, sarato Mandeh Linduang bulan, “Bari maaf ambo dek bapak, sarato mandeh kanduang ambo.”
Manangih Puti Linduang Bulan, ayia mato badarai-darai, anak kanduang Magek Manandin, tidak denai sangko hiduik lai.”
Babuah-buah buni ratok, manangih pulo Puti Bungsu, bakato Datuak Bandaharo, “Anak kanduang Magek Manandin, tidak guno [ 160 ]PETUAH BAPAK DAN MANDEH KANDUANG
Satu hari telah berlalu, pecahlah kabar hilir mudik, sampai kabar ke Sandiangbaka, bahwa Magek Manandin sudah pulang, dan Rajo Duo Baleh sudah mati.
Terkejut Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, serta Puti Nan Bungsu, badan yang sakit langsung sehat, mendengar anak sudah pulang.
Berjalan Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, serta dengan Puti Bungsu, si Kambang mengiringi, menjemput Magek Manandin.
Telah serentang perjalanan, karna lama lambat di jalan, sampailah mereka di sana, di kampung Rajo Duobaleh, bertemu dengan Magek Manandin, di halaman Puti Nilam Cahayo.
Menyembah Magek Manandin, kepada ayah kandungnya, serta mandeh Linduang Bulan, “Mohon maafkan denai di bapak, beserta mandeh kandung denai.”
Menangis Puti Linduang Bulan, air mata jatuh berderai, “Anak denai Magek Manandin, tidak disangka masih hidup.”
Berbuah-buah bunyi ratap, menangis pula Puti Bungsu, berkata Datuak Bandaharo, “Anak Kandung Magek Manandin, tiada
149 [ 161 ]lamo di siko, marilah kito babaliak pulang.”
Alah babaliak inyo pulang, banyaklah urang mairiangkan, sarato basa jo pangulu, dek lamo lambek bajalan, hampia ka tibo hanyo lai, alah tibo di kampuang nantun, alah naiak urang ka ateh rumah.
Namun hari sahari nantun, alah sudah manjamu urang, malapehkan niat jo kaua, nan hilang alah babaliak.
Ramilah balai Tujuah Koto Rami nan sadang tangah hari; Barilah maaf badan ambo Kaba baraliah hanyo lai.
Sungguah baraliah sanan juo, kapado Subang Bagelang, diambiak kain dangan baju, alah sudah inyo mamakai, si Kambang banyak mairiangkan, dimintak izin kapado mandeh kanduang, sarato bapak kanduang Rajo Kuaso,
“Mandeh tinggalah malah di rumah, kami ka pai bajalan-jalan, ka ranah ka Sandiangbaka, ambo alah mandapek kaba, baraso Tuan ambo alah pulang, lai batolong pado Allah, untuang baiak tibo di ambo, tidak ka jadi makan hati, kok tidak tuhan kan manolong, hampia badan balaki urang tuo.”
Baru mandanga kato nantun, takajuik mandeh kanduangnyo, manangih pulo Rajo Kuaso, mandanga Magek alah pulang, bakato Rajo Kuaso, “Anak kanduang Subang Bagelang, kok iyo pulang inyo si Buyuang, ka sansai malah badan nangko, tampan bacarai lai kito. Anak kanduang tingga malah di rumah, jikok salorong badan denai, alah dihinok dimanuangkan, pado si buyuang mambunuah denai, eloklah lari denai ka rimbo, nak nyo kanyang langau hijau.”
Baru mandanga di kato nantun, manangih Subang Bagelang, “Daulat bapak kanduang ambo, kini baitu malah dek bapak, hati risau usah dipaturuikkan, bao bapikia malah dahulu, angin kareh kok lai lunak, kok iyo bana bapak salah, antah lai buliah dimaafkan, sabab hati palingan Allah.
150 [ 162 ]lama di sini, marilah kita berbalik pulang.”
Mereka pun berjalan pulang, banyaklah orang mengiringi, beserta basa dan penghulu, setelah lama berjalan, hampir kan sampai lah mereka, sampai di kampung iti, langsung naik ke atas rumah.
- Ramilah urang di balai
- Rami ketika tengah hari;
- Berilah maaf badan denai
- Kabar akan berganti lagi.
Sungguh beralih di situ jua, alih kepada Subang Bagelang, diambil kain dengan baju, selesailah dia bersiap, si Kambang banyak mengiringkan, diminta izin kepada mandeh kandung, serta bapak kandung Rajo Kuaso.
