Lompat ke isi

Page:Tjerita Klasik Minang Sabai Nan Aluih.pdf/4

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Sekapur Sirih

Tjerita Sabai Nan Aluih ternjata tetap hidup dan mendapat tempat dalam hati rakjat. Atas permintaan Panitia Gelanggang Dagang Untuk Wanita se-Indonesia X di Djakarta, jang diketuai oleh almarhumab ibu Chailan Sjamsu Datoek Toemanggoeng kepada Gubernur Sumatera Barat, maka mendjelang udjung bulan Djuni 1961 telah diberangkatkan suatu Rombongan Kesenian Sumbar jang selain membawa pertundjukan tari, njanji dan musik, sengadja pula menjandiwara-pentaskan petilan tjerita Sabai Nan Aluih, disusun oleh bapak M. Rasjid Manggis Datoek Radjo Panghoeloe dan jang beliau sutradarai sendiri.

Pada malam pertundjukan tanggal 28 Djuni 1951 dalam Gelanggang tersebut pementasan Sabai Nan Aluih, sebagaimana djuga tari, njanji dan musik ternjata mendapat sambutan amat hangat oleh para pengundang dan pengundjung, sehingga permintaan baik dari Djakarta-Raja maupun dari luar kota untuk mengadakan beberapa pertundjukan lagi datang silih-berganti.

Ditempat kediaman J.M. Menteri Chairul Saleh dan Ibu Rombongan Kesenian Minang itu telah beroleh kehormatan menghedangkan pula pertundjukan seluruhnja, dinikmati oleh J.M. para Menteri dan Ibu, para Korps Diplomatik dan njonja serta para Pembesar dan terkemuka lainnja.

Surat-surat kabar harian dan terutama madjalah-madjalah seni di Djakarta menjambut halwa mata dan telinga ini dengan resensi jang sungguh-sungguh menghidupkan semangat seni dan sastera.

Rombongan Kesenian jang dipimpin oleh Sekretaris Gubernur Bupati M. Sujitno dan Pelda Dahrul Aswad Pa Pendam III . 17 Agustus, diutus oleh bapak Gubernur/Kepala Daerah Sumatera Barat Kaharoe'ddin Datoek Rangkajo Basa sungguh berkesan da-am alam seni kebangsaan.

Lustrum I Universitas „Andalas" (Unand) di Padangpun telah dimeriahkan dengan pementasan Sabai Nan Aluih, diperankan oleh mahasiswa sendiri pada 13 dan 15 September 1961 dengan mendapat sambutan jang seimbang baik oleh para undangan maupun oleh