da itu Radjo Babandieng memandjakan Mangkutak Alam, sibungsu jang tidak beradik lagi. Oleh sebab itulah gerangan, makanja si bungsu ini dipandang oleh sang ajah sebagai „mahkota alam".
Radjo Nan Pandjang, sahabat akrab Radjo Babandieng, melamar Sabai hendak didjadikannja isteri mudanja. Lamaran itu di tolak oleh Radjo Babandieng; selain dari pada Radio Nan Pandjang telah berusia landjut iapun gemar beristeri banjak.
Penolakan lamaran itu didjawab oleh Radjo Nan Pandjang dengan mengadjak Radjo Babandieng berkelahi. Radjo Babandieng kena tembak pada djaring-djaring bahu kirinja lalu tewas.
Sabai Nan Aluih menuntut bela. Perkelahian antara Sabai deugan Radjo Nan Pandjang mengakibatkan Radjo Nan Pandjang kena tembak oleh Sabai, tepat pula pada djaring-djaring bahu kirinja lalu tewas.
Keperwiraan Sabai inilah jang mendjadi teras tjeritera ini. Kaba Sabai Nan Aluih ditjetak kembali. Selain dari pada tjetak ulang ini. telah diperbaiki disana-sini, buku ketjil inipun dihiasi dengan beberapa gambar pelukis Uska (Usman Kagami). Sebenarnja banjak gambar-gambar jang telah disiapkan saudara Uska, tetapi berhubung dengan pertimbangan tehnis tak dapat diklisekan semuanja. Mi dab- mudahan jang akan datang.
Sungguhpun demikian tiada berkurang terima kasih saja kepada saudara Uska, karena hasil karja beliau tidak mewadjabi sadja, tetapi mendjiwaï tjerita-rakjat ini.
Padang, 30 September 1961. Penjusun M. RASJID MANGGIS DT. RADJO PANGHOELOE