“Mandeh tinggallah di rumah, kami hendak berjalan-jalan, ke ranah Sandiangbaka, denai mendengar kabar baik, bahwa Tuan denai sudah pulang, berkat pertolongan Allah, nasib baik badan denai, tidak jadi makan hati, jika bukan karena takdir Allah, nyaris menikah dengan orang tua.”
Baru mendengar kabar itu, terkejut mandeh kandungnya, menangis pula Rajo Kuaso, mendengar Manandin sudah pulang, berkata Rajo Kuaso, “Anak kandung Subang Bagelang, jika si buyung memang sudah pulang, akan meranalah badan Bapak, mungkin kita akan berpisah. Anak kandung tinggallah di rumah, mengenai badan diri Bapak, setelah dipikir direnungkan, daripada dibunuh si Buyung, lebih baik Bapak lari ke dalam rimba, agar kenyang lalat hijau.”
Mendengar kata-kata itu, menangis Subang Bagelang, Daulat bapak kandung denai, sekarang begini saja, hati risau usah diturutkan, mari berikir kita dahulu, angin keras mungkin kan lunak, jikapun memang bapak bersalah, mungkin ada kemaafan, sebab hati milik Allah.
151
Lamo sabanta antaronyo, alah bajalan Subang Bagelang, sarato Puti Andam Dewi, basamo angku Rajo Kuaso, si Kambang banyak mairiangkan.
Dek lamo lambek bajalan, alah tibo di Sandiangbaka, alah naiak Rajo Kuaso, sarato Puti Andam Dewi, batigo jo Subang Bagelang, alah duduak di tangah rumah.
Lamo sabanta inyo duduak, talatak siriah dek si Kambang, alah datang Datuak Bandaharo, sarato Puti Linduang Bulan, tibo pulo Magek Manandin, jauah-jauah maangkek sambah, alah hampia manyusun jari, dijawek salam pado mamak, bakato Magek Manandin, “Manolah mamak ambo Rajo Kuaso, bari maaf ambo di mamak, salah ambo lah banyak bana, sahinggo iko ka ateh, ambo ubah parangai ambo, indak ambo bajudi lai.”
Baru mandanga kato nantun, manangih Rajo Kuaso, takana gadang kasalahan, itu ruponyo kamanakan, takuik nan bukan alangalang, lah nyato bana awak salah, inyo juo nan mintak ampun, sadang dek angku Rajo Kuaso, sabuah tidak manjawab, batambah takuik dalam hati.
Lamo sabanta antaronyo, bakato Rajo Kuaso, “Adiak kanduang Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, salah ambo alah banyak bana, kok buliah bali dangan pintak, kini nan buruak kito buang, nan elok sajo kito pakai, siriah nak suruik ka gagangnyo.
Sabab baitu kato ambo, si buyuang Magek Manandin, dangan Puti Subang Bagelang, alah batunangan sajak ketek, banyak sansaro nan dirasokannyo, dek untuang batamu juo, tidak dapek dilarai urang, sahinggo itu pintak ambo, si bungsu alah gadang pulo, basamo kito mausahokan.”
152
Selang sesaat antaranya, berjalanlah Subang Bagelang, serta Puti Andam Dewi, bersama Rajo Kuaso, si Kambang banyak mengiringi.
Setelah lambat laun berjalan, sampailah mereka di Sandiangbaka, naiklah Rajo Kuaso, serta Puti Andam Dewi, bertiga dengan Subang Bagelang, lalu duduk di tengah rumah.
Belum lama mereka duduk, terletak sirih oleh si Kambang, datanglah Datuak Bandaharo, serta Puti Linduang Bulan, datang pula Magek Manandin, jauh-jauh mengangkat sembah, setelah dekat menyusun jari, dijawab salam kepada mamak, berkata Magek Manandin “Duhai mamak denai Rajo Kuaso, berilah denai kemaafan, kesalahan denai sangat banyak, mulai dari saat ini, denai ubah perangai lama, denai tidak akan berjudi lagi.”
Setelah mendengar kata-kata itu, menangis Rajo Kuaso, teringat besar kesalahan diri, begitu rupanya kemenakan, takut yang bukan kepalang, nyata lah diri yang bersalah, kemenakan yang meminta ampun, sedang oleh Angku Rajo Kuaso, tidak satupun yang dijawab, bertambah takut dalam hati.
Selang sesaat kemudian, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, kesalahan denai sangatlah banyak, kalau boleh denai meminta, mari dibuang segala yang buruk, yang baik saja kita pakai, kembalilah sirih ke gagangnya.
Sebab begitu kata denai, Karena si Bu1yung Magek Manandin, dengan Puti Subang Bagelang, sudah bertunangan sejak lahir, banyak ujian yang dilalui, namun takdir menyatukan jua, tidak bisa dipisahkan orang, hanya itu pinta denai, si Bungsu sudah cukup umur pula, bersama kita mengusahakan.
153
Kok salorong Magek Manandin, sarato jo si upiak Puti Bungsu, inyo iyo alah gadang, tapi gadang di badan sajo baru, balun nyo tahu di adat jo pusako, balun nyo tahu di ereng jo gendeng.”
Manjawab Rajo Kuaso, “Kalau baitu kato adiak, iyo pulo itu kironyo, mananti malah ambo sabulan lamonyo.”
Alah sudah nan bak nantun, alah sanang hati Rajo Kuaso, duo jo Puti Andam Dewi, lah mamintak izin nak babaliak, pulang babaliak ka rumah.
Sadang dek Datuak Bandaharo, duo jo Puti Linduang Bulan, dihimbau anak kaduonyo, handak ditunjuak diajari.
“Manolah anak kanduang ambo, nan gadang Magek Manandin, nan ketek Puti Bungsu, anak kamari malah duduak, ado sabuah denai katokan, dangakan di anak sungguah-sungguah.
Salorong tantang kalian kaduonyo, kok gadang iyo lah gadang, tapi balun tahu di adat jo pusako, kok nyampang si Buyuang Magek Manandin, jadi kawin jo Puti Subang Bagelang, elok-elok anak di parangai, bapikia anak dahulu, apo-apo karajo nan ka dibuek, jan manyasa kamudian, sasa kudian tidak baguno.
Kok nyampang anak alah kawin, jadi rang sumando di rumah urang, usah disangko murah sajo, sangaik sarik tu anak kanduang, kok tumbuah malang jo mujua, baok bamuah jo mamak rumah, sarato mintuo kaduonyo, usah dilangkahi tu nak kanduang, sabab di dunia nangko, elok buruak tidak bacarai.
154
Bulan,”Ampunkan kami tuan kandung, kalau begitu kata Tuan, kami yang tiada menyalahi, perintah Tuan kami turuti, tetapi sungguhpun begitu, kami meminta kepada Tuan, si buyung Magek Manandin, dengan si upik Subang Bagelang, minta janji kami sebulan, kalau sampai janji sebulan, kita kawinkan lah mereka, sebab begitu pinta kami, perkakas masih banyak yang kurang, belum ada denai bersedia.
Akan hal Magek Manandin, serta si Upik Puti Bungsu, mereka memang sudah besar, tapi baru besar di badan saja, belum lah tahu adat dan pusaka, belumlah tahu di ereng dan gendeng.”
Menjawab Rajo Kuaso, “Kalau begitu kata Adik, benar pulah kiranya, menanti malah kami sebulan lamanya.”
Setelah selesai rundingan itu, senanglah hati Rajo Kuaso, dengan Puti Andam Dewi, lalu meminta izin kembali, kembali pulang ke rumah.
Sementara Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, dipanggil anak keduanya, hendak ditunjuk diajari.
“Duhai anak kandung kami, yang sulung Magek Manandin, yang bungsu Puti Nan Bungsu, anak kemari malah duduk, ada hal yang ingin denai katakan, anak dengarkan sungguh-sungguh.
Akan hal diri kalian berdua, kalian memang sudah besar, tetapi belum tahu di adat dan pusaka, senyampang si Buyung Magek Manandin, jadi kawin dengan Puti Subang Bagelang, elok-elok anak berperangai, berpikir masak anak dahulu, apa-apa yang akan dilakukan, jangan menyesal kemudian, sesal kemudian tak berguna.
Jika anak sudah menikah, menjadi semenda di rumah orang, jangan dianggap enteng saja, karena itu tidaklah mudah, nak, jika datang malang dan mujur, bawa bermufakat dengan mamak rumah, beserta mertua keduanya, mereka jangan dilangkahi, sebab di atas dunia ini, baik dan buruk tidak berjarak.
155 [ 167 ]Kok nyampang tumbuah bantah jo kalahi, dangan anak sandari, jan anak bahati gadang sajo, samantang anak geneang dalam kampuang, samantang anak rang jamputan bana, usah anak manggadang sajo, buruak akhia kelaknyo tu nak kanduang.”
Taadok anak kanduang Puti Bungsu, bakato pulo mandehnyo, “Anak kanduang Puti Bungsu, dangakan dek anak jaleh-jaleh, salorong anak ka basuami, banyak pantangan pado parampuan, kok nyampang suami tidak pulang, jan anak bamuko masam, jan anak tabik rabo sajo, namun nasi jo minuman hidangkan juo.
Kok anak ka batanyo juo, nantikan suami sudah makan, liek pulo kutiko nan elok, barulah anak manyudi jo siasek. Kok tumbuah bantah jo kalahi, jan mamburansang sajo, lalu sampai anak malawan, sampai mamintak kato carai, diasuang setan jo ibilih, kok tidak anak lakeh tobat, kok mati di dalam itu, mauruik kato nabi kito, tidak dapek baun sarugo, ka narako juo nan kakal.
Sabagai pulo kato mandeh, kalau laki sadang bansaik, banyakkan ibo ka badannyo, usah harok di kayo urang, kasiah kok tasabab dek ameh perak, akhia kelaknyo kamudian, pitih habih badan bacarai, tidak kakal guno dikarang, tando badan ka banyak laki, satu anak satu bapaknyo. Apo sabab mako baitu, kok kareh sangaik dayo setan, ulah nak lakeh kayo juo, disangko dapek dangan kuaik, utang dek kito bausaho.
Sabagai pulo oi nak kanduang, nan jadi tuah parampuan, cilako di laki-laki, maninggikan diri salalu kapado suami, kapado Allah sangaik takuik, sababnyo mangko dek baitu, kalau parampuan marandahkan diri mangatokan awak urang miskin, atau balaki tidak ado, sawah ladang jauah sakali, di sanan lalu akal nan jahek, sabab dipatuik haragonyo, akhia kelaknyo kamudian, sampai mambuek nan tak patuik, nan dilarang dek adaik jo agamo. [ 168 ]Andai ada bantah dan kelahi, dengan diri anak sendiri, anak jangan berhati besar saja, meskipun anak orang berharta di kampung, meskipun anak orang jemputan, usahlah anak menyombongkan diri, yang demikian akhirnya buruk.
Kepada anak Puti Nan Bungsu, berkata pula mandehnya, “Anak kandung Puti Bungsu, dengarkan di anak baik-baik, pabila anak bersuami, banyak pantangan bagi perempuan, senyampang suami tidak pulang, anak jangan bermuka masam, anak jangan cemberut saja, nasi dan minum tetap hidangkan.
Kalau ada ingin bertanya jua, tunggu suami selesai makan, cari pula waktu yang tepat, barulah anak bertanya baik-baik. Jika ada bantah dan kelahi, anak jangan memburansang saja, jangan sampai anak melawan, apalagi sampai meminta kata cerai, dihasut setan dan iblis, jika anak tidak segera bertobat, lalu mati dalam keadaan itu, menurut kata nabi kita, tidak dapat mencium wangi surga, akan kekal jua di neraka.
Mandeh ingatkan juga, kalau suami sedang miskin, banyakkan kasihan kepadanya, jangan harap pada kaya orang saja, pabila kasih karena emas dan perak, akhir kelaknya kemudian, uang habis badan bercerai, tiada kekal bunga dikarang, pertanda badan akan punya banyak suami, satu anak satu bapaknya.
Apa sebab demikian, kalau kuat godaan syetan, karena ingin cepat kaya, disangka didapat dengan kuat, kita hanya harus berusaha.
Satu lagi duhai nak kandung, yang menjadi tuah perempuan, celaka bagi laki-laki, yakni selalu meninggikan diri kepada suami, kepada Allah sangat takut, sebab maka demikian, kalau perempuan merendahkan diri, mengatakan diri miskin, atau tidak bersuami, sawah ladang jauh sekali, di sanalah muncul pikiran jahat, sebab dipatut harganya, akhirnya di kemudian nanti, sampai berbuat yang tak patut, yang dilarang adat dan agama. [ 169 ]Kalau banamo parampuan, kalau buliah bali jo pintak, bia di tangah alek jamu, di tangah pasa nan rami, walau di manolah tampeknyo, elok kurang bakato-kato, mancaliak suko kan tatap.
Sabab baitu kato mandeh, nan tuah pulo di padusi, tatapkan hati siang malam, usah bak pimpiang di lereng tabiang, kian angkuah ka mari geleang, kalau mandanga urang kampuang, bak raso angin lah bakisa, alah ado kato-kato urang, sia anu dangan si anu, itulah cacek buruak bana, uranglah takuik nan ka pulang.
Akhia kelaknyo kamudian, roman rancak marando lamo, jikalau tidak nan baitu, tidak tanamo dek urang banyak, tidak takaba tabarito, bialah rupo agak kurang, alamat tidak ka marando, dalam kampuang dipuji juo.
Sabagai pulo anak kanduang, jikok dapek laki nan tatap, lai namuah basusah payah, kato nan usah dipagadang, usahlah anak banyak kandak, usahlah bana anak mamintak-mintak.
Sabab baitu kato mandeh, laki-laki bukannyo bodoh, niat hati mamaluak gunuang, apo dayo tangan tak sampai.
Sabuah lai pintak mandeh, jauahi bana tu nak kanduang, bagadang muluik ka laki, runciang muluik tidak batantu, disangko laki bodoh bana, sabab tak pandai mancari lain, hampia salalu kanai kato, laki banyak baibo hati, akhia kelaknyo kamudian, kasalahan lah bahimpun-himpun, sakali lah cukuik tigo, kok tibo cadiak ka badannyo, sayang habih kasiah kok bacarai, basuo undang urang tuo,
Singkarak jo Sandiangbaka
Katigo jo Tanjuang Bingkuang;
Sudah sarak mako manyasa
Laki cadiak disangko binguang.
Sarak kok bakapanjangan, dijapuik kok nyo tak suko, sabab lah banyak kato tadorong, di sanan lah ramuak paratian, ditampa [ 170 ]Yang namanya perempuan, kalau boleh beli dan pinta, meski di tengah helat jamuan, meski di tengah pasar yang ramai, atau dimanapun berada, elok kurangi banyak bicara, melihat dengan tatapan ramah.
Ibu katakan demikian, karena tuah pada perempuan, pada ketetapan hati siang malam, jangan bagai pimping di lereng tebing, angkuh menggeleng kian kemari, kalau mendengar orang kampung, serasa angin sudah berkisar, telah terdengar kata-kata orang, si anu dengan si anu, itulah cacat yang amat buruk, orang pun takut akan pulang.
Sehingga di akhirnya nanti, roman cantik menggadis lama, jikalau sudah begitu, tidak disebut orang banyak, tidak dikabar beritakan, biarlah rupa agak kurang, alamat tidak akan menggadis, dalam kampung di puji pula.
Sebagai pula anak kandung, jika dapat suami yang tetap, yang mau bersusah payah, anak yang usah banyak bicara, usah anak banyak kehendak, usahlah banyak meminta-minta.
Sebab begitu kata mandeh, laki-laki bukannya bodoh, niat hati memeluk gunung, apa daya tangan sampai.
Satu hal lagi pinta mandeh, jauhi benar itu nak kandung, berbesar mulut pada suami, runcing mulut tak bertentu, disangka suami amat bodoh, sebab tak pandai mencari yang lain, hampir selalu dikatai, suami banyak beriba hati, akhir kelaknya kemudian, kesalahan sudah menumpuk-numpuk, sekali sampai tiga kali, kalau tiba cerdik di badannya, sayang habis kasih bercerai, seperti kata orang tua,
Singkarak jo Sandiangbaka
Ketiga dengan Tanjung Bingkung;
Sudah pisah baru menyesal
Suami cerdik disangka bingung.
Jika berpisah berkepanjangan, dijemput mungkin dia tak suka, sebab telah banyak kata terdorong, di sana sesal baru tumbuh, diusap [ 171 ]dado dikaluahkan, mahambua jiko tak sampai, pikiri bana tu nak kanduang, pitaruah jan diubahi, pabanyak adat ka suami, takuik lah anak lahia batin, usah pangana kiri kanan, walau kamano ka dituruik, paralu izinnyo anak mintak.
Kalau laki pulang bajalan, walau inyo ado di rumah, paliekkan inyo muko nan janiah, manuruik kato nabi kito, sarugo parampuan di bawah tapak laki-laki, takuiklah anak lahia batin, agamo jan ditinggakan, sahinggo itu malah dahulu.”
Bakato Datuak Bandaharo, kapado Puti Linduang Bulan, “Adiak kanduang Puti Linduang Bulan, sabuah ambo katokan, kok sampai kito baminantu, nan jantan kok nyo babini, tasabuik adat baminantu, kalau buliah bali jo pintak, bia tasabuik uang jo pitih, tidak buliah kito campuri.
Jikok salah tampak minantu, bari sajo malah nasihat, bakato dangan manih muluik, usah sarupo basambayanan, dahulu maso manarimo, bukan basuluah batang, buruak baiak kito lah tahu, kayo jo bansaik lah kito pandang, kok suko jo anak kito, bia hino dangan mulia, usah manjadi kato-kato, jan campua kito di sanan, jikok campua kito di sanan, tasabuik buruak dangan baiak, buruak tadanga tabarito.
Padang Sarai jalan ka Bonjo
Jalan pidati patang pagi;
Bacarai sabab dek mintuo
Itu manyusah dalam hati.
Jauahi bana tu Adiak kanduang, jan manyasa kamudian, kok banyak urang kampuang tahu, basukek jilatang api, kito manjadi mintuo urang, jan jadi cacek saumua hiduik.”
Sadang dek Datuak Bandaharo, dihimbau pulo anak kanduag, nan banamo Magek Manandin, “Oi buyuang Magek Manandin, anak ka mari malah duduak.” [ 172 ]dada dikeluhkan, membuhul jika tidak sampai, pikirkan itu anak kandung, petaruh jangan diubahi, perbanyak adat pada suami, takutlah anak lahir batin, usah pikiran kiri kanan, walau kemana akan pergi, perlu izinnya anak minta.
Apabila suami baru pulang, atau dia ada di rumah, perlihatkan wajah yang jernih, menurut kata nabi kita, surga perempuan di bawah telapak laki-laki, takutlah anak lahir dan batin, agama jangan ditinggalkan, sampai di sini malah dahulu.”
Berkata Datuak Bandaharo, kepada Puti Linduang Bulan, “Adik kandung Puti Linduang Bulan, sebuah yang denai katakan, pabila kita bermenantu, anak laki-laki jika beristri, tersebut adat bermenantu, kalau boleh harap dan minta, bila disebut tentang uang, kita tak boleh mencampuri.
Jika salah tampak menantu, beri saja malah nasihat, berkata dengan mulut manis, usah serupa kesetanan, dahulu masa menerima, bukan hanya bersuluh batang, buruk baiknya kita sudah tahu, kaya miskinnya tak kita pandang, kalau suka anak kita, biar hina atau mulia, usah menjadi kata-kata, jangan campur kita di sana, jika kita ikut campur, disebut buruk dengan baik, buruk terdengar terberita.
Padang Sarai jalan ke Bonjo
Jalan pedati petang pagi;
Bercerai sebab karena mertua
Itu menyusah dalam hati.
Adik jauhilah sifat demikian, jangan menyesal kemudian, kalau banyak orang kampung tahu, bersukat jilatang api, kita menjadi mertua orang, jangan jadi celaan seumur hidup.”
Sedang di Datuak Bandaharo, dipanggil pula anak kandung, yang bernama Magek Manandin, “Duhai buyung Magek Manandin, kemarilah anak duduk”. [ 173 ]Alah datang Magek Manandin, duduak di hampia bapak kanduang, bakato Datuak Bandaharo, “Anak kanduang Magek Manandin, pacik pituah elok-elok, buhua di dalam kabek pinggang, jan lupo saumua hiduik, tandonyo kito urang mudo, mudo nan ampek parkaro.
Partamo mudo pusako, kaduo banamo mudo adat, katigo mudo limbago, kaampek mudo manarawang, nak Bapak tarangkan ciek-ciek.
Nan banamo ‘mudo pusako’, manyahuak di hilia-hilia, bakato di bawah-bawah, aluran mamak di pamamak, aluran bapak di pabapak juo, galak nan usah dipabanyak, satia takuik salalu, tidak ado maninggikan diri, kok kayo tidak dikayokan, hino mulia baitu pulo, bangso nan tidak dipanggakkan, hino diri takana juo, baitu tando urang baadat, itu banamo mudo pusako.
Dinamokan ‘mudo adat’, saroman hampia sarupo, bakato di bawah-bawah, muluik manih kucindan murah, kok batamu korong jo kampuang, aluran adiak dangan kakak, walau urang sanagari, sarato dunsanak jo saudaro, hino dangan mulia, paralu inyo disapo, dari mano handak ka mano, tuo tatap dimuliakan, lorong nan mudo dikasiahi.
Apo karajo dalam kampuang, tidak ado dipatahinyo, walaupun saluang dangan pupuik, sarato rabab jo kucapi, suko tak suko anak pado itu, di lahia sajo manihkan rupo, di batin buliah ditukari, sado nan buruak nan baiak ka tangahkan juo.
Nan banamo ‘mudo limbago’, kok sasek namuah diganjua suruik ka nan bana, namuah ditunjuak diajari, tidak manupang pado kabaikan.
Nan banamo ‘mudo manarawang’, bapaham tidak nan tapek, ka sanan elok ka mari baiak, bak pimpiang di tapi tabiang, ka mano angin nan kareh, ka sanan pulo condongnyo, tidak mangana akhia kelaknyo, takana malompek sajo. [ 174 ]Lalu datanglah Magek Manandin, duduk di dekat bapak kandung, berkata Datuak Bandaharo, “Anak Kandung Magek Manandin, genggam petuah baik-baik, buhul di dalam ikat pinggang, seumur hidup jangan dilupakan , tandanya kita orang muda, muda yang ada empat perkara.
Pertama muda pusaka, kedua muda adat, ketiga muda limbaga, dan keempat muda menerawang, akan Bapak jelaskan satu persatu.
Yang disebut muda pusaka, adalah mandi di hilir-hilir, berkata i bawah-bawah, aluran mamak dipanggil mamak, aluran bapak dipanggil bapak, jangan terlalu beriang hati, jangan suka meninggikan diri, jangan sombong karena harta, hina dan mulia demikian juga, bangsa janganlah dibanggakan, ingatlah akan kehinaan diri, begitulah tanda orang beradat, itulah yang disebut muda pusaka.
Yang disebut muda adat, serupa hampir seroman, berkata di bawah-bawah, mulut manis kucindan murah, kalau bertemu korong dan kampung, aluran adik ataupun kakak, walaupun orang senagari, beserta sanak dan saudara, hina ataupun mulia, perlulah meraka disapa, dari mana hendak ke mana, tua tetap dimuliakan, sementara yang muda dikasihi.
Pekerjaan apapun dalam kampung, tidaklah dipatahinya, walaupun salung dan puput, serta rebab dan kecapi, suka tidak suka anak pada itu, di lahir maniskan rupa, di batin boleh diganti, dari segala hal yang buruk, yang baiknya kemukan kan jua.
Yang disebut muda limbaga, kalau sesat bisa diganjur surut ke yang benar, mau ditunjuk diajari, tidak membantah pada kebaikan.
Yang disebut muda menerawang, adalah tidak berpendirian, ke sana elok ke mari baik, bagai pimping di lereng tebing, ke mana angin kencang, ke sana pula condongnya, tidak mengingat akhir kelaknya, baru teringat langsung melompat. [ 175 ]Kalau mancaliak bungo kambang, mato nan usah dipalia, bia hati sangaik kasiah, di muko tidak kalihatan.
Usah anak mancinto ka nan buruak, badan kok jadi cacek dek urang, apo gunonyo rancak awak, kalau nan jadi upek pado urang kampuang.
Jikok nan merah iyolah sago
Jikok nan kuriak iyolah kundi;
Jikok nan indah iyolah baso
Jikok nan baiak iyolah budi.
Jikok pandai anak batenggang, pado nan elok atau nan buruak, tak ubahnyo bak pangajaran nan tuo-tuo,
Satali pambali kumayan
Sakupang pambali katayo;
Sakali lancuang ka ujian
Saumua hiduik urang tak picayo.
Taadok anak kanduang Puti Bungsu, dangakan bana elok-elok, jan maupek kamudian. Adopun parampuan tabagi tigo, partamo parampuan sabana parampuan, kaduo parampuan si marawan, katigo parampuan rimbang taliawan.
Adopun ‘parampuan sabana parampuan’, cukuik tapakai sagalo taratik, tahu di sopan dangan santun, bia di dalam atau di lua rumah tanggo.
Adopun ‘parampuan si marawan’, pahamnyo sarupo gatah cayia, iko elok itu katuju, rintang barambang mato sajo, kian kasiah kamari kasiah, mudah sajo mambari hati, sarato manyarahkan diri.
Dikatokan juo ‘parampuan rimbang taliawan’, itu parampuan tinggi hati, salalu mamuji suaminyo, mamanggakkan lakinyo sajo, nan bahati gadang sajo, nan lain urang tidak nan sabaruntuang inyo.
Timbang dek anak elok-elok, usah tadorong lalu sajo, manyasa kudian tak baguno.” [ 176 ]Kalau melihat bunga kembang, mata yang usah diperliar, walau hati sangat kasih, di muka tidak kelihatan.
Usah anak mencinta akan yang buruk, jadi cacat dilihat orang, tiada guna gagah diri, kalau jadi umpat di orang kampung.
yang merah adalah saga
yang kurik adalah kundi;
yang indah adalah bahasa
yang baik adalah budi.
Jika anak pandai bertenggang, kepada yang baik dan yang buruk, tak ubahnya bagai petuah orang tua-tua,
Setali pembeli kemeyan
Sekupang pembeli ketaya;
Sekali lancung ke ujian
Seumur hidup orang tidak percaya.
Terhadap anak Puti Nan Bungsu, dengarkan lah baik-baik, jangan menyesal kemudian. Adapun perempuan terbagi tiga, pertama perempuan sebenar perempuan, kedua perempuan simarawan, dan ketiga perempuan rimbang taliawan.
Adapun perempuan sebenar perempuan, adalah perempuan yang beretika, memiliki sopan dan santun, baik di dalam maupun di luar rumah tangga.
Dikatakan tentang perempuan simarawan, sifatnya seperti getah encer, yang ini baik yang itu suka, menghabiskan waktu dalam keraguan, ke sini kasih ke sana sayang, mudah sekali jatuh hati, serta menyerahkan diri.
Sedangkan perempuan rimbang taliawan, adalah perempuan yang tinggi hati, selalu memuji suaminya, membanggakan suaminya saja, selalu berhati sombong, tak ada orang seberuntung dia.
Anak pikirkanlah baik-baik, jangan hanya didengar saja, menyesal kemudian tidaklah berguna.” [ 177 ]Sanan manjawab Magek Manandin, “Oi bapak juo janyo ambo, sarato mandeh kanduang ambo, ampun juo nan ambo mintak, salorong pituah mandeh jo bapak, ambo pacik malah arek-arek, sabarih tidak nan lupo, satitiak tidak talampaui, kok siang ambo patungkek, kok malam dijadikan banta, alah ka sanang hati bapak, sarato mandeh kanduang ambo.”
Alah patuik jarami lapuak
Alah lamo batang tarandam;
Alah patuik mato takantuak
Harilah laruik tangah malam.
Balam di ateh kayu gadang
Hinggok jo anak tiuang lampai;
Kalam patah dawaik tatunggang
Tidak dapek manyurek lai.
tidak akan terlampaui, kalau siang denai pertungkat, kalau malam dijadikan bantal, senangkanlah hati bapak, serta mandeh kandung Denai.”
Sudah patut jerami lapuk
Sudah lama batang terendam;
Sudah patut mata terkantuk
Hari sudah larut tengah malam.
Balam di atas dahan patah
Hinggap dengan anak tiung lampai;
kalam patah tinta tertumpah
tidak bisa menulis lagi.
MAGEK MANANDIN
Magek Manandin adalah seorang pemuda yang suka berjudi dan menyabung ayam. Suatu kali, ia kalah dalam berjudi, sehingga terpaksa menggadaikan semua pakaiannya dan tidur di kandang sapi milik orang lain. Karena tidur di dalam kandang sapi itu, ia dituduh mencuri sapi.
Rajo Kuaso, mamak dari Magek Manandin, merasa malu atas kejadian itu. Ia membuang Magek Manandin ke lurah yang sangat dalam. Hukuman itu membuat Magek Manandin jera dan berniat sungguh-sungguh untuk tidak akan berjudi lagi.
Pada akhirnya, ia berhasil keluar dari jurang yang dalam itu dengan bantuan seekor burung nuri. Magek Manandin pun kembali ke kampungnya.
Pada saat bersamaan, tunangannya, Puti Subang Bagelang, dipaksa kawin dengan Rajo Duobaleh. Magek Manandin berusaha mendapatkan kembali tunangannya tersebut. Puti Subang Bagelang yang mengetahui Magek Manandin masih hidup, merasa sangat senang. Ia kemudian membekali Magek Manandin dengan emas dan perak serta seekor ayam aduan untuk menantang Rajo Duobaleh di gelanggang.
Dalam pertandingan itu Magek Manandin berhasil mengalahkan Rajo Duobaleh. Namun Rajo Duobaleh tidak mau menerima kekalahannya. Maka terjadilah perkelahian antara Magek Manandin dengan Rajo Duobaleh. Rajo Duobaleh pun tewas dalam perkelahian itu. Orang-orang menyambut dengan suka riaaatas kemenangan Magek Manandin tersebut.
BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT